
Ling Feng langsung membakar jasad ketua bandit tersebut, supaya tidak menjadi wabah penyakit nantinya, karena berubah menjadi busuk jika dibiarkan begitu saja.
“Tuan muda. Aku sudah selesai membunuh mereka semua.” Ucap Ren Hu di belakang Ling Feng yang pakaian nya kini telah terkena noda darah. Ling Feng menoleh kepada Ren Hu dan berkata, “Terima kasih telah membantuku.” Ucap Ling Feng. Pemuda itu juga melirik ke arah serigala hitam yang kini sedang menggoyang-goyangkan ekornya dan tatapan berbinar terlihat jelas di wajahnya.
Ling Feng terkekeh dan berkata, “Baiklah, baiklah, kau sudah bekerja keras hitam... Terima kasih sudah membantuku.” Ucap Ling Feng mendekati Serigala Hitam itu lalu mengelus-elus dagunya. Seketika serigala hitam itu langsung merengkut keenakan dan sesekali mendengkur, serta melolong di akhirnya.
Grrrrrr
Awwwuuuu
“Dasar kau ini manja sekali ya... Pergilah cari beberapa daging untuk di jadikan makan siang hari ini.” Ucap Ling Feng.
Awwwuuuu
Serigala hitam itu melolong, lalu ia pun pergi dari sana melaksanakan permintaan Ling Feng. Tidak membutuhkan waktu yang lama, serigala hitam pun kembali dengan membawa beberapa hewan kecil seperti ayam hutan dan kelinci liar. Ling Feng memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengetahui Serigala Petir Gelap telah berlari tanpa henti selama dua hari penuh. Jarak yang sudah di tempuhnya pun cukup jauh, mengingat Serigala Petir Gelap di kenal sebagai salah satu beast dimana ia memiliki kecepatan yang luar biasa.
>>>>>>_____
Setelah Lima hari melakukan perjalanan yang panjang, Ling Feng dan Ren Hu pun sudah dekat dengan Ibu Kota Kekaisaran Shu. Terlihat dari kejauhan, sebuah tembok besar yang terbangun rapih mengelilingi ibu kota dengan istana yang sangat besar sebagai pusat dari ibu kota kekaisaran tersebut.
“Hitam kita pergi berhenti di ujung hutan ini, kalau kau terus berlari dan muncul di jalan utama, pastinya akan membuatkan kepanikan.” Ucap Ling Feng. Serigala hitam itu pun melolong pedek, tanda ia mengerti dengan maksud yang dikatakan oleh Ling Feng. Setelah sampai, Ling Feng dan Ren Hu pun turun dari punggung serigala petir gelap.
“Terima kasih ya sudah mengantarku sampai tujuan. Beristirahat lah dengan nyaman.” Ucap Ling Feng seraya mengelus-elus wajah Serigala petir gelap serta dagunya. Serigala itu pun menganggukkan kepala lalu masuk ke dalam dunia jiwa milik Ling Feng.
Setelah selesai, keduanya pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki biasa. Terlihat antrian untuk masuk ke dalam ibu kota begitu panjang. Walaupun begitu, Ling Feng dan Ren Hu tetap memilih untuk mengantri dengan sabar. Satu Jam kemudian giliran mereka pun tiba untuk memasuki ibu kota. Terlihat ibu kota kekaisaran lebih ketat daripada biasanya, hal itu dapat dilihat dari banyak nya prajurit yang ikut berjaga di depan gerbang masuk.
Seorang pria yang ditemani oleh wanita cantik bercadar tentunya sangat menarik perhatian orang-orang yang hendak memasuki ibu kota.
“Tolong kartu identitas kalian berdua.” Ucap salah satu prajurit kepada Ling Feng dan Ren Hu. Ling Feng menganggukkan kepalanya memberikan sebuah plakat yang diberikan oleh Chang Jin, dimana plakat tersebut adalah identitas sebagai seorang peserta. Prajurit tersebut menganggukkan kepalanya lalu memberikannya kembali plakat peserta turnamen kepada Ling Feng.
Ren Hu juga memberikan kartu identitasnya, dan setelah di setujui oleh prajurit penjaga, keduanya pun di persilahkan untuk masuk ke dalam ibu kota.
“Baiklah kita sudah sampai di sini, jadi kemana kita harus pergi?” Ling Feng tiba-tiba berucap membuat Ren Hu mengajukan pertanyaan ambigu kepadanya.
