Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Selingan


mon maafye Mpok Mpok ibu ibu otor mau promo novel otor yang di si hijau


Novel ini tayang (K-b""m)


Yang ga mau baca bisa di skip, karena ada dua bab lagi di bawah ini.


Novel ini judulyan Menikah Dengan Duda sampai tamat sekitar 30 ribu.


Ini buat yang mau ikut aja, ya. Yang ga ikut tolong skip ya. Yang udah baca promo ini juga skip aja.


Kalau kalian kesusahan beli koin, bisa langsung beli di aku ya. Kalian bisa beli di no 088222277840, mau tanya2 juga boleh


Menikah dengan Duda


Ini yang mau ikut aja ya, yang ga mau atau udah baca skip ya. Ini hanya promo ya jadi memang ga nyambung. Jarinya jangan julid yang gengs 😭😭


Menikah Dengan Duda.


part 1 Pernikahan


Suara Sah menggema di seluruh ruangan, sepasang manusia, baru saja resmi terikat ikatan suci pernikahan. Tak ada senyum mau pun raut bahagia dari kedua insan yang baru saja terikat hubungan suami istri. Bagi kedua pasangan itu, pernikahan yang baru saja terjadi, begitu hambar dan penuh luka.


Albi, sang mempelai lelaki, melapalkan ijab kabul dengan tak semangat. Pandangan matanya kosong kedepan, bagai rumah tak berpenghuni. Lelaki yang kini menginjak 39 tahun itu, kembali menikah setelah bertahun-tahun menduda.


.Ia begitu mencintai mendiang istrinya yang sudah berpulang saat melahirkan putrinya 7 tahun silam. Sebenarnya, ia tak ingin menikah lagi, tapi ia juga tau bahwa sang putri butuh figur seorang ibu. Itu sebabnya, ia menerima perjodohan yang diatur oleh ibunya, hingga kini, ia kembali menikah dengan seorang gadis yang lebih muda 19 tahun darinya.


Pramaina Lastri, wanita yang kini menginjak usia 20 tahun tak menyangka bahwa ia harus menikah secepat ini, dengan seorang duda beranak satu.


Tak masalah dia menikah dengan duda. Hanya saja, semua terlalu mendadak. Ia sudah menjadi yatim piatu semenjak usia 15 tahun. Selama ini, keluarganya mendapat bantuan dari Mahira dan Gani yang tak lain adalah ibu dan ayah Albi, dan kini, mereka menjadi mertuanya.


Ia yang sedang berada di pondok pesantren, ingin menolak ketika Gani dan Mahira memintanya menikah dengan Albi, putra mereka. Jujur saja, selain usianya sangat muda. Ia pun mencintai orang lain, ia mencintai santri yang yang diam di pesantren yang sama.


Ia tak punya siapapun di dunia ini, ia sebatang kara. Selama ini, Gani dan Mahira lah tempatnya bergantung. Demi balas budi, ia memasrahkan dirinya, dan menerima takdirnya menjadi istri seorang Samuel Albi Maheswari.


Semua wanita pasti menginginkan pernikahan yang hangat dan penuh cinta, begitupun Lastri. Ia juga bermimpi bisa merasakan pernikahan yang penuh cinta. Namun, seberapa pun kuat keinginannya pada akhirnya ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya saat mendengar ucapan Albi sebelum menikah.


"Lastri, saya menerima perjodohan ini dan menikah dengan kamu bukan karena saya ingin benar-benar menikah. Tapi, saya hanya butuh figur ibu untuk putri saya. Tapi kamu jangan khawatir. Jika saat nanti ada lelaki yang mencintaimu dan kamu pun mencintai lelaki lain, maka saya akan melepaskanmu."


Bagai petir di siang bolong, Lastri tak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Albi sebelum mereka menikah. Ia memang mencintai lelaki lain.Tapi, saat dia berkata setuju untuk menikah dengan Albi, ia sudah bertekad untuk melupakan lelaki yang selama ini ada di hatinya.


Ucapan Albi benar-benar menusuk dan menembus jantungnya, dadanya berdenyut nyeri. Ia harus meredam semua impiannya tentang pernikahan hangat dan penuh cinta. Kini, ia berstatus sebagai istri Albi jika di luar rumah. Tapi, statusnya berganti jika di dalam rumah, ia hanya sebagai pengasuh bagi putri suaminya.


•••


"Arni, apa kau senang sekarang," ucap Albi dengan lirih saat menatap foto pernikahannya dengan mendiang istrinya. Matanya berkaca-kaca saat melihat foto di hadapannya.


