
Bing Jiao dan Qing Xian awalnya saling pandang, sempat ragu, karena memang keduanya tidak di undang ke dalam pertemuan tersebut, namun atas bujukan dari Ling Feng, mereka pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Ling Feng.
>>>>>>______
Ling Feng pun mengeluarkan satu set pakaiannya. Kali ini ia menggunakan perpaduan antara warna hitam dan jubahnya yang berwarna putih. Warna yang sangat kontras, namun ketika di pakai oleh pemuda terlihat sangat cocok baginya. Rambut panjang lurus miliknya yang awalnya terurai, kini di sanggul di kuncir kuda, menambah kesan elegan dan terlihat sederhana, namun tidak mengurangi ketampanan wajahnya.
Bahkan Bing Jiao dan Qing Xian sampai terdiam, ketika melihat Ling Feng yang berpakaian seperti itu. Walaupun mereka sudah mengetahui, dan selalu melihat wajah Ling Feng, namun keduanya masih belum terlalu terbiasa dengan Ling Feng yang berpenampilan seperti ini.
Ling Feng yang melihat reaksi dari kedua wanita itu hanya terkekeh kecil, ia sudah menduganya bahwa Bing Jiao dan Qing Xian pasti akan bereaksi begitu. “Kedua bola mata kalian ingin lompat dari tempatnya loh.” Kata Ling Feng menyadarkan kedua wanita itu seraya mencubit kecil hidung mereka.
“Ehh.” Kata yang keluar dari mulut mereka refleks tersadarkan kembali.
“Sudahlah jangan melamun. Ayo kita pergi sekarang.” Kata Ling Feng yang telah selesai bersiap-siap, lalu menyadarkan kedua wanitanya yang sedang melamun seraya menatap dirinya terus-terusan.
Ketiganya pun keluar dari kamar, pergi menuju ruang pertemuan. Belum mereka sampai di tempat pertemuan, banyak pelayan yang kebetulan berlalu lalang, dan pada saat itulah para pelayan tidak bisa untuk tidak terpesona dengan wajah Ling Feng yang terlihat sangat tampan kali ini.
Bahkan tidak sedikit pata pelayan istana yang langsung teralihkan dari pekerjaan masing-masing, saking terpesonanya oleh wajah tampan Ling Feng yang diiringi senyum tipis di wajahnya, akan tetapi itu tidak berselang lama, karena baik itu Bing Jiao ataupun Qing Xian, keduanya langsung memberikan tatapan tajam kepada para pelayan yang terang-terangan menatap pria mereka, tentunya itu langsung membuat para pelayan tersebut sadar, mereka yang tersadarkan pun langsung tidak berani menatap Ling Feng kembali, walaupun terkadang masih curi-curi pandangan.
“Penampilannya benar-benar bencana saudari.” Kata Bing Jiao kepada Qing Xian dengan nada yang jelas-jelas tidak suka, terbakar api cemburu tentunya.
“Kamu benar saudari, sepertinya kita harus melakukan sesuatu dengan wajahnya itu supaya tidak memikat lebih banyak wanita lagi.” Kata Qing Xian yang di balas anggukkan tegas, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Qing Xian.
“Kebetulan sekali saudari, aku jadi teringat sesuatu setelah kamu berkata seperti itu.” Kata Bing Jiao seringai tipis tercetak di wajahnya.
“Hohhh... Kalau begitu kita akan bahas itu nanti setelah selesai dengan pertemuan nanti.” Kata Qing Xian yang diangguki oleh Bing Jiao. Keduanya pun secara tiba-tiba langsung berpindah ke kanan dan kiri Ling Feng, mengait kedua lengan pemuda tersebut.
Ling Feng hanya bisa tersenyum penuh arti, ketika mendengar percakapan keduanya tepat di belakang dirinya, walaupun begitu ia tidak berniat untuk mecari tahu lebih dan hanya membiarkan apa yang hendak mereka lakukan.
Ketiganya pun sampai di ruang pertemuan, orang-orang yang berada di sana tentunya tidak bisa untuk tidak kagum dengan ketampanan dan kecantikan dari ketiga orang yang baru datang itu. Penampilan yang selaras dari ketiga orang tersebut membuat para tetua dan para petinggi di sana, tidak bisa untuk tidak mengalihkan pandangannya masing-masing.
Wajah tenang dengan senyum tipis pemuda tersebut, ditambah dengan sikap tenangnya membuat semua orang berdecak kagum kepadanya. Bing Jiao dengan balutan jubah hitam dan Qing Xian dengan balutan jubah putihnya, membuat semua orang yang berada di sana berdecak kagum dengan ketiganya.
“Salam Raja Shu, salam para tetua, salam para petinggi kekaisaran.” Kata Ling Feng seraya memberikan salam ala para kultivator yang diikuti dengan Bing Jiao dan Qing Xian yang berada di sisi kanan dan kirinya.
“Terima kasih sudah datang nak. Nah nak Ling Feng, Bing Jiao, dan Qing Xian silahkan duduk.” Kata Raja Shu.
