
"Tidak kusangka dasar dari Jurang Keabadian ini seluas ini." Kata Ling Feng menyapu pandangannya. Ia memang belum menjelajahi daerah sekitar, namun untuk saat ini ekspentasi nya tentang sebuah jurang sempit yang gelap dan menyeramkan, kini di patahkan dengan Jurang yang luas seperti hutan dan banyak tumbuhan bersinar sebagai ganti dari matahari.
Mendengar apa yang dikatakan Ling Feng, Tua Tao lantas berkata. "Jadi orang yang berasal dari langit menyebut daerah ini sebagai Jurang ya." Kata Tua Tao. Ling Feng lantas bertanya kepadanya. "Memangnya guru menyebut daerah ini apa?" Tanya Ling Feng.
Ling Feng tentunya penasaran dengan latar belakang Hua Tao orang. tua yang entah darimana asalnya, saat ini tiba-tiba sudah menjadi guru daripada dirinya. Namun, ia tidak melakukan itu karena menurutnya tidaklah sopan bertindak seperti. Tua Tao sudah menghormati keputusannya dan sebaliknya, Ling Feng pun ikut menghormati keputusan yang telah diambil Tua Tao.
"Diriku pribadi mungkin menyebut nya Tanah kematian." Jawab Tua Tao tanpa beban. "Tanah kematian? Kenapa guru mendeskripsikan daerah ini dengan nama itu?" Tanya Ling Feng lagi. Tentunya ia sangat membutuhkan informasi dan maksud dari guru nya berkata seperti itu.
Tua Tao tidak menoleh kepadanya, namun hanya berkata lagi. "Sebentar lagi kau akan mengetahuinya mengapa aku menyebutnya tanah kematian." Kata Tua Tao misterius membuat Ling Feng semakin penasaran tentunya.
Sudah hampir satu batang dupa mereka terus berjalan menyusuri hutan belantara dan medan juang yang cukup sulit di tempuh. Sampai keduanya tiba di area hutannya yang lebih luas. Ling Feng menoleh ke kiri dan kanan sampai Tua Tao berkata, "Seharusnya kedua hewan itu sudah mau mulai saat ini, tumben sekali mereka belum pada datang." Gumam Tua Tao yang masih dapat didengar oleh Ling Feng.
Ling Feng yang mendengar apa yang dikatakan gurunya semakin bingung. Sampai kemudian aura kuat dan menekan tiba-tiba muncul. "Hehhhh…Mereka datang ya." Gumam Tua Tao tersenyum sembari meletakkan tangannya di dagunya.
Tua Tao lantas menoleh kepada Ling Feng. "Inilah mengapa aku sebut tempat ini tanah kematian." Kata Tua Tao bertepatan itu terdengar suara riuh-riuh para beast yang saling bersahutan. Bahkan sampai menutup kedua telinganya saking tidak kuatnya mendengar hal itu.
Namun masih ada yang membuat Ling Feng terkejut lagi saat ini, bahkan tubuhnya bergetar melihat apa yang ditangkap kedua bola matanya. "Feng'er! jika kau disana terus…Kau bisa mati loh." Kata Tua Tao yang sudah pindah di atas poho yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berpijak.
Tepat setelah berkata seperti itu tanah tiba-tiba kembali bergetar. Ling Feng yang merasakan itu dengan cepat menghilang dari tempat berpijak saat itu juga dan muncul kembali tepat di samping Tua Tao.
Grubukkkkk
Grubukkkkk
Grubukkkkk
Tua Tao yang melihat Ling Feng dengan nafas yang memburu lalu berkata. "Inilah Tanah kematian yang sesungguhnya. Bagaimana menarik bukan." Kata Tua Tao terkekeh. Ling Feng masih dengan nafas memburunya. "Lautan beast dengan tingkatan paling rendah berada di tingkat Langit awal. Tempat ini benar-benar mimpi buruk bagi manusia." Gumam Ling Feng menatap tidak percaya lautan beast tersebut.