Setelah ijab kabul, Albi lebih memilih mengunci diri di kamar. Ia meninggalkan Lastri bersama keluarganya.


Saat masuk kedalam kamar, sesak menghimpit dadanya. Ia terbiasa sendiri di kamar ini, ia terbiasa bernostalgia dengan kenangannya bersama mendiang istrinya. Tapi sekarang, ia harus terbiasa dengan kehadiran Lastri yang akan tinggal di kamarnya.


Bisa saja, ia menyuruh Lastri untuk tinggal di kamar berbeda. Tapi ia tak melakukan itu. Orang tuanya sudah mewanti-wanti agar Albi dan Lastri tidur satu kamar.


Lamunan Albi buyar kala mendengar pintu di ketuk. Albi menghapus air matanya, lalu berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu. Ia tau, Lastrilah yang mengetuk pintu.


"Pak, maaf. Kamar saya di mana?" tanya Lastri dengan sedikit berbisik karena takut ucapannya di dengar oleh orang lain.


Ada rasa sesak tersendiri saat melihat Lastri, jujur saja. Ia merasa kasihan dengan gadis yang baru saja di nikahinya. Tapi, mau tak mau ia harus tega untuk bersikap acuh dan membatasi diri, ia tak ingin, Lastri berharap lebih padanya.


"Kamu bisa tidur di kamar ini," jawab Albi, ia membuka pintu kamar, membiarkan Lastri masuk kedalam kamarnya.


"Saya tidur di mana, Pak?" tanya Lastri lagi membuat Albi diam-diam menghela napas. Ia sungguh kesal karena Lastri terus bertanya.


"Kita tidur seranjang. Jadi tak usah bertanya lagi," ucap Albi dengan dinginnya. Setelah mengatakan itu. Ia pergi kedalam ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Lastri yang terdiam mematung.


Lastri mengigit bibirnya dengan kencang, sekuat tenaga, ia menahan tangisnya agar tak keluar dari matanya. Ia melihat punggung Albi yang sedang berjalan dengan tatapan nanar, apakah ia kuat menghadapi situasi ini.


Bisakah aku bertahan bersama Pak Albi.


Bab 2 berusaha menerima


Lastri mendudukan dirinya di ranjang. Ia menatap foto pengantin Albi dan Arni dengan tatapan nanar. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat melihat foto suaminya dan foto mendiang istri dari suaminya. Di foto itu, Albi tampak sangat bahagia, berbeda dengan Albi saat menikahi dirinya.


Mampukan ia bertahan bersama Albi, menghadapi sikap dingin dan kasarnya. Haruskah dia mengorbankan dirinya atas nama balas budi.


•••


Setengah jam berlalu, Albi masih betah di bawah kucuran shower. Rasanya, ada yang hilang dan terasa asing. Padahal, ia sudah menebak bahwa ini akan terjadi.


Sungguh, ia merasa bahwa ia telah menghianati mendiang istrinya. Tapi apa daya semua sudah terjadi. ia hanya harus menerima dan menjalani ini semua.


Rasa dingin mulai menusuk kedalam kulit. Albi memutar gagang shower dan mematikannya, mengambil handuk lalu membelitkannya pada pinggangnya.


Saat keluar dari kamar mandi, langkah Albi terdiam saat melihat punggung Lastri bergetar, jantung Albi serasa di remas saat mendengar tangis dari istrinya.


Tanpa sadar, Albi maju ke arah istrinya. Setelah mendekat, ia menepuk pundak Lastri hingga Lastri menoleh.


Dengan cepat, Lastri menghapus air matanya lalu bangkit dari duduknya. "Maaf, Pak," ucapnya. Ia menunduk tak berani menatap Albi.


"Maafin saya, Lastri," ucap Albi membuat lastri mengangkat kepalanya.


Lastri masih terdiam, ia bingung harus menjawab apa pada Albi. Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Pertanyaan itu berputar-putar di pikirannya.


"Saya minta maaf kalau ada sikap saya yang ngebuat kamu ga enak," jawab Albi membuat Lastri menghela napas.


"Saya ga apa-apa, Pak. Saya cuman rindu sama almarhum ibu bapak saya," dustanya. Ia kembali menunduk saat Albi menatap intens padanya. Sungguh, tatapan Albi begitu menusuk hingga terasa sampai jantung. Hingga Lastri lebih memilih memutuskan pandangannya.


"Saya tau ini berat buat kamu. Saya juga minta maaf kalau kamu harus terseret dalam hidup saya sama Anisa. Tapi ka ...."


