Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tentang rasa sakit


besok mulai up rutin ya


“Bagaimana keadaan temanku, Dok?” tanya Ameera saat dokter keluar dari ruang rawat Savana.


Dokter terdiam sejenak, wajahnya tampak sendu sepertinya ada kabar buruk tentang wanita malang itu. “Pasien dalam keadaan kritis, dia mengalami pendarahan hebat dan anaknya tidak bisa diselamatkan,” jawab dokter dengan suara pelan.


Ameera langsung memegang dinding saat mendengar ucapan dokter. “Dok, Anda bercanda, kan?” tanya Ameera dengan bibir gemetar. Walau bagaimanapun, ini seperti mimpi buruk untuknya, dia mengingat tentang antusiasnya Savana ketika menceritakan tentang anaknya tapi sekarang wanita itu malah menyerah.


“Pasien mengalami pendarahan sudah berjam-jam, kami bisa menyelamatkan nyawanya saja itu sudah suatu keajaiban,” ucap dokter. “Kalau begitu saya permisi,” dokter pun pamit dari hadapan Savana. Saat dokter pergi, tiba-tiba tubuh Ameera ambruk ke lantai dia meraung menangisi Savana .


“Ameera, Kau harus memberikan hadiah yang banyak untuk anakku karena aku tidak tahu Paman Josua akan perduli atau tidak pada anak kami ....”


“Ameera, apa menurutmu paman Joshua akan menyayangi anak kami, sedangkan sikapnya masih dingin padaku. Padahal aku kan sudah berubah ... ”


“Ameera, Aku lelah terus berusaha tapi paman Joshua masih tidak berubah. Padahal dia yang minta aku berubah ...”


”Ameera, paman Joshua tidak mau mengantar ke dokter, maukah kau pergi mengantarku untuk pergi ke dokter kandungan. Aku ingin ditemani ....”


Tangisan Ameera semakin mengencang saat mengingat semua ucapan Savana yang selalu Savana ucapkan beberapa waktunya lalu, dia menyesal kemarin dia tidak menemani Savana.


“Ameera!” Panggil Alvaro, dia yang baru saja mengurus administrasi langsung berlari karena melihat Ameera duduk di lantai sambil menjerit


Saat mendengar suara sang ayah, Ameera mengangkat kepalanya. “Da-dad, Savana kritis, kandungannya tidak bisa di selamatkan dan juga ....” Ameera tidak mampu lagi meneruskan ucapannya hingga Alvaro membantu Ameera untuk bangkit dari duduknya, Lalu setelah itu lelaki itu pun memeluk Sang Putri menenangkan putrinya.


Setelah bisa menguasai diri, Ameera masuk ke dalam ruang rawat Savana, dia menatap Savana dengan tatapan nanar. Apalagi banyak sekali alat medis yang menempel di tubuh sahabatnya.


Saat berada di dekat brangkar, Ameera merasa terasa tertusuk saat melihat wajah sahabat yang sangat pucat, dia melihat ke arah perut Savana yang yang sudah rata.


Ameera menarik kursi, kemudian mendudukkan dirinya dia tidak bergerak sedikitpun, matanya terus menatap ke arah wanita malang itu. “Kenapa kau menyerah, Bodoh! Tak tahukah pasti anakmu pasti bangga padamu!”


Setelah mengatakan itu tangis Ameera semakin luruh, dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak ketika mengingat lagi sesuatu, di mana beberapa waktu lalu Savana meminjam uang padanya untuk memeriksa kandungan.


Saat Joshua meminta Savana berubah, saat itu pula Joshua mengurangi jatah Savana dengan cukup besar. Dia ingin tahu apakah Savana masih boros atau tidak. Sebab Joshua tak ingin Savana menghambur-hamburkan uang yang ia berikan.


Tetapi ada yang Joshua tiak tahu, uang itu Savana gunakan untuk membeli susu hamil dan juga untuk membayar beberapa kelas yang dia ikuti di luar kuliahnya, karena dia ingin dengan cepat belajar bahasa asing.


Kemarin ingin memeriksa kandungannya, dia sengaja mengajak Joshua, selain ingin melihat reaksi Joshua saat melihat anak mereka, dia juga berharap joshua akan membayarkan biaya tagihan rumah sakit. Tapi ternyata, tidak Joshua tidak mau menemaninya, dia terlalu malu untuk meminta uang hingga akhirnya dia meminjam uang pada Ameera dan mengajak Ameera untuk menemaninya, tapi sayang Ameera tidak bisa, hingga pada akhirnya wanita itu pun pergi sendiri dan mungkin itulah terakhir kali Savana melihat anak yang sedang ia kandung.


