
“Hehhhh... Aku suka dengan wanita dingin seperti mu. Sudah kuputuskan, akan kujadikan kau sebagai istriku.” Ucap Tetua Racun dengan seringainya yang semakin lebar dan tanpa pikir panjang langsung menghilang dari tempat berpijaknya. Sang Tetua juga tidak tinggal diam dan ikut menghilang juga dari sana dan keduanya pun muncul kembali di langit-langit.
“Dalam mimpimu.” Timpal acuh sang Tetua sekte gadis suci ketika menahan serangan Tetua Racun.
>>>>>>______
Pertarungan antara kedua ranah saint itu pun berlangsung di udara. Lebih tepatnya Tetua sekte gadis suci lah yang memancing Tetua Racun untuk bertarung di sana. Ia juga meminta kepada Hu Yan, Yin Mei, dan Cai Lan untuk segera mengalahkan ketua bandit laut dan anak buahnya.
Sementara itu Ling Feng yang melihat pertarungan tersebut masih belum bergerak, ia masih belum berniat untuk membantunya. Terlebih lagi, tetua sekte gadis suci sudah bergerak sekarang. Jadi, kemungkinan semua orang yang ada di sana dalam bahaya sangatlah kecil.
Pada saat Ling Feng sedang asyik-asyiknya melihat apa yang terjadi di luar, secara tiba-tiba Long Tian kembali ke ruangan dengan wajah terlihat sangat bahagia. Bahkan saking bahagianya senyum di wajah naga kecilnya benar-benar sangat lebar membuat Ling Feng memandangnya aneh ketika melihat Long Tian yang kini tersenyum lebar dengan wajah naganya.
“Menilai dari ekspresi wajahmu, sepertinya kamu mendapatkan banyak harta di sana ya paman.” Ucap Ling Feng.
“Hehehehe bukan banyak lagi, aku menghabiskan semua harta benda yang ada di sana tanpa menyisakan satu pun. Aku bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sekarang saking bahagianya. Terlebih lagi ada dua tong arak berusia kira-kira seratus tahun lebih. Benar-benar hari keberuntungan ku hehehehe.” Jawab Long Tian dengan senyum lebar tercetak di wajahnya.
Ling Feng yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa selain merasa kasihan dengan para bandit laut. Jika saja mereka mengetahui fakta, bahwa harta benda mereka telah habis tak tersisa di saat mereka sedang mempertaruhkan nyawa masing-masing, entah sedepresi apa mereka semua.
“Apakah kamu tidak akan membantu situasi di luar nak?” Tanya Long Tian kepada Ling Feng.
“Tidak. Situasi nya tidak seburuk itu sampai aku harus turun tangan langsung. Terlebih lagi aku hanya ingin melihat dengan tenang saja dan sangat malas jika harus turun tangan.” Jawab Ling Feng namun malah mendapatkan tatapan aneh dari Long Tian.
Melihat tatapan tersebut, sontak Ling Feng pun mengangkat sebelah alisnya dan kembali berkata dengan heran pada Long Tian, “Ada apa dengan raut wajahmu itu paman?” Ujar Ling Feng seraya mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak~, tidak ada apa-apa kok~.” Ujar Long Tian yang malah membuat Ling Feng semakin curiga ada sesuatu disembunyikan oleh orang tua yang tengah berpura-pura menjadi naga kecil di hadapannya saat ini.
“Paman... Apa yang kau semb-“ Ucapan Ling Feng langsung di potong oleh perkataan Long Tian secara tiba-tiba.
“Ah aku lupa, aku masih belum memeriksa ruangan terkunci di kapal bandit laut itu. Aku rasa mereka masih menyimpan barang-barang yang menarik di sana. Aku akan segera kembali nak.” Potong Long Tian dan langsung menghilang begitu saja. Ling Feng yang melihat itu mengerutkan keningnya dan hendak mencegah kepergian nya, namun ia terlambat, karena Long Tian dengan cepat menghilang begitu saja.
“Cihhhh... Naga tua itu... Sebenarnya apa maksud dari memasang raut wajah seperti itu?” Gumam Ling Feng seraya berdecak kesal, karena saat ini ia pun mau tak mau sudah dibuat penasaran olehnya. “Persetan dengan apa yang ia pikirkan, aku tidak peduli lagi dengan Naga tua itu.” Ujar Ling Feng seraya menghela nafas kasar.