"Masih ada empat ekor lagi yang belum datang." Kata Tua Tao serius. Ling Feng yang mendengar itu mengulang perkataan Tua Tao. "Masih ada lagi? dan lagi jumlah nya empat ekor?" Gumam Ling Feng.
Deggghhh
Detak jantung Ling Ling sempat berhenti berdetak. "Apa-apaan aura intimidasi ini?! Sampai-sampai Insting ku berkata jika kau melawan pemilik aura ini, aku akan mati saat itu juga." Batin Ling Feng. Dirinya baru pertama kali merasakan perasaan intimidasi seperti ini.
Ia pun mendongakan kepalanya menatap muncul lagi empat beast dari masing-masing arah mata angin. Empat beast itu mempunyai tubuh yang sangat besar bahkan tinggi paling rendah dari keempat beast itu adalah dua puluh meter.
Tua Tao melihat ekspresi Ling Feng saat ini. Ia tersenyum simpul melihat reaksi tersebut. "Bagaimana perasaan diintimidasi? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa kau tidak akan menang walaupun sudah mengerahkan seluruh kemampuan mu?" Tanya Tua Tao.
Tubuh Ling Feng bergetar hebat tidak menjawab. Tua Tao tersenyum lalu menepuk bahu Ling Feng seketika tubuh Ling Feng tidak bergetar lagi. "Jangan lupakan perasaan itu. Hanya jika kau memahami perasaan itu, kau bisa terus lanjut mendaki. Lemah bukan berarti tidak bisa menjadi kuat." Kata Tua Tao lalu melesat pergi dari sana meninggalkan Ling Feng yang masih terdiam disana.
Ling Feng lantas melihat kedua telapak tangannya yang masih bergetar sedikit. Ling Feng lantas mengepalkan erat kedua tangannya lalu tersenyum kemudian. "Tenang saja guru aku sudah mengerti maksud dari mu yang membawa ku ke sini." Gumam Ling Feng ia lantas menghilang dari sana.
Ling Feng kembali muncul di tempat semula yaitu, gubuk. Ling Feng bingung melihat gubuk mereka yang tidak kenapa-kenapa dan masih berdiri kokoh disana. "Kukira kau akan depresi cukup lama setelah mengetahui fakta bahwa kau hanya semut di hadapan mereka." Kata Tua Tao yang melihat kemunculan Ling Feng yang cukup cepat dari yang ia duga.
"Bukankah guru sendiri yang berkata, Lemah bukan berarti tidak bisa menjadi kuat." Kata Ling Feng mengulangi perkataan Tua Tao. Mendengar hal itu Tua Tao berdecak. "Cihhhhh, jika tau seperti itu…Seharusnya aku tidak perlu mengatakan nya." Decak kesal Tua Tao.
"Ya sudahlah, pertama dari pelatihan ku kau harus membaca buku yang disana." Kata Tua Tao mengedikan kepalanya. Ling Feng lantas mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Tua Tao dan membelalakkan matanya terkejut.
"Guru kau yakin aku harus membaca seluruh buku ini." Gumam Ling Feng menatap tumpukan-tumpukan buku dengan tinggi tiga meter. "Jika kau ingin menjadi ahli formasi pahami semua yang ada dibuku itu terlebih dahulu sebelum menuju pelatihan selanjutnya." Kata Tua Tao berjalan masuk kedalam gubuknya.
"Oh ya, setiap kau selesai membaca dan memahami lima buku panggil aku." Kata Tua Tao sebelum benar-benar masuk kedalam gubuk nya. Ling Feng menghela nafas panjang melihat tumpukan buku tersebut. Bukan hanya satu tumpukkan saja. "Sepertinya ini akan sangat lama." Gumam Ling Feng menghela nafas lalu mengambil satu buku dan mulai membacanya.
>>>>>>>> Bersambung