
“S-suara itu. J-jadi semua itu bukan mimpi.” Ucap Cai Lan dengan pandangan kosong menatap Ling Feng yang membuat dirinya terdiam membisu, karena entah mengapa ia paham dengan maksud dari ucapan tersebut.
>>>>>>______
Setetes air mata keluar dari sudut mata Cai Lan membuat Ling Feng yang melihat itu pun sedikit tersentak membuat benak hati Ling Feng menjadi campur aduk. Dirinya juga tidak tahu harus mengatakan apa pada saat ini. Walaupun jika di ulang kembali kejadiannya, Ling Feng tidaklah bersalah di sini, namun entah mengapa dirinya juga merasa sangat bersalah ketika melihat Cai Lan yang mulai menangis saat ini.
Ling Feng hanya langsung memeluk erat wanita tersebut tanpa mengatakan apapun, Cai Lan awalnya sedikit kaget ketika pria tersebut tiba-tiba memeluknya erat, namun entah mengapa ia merasa sangat nyaman dan pada saat itu juga tangisannya pun pecah. Cai Lan menangis kencang di pelukan Ling Feng.
Cai Lan dalam sudut pandang Ling Feng adalah Wanita yang anti sosial terutama terhadap lawan jenisnya. Entah karena alasan apa, Ling Feng mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu kepada wanita tersebut yang membuat nya menjadi anti sosial dan menolak segala bentuk ikatan emosional.
Akan tetapi ada satu hal yang dapat Ling Feng pastikan, wanita di dalam pelukan nya saat ini adalah wanita yang memiliki sifat keberanian dan tekad yang kuat, ia mandiri dan telah bekerja keras lebih dari siapapun. Ia tidak pernah bergantung pada siapapun dan senantiasa berusaha untuk menggapai tujuannya dengan tangannya sendiri.
Walaupun ia baru bertemu dengan nya, Ling Feng dapat mengetahui kesulitan yang ia alami sejak ia datang ke Pulau Ujung Benua.
“Kamu sudah bekerja keras, bahkan terlalu keras. Jadi tidak perlu menahannya lagi dan keluarkan semua perasaan menyakitkan itu. Kamu tidak sendiri lagi sekarang. Aku ada bersama mu mulai saat ini untuk memperhatikan semua kerja keras mu.” Ucap Ling Feng dengan lembut serta terdengar jelas di telinga Cai Lan.
Mendengar ucapan Ling Feng, Tangisan Cai Lan pecah kembali dan dirinya pun membalas pelukan Ling Feng sangat erat. Ling Feng tidak mengatakan apapun lagi hanya terus memeluknya sampai wanita tersebut tenang kembali.
Selang beberapa jam kemudian, Cai Lan telah menangis dua jam lamanya, sampai setelah puas menangis dua jam penuh, dirinya yang kelelahan pun kembali tertidur. Ling Feng yang melihat itu menatapnya penuh simpati lalu membaringkan tubuhnya kembali dan membalut tubuhnya dengan jubah.
Kurang lebih Ling Feng sudah paham mengapa wanita tersebut menangis. Mengingat identitas dirinya saat ini adalah sekte gadis suci, otomatis dirinya tidak bisa kembali ke sekte begitu saja, karena kesucian nya saat ini telah hilang. Ling Feng menghela nafas pendek lalu pergi mendekati penghalang.
Dirinya saat ini sudah berhasil mengendalikan energi kekacauan dimana ia memperoleh banyak manfaat saat telah berhasil mengendalikan energi tersebut, dan hasilnya Qi serta Kekuatan Jiwanya sudah bisa kembali ia gunakan. Melihat ada empat formasi penghalang, Cai Lan pun tanpa pikir panjang langsung menghancurkan nya dengan tinjunya.
Craaasssshhh...?! Craaasssshhh...?!
Dalam sekali serang, empat formasi penghalang itu pun langsung hancur begitu saja oleh serangan berupa tinju. “Akhirnya hancur juga... Naga Tua Si*lan! Persiapkan dirimu.” Gumam Ling Feng seraya tersenyum mengerikan. Hal pertama yang ia lakukan setelah menghancurkan penghalang adalah mencari dalang dari semua kejadian yang ia alami saat ini.
“Ketemu... Bisa-bisanya ia makan dan minum dengan santai di sana.” Gumam Ling Feng seraya menggertakkan giginya, api kemarahan pun kembali muncul ketika mengingat siapa dalang di balik apa yang terjadi padanya. Ling Feng tanpa pikir panjang, langsung merobek ruang didepannya, dan muncul tepat di belakang naga kecil yang tengah asyik membakar daging dan minum arak sepuasnya.