>>>>>>______
Sementara Itu di Luar Ruangan Ling Feng
Pertarungan sengit antara prajurit kota dan ketiga murid sekte gadis suci melawan ketua bandit laut dan anak buahnya pun nampak semakin sengit. Jual beli serangan antara kedua kubu tidak terelakkan dan bahkan ada beberapa yang menghancurkan sekitarnya, walaupun tidak terlalu parah.
“Benar-benar gawat. Walaupun kami sudah menumbangkan banyak bandit laut, tetap saja jumlah mereka terlalu banyak. Prajurit-prajurit yang kubawa tidak akan bisa bertahan lama. Juga kami harus melindungi para penumpang, benar-benar situasi yang tidak menguntungkan sama sekali.” Batin komandan kota.
Komandan kota sendiri sedang berhadapan dengan seorang bandit laut yang berada di ranah langit bintang lima. Walaupun bandit tersebut lebih lemah darinya, akan tetapi dirinya tetap saja kesulitan, karena tidak bisa fokus untuk mengalahkannya.
Shringggggg...!!
“Jangan mengalihkan pandanganmu ketika sedang bertarung!” Teriak bandit laut tersebut menyerang komandan kota ketika dirinya melihat sebuah celah. Komandan kota yang tidak siap pun sontak terkejut dan langsung menahan serangan mendadak tersebut, akan tetapi ia tidak bisa berhasil menahan sepenuhnya dan akibatnya ia terhempas ke belakang.
Ctaannggggg...?! Baaaammmm...!!
“Komandan!” Teriak beberapa prajurit yang melihat komandan mereka terhempas dimana mereka masing-masing masih bertarung dengan anak buah dari ketua bandit laut.
“Celah mu terbuka lebar tuan prajurit.” Ujar salah satu anak buah dan langsung menyerang telak prajurit tersebut. Sontak prajurit tersebut pun terpental ke belakang seraya memuntahkan banyak darah.
“Cihhhh keadaan ini benar-benar gawat. Entah berapa lama lagi kami bisa bertahan dalam kondisi tidak menguntungkan ini.” Gumam komandan kota memasang wajah masam ketika melihat situasi nya yang tidak menguntungkan sekarang. Ia tidak bisa mengharapkan ketiga murid sekte gadis suci, karena mereka juga harus melawan bandit yang berada di ranah langit terlebih lagi jumlahnya dua kali lipat dari yang ia lawan.
Para penumpang itu mempunyai mata, mereka sadar bahwa orang-orang yang melindungi mereka mulai kewalahan membuat semua penumpang yang ada di sana semakin ketakutan.
“Kekekeke... Seharusnya kau membawa prajurit lebih banyak lagi. Pada akhirnya kau tetap akan kalah.” Ujar Tetua Racun tepat di hadapan wajah Tetua sekte gadis suci. “Persetan dengan apa yang kau katakan. Aku akan menghabisimu sekarang juga.” Ujar Tetua sekte gadis suci menghempaskan Tetua Racun lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mengalirkan banyak Qi ke dalam pedangnya.
Sontak pedangnya pun bersinar terang berwarna putih salju. Qi yang ia alirkan kepada pedangnya pun bersinar terang membentuk bayang-bayang pedang yang lebih besar. “Teknik Perwujudan Pedang Elemen Es: Badai Salju Abadi.” Ujar Tetua sekte gadis suci mengayunkan Qi pedangnya yang telah berbentuk pedang besar dengan cepat secara vertikal ke arah Tetua Racun.
“Matilah dan tembus dosa-dosa mu di neraka sana.” Ujar Tetua sekte gadis suci dengan sorot mata dingin ketika mengayunkan Qi pedang nya dengan kuat.
Shringggg...!! Swossssshhh...?!
Aura kuat disertai cahaya terang benderang yang tiba-tiba muncul membuat semua orang yang sedang bertarung di bawahnya pun langsung mendadak berhenti bergerak dan terpaku dengan cahaya terang tersebut. Semua pasang mata menatap ke arah sosok wanita cantik yang tengah terbang di atas langit. Kecuali para bandit, semua orang yang ada di sana memasang raut wajah bahagia.
“Saudari Yan tetua menang! Tetua berhasil mengalahkan Tetua mengerikan itu!” Ujar Yin Mei terlihat sangat bahagia.
“Ya saudari, kalau begitu kita juga tidak boleh kalah.” Ucap Hu Yan dan dianggukki oleh Yin Mei. Semangat juang para prajurit pun juga meningkat dan tidak membutuhkan waktu yang lama sampai situasi pun berubah drastis.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.