Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Membuat Senjata Baru


“Kau ini tidak mengerti Feng’er. Wanita itu bisa kompak dalam situasi-situasi tertentu dan contohnya adalah seperti yang kau lihat saat ini.” Kata To Mu dengan percaya diri di sebelahnya.


“Sungguh benar-benar sangat misterius.” Gumam Ling Feng pelan.


>>>>>>______


Setelah keduanya sadar, para panitia penyelenggara pun mengadakan rapat tentang menentukan siapa pemenang dari turnamen empat benua. Bahkan Bing Jiao dan Qing Xian pun tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penyelenggara. Lalu pada akhirnya para panitia pun sepakat untuk membuat turnamen empat benua berbeda dengan turnamen sebelumnya dengan menyatakan juara pertamanya adalah kedua peserta yaitu, Bing Jiao dan Qing Xian.


“Selamat telah memenangkan juara pertama kalian berdua. Pertandingan yang sangat menakjubkan tadi aku sebagai raja dari kekaisaran ini, sangat puas dan bersyukur, karena telah datang kemari untuk melihatnya.” Ucap Raja Kekaisaran Shu memberikan hadiah kepada Bing Jiao dan Qing Xian di tengah-tengah arena pertandingan.


“Terima kasih Kaisar.” Timpal keduanya seraya menerima dengan sedikit membungkuk memberikan hormat kepada sang Raja. Para penonton yang belum bubar pun memberikan tepuk tangan riuh serta sorakan yang sangat ramai mengapresiasi pemberian hadiah tersebut, baik itu Bing Jiao dan Qing Xian pun tidak terlihat keberatan dengan keputusan itu. Toh keduanya pun langsung tidak sadarkan diri di detik-detik terakhir serangan penghabisan mereka.


Lalu setelah menyampaikan beberapa sambutan dari sang raja, turnamen empat benua pun berakhir. Sang raja juga menyampaikan sistem token yang akan digunakan masuk ke dalam tanah rahasia dan membaginya sama rata, dan memberikan dua puluh persen tersisa kepada kultivator bebas yang ingin juga masuk ke dalam tanah rahasia ini, dengan mengeluarkan beberapa ratus keping koin emas sebagai ganti masuk ke dalam tanah rahasia.


“Kakak Xian.” Panggil Lin kecil


“Saudari Jiao.” Panggil Han Ying.


“Untuk malam ini kaisar telah menyiapkan kamar tamu untuk para peserta turnamen serta mengadakan makan malam. Tetua meminta kita untuk datang ke sana.” Ucap Lin kecil dan Han Ying sangat selaras dan bersamaan. Baik itu Han Ying dan Lin kecil pun saling tatap dalam diam tidak berkata apa-apa.


“Siapa kamu? Kenapa datang-datang meniru apa yang kuucapkan.” Kata Han Ying kepada Lin kecil, namun terdengar tidak menyenangkan di telinga Lin kecil.


Lin kecil yang mendengar pertanyaan itu tentunya mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Seharusnya itu menjadi perkataanku. Siapa kamu? Kenapa kamu malah meniru apa yang kukatakan barusan?” Kata Lin kecil dengan nada yang sama, membuat Han Ying mengangkat sebelah alisnya juga.


Sebelum perdebatan pecah, baik Qing Xian dan Bing Jiao langsung melerai keduanya. “Oke saudari tidak perlu membalas perkataan nya ya.” Ucap Bing Jiao seraya memegang pelan pundak Han Ying, membuat sang empu perhatiannya teralihkan kepada Bing Jiao. “Lin’er juga cukup sampai di situ tidak perlu di permasalahkan lagi.” Kata Qing Xian memegang pundak Lin kecil membuat pandangan nya teralihkan kepada pemilik yang memegang pundaknya.


“Ya karena Kakak Xian sudah berkata seperti itu, maka aku tidak akan bicara lebih jauh lagi.” Kata Lin kecil.


“Jika saudari sampai bersikeras seperti itu, maka aku juga tidak akan mengatakannya lebih jauh lagi. Ujar Han Ying. Keempat wanita itu pun melangkah santai mengikuti para tetua yang sudah melangkah terlebih dahulu menuju kereta yang telah di siapkan oleh Kekaisaran Shu.


“Oh ya saudari. Apakah kamu tahu kemana perginya Saudara Feng?” Tanya Han Ying tiba-tiba kepada Bing Jiao.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Bing Jiao pun melirik sekilas ke arah Qing Xian dan mendapatkan respon gelengan kepala darinya, baru kemudian Bing Jiao menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Aku juga tidak tahu dimana kakak berada. Ia juga belum mengabariku sampai sekarang.” Kata Bing Jiao.


“Memangnya kenapa saudari bertanya mengenai keberadaan Kakak Feng?” Bing Jiao lanjut bertanya. “Ya bukan aku sih sebenarnya, tapi para tetua yang penasaran kepada Saudara Feng dan lantas bertanya kepada Tetua Sang dan paman.” Kata Han Ying.


