
“Ya kau benar Jiao’er. Token miliknya sudah dipisahkan juga oleh mu, jadi kurasa tidak akan menjadi masalah.” Timpal Tetua Han yang diangguki oleh Bing Jiao, lalu keduanya pun kembali ke istana Kekaisaran Shu.
>>>>>>>_______
Keesokan Harinya
Tidak terasa hari pun sudah berganti. Hari ini adalah hari dimana dibukanya tanah rahasia. Terlihat sudah banyak para kultivator generasi muda termasuk para jenius muda yang ikut dalam turnamen empat benua. Adapun tempat berkumpul nya itu terletak di sebuah bangunan tua yang berbentuk kuil, yang mana ukuran daripada kuil tersebut tidaklah terlalu besar, namun terlihat sangat di rawat ke asriannya. Terlihat di depan gerbang kuil tersebut ada sebuah portal hitam raksasa, yang mana portal tersebut adalah pintu masuk menuju tanah rahasia.
Raja Kekaisaran Shu, para perwakilan tiap-tiap kekaisaran, dan termasuk para tetua juga berada di sana.
“Tetua Han. Apakah Ling Feng masih belum datang kemari juga?” Tanya Tetua Sang kepada Tetua Han.
Tetua Han menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Belum, anak itu masih belum memberikan kabar kepada Jiao’er.” Timpal Tetua Han seraya tersenyum kecut.
Tetua Sang mendesah gusar, “Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak lama lagi, portal menuju tanah rahasia akan terbuka. Jika dia telat datang kemari, pemuda itu tidak bisa masuk ke dalam tanah rahasia.” Ucap Tetua Sang yang merasa gusar tidak tenang.
“Tenang saja Tetua Sang. Aku yakin anak itu pasti akan datang, karena dia sendiri yang bilang akan masuk ke dalam tanah rahasia itu.” Ucap Tetua Han menenangkan Tetua Sang yang gusar. Walaupun saat ini ia dirinya juga sama-sama tidak tenang.
Bing Jiao sendiri tidak jauh berbeda, terlihat sesekali ia menyapu pandangannya dan melihat ke arah orang-orang akan berdatangan lalu mendesah kembali, karena pemuda yang ia cari masih belum terlihat wujudnya. Ia yakin saat ini Ling Feng pasti sedang melakukan sesuatu yang membuatnya sampai lupa, bahwa hari ini adalah tanah rahasia di buka. Bing Jiao merasa cemas, takut Ling Feng tidak bisa masuk ke dalam tanah rahasia.
“Apakah dia sudah datang?” Tanya Qing Xian seraya mendekati Bing Jiao. Bing Jiao menoleh ke arah Qing Xian dengan raut wajah yang cemas, menggeleng-geleng kan kepalanya. “Kakak masih belum mengabari ku. Semua pesan transmisi suara yang kukirim juga tidak di balas.” Kata Bing Jiao mendesah cemas.
Qing Xian menepuk pundak Bing Jiao pelan, menenangkannya. Dirinya juga sama cemasnya dengan wanita itu, hanya saja ia cukup pandai menyembunyikan ekspresi cemasnya itu.
“Feng kamu dimana? Cepatlah kemari.” Batin Qing Xian.
“Kakak cepatlah kemari sebelum terlambat.” Batin Bing Jiao.
>>>>>>_______
Dunia Jiwa Ling Feng
Ctangggg...! Ctangggg...!
Ling Feng masih tenggelam dalam fokusnya, keringat di sekujur tubuhnya ia abaikan dan terus menempa pedangnya. Sudah hampir satu minggu lebih waktu di dunia jiwa berlalu, dan Ling Feng masih terus menempa pedangnya. Pedang yang kali ini ia buat adalah Pedang Elementalis. Sebuah pedang Elemen yang bisa berubah warna, mengikuti elemen yang di miliki oleh penggunanya.
Ctangggg...! Ctangggg...!