"Maaf, Pak. Saya ingin pergi ke kamar mandi. Mungkin, kita bisa bahas ini nanti." Lastri memotong ucapan Albi. Rasanya, ia tak sanggup mendengar kata demi kata yang akan di ucapkan suaminya. Ia juga tak sanggup untuk menahan air mata yang sudah mendesak untuk di keluarkan.


Albi mengusap wajah kasar saat melihat punggung Lastri yang berjalan menjauh. Ia tak ingin egois, ialah yang memaksa Lastri masuk kedalam hidupnya untuk mendampingi putrinya.


•••


Saat jam makan malam, Gani dan Mahira saling pandang, ketika melihat Lastri dan Albi tampak saling diam. Mereka pernah berada di posisi Lastri, hanya saja, kisah mereka sedikit berbeda.


Saat Lastri anteng menyuapi Anisha. Mahira tiba-tiba tertunduk, ia teringat saat awal-awal menjadi istri Gani, yang Gani anggap hanya sebagai pengasuh Dita. Dan ia tak mau, kehidupan pernikahan anak dan menantunya, sama seperti kehidupan pernikahannya dulu.


Dita yang tak lain adalah Kaka Albi memperhatikan semua keluarganya. Ia melihat wajah sang bunda yang terlihat sendu, hingga ia mungkin harus sedikit berbicara pada adiknya.


"Albi, udah makan. Kaka mau bicara sa kamu," ucap Dita di tengah makan malam yang sedang berlangsung. Hingga semua menatap Dita.


Albi yang sedang mengunyah makannya. Mengangguk dengan lesu, sepertinya ia tau apa yang akan di bicarakan oleh kakanya.


Dan disinilah mereka berada setelah makan malam Dita mengajak Albi untuk berbicara di ruang keluarga hanya berdua.


Albi tertunduk lesu, sedangkan Dita menatap lekat-lekat pada adiknya. berusaha memilih-milih kata agar tak menyinggung perasaan sang adik.


"Kakak mau bicara apa sama Albi? "


Dita masih mencoba memilih kata, kemudian ia menghela nafas beberapa kali. "Al, kakak mau cerita tentang masa lalu ayah dan bunda, kakak harap kisah ayah dan bunda bisa jadi pelajaran buat pernikahan kamu sama Lastri."


"Dulu ayah sama bunda ...." Dita pun menceritakan semuanya, apa yang ia ingat tentang awal hubungan ayah dan bundanya sampai ketika mereka terpisah 7 tahun dan mereka bertemu lagi ketika Abi berusia 6 tahun.


•••


Albi membuka pintu kamar, ia menyandarkan punggungnya ke pintu netranya menatap Lastri yang sedang terbaring sambil meringkuk.


Saat melihat Lastri, kata-kata tentang kakaknya yang menceritakan kisah pernikahan ibu dan ayahnya terngiang-ngiang di otaknya.


Haruskah dia melupakan semuanya, berusaha menerima Lastri sebagai istrinya agar ia tak menyesal di kemudian hari. Atau haruskah dia bersikap seperti biasa menganggap Lastri hanyalah pengasuh anaknya.


Setelah terdiam dan berpikir tentang langkah apa yang akan diambil, Albi maju ke ke arah ranjang. Ia mendudukan diri di sebelah Lastri kemudian mengusap lembut hijab yang masih di pakai Lastri, hingga Lastri menoleh.


"Ya ada apa, Pak?" Tanya Lastri.


"Lastri bisakah kita bicara? "Tanya Albi. Albi menyenderkan punggungnya ke belakang sedangkan Lastri bangun dari tidurnya membenarkan hijabnya dan menatap Albi dengan tanda tanya.


"Ada apa, Pak?"


"Mulai sekarang lupakan perjanjian kita ... Saya ingin kamu menjadi istri saya yang sesungguhnya. Walaupun butuh waktu, tapi saya akan menerima kamu dan berharap kamu pun menerima saya sebagai suami kamu," ucap Albi, membuat Lastri melongo.


Nafas Lastri tersenggal ... kerongkongannya mendadak kering ia menatap Albi dengan penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin lelaki yang tadi berkata dingin padanya berubah pikiran hanya dalam hitungan jam apakah dia sedang bermimpi.


Mengerti akan kebingungan Lastri, Albi menarik tangan Lastri dan menggenggamnya lalu ....


Bab 3 perasaan asing


Mata Lastri membulat saat Albi menarik tangannya. Ia mencoba menariknya lagi tapi Albi menahannya.


"Pak, bapak mau apa?" Tanya Lastri saat Albi menahan tangannya. Ia berhenti bertanya dan langsung menunduk kala melihat Albi menghela napas kasar, ia tau. Suaminya seperti terpaksa menggenggam tangannya.