“Hahahaha inilah hidup yang sebenarnya...” Ujar naga kecil tersebut seraya memakan daging yang telah matang dengan lahap lalu diselingi minum arak. Long Tian dengan lahap memakan daging-daging tersebut dan meminum araknya dan tertawa kencang di tengah-tengah hutan seorang diri.
Alasan mengapa tidak ada yang mendekatinya, karena semua beast yang ada di pulau ini sudah tunduk olehnya tanpa terkecuali. Oleh karena itulah, tidak ada yang berani mendekatinya, karena hanya kematianlah yang akan datang jika berani mendekati naga kecil tersebut.
“Hahahaha arak dan daging bakar memang pasangan yang tidak dapat di pisahkan. Hidup daging! Hidup arak! Hehehehe...!” Ujar Long Tian seraya tertawa lepas lalu menyantap lahap daging tersebut. Melihat itu, Ling Feng mendekatinya tanpa sepengetahuan Long Tian berdiri tepat di belakangnya.
Melihat senyuman tersebut, seluruh tubuh Long Tian menegang. Ling Feng yang tersenyum lebar pun berkata, “Sepertinya paman sangat bahagia sekali ya di sini. Oh ya, cincin ruangku kembalikan paman.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya, dan itu membuat Long Tian yang mendengarnya hanya bisa membisu dan menelan salivanya kasar.
Ia dengan kaku mengulurkan tangannya kepada Ling Feng, dan tepat setelah memberikan cincin ruang tersebut Long Tian hendak langsung menarik kembali tangannya, namun hal tersebut sudah di duga oleh Ling Feng dan dirinya pun dengan sigap langsung menggenggam cincin ruang beserta tangan Long Tian juga.
“Oh ayolah paman, tidak perlu terburu-buru pergi. Soalnya ada banyak yang aku ingin bicarakan denganmu.” Ujar Ling Feng seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah naga kecil itu, membuat Long Tian bergidik ngeri dan keringat dinginnya pun sudah mulai mengalir di dahinya.
“A-ah Feng’er... B-bagaimana dengar terlebih dahulu penjelasan ku.” Ucap Long Tian dengan nada kaku seraya berusaha untuk setenang mungkin, walaupun sudah terlambat.
“Heummm...? Penjelasan? Tidak perlu lagi, aku sudah mengerti kok, aku sudah mengerti bahwa paman memang harus di beri pelajaran biar sadar.” Ucap Ling Feng dan detik kemudian ia pun langsung menendang pantat naga kecil tersebut sangat kencang.
Baaaammmmm...!! Baaaammmmm...!!
Tidak hanya sekali Ling Feng menendang pantat naga kecil tersebut, ia bahkan tidak tanggung-tanggung menendangnya beberapa kali dengan kekuatan sekuat mungkin.
>>>>>>______
Dua Jam Kemudian
“Aku salah... Aku menyesal, karena sudah berbuat tidak senonoh seperti itu.” Ujar Long Tian meminta maaf dengan wajah yang sudah memar-memar, terutama di bagian pantatnya yang sudah bengkak besar karena Ling Feng tidak tanggung-tanggung dalam menendangnya.
“Ulangi sekali lagi. Aku tidak mendengarnya.” Ucap Ling Feng dengan nada acuh seraya menyantap daging yang telah di bakar oleh Long Tian. Melihat Ling Feng yang memakan daging hasil jerih payahnya, hanya bisa tersenyum masam lalu mengulang kalimat yang sama.
Tepat Long Tian selesai mengatakan itu, dirinya hanya bisa menangis dalam benak hatinya melihat semua daging bakarnya pun telah habis Ling Feng makan. Itu pun hanya tersisa satu tusuk saja, namun ketika dirinya hendak memakannya, Ling Feng langsung mengambilnya terlebih dahulu.
“Paman kan sudah makan tadi, jadi tidak perlu memakan lagi.” Ujar Ling Feng membuat rahang naga kecil itu pun jatuh seketika. Long Tian hendak memprotes awalnya, namun ketika melihat tatapan tajam Ling Feng, ia pun mengurungkan niatnya untuk mengutarakan protesnya.
“Seperti yang di harapkan dari Paman Tian yang baik hati. Kalau begitu ayo kita pergi dari sini.” Ujar Ling Feng lalu kembali merobek ruang dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Long Tian. Keduanya pun muncul kembali di pemandian air panas.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.