Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Sekte Gadis Suci


Ling Feng yang dapat mendengar pembicaraan kedua orang itu dengan jelas awalnya sedikit teralihkan, ketika dirinya berusaha menyimak kembali pembicaraan kedua orang tersebut makanan dan minuman yang ia pesan pun datang. Tanpa basa-basi ia pun mengambil porsi pertama dan melahapnya santai seraya menyimak dengan seksama pembicaraan kedua orang tersebut.


>>>>>>______


“Benar-benar sangat mengerikan ya. Akan tetapi kita sepertinya tidak perlu khawatir lagi, karena aku dengar Wali kota sudah meminta bantuan kepada Sekte Gadis Suci dan permintaan itu di terima oleh sekte tersebut.” Timpal temannya yang baru saja datang dan duduk di hadapan dua orang tersebut.


Mendengar hal itu, sontak kedua temannya pun nampak terkejut ketika mendengarnya, “Eh benarkah itu?!” Ujar keduanya bersamaan dan dianggukki oleh tersebut.


“Aku bahkan tadi melihat kedatangan mereka yang datang ke kediaman wali kota.” Ujarnya lagi seketika membuat kedua temannya itu langsung tertunduk lesu seraya berkata, “Ah kau benar-benar beruntung. Aku benar-benar ingin melihat mereka.” Timpal temannya itu seraya tertunduk lesu dan diangguki oleh orang yang berada di sebelah nya.


Orang yang menyampaikan informasi itu pun terkekeh puas. Tentu dirinya menyadari kenapa dua temannya itu bersikap lesu seperti itu. Sekte Gadis Suci adalah salah satu dari empat sekte terkuat yang mana dari murid sampai para tetua, patriak sekte, dan bahkan sampai leluhurnya semuanya wanita.


Sekte Gadis Suci itu sendiri berada di puncak gunung salju yang disekitarnya di kelilingi oleh pegunungan biasa pada umumnya yang menjulang tinggi di sekitarnya. Akses untuk sampai ke tempat Sekte Gadis Suci juga sangatlah sulit, membuat sekte tersebut benar-benar terisolasi dari dunia luar dan jarang berinteraksi jika bukan hal yang mendesak.


Ling Feng yang awalnya memejamkan kedua matanya sontak membuka sebelah matanya dan refleks melirik ke arah tiga orang tersebut. Dirinya cukup tertarik dengan pembicaraan ketiga orang tersebut, akan tetapi hanya beberapa saat saja sampai ia pun acuh kembali dan hanya menikmati makanan yang di sajikan di atas meja serta disandingkan dengan pemandangan laut yang indah.


“Sekte Gadis Suci, kah... Ya, lagipula bukan urusanku.” Gumam Ling Feng pelan seraya mengedikan kedua bahunya sudah selesai menghabiskan porsi pertama dan bersiap untuk mengambil makanan yang lainnya, akan tetapi dirinya dibuat terdiam ketika melihat makanan yang tersaji di atas meja telah lenyap tanpa tersisa.


Ia pun menatap aneh ketika melihat seekor naga kecil yang dengan santainya meneguk arak langsung dari botolnya. Ling Feng benar-benar merasa aneh ketika melihat Long Tian melakukan hal itu. Lebih aneh dan hebatnya lagi tidak ada yang menyadari tingkah dari naga kecil itu.


“Ahhhh jadi seperti ini rasanya arak dari selatan ya. Rasa ini benar-benar nostalgia hehehehe...” Gumam Long Tian pelan seraya memasang wajah puas, dan nampak sangat bahagia. Ia pun refleks menoleh ke arah Ling Feng seraya tersenyum lebar dan berkata, “Ada apa dengan tatapan mu itu nak? Cobalah arak ini, benar-benar enak tahu hehehehe.” Ucap Long Tian yang tentunya hanya dapat di dengar oleh Ling Feng saja tentunya.


Seraya tertawa puas, ia pun kembali meneguk arak tersebut. Ling Feng yang melihat itu hanya menghela nafas kasar dan mengambil botol arak satunya beserta dengan cangkirnya. “Dasar naga aneh.” Gumam Ling Feng kesal seraya mengalihkan pandangan nya ke arah jendela melihat lautan.


