Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Siuman dan Pesan


Salah Satu Kamar di Istana Kekaisaran Shu


“Kamu bukannya istirahat, tapi malah terus-terusan menatap kedua pedang itu. Memangnya ada yang aneh dengan pedang-pedang itu?” Ujar seorang wanita kepada seorang pria yang sedari tadi terus-menerus memperhatikan dengan seksama kedua pedang yang ada di hadapannya.


>>>>>>______


“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang kedua pedang itu sampai seserius itu memperhatikannya?” Tanya Wanita yang tidak lain adalah Qing Xian yang menemani Ling Feng yang sedang beristirahat di kediaman istana Kekaisaran Shu. Awalnya dirinya tidak sendiri dan ada Bing Jiao bersamanya, namun beberapa jam yang lalu Bing Jiao di panggil oleh para tetua.


“Ah aku hanya sedang berpikir tentang apa yang akan terjadi ketika aku melebur kedua pedang ini dan menyatukan nya.” Ucap Ling Feng menjawab pertanyaan Qing Xian tentang apa yang sedang ia pikirkan. Tentunya Qing Xian terkejut ketika mendengar Ling Feng mengatakan hal itu, pasalnya ia tidak menduga bahwa Ling Feng berniat untuk melebur dan menempa ulang pedang tersebut. Terlebih lagi bukan hanya satu saja, melainkan dua pedang lalu menyatukannya.


“Memangnya hal yang seperti itu mungkin ya?” Ujar Qing Xian yang jelas-jelas merasa heran, karena setau dirinya menempa senjata kelas tinggi saja bukanlah hal yang mudah, apalagi saat ini Ling Feng hendak meleburnya lalu menempanya menjadi sebuah pedang kesatuan.


“Ya menurutku tidak terlalu mustahil, namun tentunya tidaklah mudah. Mungkin sekitar empat puluh sampai empat puluh lima persen aku yakin.” Kata Ling Feng seraya memperkirakan keberhasilan menempa pedang tersebut.


Prangggg...!


Qing Xian yang mendengar probabilitas keberhasilannya mencapai empat puluh persen, tentunya terkejut. Bahkan saking terkejutnya dirinya menjatuhkan gelas yang berisi teh yang hendak dirinya berikan kepada Ling Feng.


“Empat puluh persen lebih?! Mana ada yang berani mengatakan hal itu ketika menyatukan dua senjata kelas tinggi dengan kemungkinan berhasil setinggi itu?! Bahkan aku sangat yakin bahwa penempa yang ahli sekalipun tidak berani mengatakan hal itu.” Batin Qing Xian dalam benaknya, seraya membersihkan teh yang tumpah dan pecahan gelas.


Ling Feng tentunya menyadari akan hal tersebut, dirinya lantas tersenyum lalu berkata, “Bagaimana dengan taruhan.” Kata Ling Feng tiba-tiba seraya tersenyum seperti biasanya.


“Taruhan seperti apa maksud mu?” Qing Xian yang tertarik pun bertanya balik kepada Ling Feng.


“Ya sederhana saja, yang menang akan mengabulkan satu permintaan yang kalah.” Jelas Ling Feng seraya mengedikan kedua bahunya. Qing Xian memperhatikan wajah Ling Feng yang begitu tenang, dirinya menyadari bahwa pemuda di hadapan nya itu pastinya mempunyai sesuatu yang membuatnya sangat yakin bisa memenangkan taruhan tersebut.


Walaupun begitu, Qing Xian tetap memikirkannya, dan menurutnya tidak terlalu rugi juga jika itu hanya satu permintaan saja. Qing Xian pun menganggukan kepalanya setuju dengan taruhan tersebut.


“Oke saja, siapa takut.” Ucap Qing Xian yang membuat Ling Feng terkekeh pelan mendengarnya.


“Bagaimana dengan keadaan mu kak? Apakah sudah baik-baik saja?” Tanya Bing Jiao dengan nada perhatian seraya melepas cadarnya memperlihatkan wajah cantik yang dihiasi senyuman hangat di sana. Ling Feng menanggapi itu dengan senyuman juga lalu anggukkan kepalanya.


“Aku sudah baik-baik saja. Lagipun aku sudah katakan bahwa aku tidak apa-apa, aku hanya kehabisan Qi saja dan akan menjadi lebih baik jika cukup beristirahat.” Kata Ling Feng. Dirinya memang sudah baik-baik saja, walaupun Qi nya masih belum sepenuhnya saat ini.


“Syukurlah kalau begitu.” Kata Bing Jiao yang mendesah lega ketika mendengarnya.


“Oh ya saudari... Apa yang para tetua bicarakan, sampai-sampai harus memanggilmu?” Tanya Qing Xian penasaran seraya memberikan segelas teh kepadanya. Bukan hanya Qing Xian saja, Ling Feng juga penasaran pasalnya, ia merasakan bahwa dipanggilnya Bing Jiao ada hubungan dengan dirinya.


Bing Jiao menerima teh buatan Qing Xian lalu meminumnya sedikit, detik kemudian ia pun berkata, “Sebenarnya para tetua penasaran dengan keadaan kakak dan juga ia menitipkan pesan untuk kakak kepadaku, jika sudah siuman.” Ucap Bing Jiao mengatakan apa yang para tetua dan dirinya bicarakan sebelumnya.


“Pesan? Pesan Tentang apa?” Tanya Ling Feng memasang wajah masam, karena tebakannya tepat sasaran.


Bing Jiao menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Ya apalagi, tentunya para tetua dan petinggi tiap-tiap kekaisaran ingin berbicara dengan mu kak. Apa yang dibicarakan nya itu aku juga tidak mengetahuinya.” Kata Bing Jiao seraya menggelengkan kepalanya.


Ling Feng yang mendengar itu hanya memasang wajah masam, pasalnya kenapa harus dirinya juga ikut dengan perkumpulan para orang tua? Kenapa dirinya yang masih muda harus ikut ke sana juga. Dirinya hanya bisa menghela nafas gusar. Qing Xian yang menyadari raut wajah Ling Feng yang berubah buruk dan mengetahui alasannya kenapa, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat prianya itu.


“Ya wajar para tetua ingin dirimu hadir, karena secara tidak langsung mereka juga membutuhkan sudut pandang dari yang muda-muda juga, kan.” Kata Qing Xian menyesap tehnya dengan anggun.


“Kalau begitu, kenapa tidak meminta dirimu atau Jiao’er saja. Toh masih banyak selain diriku.” Kata Ling Feng cemberut mengeluh. “Ya mungkin karena kakak yang terkuat dan diantara seangkatan kita.” Bing Jiao ikut-ikutan membuka suaranya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bing Jiao, membuat dirinya kembali memasang wajah senyum masam, lalu kembali menyesap tehnya untuk menenangkan diri nya. Qing Xian dan Bing Jiao terkekeh melihat tingkah Ling Feng yang enggan terlibat dengan hal-hal yang merepotkan, semacam hal itu.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.