Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Kau Pikir Semudah Itu


"K-Kau b-bagaimana mungkin bisa ada disini?!" Dun Cao yang kaget dengan kehadiran Ling Feng yang muncul dibelakangnya. Seketika ia refleks untuk menjauh, namun Ling Feng mencengkram erat rahang wajah Dun Cao.


"Oioi, kemana kau ingin pergi setelah berani membuatku berantakan seperti ini." Ucap Ling Feng dengan nada dingin. Dun Cao yang mendengar itu seketika bergidik ngeri, "Apa-apaan bocah, aura yang ia miliki sejak kapan berubah menjadi semencekam ini?! Apakah ia masih orang yang sama." Batin Dun Cao bergetar seluruh tubuhnya. Dun Cao menggertakkan giginya kuat-kuat, menahan dirinya agar tidak berteriak.


Ling Feng yang melihat Dun Cao seperti itu, hanya tersenyum simpul saja dan kembali mengeratkan cengkramannya hingga bunyi sesuatu terdengar sangat jelas.


Krakkkkkkkkkk


"Akhhhhhhhhhhhhhhh bocah bren*sek mati saja kau!" Teriak Dun Cao melancarkan seluruh kekuatannya kedalam tinju tersebut. Ling Feng tentu tidak diam saja melihat Dun Cao melakukan hal itu, dalam sekejap mata.


Shringgggggg


Shringgggggg


Ling Feng langsung menebas kedua lengan Dun Cao. Sekali lagi Dun Cao berteriak dengan keras. "Akhhhhh!!! Tangan ku!! apa yang kau lakukan dengan tangan ku bocah Kep*rat!" Teriak Dun Cao. Ling Feng sendiri tidak peduli akan hal itu.


Ling Feng sendiri hanya tersenyum simpul lalu berkata, "Terus begitu, lakukan terus seperti itu, teriaklah sekeras-kerasnya. Melihat dirimu teriak tapi tidak bisa melakukan apapun mempunyai kesenangan tersendiri bagiku." Kata Ling Feng dengan seringai lebar diwajahnya. Dun Cao yang mendengar itu bergetar seluruh tubuhnya.


"B-bocah ini benar-benar sudah tidak waras." Batin Dun Cao bergetar seluruh tubuhnya. Ling Feng yang melihat Dun Cao tidak berteriak lagi sekali lagi menguatkan cengkraman, sekali lagi terdengar suara retak yang cukup keras.


Krakkkkkkkkkk


"Akhhhhh tidak!!! aku mohon! aku mohon! lepaskan aku! lepaskan aku! bunuh saja aku sekarang juga!" Teriak Dun Cao sangat keras. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, tatapan matanya tersirat penyesalan. Ia benar-benar putus asa, sampai-sampai tidak takut dengan kematian ketimbang diperlakukan seperti itu oleh Ling Feng.


Ling Feng yang mendengar mendekatkan wajahnya berbisik kepada Dun Cao yang sudah putus asa. "Membunuh mu? kemana rasa angkuh dan tatapan datarmu tadi? setelah semua yang kau lakukan itu kau ingin aku membunuh mu dengan mudah? kau tidak salah berucap kan tua Bangka?" bisik Ling Feng ditelinganya.


Dun Cao sekali lagi bergetar hebat ia hampir gila akibat disiksa oleh Ling Feng, padahal yang Ling Feng lakukan belum menghabiskan waktu setengah dupa, tapi Dun Cao sudah sangat frustasi saat ini.


"Karena bajingan seperti dirimu lah banyak orang mati disana sini. Bahkan tidak sedikit yang mengalami penyiksaan akibat ulah sekte mu ini." Ucap Ling Feng mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam. "Setelah semua yang kau lakukan itu, kau masih berharap mati dengan mudah?! awalnya aku tidak ingin menyiksamu terlalu lama, karena aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Tapi ketika melihat dirimu yang memohon seperti itu, maka kita lanjutkan bersenang-senangnya." Ucap Ling Feng senyuman tercetak diwajahnya.


Dun Cao yang mendengar itu sudah ketakutan setengah mati, ia mencoba untuk meledakkan dirinya sendiri. Tetapi, Ling Feng tidak membiarkan hal itu terjadi. Ling Feng mengeluarkan sebuah botol pil, Dun Cao yang melihat botol pil itu merasakan hal berbahaya sebentar lagi akan terjadi.