Ling Feng masih terus memukul pedang yang ia tempa dengan palu Qi yang ia buat. Sampai beberapa saat kemudian, tepat di pukulan terakhir, pedang tersebut langsung bersinar terang. Sinar terangnya itu bahkan sampai memenuhi seluruh penjuru gua sampai bagian terluarnya.
“Fyuhhh... Akhrinya telah berha... Ehh ada pesan dari Jiao’er?” Kata Ling Feng yang tersadar, karena Bing Jiao banyak mengirimkan transmisi suara kepadanya.
“Ah ternyata sudah waktunya, untung saja tepat waktu selesainya.” Gumam Ling Feng langsung menyimpan pedang yang baru saja ia buat lalu mengambil pakaiannya dan keluar dari dunia jiwanya. Dalam sekejap, Ling Feng langsung menggunakan elemen anginnya melesat cepat ke tempat portal menuju tanah rahasia berada. “Sebuah kuil, kah...” Gumam Ling Feng sesaat mendengar transmisi suara Bing Jiao.
>>>>>>>_______
Booommm...! Booommm...! Booommm...!
Suara dentuman yang terdengar sangat keras keluar dari area portal menuju tanah rahasia. Lalu seketika aliran portal pun mendadak berubah. Layaknya seperti lubang hitam yang menelan apapun, portal menuju tanah rahasia telah di buka. Melihat itu para kultivator muda tidak ingin berbasa-basi lagi langsung masuk secara bergerombol ke dalam portal masuk tersebut.
“Saudari portalnya sudah terbuka, ayo masuk.” Ujar Han Ying kepada Bing Jiao yang masih bersama dengan Qing Xian. Ia tidak sendiri, ada Han Shen yang menemani nya saat ini.
“Ahh saudari Ying dan Pangeran kedua masuk duluan saja, jangan pedulikan aku.” Kata Bing Jiao. Mendengar nada bicara Bing Jiao yang cemas, Han Ying dan Han Shen mengerti maksud dari perkataannya, dan menganggukkan kepalanya. “Baiklah saudari. Kalau begitu, aku duluan.” Ujar Han Ying masuk bersamaan dengan Han Shen. Bing Jiao menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dari saudarinya itu.
Selang beberapa detik, lalu datanglah pihak Kekaisaran Wei yang di pimpin oleh Ju Yao. “Saudari Xian. Ayo kita masuk sekarang. Portalnya sudah terbuka.” Ujar Ju Yao mengajak Qing Xian, namun Qing Xian dengan tegas menolaknya, “Tuan muda masuk saja terlebih dahulu dengan saudari dan saudara yang lainnya, aku akan menyusul nanti.” Timpal Qing Xian menolaknya. Ju Yao yang mendengar penolakan itu tentunya merasa sangat kecewa. Pada saat ia ingin hendak bertanya mengenai alasannya, Lin kecil secara tiba-tiba muncul, membuat Ju Yao menelan kata-katanya.
“Jangan memaksa kakakku, kau tidak sampai sedekat itu, sampai berani-berani memaksa kakakku.” Ujar Lin kecil tiba-tiba muncul membuat Ju Yao menelan kembali kata-katanya. “Itu lihatlah. Tetua dari sektemu saja sudah memerintahkanmu untuk cepat masuk ke dalam.” Kata Lin kecil lagi seraya menunjuk ketempat para tetua, di sana Tetua dari sekte lembah neraka memberikan isyarat untuk segara masuk ke dalam tanah rahasia.
Ju Yao pun memutuskan untuk masuk walaupun terpaksa, Lin kecil sendiri memang tidak suka dengan Ju Yao, karena menurutnya, pria itu hanya terlihat baik di hadapan Qing Xian saja, namun sangat busuk di belakangnya. Tentunya ia menyadari dengan Ju Yao yang tertarik dengan Qing Xian, maka dari itu dirinya tidak pernah meninggalkan Qing Xian.
“Sudah selesai kak.” Ucap Lin kecil berbalik kepada Qing Xian seraya mengacungkan ibu jarinya. Qing Xian yang melihat itu hanya menggeleng-geleng kan kepalanya, tentunya ia merasa sangat bersyukur, karena Lin kecil selalu membantunya.
