Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Babak Kedua Turnamen Alkemis


Satu batang dupa pun berlalu dengan cepat. Kini sudah masuk ke sesi babak kedua. Jumlah peserta yang tersisa kini hanyalah setengah dari pada para pendaftar turnamen.


"Baiklah satu batang dupa telah berlalu. Sekarang kita memasuki babak kedua. Peraturannya tidak ada yang berubah. Akan tetapi, ketentuan untuk babak kedua tentu lebih tinggi." Ucap Tetua Yao. Para peserta itu menyimak penjelasan apa yang dikatakan oleh Tetua Yao.


"Untuk ketentuan babak kedua ini, para peserta akan membuat pil dengan seluruh kemampuannya masing-masing. Semakin tinggi tingkatan pil semakin besar kemungkinan kalian akan menang. Akan tetapi, hanya ada tiga orang teratas untuk lanjut ke babak final. Tidak boleh menggunakan herbal selain yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara." Kata Tetua Yao.


Tidak ada ketentuan waktu dan dengan ini babak kedua dimulai. " Kata tetua Yao bertepatan dengan suara pertanda babak kedua mulai. Para peserta turnamen termasuk Ling Feng langsung bergegas mengambil herbal yang telah disiapkan oleh pihak penyelenggara.


"Herbal yang berkualitas bahkan usia herbal tidak kurang dari lima puluh tahun. Aku tidak menyangka kota Anyi ini begitu kaya sampai bisa menyiapkan herbal berkualitas seperti ini." Gumam Ling Feng memilih bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat pil.


Sisi Lain arena


"Menurut anda siapa yang akan masuk menang nanti." Kata Walikota membuka topik pembicaraan. Kepala keluarga Qing yang mendengar itu dengan lugas menjawabnya.


"Bukankah itu sudah pasti siapa tiga orang tersebut." Jawab lugas kepala keluarga Qing tanpa beban sembari melihat sekumpulan peserta dan terfokus terhadap tiga orang yang ia maksud. Walikota Anyi yang mendengar itu langsung meluruskan maksud dari perkataannya tadi.


"Maksudku orang yang akan berdiri di akhir sebagai pemenang." Kata walikota Anyi meluruskan perkataan dengan nada kesal, karena tingkah Kepala Keluarga Qing. Kepala keluarga Qing terkekeh kecil mendengar nada bicara walikota Anyi yang kesal.


"Aku pribadi mungkin lebih ke tuan muda paviliun obat." Jawab kepala keluarga Qing. Walikota Anyi mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban tanpa pikir panjang orang tua didepannya ini.


"Kenapa kepala keluarga Qing bisa seyakin itu bahwa tuan muda paviliun obat yang akan memenangkannya?" Tanya walikota Anyi. Kepala keluarga Qing tanpa beban berkata, "Sederhana. Nama ketua paviliun obat bukanlah omong kosong belaka, dan tuan muda paviliun obat di didik langsung oleh beliau. Tentunya pasti jenius." Ucap Kepala Keluarga Qing masuk akal. Walikota Anyi yang mendengar itu juga berpikir bahwa tuan muda paviliun obat yang akan memenangkan turnamen ini.


"Mau bertaruh, Aku bertaruh kepada pemuda tidak jelas asal usulnya itu." Ucap pria tua yang tidak lain adalah ketua paviliun obat. Pernyataan ketua paviliun obat membuat Semua orang yang berada disekitarnya cukup terkejut. Terutama walikota Anyi dan kepala keluarga Qing.


Alih-alih memilih Keluarganya, orang tua dihadapan mereka lebih memilih orang asing.


"Bagaimana? berani bertaruh tidak?" Ulang ketua paviliun obat. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing saling pandang.


"Sebelum bertaruh, apa alasan yang membuat ketua seyakin itu bahwa pemuda itu akan menang nantinya?" Kata Walikota Anyi. Ketua paviliun obat tersenyum, namun tidak terlihat karena tertutup oleh kumis dan janggutnya yang tebal. Dirinya tersenyum ketika mendengar perkataan dari walikota Anyi.


