Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tak percaya diri


Beberapa hari kemudian


Giseel menggenggam tangan Arsen, ia tersenyum, menguatkan Arsen lewat senyumannya, karena ia tahu Arsen sedang merasakan gugup yang luar biasa.


Saat ini, Gisel sedang menemani Arsen untuk kontrol kesehatannya dan untuk berkonsultasi tentang penyakitnya dan langkah apa yang dilakukan ke depannya. Sedari tadi masuk ke dalam ruangan, wajah Arsenn terlihat sangat pucat.


Selama Arsen menderita penyakit tersebut, Arsen tidak pernah mendengarkan ucapan dokter, ia selalu mengabaikan apapun yang dokter katakan. Tapi sekarang, ia harus mendengar tentang kondisinya. Tentu saja, itu membuat Arsen begitu gugup, sekaligus merasa takut.


“Aku ada di sini,” kata Gisel, Arrsen tersenyum kemudian mengangguk. Lalu tak lama, pintu terbuka datang dokter yang akan menangani Arsen.


“Kau ingin pergi ke suatu tempat? atau kau ingin makan di luar?” tanya Gisel, Arsen yang sedang menyetir menoleh, kemudian menggeleng.


“Kita pulang saja ke apartemen,” jawab Arsen, karena memang sekarang mereka sudah berada di mobil, dan menuju untuk pulang ke apartemen Arsen sudah mendapatkan jadwal operasi dan setelah keluar dari ruangan pemeriksaan, Arsen tampak melamun, karena jujur saja ia begitu ketakutan.


“Kita ke apartemenmu saja?” kata Gisel, karena ia tahu Arsen tidak nyaman berada di apartemennya. Arsen mengangguk, lalu ia kembali fokus mengemudi. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh,.akhirnya mobil yang dikendarai Arsen sampai di basement, Ia pun keluar begitupun Gisel yang juga ikut keluar dari mobil.


Saat Arsen berjalan mendahului Gisel, Arsen menghentikan langkahnya, kala ia merasa Gisel tak mengikutinya, lalu ia berbalik. Ternyata, Gisel masih diam di tempat. Saat Arsen berbalik, Gisel mengulurkan tangannya, Pertanda ia ingin digenggam oleh Arsen, hingga Arsen tersenyum lalu kembali menghampiri Gisel dan menggenggam tangan Gisel.


“Kau ingin sesuatu, aku rasa di kulkasku ada beberapa cemilan?" tanya Arsen saat mereka sudah masuk ke apartemen, Gisel menggeleng.


“ Kau butuh istirahat, lihat matamu merah sekali!” titah Gisel, karena memang Gisel sudah mengetahui bahwa Arsen tidak pernah tertidur Saat malam.


“Tidurlah, aku akan menunggu di sini,”ucap Gisel lagi.


“Kau mau menemaniku tidur?” tanya Arsen, Gisel mengangguk Dengan semangat, tentu saja bukan Arsen yang menarik tangan Gisel, melainkan Gisel yang tangan Arsen untuk masuk ke dalam kamar, dan setelah sampai di kamar mereka pun langsung berbaring dengan posisi saling memeluk. Tidak ada yang bersuara sedikitpun, mereka menyelami perasaan masing-masing.


Arsen tidak menyangka, setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya ia bisa bersama mantan adik iparnya begitupun juga Giseel, ia tidak menyangka ada di titik ini. Setelah cukup lama terdiam, Gisel menjauhkan wajahnya, kemudian ia langsung menyetarakan diri dengan wajah Arsen.


Ia mengelus pipi Arsen, kemudian menghapus sudut mata Arsen yang membasah, karena ia tahu arsen ingin mengeluarkan air matanya. “Setelah menikah, ayo kita berkeliling dunia ... berbulan madu dan mempunyai anak yang banyak!” kata Gisel dan kali ini tangis arsen tidak bisa ditahan lagi.


“Apa kau tidak jijik padaku?” tanya arsen dengan hati yang luar biasa pedih, jujur saja ia benar-benar merasa kepercayaan dirinya hilang di depan Gisel, ia merasa Ia adalah lelaki yang hina yang tidak pantas dimiliki oleh siapapun. Orang tuanya saja membuangnya, keluarganya angkatnya hanya memanfaatkannya saja, di tambah lagi dosa masa lalu yang ia lakukan, hingga ia merasa ia tidak pantas untuk siapa pun.


Gila sedih banget jadi Arsen 😭