“Ehh. Kukira tuan muda sudah mengetahui kita akan pergi kemana setelah sampai di kota ini?” Kata Ren Hu.
Ling Feng menggeleng-geleng kan kepalanya seraya berkata, “Aku tidak tahu. Kakek Patriak tidak mengatakan apapun tentang hal yang lainnya.” Jawab Ling Feng. Ia juga tidak ingat untuk meminta batu komunikasi kepada Chang Jin., karena sama sekali tidak mengira bahwa hal ini akan terjadi.
“Untuk saat ini... Kita cari sebuah kedai saja. Mungkin saja kita akan mendapatkan petunjuk yang mengantarkan kita untuk ke sana.” Ucap Ling Feng yang dengan cepat langsung mengambil tindakan. Ren Hu pun menganggukkan kepalanya, keduanya pun melangkahkan kakinya dengan tujuan mencari sebuah kedai terlebih dahulu.
Pada saat Ling Feng dan Ren Hu melangkah pergi dari tempat awal mereka berdiri, secara tiba-tiba datanglah sosok pria sepuh dengan pakaian yang mempunyai motif serupa dengan pakaian sekte yang Ling Feng kenakan. Pria sepuh itu tampak bingung seraya menoleh ke kanan dan kirinya, seperti sedang mencari sesuatu, namun tidak menemukan apapun yang ia cari.
“Bagaimana Tetua Han? Apakah kau sudah menemukan pemuda yang dikirim oleh sekte?" Sebuah pertanyaan membuat pria sepuh itu menoleh ke arah sumber suara.
“Ahhh Tetua Sang. Belum tetua? Aku masih belum melihat sosok pemuda yang mengenaikan pakaian sekte kita.” Jawab pria sepuh itu yang tidak lain adalah Tetua Han.”Ketua sekte bilang... Pemuda itu seharusnya akan sampai pada waktu siang hari ini, namun aku masih belum melihat keberadaannya.” Lanjutnya lagi berkata.
“Begitu, kah... Ah iya. Apakah Anda sudah mencoba untuk bertanya kepada prajurit penjaga?” Kata Tetua Sang membuat Tetua Han pun tersadar akan hal itu. “Ah iya. Aku baru ingat tentang hal itu.” Kata Tetua Han seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Tetua Han pun langsung mendekati pos penjaga dan bertanya mengenai pemuda yang sedang ia cari.
Pada saat berbincang-bincang dengan sang prajurit, Tetua Sang sempat melihat reaksi wajah terkejut dari Tetua Han.
“Apa yang dikatakan oleh prajurit penjaga itu Tetua Han sampai-sampai kau bereaksi terkejut seperti itu?” Tanya Tetua Sang kepada Tetua Han yang sudah kembali dari pos penjagaan.
“Sepertinya kita sedikit terlambat Tetua Sang. Prajurit penjaga berkata, bahwa pemuda yang kita cari telah sedari tadi masuk ke dalam kota.” Ucap Tetua Han seraya menghela nafas panjang.
>>>>>>_____
“Aku baru tahu, mencari kedai ternyata bisa menjadi sulit seperti ini ya.” Ucap Ling Feng yang masih terus berjalan memasang wajah masam masih belum menemukan kedai, karena kedai-kedai yang ia lihat di sepanjang jalan, tepatnya di depan pintu masuk ada sebuah tulisan ‘kedai sudah penuh’ yang membuat Ling Feng, mau tidak mau harus pergi mencari kedai lainnya. Itulah yang awalnya ia pikirkan, Setelah mencari-cari sampai tiga jam lamanya, sepanjang kedai yang ia temui, tulisan tersebut masih tertera di tiap-tiap pintu kedai di sepanjang jalan, membuatnya kesal sampai tidak habis fikir.
Sampai kemudian suara perut dari Ren Hu pun tiba-tiba membuat Ling Feng kembali sadar, dan melirik ke arah Ren Hu yang menundukkan wajahnya menyembunyikan rona merah muda di wajahnya. Ling Feng tidak berkata apa-apa mengenai hal itu.
“Ya wajar saja jika ia memang merasa lapar, terakhir kali makan itu tiga hari yang lalu.” Fikir Ling Feng. Dirinya pun merasakan hal yang sama dengan Ren Hu. Lalu, sepasang matanya pun melihat sebuah kios yang menjual sate daging.