Ya, ada rasa asing saat Albi menggengam tangan istrinya. Ia merasa ingin secepatnya melepaskan tangan sang istri. Tapi ia sadar, mulai sekarang. Ia harus mulai membiasakan diri.


"Saya ingin jadi suami kamu seutuhnya dan saya juga ingin kamu menjadi istri saya seutuhnya," kata Albi, membuat Lastri langsung mengangkat kepalanya matanya langsung bersibobrok dengan mata suaminya.


Wajah Lastri langsung meredup. Ia tau dan ia yakin, apa yang diucapkan suaminya dan Apa yang dirasakan oleh suaminya berbeda. Hal itu terlihat jelas dari cara Albi memandangnya.


Lastri menghela nafas, ia menatap Albi dalam-dalam lalu ia memberanikan diri untuk menarik tangannya kembali hingga tangannya terlepas dari genggaman Albi.


"Pak, enggak usah kayak gini. Saya tau kok posisi saya. Bapak enggak usah maksain buat jadi apa yang nggak bapak mau. Kita jalanin aja semua sesuai kesepakatan di awal," kata Lastri membuat Albi tertegun.


Iya terlalu menampakan perasaannya dia juga sadar Lastri menyadari apa yang ia rasa. Perlahan Albi maju ke hadapan Lastri, iya menarik tangan Lastri dan mengecupnya membuat mata Lastri membulat.


Albi merubah posisinya dan mendekat kearah Lastri ia menangkap kedua pipi Lastri membuat Lastri merasakan terkejut bukan main.


"Ayo kita mulai pelan-pelan Lastri, memang tak mudah untuk saya maupun untuk kamu. Tapi setidaknya, kita bisa mencoba untuk saling menerima diri masing-masing," kata Albi, walaupun berkata demikian, tetap saja ada rasa asing. Wajah mendiang istrinya terbayang-bayang di otaknya.


Ia sadar, Lastri masih terlalu muda ia juga sadar ialah yang membawa Lastri ke dalam dunianya dan mau tak mau ia harus membiasakan diri menerima Lastri sebagai istrinya walaupun itu tak mudah.


Albi bangkit dari duduknya hingga posisinya setengah berdiri perlahan Ia membuka kaitan jarum yang menancap di kerudung Lastri membuat Lastri terpekik kaget.


"Tak apa-apa, buka jilbab kamu. Saya suami kamu sekarang," kata Albi membuat Lastri tak bisa berkata apa-apa. ia pun pasrah, membiarkan Albi membuka hijabnya.


Jantung albi, serasa ditikam ribuan jarum saat hijab Lastri sudah terbuka, sunguh Albi ingin sekali menangis ketika melihat rambut Lastri yang tergerai, rambut Lastri begitu mirip dengan mendiang Arni.


Albi berusaha menguasai diri, ia tersenyum membuat lastri terpanah untuk pertama kalinya ia melihat suaminya tersenyum padanya.


perlahan Albi mendorong bahu Lastri agar berbaring membuat Lastri 100 kali lebih terkejut belum Lastri bangkit Albi sudah menindih tubuhnya


"Saya ingin hak saya sebagai suami," kata Albi. memang terkesan egois, tapi ia melakukan ini untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa menerima Lastri seutuhnya.


bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Lastri entah kenapa dia ingin sekali menangis dia tak mengerti apa yang ia rasakan antara senang sedih marah dan kecewa menjadi satu.


saat Lastri dari lamunannya tanpa aba-aba Abi mencium bibir Lastri membuat Lastri membulatkan matanya karena gerakan suaminya begitu tiba-tiba.


Albi Aldi mencium bibir Lastri perlahan ********** membuat Lastri memejamkan matanya, ia menggigit bibir Lastri dan menggoda lastri dengan lidahnya agar lidah Lastri ikut bergerak hingga pada akhirnya Lastri pun tergoda dengan perlahan ia membalas ciuman Albi Walau sedikit kaku karena ini adalah pengalaman pertamanya.


dan pada akhirnya mereka pun melakukan hubungan suami istri, walaupun begitu tak ada rasa bahagia yang mendera keduanya Lastri sama sekali tak menikmatinya karena ia tahu suaminya terpaksa menyentuhnya, dan Albi pun demikian ia justru membayangkan bahwa ia sedang melakukannya bersama mendiang Arni bukan dengan Lastri.


Setelah kedua sejoli itu memisahkan diri, mereka saling berbaring dengan posisi membelakangi. Rasanya, Lastri tak sanggup untuk melihat wajah suaminya.


