Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Turnamen Alkemis (2)


"Penindasan api? apa artinya itu?" Ulang walikota Anyi dan kepala keluarga Qing. Pada saat kedua orang tua itu terheran-heran, datang lagi seorang wanita yang menarik minat sembari berkata.


"Penindasan api itu adalah keadaan dimana apabila seorang alkemis berhadapan dengan alkemis lainnya. Biasanya seorang alkemis mengeluarkan kekuatan jiwa tanpa sadar pada saat mengeluarkan apinya. Tentunya semakin besar kekuatan jiwa yang keluar semakin besar pula penindasan nya." Qing Xian langsung menjelaskan saat pertama kali datang.


"Kakak Xian…Kakak darimana saja aku kira kakak tidak akan datang." Ucap wanita tersebut sembari berlari kecil lalu memeluk Qing Xian. Qing Xian yang mendengar itu langsung menyambut pelukannya sembari tersenyum manis.


"Bagaimana aku tidak datang, sedangkan putri walikota sedang berulang tahun. Bahkan aku tidak sopan telah datang terlambat saat ini." Ucap Qing Xian. Wanita tersebut yang tidak lain adalah putri walikota langsung menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak turnamennya saja baru dimulai kakak tidak perlu merasa seperti itu." Ucap Putri walikota tersebut sembari tersenyum manis membalas senyum Qing Xian.


"Baiklah sekarang kalian sudah bertemu sekarang bisa kita bicarakan siapa diantara para peserta tersebut yang bisa mengeluarkan kekuatan jiwa seperti itu?" Tanya kepala keluarga Qing yang tidak lain adalah ayah dari Qing Xian.


Qing Xian yang mendengar itu hanya mengangkat bahunya tidak mengetahui dan berkata, "Aku tidak tau ayah, akan tetapi mungkin ada yang lebih mengetahui selain diriku." Ucap Qing Xian sembari tersenyum kepada ketua paviliun obat yang masih terfokus dengan arena lebih tepatnya dengan seseorang.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Qing Xian, Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang ketua paviliun obat. Terlihat seorang pemuda tanpa melakukan hal yang menarik sedang meracik pil. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing saling tatap menatap. Mereka berdua Merasa hal tersebut tidaklah mungkin, karena pasalnya pemuda itu hanya mengeluarkan aura kultivasi ranah Mahaguru Bintang 2 bagaimana bisa mempunyai kekuatan jiwa sampai selevel itu.


Kembali ke Ling Feng


"Feng'er sepertinya ada yang sedang memperhatikan mu." Transmisi Long Tian kembali terdengar dikepalanya. Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya menjawabnya, "Iya paman aku mengetahui hal itu, padahal aku tidak melakukan hal yang menarik, tetapi kenapa semua tuju mata datang kepadaku paman." Jawab Ling Feng tidak habis pikir.


Long Tian yang mendengar itu hanya bisa menepuk dahinya merasa heran dengan Ling Feng yang tidak peka dengan sekitarnya atau apa. Long Tian pun berkata kembali dengan pasrah, "Sudahlah Feng'er takdir mu yang satu ini memang tidak bisa di ubah sepertinya, kau terlahir untuk hidup mencolok sepertinya." Jawab Long Tian asal-asalan bingung ingin memberitahu masternya yang tidak peka akan sekitarnya.


Ling Feng yang mendengar jawaban tidak masuk akal Long Tian mengerenyitkan dahinya, merasa aneh dengan Perkataan Long Tian. Tidak ingin ambil pusing ia hanya melanjutkan kembali membuat pil dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pelaksana tadi.


Dirinya meracik pil disertai dengan tungku-tungku yang meledak milik peserta lainnya, namun Ling Feng tidak mempedulikan hal itu dan tetap meracik pil tanpa terganggu sedikitpun.