>>>>>>_____
“Tuan muda, tuan muda, Ini ambilah sate dagingnya enak loh.” Ucap Ren Hu dengan sepasang mata berbinar menyantap sate daging dengan sangat bahagia. Ia juga menyodorkan satu tusuk sate daging yang ukuran lumayan besar kepada Ling Feng. Ling Feng tersenyum simpul lalu menerima sate daging tersebut dan langsung membawa sate itu ke mulutnya.
“Bagaimana tuan muda? Enak, kan.” Kata Ren Hu lagi yang diangguki oleh Ling Feng. “Iya ini enak. Makanan pinggir jalan memang yang terbaik sebagai pengganti energi. Ren Hu duduklah. Tidak sopan makan sesuatu seraya berdiri.” Timpal Ling Feng lalu memberikan Ren Hu untuk duduk.
Ren Hu mengangguk dengan patuh lalu kembali fokus dengan sate dagingnya sesekali menunjukkan raut wajah senang, puas luar biasa. Ling Feng terkekeh pelan melihat tingkahnya itu, sampai sebuah kerumunan yang tidak jauh dari tempat ia duduk, menarik perhatiannya.
“Kau sia*an... Mau mu itu apa hahhh?! Dasar sekelompok pengecut yang hanya bisa bicara omong kosong saja!”
Mendengar hal itu Ling Feng tentunya langsung melirik ke arah kerumunan tersebut dimana ia melihat dua kelompok kecil pemuda saling berhadapan. Sisi kiri berjumlah tiga orang pemuda dan seorang perempuan, sementara itu di sisi kanannya hanya ada sepasang lawan jenis.
Ling Feng yang melihat pertikaian itu awalnya tidak tertarik, sampai perempuan di sisi kiri itu tiba-tiba berkata dan Ling Feng sedikit familiar dengan perempuan yang beradu argumen dengannya.
“Hehhh... Sebagai perwakilan sekaligus putri dari Kekaisaran Han, temperamen mu tidak sesuai dengan status mu sebagai putri dari Kekaisaran ya. Atau memang, Kekaisaran Han itu sendiri tidak bisa mendidik putra-putri kerajaannya ya.”
“Cihhh aku tidak ingin mendengar hal itu dari orang-orang Kekaisaran Wu yang bisanya cuman bersilat lidah saja.”
“Apa kau bilang tadi jala*g?!”
“Apa ini... Ternyata orang-orang yang berasal dari Kekaisaran Wu tidak mempunyai pendengaran yang baik ya pantas saja. Sebaiknya kau bersihkan dulu kotoran di telingamu itu, supaya aku tidak perlu untuk mengulang perkataan ku untuk kedua kalinya.”
“Dasar Jala*g banyak tingkah! Kau kira aku takut hahhh?!”
“Hohhh pas sekali aku pun kebetulan tidak takut dengan mu manusia ular.”
Pada saat kedua wanita diantara dua kubu itu hendak saling menyerang, pria di masing-masing kubu mencegah mereka untuk bertindak lebih lanjut.
“Adik hentikan sampai di situ saja.” Ucap pemuda kepada perempuan dari kubu Kekaisaran Wu. Hal itu pun berlaku juga di sisi Kekaisaran Han. “Ying’er sudah hentikan. Jika kau masih bersikeras, kita kembali saja ke penginapan.” Ucap pemuda tersebut menahan perempuan yang meronta-ronta meminta untuk di lepaskan. Setelah beberapa usaha, kedua kubu pun berhasil di pisahkan dan Kelompok dari Kekaisaran Wu pun pergi dari sana.
Ling Feng yang melihat itu pun bangkit dari tempat duduknya melangkah mendekati sepasang kakak beradik dari Kekaisaran Han itu dan bertanya kepada dua orang tersebut. “Apakah kalian berdua perwakilan dari Kekaisaran Han?” Ling Feng yang tiba-tiba bertanya membuat sepasang adik kakak tersebut menoleh kepadanya dengan pandangan yang bertanya-tanya.
“Ya kami berdua memang berasal dari Kekaisaran Han. Apakah Anda memperlukan sesuatu dari kami?” Ucap pemuda yang tidak lain adalah pangeran kedua dari Kekaisaran Han sekaligus bertanya balik kepada Ling Feng.
“Hahhh akhirnya keberuntungan memang berpihak kepadaku.” Ucap Ling Feng secara tiba-tiba membuat dua sosok muda mudi itu bingung tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Ling Feng.
“Hahhh apa?” Ucap keduanya secara bersamaan.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.