Seharusnya ia mengikuti rencana awal, bahwa Ia memang menjadikan Lastri sebagai pengasuh anaknya. Albi pikir dengan menyentuh Lastri, ia bisa meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menerima Lastri. Tapi nyatanya, ia salah ... Prasaan tak nyaman itu semakin


menjadi-jadi. Bahkan, ia sedikit jijik mengingat percintaannnya barusan.


Ia merasa mempunyai beban setelah menyentuh Lastri, sungguh ia menyesal, seharusnya ia tak menyentuh istrinya.


Si Albi, fucek boynya ga ilang2 😭😭😭


Bab 4 membalas sikap Albi


Tubuh Lastri rasanya masih remuk. Pangkal pahanya terasa nyeri, ia menangis dalam diam. mebekap mulutnya, agar tangisannya tak terdengar oleh suaminya yang juga sedang berbaring membelakanginya.


Tau apa yang paling menyesakkan? saat kamu ingin menangis, tapi tak bisa mengeluarkannya dan hanya bisa menangis tertahan seakan kamu kuat menerima ini.


Karena merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Lastri memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.Ia bangkit dari berbaringnya sambil memegang perut bawah. Ia meringis saat turun dari ranjang, kemudian berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi.


Albi yang merasakan pergerakan dari ranjangnya, menoleh. Ia mengusap wajah kasar saat melihat Lastri berjan tertatih-tatih. Sekarang, ia harus bagaimana? haruskah ia mengulangi sikapnya seperti dulu, sikap jahat yang mengabaikan mantan istri pertamanya. Tapi, ia pun akan tertekan ketika harus bersikap baik seperti layaknya suami pada umumnya.


Saat berada di dalam kamar mandi, Lastri menyalakan shower. Ia mendudukan dirinya di lantai dan membiarkan kucuran shower membasahi tubuhnya dengan pakaian yang masih menempel. Air mata kembali mengenang, hanyut dengan derasnya air yang mengucur dari atas.


Dibawah kucuran Shower, Lastri menangis tergugu. Rasa sesak hanya ia bisa keluarkan lewat tangisan. Tubuhnya begitu remuk. Namun, hatinya jauh lebih remuk.


••••


Setelah mandi dan membersihkan diri, ia Langsung keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah sedikit segar. Walau wajahnya masih terlihat sembab.


Saat keluar dari kamar mandi, ranjang kosong. Albi sudah tak ada di ranjang. Namun, tak lama jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, karena ternyata Albi sedang duduk di sofa sambil memegang ponsel. Wajah itu terlihat dingin, membuat dada Lastri berdenyut nyeri.


Tak ingin terus merasa sesak, Lastri berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Ia mendudukan dirinya di meja rias. Kemudian melihat wajahnya lekat-lekat.


Bagaimana pun dia menahannya, tetap saja air mata yang di tahannya mendesak untuk di keluarkan. Ia mengambil sisir, lalu menyisirkam rambutnya, dengan air mata yang mengalir. Dari pantulan kaca, ia masih terus menatap wajahnya sendiri tanpa berkedip.


Apakah dia sehina itu, apakah wajahnya menjijikan itu, hingga suaminya langsung berpaling setelah mereka melakukan hubungan badan. Bukankah suaminya yang memintanya terlebih dahulu. Lalu, kenapa sekarang seolah dia yang bersalah.


Suara derap langkah menyadarkan Lastri dari lamunannya. Dengan cepat, ia menghapus Air matanya dan menyelesaikan aktivitasnya, kemudian. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil hijab.


Jika suaminya membangun pembatas dengannya. Maka, ia pun akan membangun juga pembatas yang sama. Suaminya lah yang menyeret dia kedalam rumah tangga ini. Dia tak bersalah, jadi untuk apa dia harus memperdulikan sikap suaminya.


•••


Waktu menunjukan pukul 10 malam, Albi yang sedang duduk di ranjang terus melihat ke arah pintu, ia heran. Kenapa Lastri belum juga masuk ke kamar mereka. Bukan, ia bukan mengharapkan Lastri masuk. Ia hanya takut kedua orang tuanya salah paham, dan menyangka bahwa dia menyakiti istrinya.


Tak lama, terdengar suara derap langkah, membuat Albi menghela napas lega, dan kemudian pintu terbuka. Nampaklah sosok Lastri masuk kedalam kamar.


Saat Lastri masuk, Albi berpura-berpura memainkan ponselnyanya, lalu terasa pergerakan dari ranjang, ternyata Lastri merebahkan tubuhnya di ranjang, ia meringkuk dengan hijab yang tak lepas dari kepalanya.