>>>>>>______


Sementara Itu di Suatu Tempat


“Jadi tetua. Apa rencananya sekarang?” Tanya seorang wanita cantik yang tengah mengenakan pakaian biru langit serta cadar di wajahnya. Wanita cantik itu bertanya kepada Sosok wanita di hadapan nya yang ia panggil tetua.


“Aku sudah memikirkan rencananya. Kita akan membahasnya lagi nanti dengan wali kota juga.” Jawab tetua wanita tersebut dengan lembut seraya meletakkan cangkir teh nya dengan anggun.


“Omong-omong kemana perginya Lan’er?” Tanya sang tetua wanita tersebut.


“Begitu, kah... Kalau begitu kenapa kalian tidak berkultivasi juga sama seperi Lan’er.” Ujar tetua wanita itu seraya memandang kedua wanita tersebut dengan anehnya, dan orang yang di pandangnya pun hanya tertawa kecil seraya menggaruk-garuk kecil pipi masing-masing.


“Hehehe... Kami sudah berkultivasi, tapi masih tidak ada kemajuan alhasil dari pada buang-buang waktu kami pun keluar untuk beristirahat menenangkan pikiran terlebih dahulu.” Ucap wanita bercadar biru menjelaskan nya dengan hati-hati dan dianggukki oleh wanita bercadar putih di sebelahnya.


Tetua wanita itu hanya tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saja dan berkata, “Bilang saja kalau lagi malas. Tidak perlu sampai beralasan seperti itu.” Ucap Tetua tersebut dengan lembut membuat keduanya pun menjadi salah tingkah sekaligus malu, karena apa yang di katakan oleh tetua tersebut adalah sebuah fakta.


“Dasar kalian berdua ini ya.” Ucap tetua wanita itu lagi.


Kedua Wanita tersebut adalah murid dari sekte gadis suci yang di utus untuk membantu permasalahan di Kota Binhai dan untuk tetua wanita itu tidak lain adalah salah satu tetua dari sekte gadis suci yang bertugas sebagai pendamping atau instruktur bagi kedua muridnya. Lebih tepatnya ada tiga, namun yang satunya masih di kamar tidak mengikuti kedua saudarinya yang keluar karena bosan.


>>>>>>______


Kembali Kepada Ling Feng


Setelah selesai makan dan minum di restoran tersebut, dirinya dan Long Tian pun pergi dari sana dan menuju ke pelabuhan kota tersebut untuk membeli tiket kapal yang menuju pulau paling dekat dengan ujung benua.


Sebelumnya Ling Feng sudah sempat bertanya sekilas dengan sang pelayan tentang Ujung Benua itu, awalnya sang pelayan nampak terkejut ketika mendengar apa yang ditanyakan oleh Ling Feng dan dirinya pun nampak sedikit ragu untuk memberitahukan nya. Akan tetapi, ketika Ling Feng berkata akan memberikan nya imbalan atas informasinya pelayan itu nampak terkejut.


“Aku sudah di bayar lebih oleh mu tuan muda, jadi tidak perlu memberiku lagi. Alasan aku ragu memberitahukan nya, takut informasi yang kusampaikan ini tidak benar adanya, karena sumber yang kudapatkan itu berasal dari cerita dongeng nenekku dulu.” Jelas sang pelayan tersebut seraya menyodorkan kembali koin emas nya kepada Ling Feng.


Dalam hatinya Ling Feng benar-benar takjub dengan sifat baik sang pelayan tersebut. Ling Feng pun lantas berkata, bahwa dirinya tidak keberatan dengan sumber informasi itu. Walaupun hanya sebuah dongeng pengantar tidur saja, akan tetapi sang pelayan berkata bahwa tempat dari dongeng nenek nya itu sama dengan tempat yang Ling Feng tuju.


Terlebih lagi ketika mendengar pernyataan dari pelayan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa ‘ujung benua’ dalam dongeng tersebut benar-benar ‘ujung benua’ yang ia cari-cari saat ini. Mendengar hal itu, sang pelayan pun dengan senang hati menyampaikan dongeng yang ia dengar dari nenek nya beribu-ribu kali kepada Ling Feng dengan sejelas-jelasnya tanpa terlewat satu patah kata pun.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.


Nb: Maaf kawan readers baru up. Lagi sibuk di kehidupan RL🙏🏼