Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Menuju Sumber Pertarungan


Suatu Tempat Kekaisaran Han


"Heummm sudah terhubung kembali, dengan kata lain ia telah menyelesaikan nya kah…Tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Waktu benar-benar berlalu sangat cepat." Gumam sosok tersebut tersenyum. Sosok itu sedang berada di sebuah kedai sederhana jauh dari tempat yang mudah di jangkau.


Sosok tersebut terlihat sedang bersantai ditemani sekendi arak di didepannya. Walaupun ia terlihat santai menikmati, keadaan sekitarnya tidak berkata seperti itu. Seluruh orang yang berada di kedai tersebut memang ekspresi jelek masing-masing di wajahnya. Sampai kemudian…


Booooommmm


"Aku dengar ada seorang pendatang yang mengacau di wilayah ku." Ucap sosok tinggi besar masuk tidak tanggung-tanggung menghancurkan pintu kedai tersebut. Semua orang di sana langsung bergidik seluruh tubuhnya kecuali, satu orang yang masih dengan santai meneguk arak langsung dari kendi nya.


Sosok tinggi besar tersebut langsung tau, bahwa pendatang yang mengacau itu adalah orang yang berjubah hitam dengan sebuah tudung yang menghiasi kepalanya.


Tanpa basa-basi ia langsung melangkah mendekati orang tersebut yang masih bersikap santai. "Oii kau yang disana, apakah ada sesuatu yang harus kau katakan kepada ku?" Kata sosok tinggi besar itu tepat di meja orang yang mengabaikan nya.


"Heummm banteng besar jangan menggangguku hari ini, aku sedang mencoba untuk mabuk sekarang. Jika tidak terima akibat nya nanti." Kata orang tersebut masih bersikap tidak peduli dan tetap meneguk araknya.


Sosok tinggi besar itu langsung tersulut emosi ketika orang yang mengabaikan nya berkata seperti itu.


Booooommmm


"Kau sampah sialan! berani-beraninya berkata seperti itu kepada raja ini!" Teriak marah sosok tinggi besar itu sembari menggebrak meja makan orang tersebut hingga hancur. Sosok tinggi besar itu langsung mengeluarkan pedang besar dari cincin ruangnya lalu menghunuskan ke arah orang tersebut.


"Terimalah kematian mu, karena telah berani-beraninya menghina dan mengabaikan raja ini! Makan teknik pedang besar raja ini haaaaa!" Teriak sosok tinggi tersebut dengan pedang besar ke arah orang yang terdiam menunduk itu.


"Haihhhh…Padahal aku sengaja membiarkan hal ini dan tidak ingin memperpanjang nya lagi, tapi kalian semua selalu memaksa ku untuk melakukan nya." Gumam orang tersebut menghela nafas pelan mengangkat santai tangannya


Booooommmm


Swusssshhhh


Deggghhh


"M-mustahil?! B-bagaimana bisa ia menahan teknik pedang besar ku hanya dengan kedua jarinya saja?!" Batin Sosok tinggi besar itu terkejut bukan main, karena teknik pedangnya di tahan dengan mudah oleh orang tersebut. Bahkan hanya perlu dua jari untuk menghentikan teknik pedang nya.


"Gawat orang ini sangat kuat…Aku harus segera pergi dari sini." Batin Sosok tinggi besar itu panik mengetahui lawannya lebih kuat dari nya. Pada saat beberapa saja ia melangkah, orang tersebut bergumam. "Kau ingin pergi kemana setelah membuat kekacauan seperti ini." Gumamnya pelan, namun dapat di dengar oleh semua orang.


Tappppppp


"Ehhhhh…Apa yang terjadi kenapa aku terjatuh." Batin sosok tinggi besar itu dan…


Booooommmm


"Setelah berani mengganggu waktu santai ku…Kau ingin pergi begitu saja?! Kau kira kedai ini milik mu hahhhh…Main datang dan pergi sesuka hati." Kata orang bertudung itu dengan nada santai. Seluruh orang yang disana tidak bisa tidak ada yang terkejut, bahkan ada yang menelan salivanya susah payah melihat kejadian mengerikan itu tepat di depan mata mereka.


