Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Saling Terbuka


“Baiklah kakak akan menjelaskan situasinya. Apa kau yakin ingin mendengarnya?” Kata Ling Feng yang juga bertanya memastikan kepada Bing Jiao. “Katakan saja kak. Kali ini jangan ada yang di tutup-tutupi lagi.” Ucap Bing Jiao dengan tegas. Wajah Ling Feng di balik topengnya berkedut, ia pun mulai menjelaskan situasinya pada saat di Kekaisaran Wei dan bagaimana bisa ia bertemu dengan Qing Xian dan mengenalnya.


>>>>>>_______


Dua Puluh Menit Kemudian


“Begitulah cerita keseluruhannya... Tanpa kusadari aku juga sudah terhanyut ke dalamnya, aku juga tidak bisa mengabaikan perasaan yang sangat jelas di tujukan kepadaku.” Ucap Ling Feng mengakhiri penjelasan panjang lebarnya mengenai situasi yang ia hadapi pada saat di Kekaisaran Wei. Bing Jiao sendiri mendengarkannya dengan seksama, ia sontak bangkit dari yang awalnya duduk di samping Ling Feng, berpindah jongkok di hadapan Ling Feng.


“Begitu, kah... Kakak sudah bekerja keras ya selama selama ini. Tidak, bahkan daripada di bilang sudah bekerja keras, kakak terlalu bekerja keras pada diri kakak sendiri.” Ucap Bing Jiao dengan senyum lembut di wajahnya, dan menangkup wajah Ling Feng yang masih tertutup oleh topengnya.


Bing Jiao juga melepaskan cadarnya, alhasil dapat melihat dengan jelas senyuman hangat dari wanita di hadapannya itu. Ya, senyuman hangat. Sebuah senyuman hangat yang biasanya ia tujukan kepada Ling Feng. Aksi dari Bing Jiao tidak berhenti di situ saja, ia sontak membawa wajah Ling Feng yang tertutup topeng itu lalu ke depan dahinya, dan menempelkan satu sama lain.


Sementara dua insan itu sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, sosok pria sepuh yang tidak lain adalah To Mu sedang memperhatikan keduanya dari kejauhan. To Mu bahkan sesekali terkekeh melihat tingkah Ling Feng yang begitu kaku, dan tidak berkutik di hadapan Bing Jiao. “Feng’er ini benar-benar sangat polos ya.” Gumam To Mu terkekeh pelan melihat Ling Feng yang begitu mudah di dominasi oleh Bing Jiao.


Ling Feng terkejut melihat Bing Jiao yang seperti itu, saking terkejutnya ia bahkan hanya bisa diam saja tidak bergeming sama sekali di hadapan Bing Jiao yang masih dengan tersenyum menyatukan dahi masing-masing, walaupun saat ini wajahnya terhalang oleh topeng. Ditengah-tengah keterkejutan itu, Bing Jiao tiba-tiba kembali berkata, “Aku tidak tahu seberapa berat beban kakak yang saat ini, kakak pikul di pundak kakak. Jika aku bisa, aku ingin kakak berbagi beban berat itu dengan ku.” Ucap Bing Jiao dengan lembut nan menenangkan terdengar di telinga Ling Feng, seraya mengelus-ngelus bagian belakang kepala Ling Feng dengan lembut.


“Tapi, jika memang seandainya kakak tidak ingin membagi beban itu dan keukeuh dengan pendirian kakak, maka aku tidak akan memaksa kakak untuk melakukannya. Namun, sebagai gantinya aku akan memanjakan kakak, jika sampai suatu waktu kakak merasa sangat lelah dengan semua itu, jangan pernah ragu untuk datang kepadaku, dan aku akan menerima semua keluh kesah kakak.” Ucap Bing Jiao dengan lembut masih dengan mengelus-ngelus bagian belakang kepala Ling Feng.


