Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Tekad Dari Seorang Ayah


Qing Fei mendengarkan dengan seksama dan serius apa yang dikatakan oleh Qing Xian kepadanya. Ia bahkan tidak tanggung-tanggung membuat sebuah penghalang menggunakan Qi nya, mencegah siapapun mendengarnya.


Hampir setengah jam keduanya berbincang serius, Qing Fei juga bereaksi sama seperti Qing Lao. Ia tidak percaya orang itu lah pengkhianat nya. Namun, asumsi-asumsi yang Qing Xian bawakan lagu membuat dirinya tidak bisa membantah hal itu.


Qing Fei pun menghela nafas panjang. "Jujur saja apa yang kau katakan ini, ayah masih tidak dapat mempercayainya." Kata Qing Fei menghela nafas panjang ia masih tidak dapat mempercayainya. Tidak, ia sudah mempercayainya. Hanya saja ia tidak bisa kenyataan bahwa orang tersebut mengkhianati dirinya saat ini.


Qing Xian yang melihat sang ayah yang begitu tidak berdaya hanya bisa diam tidak menjawab. "Tapi, ayah tidak akan ragu sama sekali jika ia memang orangnya dan benar dalang dari semua yang terjadi di keluarga Qing dan ada sangkut pautnya juga dengan penculikan mu, bahkan jika itu ia sekalipun ayah tidak akan ragu." Kata Qing Fei menguatkan dirinya sendiri.


"Siapapun itu jika ia berani menyentuh dan menyakiti orang-orang yang sangat berharga bagiku, bahkan jika ia orang itu sekali pun aku tidak akan pernah memaafkannya." Kata Qing Fei dengan nada serius tanpa bisa di sanggah.


Suasana diantara keduanya sudah tegang saat itu. Sampai Qing Fei berkata Membuat Qing Xian yang awalnya sedikit segan, seketika ia langsung malu ketika mendengarnya. "Oh ya Xian'er. Ngomong-ngomong sudah sejauh mana hubungan mu dengan tuan muda Feng?" Tanya Qing Fei penasaran. Sang empu yang ditanya seperti itu diam tidak menjawabnya.


Qing Fei yang tidak mendapatkan jawabannya melirik putri tersebut yang sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Lao'er…Ayah masih tidak menyangka bahwa wanita yang terkenal acuh tak acuh bak gunungan es, kini bertingkah seperti pada gadis umumnya ketika sedang kasmaran." Kata Qing Fei dengan nada menggoda dan menaik-turunkan alisnya.


"Ayah sudah tua tidak perlu ingin tau dengan urusan yang muda-muda." Kata Qing Xian menolak memberitahukan nya. Qing Fei yang mendengar itu terkekeh, karena Qing Xian mengatakan hal tersebut sembari menundukkan kepalanya dengan suara yang bahkan lebih kecil dari suara kicauan burung.


"Apa putri ku…Aku tidak bisa mendengar apa yang kau katakan masalahnya. Ulangi kembali apa yang kau katakan coba." Kata Qing Fei sembari mendekatkan telinganya ke Qing Xian yang menunduk.


Qing Xian yang sudah geram pun tanpa basa-basi melayangkan tinjunya. Akan tetapi sayang, Qing Fei dengan sigap menangkap tinju tersebut. "Sudah puas menggoda putri bungsu mu ini?" Kata Qing Xian dengan wajah kesal bercampur malu saat ini.


Qing Fei hanya terkekeh saja melihat hal itu. Lalu berkata kembali, "Sepertinya ayah harus berterima kasih kepada tuan muda Feng, karena sudah membuat putri es ini mencair kembali." Kata Qing Fei terkekeh. "Jika ayah mengatakan hal yang tidak-tidak kepada tuan muda Feng…Maka, siap-siap saja nantinya." Kata Qing Xian menatap tajam Qing Fei. Ia lantas langsung pamit pergi dari sana dengan wajah dongkol. Qing Fei yang ditatap seperti itu hanya menimpali putri bungsunya yang marah, menggelengkan kepalanya. Kemudian membatin dalam hatinya.


Qing Fei juga tersenyum penuh arti lalu bergumam. "Kau lihat sayang putri kita sepertinya sudah menemukan orang yang ia cintai. Andai saja kau masih disini dan melihatnya. Mungkin kau akan menggodanya terus menerus pastinya." Gumam Qing Fei sembari tersenyum penuh arti. Senyuman yang didalamnya banyak mengandung kenangan yang berharga.


"Kali ini aku tidak akan gagal lagi. Cukup hari itu sana aku telah gagal melindungi mu. Kali ini, tidak akan kubiarkan siapapun mengganggu ketentraman yang kau buat ini." Tekad Qing Fei kepada dirinya sendiri.


Kembali ke Ling Feng


Hari itu pun berlalu dengan sangat cepat. Dari yang awalnya siang hari, kini sudah berganti malam hari. Akan tetapi, walaupun sudah memasuki waktu malam hari. Sosok pemuda masih tidak berhenti melesat cepat ke arah menuju area terlarang.


Walaupun sudah malam hari Ling Feng tidak menurunkan kecepatan melesatnya sama sekali. Selama seharian ini, ia tidak berhenti sama sekali. Lalu ketika ia menemukan sebuah desa dan bertanya arah menuju area terlarang bahwa itu tidak jauh lagi.


Awalnya ia sempat mendapatkan kendala di desa tersebut, namun ia dengan cepat selesaikan dan pergi dari desa tersebut dan kembali melesat menuju area terlarang. Setelah hampir dua jam melesat tidak berhenti-henti sejak waktu berganti malam. Ling Feng pun berhenti di depan hutan yang menurutnya, hutan tersebut lah yang ia cari selama ini.


"Fyuhhh…Akhirnya sampai juga di hutan yang menuju area terlarang Kekaisaran ini tubuh ku benar-benar kaku sekali." Gumamnya sembari merenggangkan tubuhnya yang berasa cukup kaku akibat melesat tidak berhenti-henti selama seharian penuh. Normalnya, jika melakukan perjalanan dari kota Anyi menuju area terlarang itu memakan waktu lima sampai seminggu perjalanan.


"Baiklah…Dikarenakan sudah masuk waktu makan malam, jadi mari kita cari sesuatu yang dapat dimakan." Kata Ling Feng masuk melangkah kedalam hutan tersebut dengan tanpa beban sama sekali.


>>>>>> Bersambung