Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Pertemuan Keluarga Qing


Setelah puas makan, sekelompok serigala itu langsung terlelap pada mimpi masing-masing. Ling Feng yang melihat itu hanya tersenyum simpul lalu berjalan sedikit menjauh dan duduk berkultivasi.


Ia lalu mengeluarkan sebuah pil putih bersih dari cincin ruangnya yaitu, pil pengumpul Qi. Kemudian ia pun menelan pil tersebut. Perlahan pil tersebut pun mulai menunjukkan efeknya, Ling Feng pun tidak tinggal diam dan mulai menutup matanya fokus menyerap khasiat pil tersebut. Semalaman itu dirinya fokus tenggelam dalam posisi lotus berkultivasi.


Keesokan Harinya


Malam pun berlalu dengan sangat cepat digantikan dengan suasana menjelang pagi. Walaupun seperti itu, Ling Feng masih tenggelam dalam kultivasinya. Sampai beberapa menit kemudian aura yang mengumpul disekitarnya dirinya, mulai berhenti bergejolak dan mulai kembali seperti semula.


Tidak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya lalu membuka kedua matanya. "Ternyata masih kurang, kah…Dengan Qi sekitar sepadat ini pun masih belum bisa menembus ternyata." Gumam Ling Feng merenggangkan tubuhnya lalu melirik kesamping nya yang ternyata ada seekor serigala yang berbaring di dekatnya.


Serigala tersebut adalah sang pemimpin dari serigala-serigala yang lainnya. "Dia menjagaku semalaman sepertinya." Gumam Ling Feng. Lalu tidak lama kemudian serigala tersebut pun membuka matanya perlahan dan sesekali mengerjapkan matanya.


"Yoo kawan bangunkan anak buah mu. Kita berangkat sekarang juga." Kata Ling Feng lalu melangkah keluar dari gua. Pemimpin serigala itu pun langsung bangkit dan sekali lagi mengerjapkan matanya memastikan bahwa ia tidak salah lihat.


Diluar gua benar-benar berbeda sekali. Walaupun awal masuk kedalam hutan terlihat banyak pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, namun ketika didalamnya ternyata masih ada tempat yang masih banyak terkena sinar matahari.


"Satu hari berlalu begitu saja. Xian'er sudah tau belum ya mengenai tentang adanya pengkhianat di keluarganya." Gumam Ling Feng sendiri sembari bersandar disalah satu pohon dekat gua. "Ya sadar tidak sadar tidak menjadi masalah. Mau bagaimana pun hasilnya tetap sama." Gumamnya lagi sembari menatap celah-celah sinar matahari yang berusaha menembus pohon tersebut.


Kediaman Keluarga Qing


"Akhirnya hari ini pun tiba. Qing Fei mulai hari ini Keluarga Qing aku yang akan mengambil alihnya." Sosok tersebut bergumam sendiri entah kepada siapa itu. Tiba-tiba sekilas bayangan datang. "Bagaimana dengan persiapan dirimu." Kata sosok tanpa wujud tersebut.


Ditanya seperti itu, orang itu pun menjawabnya. "Semua sudah selesai sisanya aku akan memberikan isyarat untuk memulai rencananya." Jawab sosok orang tersebut. Setelah berkata itu, sosok tanpa wujud itu masuk kedalam bayangan orang tersebut. Seketika, orang itu pun mengeluarkan aura aneh dari tubuhnya. Ia mengambil sikap lotus sebentar untuk mengontrol aura aneh itu terlebih dahulu.


Setelah dirasa sudah selesai, ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu. Ketika orang tersebut keluar ia sudah disambut pelayan pengantar pesan yang senantiasa berdiri disebelah pintunya. "Ada apa?" Tanya sosok tersebut kepada pelayan itu. Pelayan itu pun memberi hormat terlebih dahulu lalu berkata. "Salam tetua pertama. Kepala keluarga meminta seluruh tetua untuk berkumpul di ruang pertemuan." Kata pelayan tersebut.


Mendengar hal itu, sosok itu yang dipanggil tetua sedikit bingung awalnya, namun ia tidak berpikir jauh dan menganggap bahwa masih ingin membahas tentang permasalahan kemarin. Ia pun menganggukkan kepalanya lalu berkata. "Aku akan segera ke sana." Kata tetua pertama.


Pelayan tersebut pun menganggukkan kepalanya lalu izin pergi dari sana. "Apakah menurut mu ini tidak aneh?" Tanya sosok tanpa wujud itu kepada tetua pertama. "Qing Fei bukanlah orang yang waspada seperti itu. Aku yakin hal ini hanyalah kebetulan saja." Jawab tetua pertama ia pun melangkah menuju ruangan pertemuan.