Lin kecil lalu melirik ke arah Bing Jiao dan menatapnya dari atas ke bawah, Bing Jiao tentunya sadar oleh tatapan Lin kecil, namun ia memilih untuk diam saja tidak berkomentar. Sampai Lin kecil pun tersenyum manis seraya berkata, “Kakak ku benar-benar beruntung ya jika soal wanita. Aku bahkan saat ini meragukan bahwa kakak menggunakan pelet untuk memicut Kakak Jiao dan Kakak Xian.” Ucap Lin kecil tiba-tiba seraya memasang postur berpikir.
“Lin kecil kamu tidak boleh berbicara seperti itu, terlebih lagi kamu seharunya memperkenalkan dirimu dahulu saat ini.” Kata Qing Xian menegur. “Ah iya aku lupa hehehe... Namaku Lin adik angkat dari kakak Ling Feng. Panggil saja Lin’er Kakak Jiao.” Kata Lin kecil memperkenalkan dirinya.
“Ah iya aku memanggil Kakak Jiao. Tidak apa-apa, kan?” Lanjutknya berkata lagi. “Ah itu ya tidak apa-apa. Panggil saja kakak sesukamu.” Ucap Bing Jiao. Mendengar hal itu, Lin kecil kembali memasang postur berpikir membuat kedua wanita itu mengangkat sebelah alisnya penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh gadis kecil itu.
“Ya sudahlah pikirkan itu nanti saja. Kalau begitu Lin’er duluan ya, Kakak Jiao, Kakak Xian.” Ucap Lin kecil seraya melambai-lanbaikan tanganya berjalan ke arah portal. Qing Xian dan Bing Jiao juga membalas lambaian tangan dari pemuda tersebut.
“Hati-hati Lin’er.” Ujar Qing Xian yang diangguki oleh gadis kecil tersebut. Untuk tokennya itu, ia membelinya menggunakan Uang yang diberikan oleh Qing Xian kepadanya. Tepat Lin kecil ingin masuk ke dalam, tubuhnya berhenti mendadak lalu refleks menoleh ke arah tertentu cukup lama, sampai beberapa menit kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam.
Kerumunan orang-orang pun mulai berangsur-angsur masuk, kini jumlahnya sudah hampir tujuh puluh persennya yang sudah masuk ke dalam tanah rahasia. Walaupun begitu, kedua wanita itu masih menunggu dengan sabar, dengan Bing Jiao memegang sebuah token dengan kedua tangannya.
Sampai sebuah suara familiar yang tiba-tiba terdengar mengagetkan keduanya. “Kalian berdua kenapa tidak langsung masuk ke dalam saja?” Ujar sosok bertopeng secara tiba-tiba mengejutkan kedua wanita itu.
“Kakak!”
“Feng!”
Teriakan refleks dari kedua wanita itu, membuat semua pasang mata menatap ke arah mereka. Bahkan para tetua pun juga sama menatap ke arah mereka, termasuk Tetua Sang dan Tetua Han yang bernafas lega saat ini.
Ling Feng sontak melirik ke arah Tetua Han selama beberapa saat, sampai kemudian ia kembali menoleh kepada dua wanita cantik yang memilih untuk terus menunggu kedatangan nya. Bing Jiao memberikan token masuk yang telah di pisahkan oleh nya.
“Terima kasih Jiao’er. Kalau begitu ayo kita masuk.” Ujar Ling Feng yang diangguki oleh Bing Jiao dan Qing Xian. Bahkan keduanya tidak ragu-ragu langsung mengapit lengan Ling Feng, membuat orang-orang yang belum masuk hanya bisa menatap iri ke arahnya. Ling Feng hanya bisa tersenyum masam melihat kedua wanita itu yang sepertinya sudah janjian akan melakukan hal itu, ia pun melesat dengan cepat masuk ke dalam portal. Sampai puluhan menit kemudian, seluruh orang-orang yang memiliki token pun sudah masuk seluruh nya ke dalam tanah rahasia.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.