“Bukankah itu sama saja dengan yang pertama? Sama-sama memaksa.” Gumam Ling Feng di balik topengnya, namun masih di dengar oleh Bing Jiao. Bing Jiao yang sedang menutup kedua matanya itu terkekeh pelan dan menimpali perkataan Ling Feng. “Kebanyakan wanita itu memang suka memaksa loh kak~” Timpal Bing Jiao terkekeh pelan.


Setelah beberapa menit, Bing Jiao pun menjauhkan dahinya lalu menangkup kembali wajah Ling Feng. Bing Jiao menatap dengan seksama wajah Ling Feng yang tertutup oleh topeng lalu mengelus-ngelus lembut bagian pipi dari topeng Ling Feng. “Apakah kakak tahu. Selama ini aku terus-terusan berpikir dan tidak sekali dua kali berputus asa memikirkan nya tahu. Kakak begitu kuat dan tangguh, tanpa adanya aku sekalipun kakak pasti bisa melewati semua rintangan yang ada di hadapan kakak dengan sekali ayunan pedang kakak. Aku bahkan berpikir bahwa balas budi kepada kakak hanyalah angan-angan saja, karena tidak mungkin aku bisa melakukan hal itu, namun sepertinya aku sudah mengetahui apa yang harus kulakukan sekarang.” Kata Bing Jiao seraya menangkup kembali wajah Ling Feng lalu membawa wajahnya itu dan memeluknya dengan hangat.


“Aku akan mendukung kakak, menerima keluh kesah kakak, menyemangati kakak, dan akan selalu berada di sisi kakak.” Ucap Bing Jiao sekali lagi dengan senyum hangatnya seraya mengelus-ngelus punggung Ling Feng yang lebih besar darinya. Ling Feng mendengarkan itu dengan seksama dan hanya bisa terdiam kaku tidak mengatakan apapun, namun ia langsung ikut melingkari tanganya ke pinggang Bing Jiao yang ramping, memeluknya cukup erat. Bing Jiao terkekeh pelan dan melanjutkan kembali mengelus-ngelus punggungnya.


Waktu itu bertepatan dengan terbenamnya matahari, dan malam pun datang beserta bintang-bintang yang menghiasi langit. Hal itu juga menjadi saksi bagi kedua lawan jenis yang saat ini berpelukan saling terbuka satu sama lain.


To Mu yang memperhatikan itu dari jauh, tersenyum penuh arti melihat sepasang lawan jenis yang sedang berpelukan itu, lalu pergi dari sana tanpa sepengetahuan mereka.


>>>>>>______


“Jadi Jiao’er... Bagaimana nantinya kau akan memanjakan kakak?” Ling Feng mengajukan pertanyaan yang seketika membuat Bing Jiao tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan Ling Feng. Wajahnya mendadak bersemu merah merasa malu ketika mendengar pertanyaan itu, karena hal yang pertama kali ia bayangkan pada saat mengatakan hal itu adalah (You know lah), namun tentu saja ia tidak berani mengatakan hal itu dan mengatakan yang lainnya.


Ling Feng terkekeh pelan, dan tiba-tiba niat ingin menjahili pun muncul. Ling Feng dengan cepat mendekatkan wajahnya, membuat Bing Jiao terdiam kaku tidak bisa bereaksi, karena Ling Feng mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Tidak sampai di sana saja, Ling Feng pun membisikan sesuatu yang membuat wajah Bing Jiao berubah menjadi merah sepenuhnya.


“Ehhhh~...... Padahal kakak mengiranya Jiao’er akan memanjakan kakak dengan cara yang lebih panas lagi loh tadi.” Bisik Ling Feng yang seketika membuat detak jantung Bing Jiao yang awalnya sudah meningkat dua kali lipat, kini bertambah satu kali lipat. Semburan merah di wajahnya pun terlihat sangat jelas, kini Bing Jiao benar-benar terlihat seperti kepiting rebus yang baru saja matang.


Melihat itu pun Ling Feng langsung tertawa lepas, karena niat hati menggoda Bing Jiao benar-benar sukses.