Tidak lama pun tetua pertama sudah sampai di ruang pertemuan. Ia langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Ketika dirinya masuk, ruangan tersebut sudah dihadiri oleh tetua yang lainnya. Namun, ada yang berbeda dengan pertemuan kali ini yaitu, kehadiran seorang wanita muda yang sebelumnya tidak mengikuti pertemuan itu.


"Salam kepala keluarga. Qing Shuang datang menghadap mohon maaf aku baru datang kemari." Kata tetua pertama dengan nama Qing Shuang memberi salam kepada Kepala Keluarga Qing yaitu, Qing Fei. Qing Fei menganggukkan kepalanya dan berkata, "Tidak tetua Shuang lagipula pertemuannya belum dimulai. Silahkan duduk tetua pertama Qing Shuang." Kata Qing Fei tersenyum mempersilahkan tetua Shuang untuk duduk ditempatnya.


Qing Shuang membalas senyuman Qing Fei dan duduk ditempatnya. Tidak lama setelah Qing Shuang duduk, Qing Fei membuka suaranya kembali. "Terima kasih kepada para tetua yang sudah mau menyempatkan hadir untuk menerima panggilan ku. Aku Qing Fei sungguh bangga dengan para tetua selalu siap sedia dalam kondisi apapun." Kata Qing Fei tersenyum kembali.


Salah satu tetua pun menjawabnya, "Tidak perlu memuji seperti itu kepala keluarga. Lagipula kami sudah berjanji dan bersumpah jika itu berkaitan dengan kelangsungan keluarga Qing, kami tentunya akan mengerahkan semuanya tanpa ragu." Jawab salah satu tetua yang sudah berumur sembari mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Perkataan yang dikatakan oleh tetua tersebut diangguki oleh tetua yang lainnya membenarkan perkataan nya.


Mendengar dari penuturan kata Qing Fei tadi, Qing Shuang mulai merasakan ada hal yang mengganjal. "Sepertinya kita sudah ketahuan. Terlihat dari percakapan diantara keduanya saja sudah jelas terlihat, bahwa jelas-jelas bahwa kepala keluarga sudah mengetahui pengkhianatan mu.." Bisik sosok tanpa wujud itu dalam pikiran Qing Shuang.


"Tenang saja jika pun ia memang menargetkan diriku, tentunya ia harus mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh ku."Jawab Qing Shuang. "Benarkah itu? Tapi menurut ku tidak." Balas sosok tanpa wujud itu lalu kembali menghilang.


Qing Shuang pun mengangkat tangannya lalu kemudian berkata. "Izin bertanya kepala keluarga." Kata Qing Shuang. "Silahkan tetua Shuang. Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku." Kata Qing Fei.


"Kalau boleh tau apa tujuan anda mengumpulkan kami semua di ruang pertemuan ini?" Tanya Qing Shuang tenang. Qing Fei tanpa beban langsung menjawabnya, "Sebenarnya aku ingin kalian semua mendengar kesaksian dari seseorang yang baru saja kutemui." Kata Qing Fei tanpa beban membuat para tetua bingung mendengar jawaban dari Qing Fei.


Mendengar hal itu Qing Shuang pun berkata kembali. "Anda mengumpulkan kami hanya untuk mendengarkan kesaksian seseorang? Memangnya seharus apa sampai para tetua pun harus mendengarnya?" Tanya Qing Shuang.


"Ya aku mengerti kalian para tetua sangatlah sibuk. Namun, ketika mendengar kesaksiannya mungkin kalian semua mulai berubah pikiran." Kata Qing Fei lalu Qing Xian pun membisikkan sesuatu kepada Qing Fei. Qing Shuang menatap serius pasangan ayah dan anak tersebut.


Qing Fei pun berkata kembali, "Kebetulan orang yang kutemui sudah datang kemari." Kata Qing Fei tersenyum lalu tidak lama kemudian pintu ruang pertemuan pun diketuk dari luar.


Qing Fei pun memberikan aba-aba untuk membuka pintu ruangan tersebut. Ketika pintu tersebut dibuka, terlihatlah sosok pemuda yang membuat mata para tetua terkejut melihatnya. Bahkan Qing Shuang menatap serius sosok pemuda itu. Lebih tepatnya, ia menatap serius terhadap apa yang di seret oleh pemuda tersebut kemari.


>>>>>> Bersambung