Melihat sikap Lastri, kening Albi mengernyit. Apakah Lastri juga nenyesal telah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi, tak lama ... Ia menarik sudut bibirnya, akan bagus sekali jika memang begitu. Setidaknya, mereka bisa menjalankan semuanya seperti rencana di awal.


Satu bulan kemudian..


Sebulan berlalu, hubungan mereka tetap sama. Benar, dugaan albi,. Lastri sama seperti dirinya, sama-sama membangun jarak. Membuat Albi merasa lega.


Dua Minggu lalu, Mahira dan Gani sudah pulang ke Turki. Hingga di rumah mewah Albi, hanya tinggal Albi dan anak istrinya, serta beberapa asisten rumah tangga mereka.


Dan tepat saat Mahira dan Gani pergi, Lastri pindah ke kamar Anisa. Ia tak lagi sekamar dengan Albi, melainkan dengan Anisha.


Sikap dingin keduanya semakin menjadi-jadi. Mereka akan menyaut satu sama lain, ketika mereka menemani Anisha belajar atau pun bermain. Selebihnya, mereka akan kembali ke sikap semula.


Padahal, sebelum menikah, komunikasi mereka berjalan dengan baik dan lancar, tapi sekarang?


"Bunda mau pergi?" tanya Anisha, saat melihat Lastri bersiap. Lastri yang sedang bercermin menoleh. Hari ini, hari pertamanya kuliah, dan mau tak mau, Anisha harus bersama bibi di rumah.


"Bunda, mau pergi kuliah. Anisa main sama bibi, ya. Bunda janji, Bunda pergi ga akan lama," kata Lastri. Ia mengusap lembut anak tirinya, mengantarkan rasa nyaman untuk gadis kecil itu.


"Janji?" Anisa menyodorkan kelingkingnya pada Lastri, membuat Lastri terkekeh.


"Anisa mandi sama bibi, ya. Nanti sarapan, Bunda mau pergi sekarang," kata Lastri. Bibir gadis kecil itu mengerucut. Ia tak rela Lastri pergi. Namun, walaupun begitu. Anisha tetap menuruti perintah Lastri.


Setelah memastikan putri sambungnya masuk ke kamar mandi, Lastri keluar dari kamar untuk sarapan. Saat berjalan, langkahnya terhenti saat melihat Albi yang sedang memakan sarapannya.


Biasanya mereka akan sarapan bertiga, hingga suasana tak terlalu kaku. Tapi kali ini, Anisha masih mandi hingga mereka terpaksa harus sarapan berdua.


Lastri kembali melangkahkan kakinya, ia menarik kursi lalu mendudukan dirinya di kursi makan, membuat Albi sedikit melirik.


Hening.


Suasana di meja makan begitu hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok beradu dengan piring. Mereka suami istri. Namun, tak ubahnya seperti orang asing.


Albi mengelap mulutnya dengan tisyu. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan dompetnya.


"Kamu kuliah di anter pak Ikram," kata Albi tiba-tiba, membuat Lastri mendongak menatap Albi. "Kamu bisa ambil uang di kartu ini, PINnya ulang tahun Anisha," kata Albi sambil menyerahkan kartu atm pada Lastri.


"Terimakasih," jawab Lastri dengan acuhnya. Ia mengambil kartu itu lalu memasukan ke dompetnya. Setelah menyerahkan itu, Albi pun pergi meninggalkan meja makan, di susul Lastri yang juga meninggalkan meja makan dan bersiap untuk pergi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Lastri sampai di kampus. Sebenarnya, ia tak berniat untuk kuliah, Karena setelah menikah, ia hanya berniat untuk fokus mengurus Anisa.


Namun, melihat sikap suaminya, membuat ia terpikirkan sesuatu. Bisa saja suatu saat nanti Albi akan membuangnya atau menceraikannya, dan sebelum itu terjadi, Lastri ingin mempunyai pendidikan yang tinggi, agar kelak, ia bisa mempunyai pekerjaan yang mempuni.


Saat Lastri turun dari mobil, terdengar suara lelaki yang memanggilnya. Saat menoleh, mata Lastri membulat saat melihat lelaki tersebut.


"Ihsan," lirihnya, jantung Lastri berdetak dua kali lebih cepat saat kembali melihat lelaki yang di cintainya sedari dulu.


Lastri ...


Bab 5 ajaka pulang bersama


jantung Lastri berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Ihsan lelaki yang selama ini mengisi hatinya. Debaran jantungnya semakin meningkat kala ikhsan semakin mendekat kearahnya.