“Wajah mu terlihat sangat lucu Jiao’er hahaha....” Ujar Ling Feng di sela-sela tawa lepasnya. Bing Jiao pun sadar bahwa Ling Feng tadi sedang menggodanya, ia pun menggembungkan kedua pipinya, kesal.


Akan tetapi, Ling Feng yang melihat itu, tawa nya semakin lepas, karena Bing Jiao saat ini benar-benar terlihat hamster dengan mulutnya yang penuh akan makanan. “Kakak bodoh! Kakak bodoh! Kakak bodoh!” Ujar Bing Jiao yang sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya lagi, karena Ling Feng malah semakin menertawakannya. Ling Feng yang dipukuli oleh Bing Jiao tidak berniat untuk menahannya ataupun menghindarinya, karena memang tidak merasakan sakit sedikitpun dari pukulannya itu.


Keduanya tidak menyadari bahwa saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian dengan berbagai macam pandangan. Mulai dari pemuda yang merasa sangat iri dengan Ling Feng, dan yang merasa sangat kagum, karena keromantisan antara Ling Feng dan Bing Jiao. Keduanya benar-benar mengabaikan sekitar mereka dan terfokus satu sama lain.


“Baiklah, baiklah, kakak minta maaf, kakak minta maaf.” Ucap Ling Feng seraya memegang kedua tangan Bing Jiao yang tidak berhenti-henti memukulinya. Bing Jiao yang masih ngambek, sontak membuang wajahnya dengan pipi yang masih menggembung. Ling Feng yang melihat itu berusaha untuk menahannya, supaya tidak tertawa lagi.


Setelah tenang, Ling Feng pun langsung mengelus-ngelus puncak kepala Bing Jiao yang masih kesal itu. Satu menit dua menit berlalu, Bing Jiao masih mengabaikannya, sampai sepuluh menit kemudian ia pun mulai melirik ke arah Ling Feng, namun masih dengan wajah yang kesal. Ling Feng tersenyum di balik topengnya, ia masih terus mengelus-ngelus puncak kepala Bing Jiao dengan lembut. Sampai kemudian wajah Bing Jiao yang awalnya kesal, perlahan mulai melembut dan menikmati elusan yang Ling Feng lakukan.


“Hmmmpphhh... Dasar kakak ini... Ya, kali ini akan Jiao’er maafkan.” Ucap Bing Jiao yang sudah melunak. Ling Feng terkekeh pelan dan masih melanjutkan elusan kepalanya, lalu dirinya pun berkata, “Terima kasih Jiao’er. Terima kasih sudah mengingatkan ku kembali tentang hal-hal yang telah kulupakan sebelumnya.” Kata Ling Feng. Bing Jiao pun tersenyum menganggukkan kepala nya merespon daripada perkataan Ling Feng.


“Sekarang kakak masih belum bisa. Masih belum bisa mengatakannya, karena masih banyak hal yang harus kakak selesaikan.” Ucap Ling Feng. Tangan yang awalnya berada di puncak kepala Bing Jiao perlahan turun mengelus-ngelus pipinya yang lembut. “Oleh karena itu, maukah Jiao’er menunggu kakak? Jika semuanya sudah selesai, kakak akan mengatakan semuanya tentang diri kakak.” Katanya lagi dan bertanya dengan lembut.


Bing Jiao memejamkan mata nya, merasakan sentuhan tangan Ling Feng di wajahnya, ia juga menggenggam tangan Ling Feng yang berada di wajah nya itu.


“Heummm... Aku mengerti kak. Aku akan selalu menunggu kakak.” Jawab Bing Jiao dengan lembut mengangguk kan kepala nya. Ling Feng merasakan kehangatan dan lega secara bersamaan di hati nya.


“Terima kasih Jiao’er.” Ucap Ling Feng yang diangguki oleh Bing Jiao tanpa mengatakan apapun kecuali, menikmati sentuhan tangan Ling Feng di wajah nya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.