Mendengar hal itu, Bing Jiao menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari perkataan Han Ying. “Aku juga tidak tahu dimana kakak saat ini, mungkin sudah kembali ke penginapan atau pergi entah kemana, mengingat dirinya yang tidak ingin menarik perhatian banyak orang.” Kata Bing Jiao.


>>>>>>______


Sementara Itu di sisi Ling Feng


Tepat selesai nya pertandingan, Ling Feng memilih untuk kembali ke penginapan lalu setelah beberapa saat memberikan kunci kamarnya kepada resepsionis penginapan seraya menitipkan beberapa kalimat kepadanya baru kemudian pergi dari penginapan tersebut.


Ling Feng berjalan santai di tengah-tengah kerumunan, lalu tanpa di sadari banyak orang, dirinya menghilang begitu saja seraya menggunakan elemen anginya pergi dari sana. Ling Feng pergi dari kota Kekaisaran dan kembali ke daerah pedalaman hutan untuk berlatih di sana. Walaupun diri nya saat ini sudah dapat dikatakan sebagai salah satu kultivator terkuat di dunia biru ini, namun bukan berarti ia harus malas-malasan. Ia berlatih dan membunuh banyak beast yang mencoba untuk mendekati nya.


“Pedang Putih dan Hitam ku terlalu mencolok, sebagai antisipasi membuat pedang baru sepertinya lebih baik.” Gumam Ling Feng seraya menyantap daging bakar dari beast yang ia bunuh pada saat ia sedang berlatih beberapa jam yang lalu. Ling Feng sontak melangkah masuk ke dalam gua yang kebetulan ada di sana.


Ling Feng sontak membuka portal menuju dunia jiwanya. Dirinya bisa saja melakukan pembuatan senjata di sana, namun jika ia melakukannya, pastinya banyak kultivator kuat yang merasakan auranya yang pasti akan bocor, dan membayangkan apa yang terjadi selanjutnya saja, sudah membuatnya menghela nafas panjang. Merepotkan, gumamnya. Lalu alasan lainnya, adalah akan memakan waktu yang lama, mengingat membuat senjata itu tidak mudah.


Ling Feng langsung melangkah gua kecil yang berada di sisi danau di sana. Dirinya langsung menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat pedang barunya saat ini. “Baiklah semuanya sudah langsung mulai saja.” Katanya lalu menjentikan jarinya seketika api berwarna hitam pun keluar dari ujung jarinya lalu menyala dengan membara di dalam tungku besar pembuatan senjata. Ling Feng lanta memasukan bahan-bahan yang diperlukan ke dalam sebuah tempat lalu tempat tersebut di masukkan ke dalam tungku yang membara.


Ling Feng menarik nafas sejenak, lalu menghembuskan nya. Ia juga melepaskan pakaian bagian atasnya, lalu mengambil kuda-kuda untuk menempa, dengan palu yang terbuat dari Qi miliknya. Ia lalu mulai menempa dengan hati-hati dan konsentrasi tingkat tinggi, pasalnya jika ia teralihkan sedikit saja, dirinya bisa terkena efek pembalik yang sangat berat.


Ctanggg...! Ctanggg...!


>>>>>>______


Sementara Itu di Sisi Lainnya


“Bagaimana Jiao’er? Apakah kamu sudah mendapatkan kabar dari Ling Feng?” Tanya Tetua Han kepada Bing Jiao yang di balas gelengan kepala dari wanita tersebut. “Kakak Feng masih belum membalas pesan ku guru sampai sekarang.” Timpal Bing Jiao.


Tepat waktu menunjukkan tengah hari, Bing Jiao dan Tetua Han memutuskan untuk kembali dan mengajaknya berbicara seraya memberikan token masuk untuk ke tanah rahasia, namun saat mereka sampai di penginapan, kamar dari pemuda itu kosong melompong, keduanya pun turun ke lantai pertama, memutuskan untuk bertanya kepada resepsionis, dan sang resepsionis pun mengatakan bahwa Ling Feng telah pergi beberapa jam yang lalu dari penginapan.


“Haihhh... Dasar anak itu memang benar-benar tingkahnya di luar dugaan.” Ujar Tetua Han menghela nafas kasar. “Mungkin saja kakak sedang berlatih entah dimana sekarang, mari kita tunggu beberapa hari lagi guru.” Ucap Bing Jiao seraya menggenggam erat token masuk milik Ling Feng.


“Ya kau benar Jiao’er. Token miliknya sudah dipisahkan juga oleh mu, jadi kurasa tidak akan menjadi masalah.” Timpal Tetua Han yang diangguki oleh Bing Jiao, lalu keduanya pun kembali ke istana Kekaisaran Shu.


>>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.