Matanya tak bisa lepas memandang sosok Ihsan yang begitu menyejukkan hati. Darahnya berdesir, rasanya ia ingin sekali mengutarakan perasaannya bahwa ia mencintai lelaki yang sedang tersenyum dan berjalan ke arahnya. Tidak, sudah tidak bisa ... Statusnya sudah menjadi istri seorang Samuel Albi Maheswari dan dia takkan mungkin lagi untuk berharap bersama ikhsan Pramudia.


"Hai, Las, Sudah lama kita tak bertemu," ucap Ihsan. ia menangkup kedua tangannya, begitupun Lastri mereka bersalaman tanpa menyentuh.


"Hai kak, Kakak juga kuliah di sini?" tanya Lastri dengan semburat merah. Ini pertama kalinya Lastri berbicara berhadap-hadapan dengan Ihsan. karena jika di pesantren Ia hanya melihat Ihsan dari kejauhan begitupun Ihsan yang hanya melihat Lastri dari kejauhan. Mereka sama-sama tak pernah bertegur sapa. Mereka hanya sebatas saling mengenal.


"Ia, kakak kuliah di sini. Kakak Enggak nyangka kita ketemu di sini. Kamu ngambil jurusan apa las?" Tanya Ihsan. jantung lelaki itu berdebar dengan kencang. Rupanya, bukan hanya Lastri yang mencintainya Ia juga mempunyai perasaan yang sama seperti Lastri. Ia jatuh hati pada Lastri semenjak pertemuan pertama.


belum Lastri menjawab terdengar suara decitan mobil, membuat Lastri dan ihsan serempak menoleh. mobil yang barusan datang memarkirkan mobilnya di sebelah mobil yang dipakai oleh Lastri.


mata Lastri membulat saat melihat suaminya keluar dari mobil tersebut. Lastri pikir suaminya akan menghampirinya.


Tapi, ternyata tidak. Suaminya melewati tubuhnya begitu saja. Seoalah Albi tak mengenal dirinya. Lalu tak lama, ia teringat sesuatu. Selain menjadi direktur utama. Suaminya pun menjadi dosen di salah satu universitas. Dan ia tak menyangka, bahwa Albi mengajar di universitas yang sama.


"Las ...." Ihsan menyandarkan Lastri dari lamunanya. Hingga Lastri tersadar.


"Kak, kalau gitu aku masuk duluan ya?" kata Lastri. Sekuat apa pun perasaannya pada Ihsan, ia harus tetap membentengi dirinya. Karena statusnya sudah menjadi seorang istri dan ia tak mungkin untuk berharap lagi pada Ikhsan.


Setelah mengatakan itu, Lastri pun masuk ke kampus. Meninggalkan Ihsan yang mematung. Keningnya mengernyit heran saat melihat perubahan sikap Lastri saat melihat lelaki yang baru saja turun dari mobil.


•••


Setelah mengajar, Albi keluar dari kelas. Temannya adalah rektor di universitas ini, dan ia di paksa untuk menjadi dosen. Awalnya ia sungguh enggan dan berniat berhenti. Tapi, ternyata menjadi dosen cukup menyenangkan. Ia sedikit bisa melupakan mendiang Arni.


Saat ia keluar dari kelas. Matanya menatap Lastri yang sedang melihat papan pengumuman. Tak, lama. Lastri juga melihat ke arahnya. Saat mata mereka saling mengunci, Albi dengan cepat memutuskan pandangannya.


Lastri tersenyum getir. Kini, ia sadar. Bahwa Albi tak ingin status mereka di ketahui. Apalagi, saat ospek tadi. Ia mendengar selentingan kabar bahwa Albi adalah salah satu dosen idaman di kampus ini, apalagi status Albi yang duda. Albi tipikal dosen yang jutek, hingga Khairismanya semakin bertambah.


Tak ingin terus memikirkan Albi, Lastri memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya dan memilih pulang.


Saat di parkiran, supir sudah menunggunya, sedangkan mobil Albi masih terparkir di sebelah mobil yang menjemputnya. Tapi, apa perdulinya. Ia pun memutuskan untuk segera masuk kedalam mobil.


•••


"Bunda kenapa ayah belum pulang?" tanya Anisha setelah mereka melakukan sholat isya bersama-sama. Belum Lastri menjawab, terdengar suara derap langkah dari luar. Dan tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Albi menyembul dari balik pintu.


"Nisha!" panggil Albi, bocah kecil itu langsung melapas mukenanya dan berlari menghampiri sang ayah. Sejenak, mata Albi dan mata Lastri saling pandang. Namun, tak lama mereka sama-sama memutuskan pandangannya.


