
Ling Feng termenung sejenak lalu membatin di dalam pikiran nya, “Semoga saja tidak ada hal-hal yang merepotkan.” Fikir Ling Feng menghela nafas pendek.
>>>>>>______
Hari-hari pun berlalu begitu saja. Untuk sampai ke pulau pemberhentian terakhir setidaknya membutuhkan waktu satu bulan lebih beberapa hari. Ling Feng menghabiskan keseharian nya lebih banyak di ruangannya saja dan hanya keluar sesekali saja untuk menghirup udara segar, seperti saat ini dimana ia sudah bangun dari tidurnya yang padahal saat itu sudah sangat larut.
“Suara ini...” Gumam Ling Feng seraya bangkit dari tempat tidur, ia terbangun karena mendengar suara yang samar-samar menarik perhatian. Ia pun menoleh ke samping, dimana sudah ada Long Tian yang masih terlelap tidur tentunya sudah mengigau.
“Ukhhh bau araknya benar-benar sangat menyengat.” Gumam Ling Feng kesal seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidungnya. Sampai beberapa saat kemudian ia pun kembali mendengar suara yang samar-samar kembali. Ling Feng pun sontak beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar ruangannya.
Sudah hampir lima belas hari berlalu dan sudah berhenti di beberapa pulau saat ini. Semenjak kapal tersebut berlayar ke lautan lepas, masih tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan dan masih terbilang aman-aman saja. Ling Feng terus melangkah ke arah bagian depan kapal yang benar-benar sangat sepi di sana.
Sampai Ling Feng pun menghentikan langkahnya ketika melihat sosok seorang wanita yang tengah mengayunkan pedangnya di dekat bagian depan kapal. Sosok wanita tersebut nampak sangat tekun dan fokus. Bulan yang kebetulan saat itu sedang terang-terangnya membuat sosok wanita tersebut seperti sedang menari dengan pedangnya di bawah siraman cahaya bulan.
Sosok wanita tersebut mempunyai sosok yang anggun serta elegan. Rambut perak yang selaras dengan warna bulan serta terurai panjang ke bawah membuatnya terlihat sangat indah dan berkilauan di bawah sinar rembulan. Walaupun saat ini tengah menenangkan cadar di wajahnya, Ling Feng samar-samar menyadari raut wajah wanita tersebut nampak begitu tenang walaupun di sekitarnya penuh akan kegelapan.
“Hehhhhh gerakan pedangnya tidak buruk. Walaupun masih belum sepenuhnya sempurna, karena masih ada beberapa kesalahan langkah yang ia ambil.” Gumam Ling Feng seraya memperhatikan cara berlatih wanita bercadar tersebut.
Nampak wanita tersebut juga menyadari, bahwa ada yang kurang dari gerakan berpedangnya. Akan tetapi, dirinya tidak tahu letak kesalahan dari gerakan nya. Ling Feng yang melihat dari kejauhan pun juga menyadari kegelisahan dari wanita bercadar tersebut. Sampai ia pun terpikirkan sesuatu.
“Ya anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku, karena sudah melihatnya berlatih pedang secara diam-diam.” Gumam Ling Feng lalu mengangkat satu jarinya dan membentuk dua buah jarum kecil dari Qi lalu ia arahkan kepada wanita bercadar tersebut yang saat ini sudah kembali berlatih pedangnya.
Tentu saja sang wanita bercadar nampak langsung terkejut, karena pada saat itu sangat bertepatan dengan dirinya yang hendak melakukan gerakan selanjutnya. Wanita bercadar itu terlihat terkejut dan beberapa kali mengerjapkan kedua matanya. Ling Feng yang melihat itu tersenyum tipis lalu berbalik ke arah ruangannya.
“Bulan hari ini benar-benar terang ya.” Gumam Ling Feng seraya melirik sekilas ke belakang lalu masuk ke dalam ruangannya.
Sementara itu sisi wanita bercadar, dirinaya nampak terlihat sedikit syok dengan kejadian yang tiba-tiba itu sampai beberapa saat ia pun menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kapal, namun sayang hasilnya nihil karena ia tidak merasakan Qi ataupun hawa keberadaan orang lain selain dirinya.
“Siapa sebenarnya.” Gumam wanita bercadar tersebut dengan nada pelan, bahkan saking pelannya ia berbicara mungkin saja hanya di dengar oleh kedua telinganya sendiri. Wanita bercadar itu terlihat diam beberapa saat sampai kemudian ia pun menatap pedangnya.