***


“Jo, apa ada masalah?” tanya Gaby ketika Joshua bergabung di meja makan, sedari kemarin, setelah bertengkar dengan Savana di basement, Joshua memutuskan untuk pulang ke mansion kedua orang tuanya, lelaki itu memutuskan untuk tidak menemui Savana sementara waktu, dia sungguh muak melihat wanita itu apalagi Savana sudah mempermalukannya.


“Aku hanya ingin diam di sini,” jawab Joshua.


“Kenapa kau tidak membawa Savana menginap di sini?” tanya Gabby lagi.


“Savana, sedang pergi ke rumah orang tuanya," jawab Joshua dengan asal.


“Bukankah sekarang orang tua Savana di Kanada?” Joshua terdiam saat mendengar Gabby.


“Maksud Mommy?”


“Beberapa waktu lalu, Mommy mendengar mertuamu sudah tidak tinggal di sini, mereka memutuskan pindah, Kau tidak tau?”


Namun tak lama, Joshua menggeleng lelaki itu memutuskan untuk melanjutkan acara makannya tanpa membahas lagi tentang Savana.


***


Ameera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tangis tidak henti-hentinya menghiasi wajah Ameera. Sekarang, dia sudah di perjalanan dan menuju mansion kakek dan neneknya karena dia mendapatkan kabar Joshua sedang berada di sana, sedangkan sang ayah pergi ke kantor dan Savana ditemani oleh suster.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ameera sampai di mansion Nael dan Gaby wanita cantik itu pun turun ke dalam kemudian langsung masuk mencari kakek dan neneknya.


Saat dia akan memanggil kakek dan neneknya, Ameera mendengar suara orang yang berbincang-bincang dari meja makan hingga pada akhirnya wanita itu pun berjalan ke arah ruang makan, dan benar saja kakek nenek serta orang yang paling dia benci yang tak lain Joshua juga ada di sana.


“Ameera!” Panggil Gaby ketika Ameera berjalan ke arah meja makan, hingga semua menoleh. Gabby mengurutkan keningnya saat melihat wajah Amira yang tampak kacau.


“Ameera, kau tidak apa-apa?’ tanya Gaby Ameera tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu menarik kursi dan bergabung di sana membuat Gaby Nael juga Joshua keheranan dengan tingkah Ameera.


“Apa yang terjadi, apa Kau baik-baik saja?” tanya Joshua. Ameera yang baru saja akan menuangkan makanan mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Joshua. Namun dia tidak menoleh sama sekali padahal lelaki itu.


“Nenek, aku ingin makan,” kata Ameera.


“Makanlah!” Gaby memberikan piring kemudian memberikan beberapa makanan ke dalam piring cucunya.


“Ameera, apa kau baik-baik saja?’ kali ini Nael yang bertanya karena melihat wajah cucunya yang begitu kacau


“Kakek, nenek!” Panggil Ameera. Hingga keduanya menatap Ameera dengan bingung.


“Sepertinya kalian kalian tidak jadi memiliki cucu lagi,” ucap Ameera tiba-tiba membuat semua orang menoleh.


“Maksudmu Ameera?’ tanya Gaby.


“Bagaimana ya aku mengatakannya,” jawab Ameera.


“Ameera jangan bercanda, Ada apa?" Nael mulai gemas dengan cucunya.


Begitupun dengan Joshua, Entah kenapa jantungnya berdetak saat mendengar ucapan keponakannya. Padahal dia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Ameera.


“Ameeera, tolong jangan bercanda,” kata Gaby seketika Ameera tertawa.


“Tidak, nenek. Mana mungkin aku bercanda,” kata Ameera, dia bisa saja tertawa. Namun tangisnya sudah mulai berlinang, dan secepat kilat membuat semua orang kebingungan.


Ameera langsung menghapus air matanya. “Apa kalian ingin mendengar?’ tanya Ameera yang malah berbelit-belit. “Savana memutuskan untuk membunuh anaknya sendiri!”


“Apa!”


“Ameera, kau jangan bercanda kali ini Gaby yang berbicara.”


“Tidak nenek, mana mungkin aku bercanda. Savana membeli obat penggugur kandungan kemarin. Sepertinya dia terlalu tertekan dengan kelakuan seseorang, tapi baguslah anaknya tidak ikut menderita.”


Mendengar itu, Joshua langusung menarik bahu Ameera. “Apa maksudmu?” tanya Joshua namun dengan cepat Ameera Langsung menepis tangan sang paman..


Hingga ..