Ketiganya pun menganggukkan kepalanya lalu duduk beriringan di tempat yang telah di siapkan. Lalu pertemuan itu pun di mulai, yang mana itu dimulai dari cara atau antisipasi apa yang harus di lakukan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, seperti insiden pengkhianat dan penyerang ras iblis beberapa hari yang lalu.
Mereka pun pada akhirnya mencapai sebuah kesimpulan untuk terus waspada tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi, karena mau bagaimana pun masalah ras iblis bukanlah masalah kecil saja. Jika ras iblis ini melakukan hal yang sama pada Kekaiasaran lainnya, maka dapat di pastikan kekaisaran tersebut akan jatuh dalam kekacauan juga.
“Nak Ling Feng. Bagaimana menurutmu tentang hal ini? Langkah apa yang akan mereka ambil nantinya? Setidaknya kami yakin bahwa kamu mempunyai sudut pandang yang berbeda dari kami para orang tua.” Ucap Raja Shu kepada Ling Feng yang sedari tadi hanya menyimak para tetua dan petinggi saling mengutarakan pendapat.
Ling Feng, Bing Jiao, dan Qing Xian, hanya diam saja mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah kata pendapat pun dari mulutnya. Sampai Raja Shu memanggil namanya, para tetua dan petinggi pun teralihkan kepadanya.
Ling Feng menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari Raja Shu, dirinya pun mulai mengutarakan pendapatnya, yang mana hal itu tidak jauh berbeda dengan kesimpulan yang sebelumnya, namun ia mendapatkan sedikit beberapa informasi yang ia simpulkan sendiri dari perbincangan nya dengan Bie Xibo.
“Ras iblis ini lebih rumit daripada yang kita kira, kita harus lebih berhati-hati dengan para penyusup, karena itulah yang paling berbahaya. Kemungkinan besar, tujuan dari para ras iblis ini adalah untuk melepaskan segel-segel sekelompok iblis lainnya yang tersebar di segala penjuru di dunia biru.” Jelas Ling Feng. Pemuda itu juga menyampaikan pembicaraannya dengan Bie Xibo pasca ditanah rahasia. Tentunya itu tidak semuanya ia katakan, ia menyimpan sendiri dan berniat untuk menyelidiki tentang keadaan dunia biru ini sendirian tanpa melibatkan siapapun, karena jika ia mengatakan tentang kondisi dunia ini, maka dapat di pastikan kehebohan dunia biru ini akan menjadi heboh saat itu juga.
Para tetua dan petinggi yang mendengar itu tentunya memasang wajah masam, jika memang benar seperti itu, maka mereka tentunya tidak bisa menganggap ini masalah biasa, karena secara tidak langsung ini adalah masalah yang bersangkutan dengan keberlangsungan hidup mereka.
“Oleh karena itu, aku menyarankan untuk membicarakan ini dengan para master sekte dari empat sekte besar lebih lanjutnya, karena menurutku lebih baik jika hal serius seperti ini diperbicangkan oleh empat sekte besar dan empat kekaisaran. Lalu sampai saat itu tiba, cobalah untuk selalu waspada dan berhati-hati tentunya, karena tidak menutup kemungkinan ada penyusup di empat sekte besar maupun kekaisaran.” Ucap Ling Feng selesai menyampaikan pendapatnya.
Para tetua dan petinggi dari tiap-tiap kekaisaran yang mendengar itu, menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Ling Feng. Pertemuan itu pun akhirnya selesai pada waktu sore hari. Tujuh jam berlalu begitu saja tidak terasa, dan para tetua dari empat sekte besar pun memutuskan untuk kembali ke sektenya masing-masing saat itu juga.
>>>>>>______
Di Depan Gerbang Kota Kekaisaran Shu
“Kak kamu tidak ikut kami kembali ke sekte?” Tanya Bing Jiao dengan raut wajah yang rumit.
“Kakak akan kembali nanti, masih ada yang harus kakak lakukan, jadi kakak minta maaf, karena tidak bisa kembali sekarang.” Jawab Ling Feng yang membuat Bing Jiao merasa sedih, karena harus berpisah dengan Ling Feng lagi. Ling Feng menyadari itu langsung mendekati wanitanya itu lalu mengelus-elus puncak kepalanya dengan lembut lalu berkata, “Jangan bersedih Jiao’er, lagipula ini bukan perpisahan selamanya. Kakak pasti akan kembali lagi.” Kata Ling Feng dengan lembut seraya mengelus-elus puncak kepalanya.
Bing Jiao yang mendengar itu pun langsung menerjang ke arah Ling Feng, memeluknya dengan erat tanpa memperdulikan sekitarnya. Ling Feng juga sedikit terkejut, dengan Bing Jiao namun ia membalas pelukan dari wanitanya itu.
“Kalau begitu, kakak harus berhati-hati.” Kata Bing Jiao yang membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda tersebut.
“Iya, kakak akan berhati-hati. Jiao'er tenang saja.” Kata Ling Feng dengan lembut seraya mengelus-elus bagian belakang kepala Bing Jiao.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.