“Perasaan tadi... Aku harus mengingatnya.” Gumam wanita bercadar tersebut lalu mulai mengayunkan pedangnya kembali. Tentu saja dirinya sadar ketika ia menepis jarum Qi tersebut ada sesuatu yang berbeda dari gerakan tubuhnya. Walaupun ia masih sedikit asing, namun hasilnya sesuai dengan ekspektasi yang ia bayangkan.
>>>>>>______
“Sepertinya ada yang tidak beres.” Gumam sosok wanita cantik secara tiba-tiba yang tentunya dapat di dengar, dan membuat kedua teman wanitanya pun sontak menoleh tenang ke arahnya.
“Apa yang tidak beres Saudari Mei?” Ujar teman wanita yang berada di sebelah kirinya mengajukan pertanyaan dengan rasa penasaran yang kuat kepada wanita yang bergumam tersebut. Untuk wanita yang berada di sebelah kanan hanya diam saja, namun ekspresi yang ia tunjukkan menandakkan bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama dengan wanita yang mengajukan pertanyaan.
“Kita sudah berlayar di lautan lepas selama hampir dua minggu lebih. Akan tetapi, bukankah perjalanan kapal ini terlalu tenang?” Jelas wanita yang bernama Yin Mei tersebut menyampaikan apa yang ia gelisahkan.
“Tepat seperti yang kamu katakan Saudari Mei. Terlebih lagi yang membuat ku merasakan perasaan tidak nyaman adalah Bandit Laut yang tidak kunjung muncul hingga sampai saat ini. Apa yang terjadi saat ini benar-benar seperti ketenangan sebelum datangnya badai.” Timpal wanita yang berada di sebelah kirinya yang bernama Hu Yan.
Hu Yan pun menoleh ke arah wanita yang berada di sisi lainnya Yin Mei dan bertanya kepadanya, “Bagaimana menurutmu tentang situasi kita saat ini Saudari Lan?” Ujar Hu Yan bertanya kepada wanita yang berada di sebelah sisi Yin Mei yang bernama Cai Lan.
“Aku juga tidak tahu. Namun, aku juga setuju dengan situasi tepat seperti yang kamu katakan sebelum nya saudari. Kita harus semakin berhati-hati dan waspada dengan situasi tidak terduga yang akan terjadi ke depannya.” Jelas Cai Lan yang dianggukki setuju oleh kedua temannya itu. Mereka bertiga adalah murid dari sekte gadis suci yang saat ini tengah menyamar sebagai penumpang kapal tersebut.
Adapun misinya, adalah untuk menghabisi bandit laut yang rumor buruknya telah tersebar luas. Alasan kenapa mereka lebih memilih menyamar adalah sebuah rencana yang telah dipikiran oleh Tetua mereka supaya tidak terlalu menarik perhatian dan membuat targetnya lengah.
Setelah itu ketiga nya pun kembali berbincang-bincang dan membahas topik pembicaraan lainnya. Akan tetapi, wanita yang bernama Cai Lan lebih banyak terdiam daripada menyimak perbincangan kedua teman nya.
“Saudari Lan apakah telah terjadi sesuatu? Kamu nampak terus-terus melamun?” Ujar Hu Yan seraya menyentuh lembut tangan Cai Lan, membuat sang empu pun tersadar dari lamumannya.
“Ah maaf saudari Yan aku hanya sedang memikirkan beberapa hal saja, tidak terjadi apa-apa kok tenang saja.” Ujar Cai Lan dengan lembut. Setelah berkata seperti itu, Cai Lan pun langsung pamit dan kembali ke kamarnya.
Hu Yan dan Yin Mei pun saling pandang seraya memasang wajah bingung tentunya. Mereka memang sudah sering melihat sikap Cai Lan yang seperti itu, hanya saja mereka berdua bingung harus bagaimana menanggapi nya, karena saudarinya itu benar-benar sangat tertutup dan hanya berkata jika seperlunya saja.
Sementara itu di salah satu kamar, terlihat seorang wanita yang tidak lain adalah tetua dari sekte gadis suci yang tentu juga terjun langsung untuk mengawasi rencana tersebut dan ketiga murid sekte nya. Tentu juga ia merasakan hal yang sama dengan ketiga gadisnya yang merasa aneh dengan situasinya, akan tetapi ia tetap tenang dan tidak terlihat panik.
“Jangan pernah lengah. Camkan itu Mei’er, Yan’er, Lan’er.” Ujar sang tetua mengirimkan transmisi suara kepada ketiga gadis tersebut yang membuat ketiga gadis itu mengangguk tegas dan serempak menjawab transmisi suara tetua mereka.
“Kami mengerti Tetua.” Ujar ketiganya serempak membalas transmisi suara sang tetua.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.