Sisi lain arena


"Konsentrasi yang sangat luar biasa, aku tidak menyangka ia masih bisa begitu tenang ditengah-tengah keributan seperti itu." Ucap tiba-tiba ketua paviliun obat. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing melirik kembali Ling Feng yang memang tidak terganggu dan mereka mengakui itu, akan tetapi mereka masih tidak percaya bahwa pemuda tersebut mempunyai kekuatan jiwa yang kuat sesuai dengan yang dikatakan oleh Qing Xian.


"Jika kalian tidak percaya lihat pasca ia mengeluarkan apinya." Ucap Ketua paviliun obat. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing mengalihkan pandangannya menunggu Ling Feng mengeluarkan api di telapak tangannya.


Ketua paviliun obat pun langsung menyontohkan nya. "Umumnya api yang digunakan untuk membuat pil adalah berukuran seperti ini." Ketua paviliun obat mengeluarkan api yang ukurannya sekepalan lengan, namun sedikit lebih kecil. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing manggut melihat api yang muncul di telapak tangannya.


"Kekuatan jiwa seorang alkemis adalah pengaruh dari semua itu. Jika seorang alkemis mempunyai kekuatan jiwa yang kaya, maka ia dapat bebas memanipulasi api yang ia ingin keluarkan." Ucap ketua paviliun obat sembari menggunakan kekuatan jiwanya Membuat api tersebut menjadi lebih kecil.


"Memanipulasi api, semakin besar semakin mudah. Akan tetapi, apabila semakin kecil, hal itu akan semakin sulit, karena membutuhkan kekuatan jiwa yang berlimpah." Ucap ketua paviliun obat menghilangkan api di telapak tangannya.


"Sementara anak ini, dia sudah berada di tingkatan yang berbeda." Lanjut ketua paviliun obat mengalihkan pandangannya ke Ling Feng yang masih acuh tak acuh dan meracik pil seperti biasa sembari mempertahankan apinya.


Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing tidak menyangka bahwa ada peserta yang menarik minat ketua paviliun obat sampai ke tingkat seperti itu. Sementara Qing Xian hanya menatap Ling Feng dalam diam, tidak pernah mendengar orang tersebut dahulunya. Berbeda dengan ayahnya, Qing Xian sedikit lebih pintar. Oleh karena itu, kebanyakan bisnis keluarga Qing diatur oleh Qing Xian sebagai penanggung jawabnya.


"Pemuda ini mengeluarkan aura yang tidak asing, tapi siapa dirinya. Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah bertemu, akan tetapi Instingku berkata kita pernah bertemu." Gumam Qing Xian dalam hatinya sembari memandang Ling Feng. Ling Feng yang menyadari tatapan tajam Qing Xian, memilih untuk pura-pura mengabaikannya.


"Cih Sial, itulah mengapa aku membencinya wanita yang terlalu pintar." Batin Ling Feng yang menyadari tatapan mata Qing Xian. Ling Feng sedikit tidak menyangka bahwa Qing Xian, bahkan ketika ia curi-curi pandangan Qing Xian dengan terang-terangan menatapnya.


Qing Xian yang sadar bahwa pemuda yang ia lihat sedang curi-curi pandangan terhadapnya membuat dirinya berfikir keras siapa pemuda yang dihadapannya ini. Namun, hal itu ia tahan menunggu saat-saat yang tepat.


Tak terasa waktupun berjalan dengan cepat, empat jam berlalu begitu saja tanpa dirasa sama sekali dan terdengar suara penanda.


Gongggg


"Baiklah cukup sampai disitu bagi yang telah menyelesaikan pil nya harap berdiam terlebih dahulu, dan untuk yang belum menyelesaikan pil nya bisa langsung keluar dari arena ini." Ucap tetua Yao mengintruksi.


Lalu tetua Yao dan dengan dibantu dengan beberapa orang lainnya mulai menilai pil yang berhasil dibuat oleh peserta.


>>>>> Bersambung