•••


Dua Minggu kemudian


Lastri terduduk lesu di atas bidet toilet, ia memegang benda pipih di tangannya. Matanya mulai memanas, ia ingin menangis sekencang-kencangnya karena ia fositip hamil.


Bukan Lastri tak senang dan tak bahagia. Tapi, ia hanya bingung. Bagaimana cara memberitahunya pada Albi. Sedangkan hubungan mereka jauh dari kata baik. Mereka saling menjauhi satu sama lain. Akan asing rasanya saat memberitau bahwa ia sedang mengandung.


"Bunda!" terdengar suara dari luar, membua Lstri buru-buru memasukan tespack kedalam saku gamisnya. Ia langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar mandi.


"Hmm, Sayang?" tanya Lastri. Ia mengusap lembut rambut anak tirinya dan menarik lembut tangan Anisa. "Putri bunda kenapa, hmm?" tanya Lastri.


"Bunda ayo sarapan, suapin Nisha," ajaknya, membuat Lastri terdiam. Selama beberapa hari ini, ia menghindari sarapan bersama. Ia selalu sesak jika melihat Albi, dan kini, ia memgerti kenapa itu terjadi. Karena itu bawaan bayi yang sedang di kandungnya.


Tapi kali ini, ia tak tega menolak permintaan Anisa, terlebih lagi perutnya sudah lapar. Ia tak mungkin pergi ke kampus dengan perut keroncongan.


"Ia, ayo. Tapi janji makan sayur, ya," kata Lastri. Setelah Anisha mengangguk. Ia pun keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan. Tak lupa, ia membawa tasnya karena ia akan pergi kuliah.


•••


Saat terdengar suara derap langkah, Albi yang sedang memakannya sarapannya menoleh. Untuk pertama kalinya, ia tertegun melihat istrinya. Ia sudah tak melihat Lastri selama beberapa hari. Selama seminggu ini, ia tak pergi mengajar, karena pekerjaan di rumah sakit Begitu menumpuk. Jadi ia tak melihat Lastri di rumah mau pun di kampus.


Dan hari ini, ia tertegun karena melihat wajah Lastri sedikit pucat. Namun, tak lama ia tersadar saat Lastri semakin berjalan mendekat ke arahnya.


Hening.


Seperti biasa, suasana meja makan begitu hening. Lastri terus menyuapi Anisha dan Albi tanpa sadar, diam-diam melirik ke arah Lastri..


•••


Setelah sarapan, Lastri pergi ke kampus, seperti biasa. Ia pergi di antar supir. Sedangkan Albi memilih bermain bersama Anisha. Karena hari ini, ia tak mengajar atau pergi ke rumah sakit.


Waktu menunjukan pukul 10 siang, setelah menemani Anisah bermain, Albi keluar dari kamar putrinya dan berjalan ke bawah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Namun, saat turun, keningnya mengernyit heran saat melihat supir yang mengantar Lastri sudah pulang ke rumah. Bukankah, seharusnya supir itu menunggu di kampus.


"Pak, kenapa bapa enggak nunggu Lastri di kampus?" tanya Albi, supir itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Albi


"Anu, Den. Bu Lastri nyuruh saya pulang duluan Den. Katanya Ibu mau pergi ke tempat lain," kata supir tersebut. Membuat kening Albi mengernyit. Kenapa Lastri menyuruh supirnya pulang. Bukankah seharusnya Lastri meminta supir mengantarkannya kemana pun.


Tiba-tiba perasaan Albi mendadak tak nyaman. Ia langsung teringat wajah Lastri yang pucat.


•••


Lastri keluar dari kelas dengan langkah yang pelan. Tubuhnya begitu lemas, hari ini ia berencana untuk pergi ke rumah sakit memeriksa kandungannya. Sedari tadi, ia sudah banyak berpikir, ia akan merahasiakan kehamilannya dari siapa pun, termasuk suaminya. Itu sebabnya ia menyuruh supirnya untuk pulang terlebih dahulu.


Walaupun berjalan dengan pelan, akhirnya, Lastri sampai di gerbang keluar. Baru saja ia akan memesan taxi online, gerakannya terhenti saat melihat sosok yang menyender pada mobil. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Sejenak, mata Lastri dan Albi saling mengunci. Namun, dengan cepat. Lastri mengalihkan pandangannya. dan kembali melihat ponselnya untuk memesan taxi online. Mana mungkin suaminya menunggu dirinya.


Namun, tak lama. tangan Lastri di tarik oleh seseorang membuat Lastri mengangkat kepalanya.


"Pa-pak," kata Lastri terbata-bata saat Albi menarik tangannya.


" Ayo pulang sama saya," ajak Albi membuat Lastri tertegun.