"Hanya insting saja." Jawab ketua paviliun obat tanpa beban sama sekali. Walikota Anyi yang mendengar itu awalnya tidak percaya, namun ketika melihat wajah percaya diri dari ketua paviliun obat Membuat dirinya ragu juga.


"Kalau berdasarkan insting maka aku juga akan ikut bertaruh. Aku bertaruh kepada tuan muda paviliun obat." Ucap kepala keluarga Qing langsung menimpali. Ketua paviliun obat menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Aku bertaruh kepada pemuda itu." Kata ketua paviliun obat.


"Jadi apa yang akan kita pertaruhkan?" Kata kepala keluarga Qing. Walikota Anyi, kepala keluarga Qing, dan ketua paviliun obat mulai berpikir tentang taruhan yang layak. Sampai, suara wanita membuat mereka tersadar.


"Bagaimana para tetua bertaruh apa yang berharga menurut kalian, tentunya hal berharga itu juga harus sesuai dengan pendapat yang lainnya." Ucap seorang wanita memberikan saran.


"Ide bagus, lagipula hal itu layak untuk dipertaruhkan." Ucap walikota Anyi. Ketua paviliun obat ikut menimpali, "Ya orang tua inipun setuju dengan saran adik kecil ini." Kata ketua paviliun obat menimpali, Kepala Keluarga Qing ikut juga, "Ide yang bagus. Sepertinya yang diduga dari Xian'er anakku memang cerdas seperti ayahnya." Kata kepala keluarga Qing dengan bangga.


Wanita yang memberikan saran itu adalah Ning Xian. Melihat keributan seperti itu, membuat dirinya tertarik untuk ikut, namun sayang ia tidak bisa melakukan hal itu, karena menurutnya ia tidak pantas jika harus ikut didalamnya. Awalnya ia berpikir seperti itu, sampai suara orang tua menyadarkannya.


"Apakah Nona Xian'er ingin ikut taruhan juga? Ya tentu saja anda harus mempunyai harta yang layak untuk dipertaruhkan." Ucap tiba-tiba Ketua paviliun obat sembari mengelus-elus janggutnya yang panjang. Membuat wanita tersebut sedikit terkejut mendengarnya. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke kepala keluarga Qing selaku ayahnya juga, dan mendapatkan persetujuan bahwa ia boleh mengikutinya.


"Baiklah kalau seperti itu maka aku akan ikut bertaruh juga." Kata Qing Xian dengan senyum tercetak di wajahnya.


Lalu terdengar juga suara seorang wanita yang cukup rewel ditelinga.


"Aku, aku juga ingin ikut bertaruh. Tidak adil rasanya jika hanya kakak Xian yang boleh ikutan bertaruh." Ucap wanita tersebut yang tidak lain adalah putri Liu. Anak dari walikota Anyi.


Dan pada akhirnya semua orang baik itu para bangsawan maupun para penonton ikut taruh-bertaruh juga.


Kembali ke Ling Feng


"Baiklah bahan-bahan untuk membuat pil sudah siap." Gumam Ling Feng ingin memulai menyuling pil, namun tertahan ketika mendengar perkataan seorang pemuda.


"Oii jangan lupa tentang taruhan kita nantinya." Ucap seorang pemuda yang tidak lain adalah tuan muda paviliun obat. Ling Feng yang mendengar itu hanya melambaikan tangannya mengisyaratkan bahwa tenang saja.


Lalu terdengar kembali suara pemuda dengan nada yang lembut ditelinga mereka. membuat kedua pemuda itu saling menatap tajam pemuda yang berkata itu.


"Bagaimana jika aku ikut dalam pertaruhan ini juga. Apakah kalian bersedia aku ikut? tuan muda paviliun obat, dan juga tuan pengembara~." Ucap Pemuda tersebut dengan senyum tercetak diwajahnya dan tudung yang menghiasi kepalanya.


>>>>> Bersambung