"Sekarang karena kau telah menyulut ku, maka tidak sopan main pergi begitu saja sapi gemuk." Kata orang bertudung itu dengan seringai lebar tercetak diwajahnya.


...\=______\=...


Kembali ke Ling Feng


"Akhirnya aku bisa melihat cahaya matahari lagi." Kata Ling Feng tertawa renyah menatap langit tanpa sedikit pun awan yang menghiasi nya. "Sudah dua tahun berlalu bagaimana kabar yang lainnya ya…Ya pasti semuanya baik-baik saja aku tidak perlu khawatir tentang itu." Katanya lagi dengan santai.


"Pertama-tama kita cari kota terdekat untuk mengisi perut ku terlebih dahulu. Sudah lama sekali sejak aku tidak makan dengan makanan di atas. Aku sangat rindu akan rasanya." Gumam Ling Feng terkekeh santai.


Ia lantas melesat terbang cepat meninggalkan hutan menuju Jurang Keabadian mencari desa atau kota kecil terdekat. Itu niat awalnya, akan tetapi…Baru saja ia melesat cepat tiba-tiba pendengaran nya menangkap suara pertarungan tidak jauh dari sana.


Tempat Pertarungan


Terlihat ada dua orang yang dikelilingi oleh banyak orang yang mana satunya adalah pria berumur dan satunya lagi seorang pemuda. Kondisi keduanya benar-benar cukup tidak menguntungkan dikelilingi oleh lusinan bandit.


"Kekekeke…Lebih baik kalian menyerah saja dan serahkan cincin ruang kalian jika ingin nyawa kalian selamat." Kata salah satu bandit yang paling kuat di sana dengan seringai yang lebar. "Cihhhhh jangan mimpi kau! Jika saja kalian tidak bertingkah licik sudah pasti aku akan menghabisi kalian tanpa ampun." Kata pria berumur tersebut menggertakkan giginya marah.


"Aku tidak peduli dengan hal itu, salahkan dirimu sendiri yang terlalu percaya diri dengan kekuatan mu itu yang mana mengakibatkan kematian kelompok mu itu." Kata pimpinan bandit tersebut dengan senyum remeh.


Pria berumur itu menggertakkan giginya tidak bisa menyangkal apa yang di katakan oleh bandit tersebut sama sekali. Melihat pria berumur itu terdiam, bandit tersebut pun berkata kembali. "Sudah selesaikan bicaranya…Maka matilah dengan tenang. Kalian semua habisi nyawa mereka!" Teriak pimpinan bandit memerintahkan.


Pria berumur itu berkata pelan kepada pemuda disampingnya. "Maafkan aku tuan muda yang telah gagal melaksanakan misi untuk melindungi mu. Jika saja aku tidak terlalu ceroboh kita semua tidak akan melalui situasi seperti ini." Kata pria berumur itu kepada pemuda disampingnya dengan nada yang bersalah.


"Baguslah jika paman sudah sadar, sekarang mari kita lakukan perlawanan kembali." Kata Pemuda tersebut tersenyum yang dipanggil tuan muda oleh pria berumur itu. "Lebih baik melawan…" Kata pemuda tersebut sembari tersenyum. "Daripada mati terhina tanpa perlawanan sama sekali." Lanjut pria berumur tersebut ikut tersenyum juga.


Kedua orang tersebut kembali maju menerjang bandit-bandit tersebut. Walaupun keduanya terkena trik licik daripada pemimpin bandit, namun membunuh satu dua bandit bukanlah masalah.


"Kekeke…Kalian memang tidak tau kapan harus menyerah ya." Kata pimpinan bandit tersebut ikut menyerang menghunuskan pedang ke arah titik vital pemuda tersebut. Pria berumur yang melihat itu langsung berteriak keras kepada tuan muda nya. "Tuan muda segera menghindar sekarang!" Teriak pria berumur itu.


"Kekekeke…Sudah terlambat matilah bocah!" Teriak bandit tersebut menghunuskan pedangnya ke arah jantung daripada Pemuda tersebut.


Shirngggg


\= Bersambung