"Setelah dosa-dosa yang kau lakukan jangan pernah berharap untuk mati lebih cepat. Ada akunya disini sebagai malaikat penyiksa sebelum kematian mu tiba." Ucap Ling Feng tanpa beban lalu mengeluarkan pil dari botol tersebut. Ketika Dun Cao melihat pil itu, ia awalnya ingin lari, namun ketika ia ingin lari.


Dun Cao terkejut dan mencoba untuk mengeluarkan pil yang baru saja ia telan, namun hasilnya nihil pil tersebut tidak bisa keluar. Beberapa detik kemudian pil tersebut bekerja, lengan Dun Cao perlahan-lahan mulai pulih, Ling Feng juga sengaja menarik aura Dao pedang yang ia tinggalkan di Dun Cao.


Dun Cao yang melihat obat mulai bekerja, ia tidak bisa apa-apa lagi selain jatuh bersujud dengan pandangan kosong menatap ke bawah. Ia sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi. Ling Feng lantas maju kehadapan Dun Cao yang sudah jatuh bersujud. Dun Cao refleks mendongakan kepalanya sembari bergetar melihat tatapan Ling Feng yang begitu dingin dan acuh tak acuh.


"T-tolong ampuni aku tuan muda. Aku telah bersalah melakukan hal hina seperti itu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi dikemudian hari, tapi tolong ampuni aku tuan muda." Ucap Dun Cao bersujud berkata seperti itu dengan mulut bergetar.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Ucap Ling Feng tanpa beban. Dun Cao membelalakkan matanya keringat dingin mengucur lebih deras ketika Ling Feng berkata acuh tak acuh seperti itu.


Shringgggggg


"Akhhhhh kakiku!! maafkan aku tuan muda maafkan aku! aku bersumpah tidak akan melakukan hal itu dikemudian hari nantinya maafkan aku!!!" Teriak Dun Cao sembari memegang memegangi kakinya.


Ling Feng sendiri tidak menggubris hal itu, ia hanya berkata. "Lebih kau terima dengan lapang dada, jika kau berteriak seperti itu. Kau akan merasakan hal yang baru ketika kakimu beregenerasi." Ucap Ling Feng.


Dun Cao awalnya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ling Feng, namun beberapa detik kemudian kakinya mulai beregenerasi pada saat beregenerasi ia merasakan sakit yang luar biasa dan tidak dapat bertahan lagi untuk berteriak.


"Akhhhhh sakit!!!! mohon ampun tuan muda!!! mohon ampuni hamba yang telah berbuat dosa!!!" Teriak Dun Cao merasakan sakit yang amat luar biasa. Ling Feng sendiri hanya memperhatikan itu saja dan lantas memotong sebelah kaki Dun Cao kembali.


"Yang ini untuk ibu" Gumam Ling Feng, namun samar-samar Dun Cao dapat mendengarnya.


Shringgggggg


"Akhhhhh sakit!!! tolong ampuni aku!!! tolong ampuni aku!!!" Teriak Dun Cao sekeras-kerasnya. Ling Feng sendiri tidak berniat untuk berhenti, ia akan membalaskan dendam orang-orang desanya. Pil yang ia gunakan adalah pil yang ia dapatkan dari murid tetua Dun Huang, namun pil itu sedikit ia ubah dan menghasilkan efek baru. Ketika sudah di konsumsi dan ada salah satu anggota tubuhnya yang terputus, pada saat regenerasi ia akan merasakan rasa sakit yang luar biasa kuatnya.


Para murid-murid sekte bayangan yang tersisa, tidak ada yang tidak takut ketika melihat hal itu. Ketua sekte mereka dengan cara yang paling kejam. Bahkan tidak dibiarkan mati semudah itu. Murid-murid sekte bayangan semuanya langsung berusaha pergi dari tempat itu, akan tetapi mustahil. Seluruh daerah sekte bayangan sudah dipasang formasi besar yang mencegah untuk yang berada didalam pergi keluar.


Sekte bayangan sudah berada diujung tanduk dan bisa hancur kapan saja.


>>>>>> Bersambung