Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Tidak Sungkan Sama Sekali


"Jika ada perlu dengan ku bilang saja sekarang, kau tidak mungkin repot-repot membantu ku hanya untuk hal seperti itu, kan." Ucap Ling Feng setelah Jia kecil berjalan terlebih dahulu.


Qing Xian yang mendengar itu langsung berkata, "Bisakah kita pindah ke ruangan ku tuan muda Feng." Kata Qing Xian mengatakan identitas dirinya. Ling Feng yang mendengar itu menganggukan kepalanya lalu memanggil Jia kecil yang sudah duduk di salah satu meja.


"Jia'er ikut kakak, kita pindah tempat." Kata Ling Feng memanggil Jia'er. Jia'er yang mendengar itu langsung menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan saja apa yang dikatakan Ling Feng. Melihat Jia kecil menganggukkan kepalanya, Ling Feng mengalihkan pandangannya ke wanita sekaligus manajer dari rumah makan Bulan Matahari sembari berkata, "Tunjukkan jalannya" Ucap Ling Feng singkat.


Qing Xian yang mendengar itu langsung berjalan mendahului diikuti oleh Ling Feng dan Jia mengekori dibelakangnya. Ruangan yang Qing Xian maksud berada dilantai teratas atau bisa dibilang ruangan khusus untuk manajer dari rumah makan Bulan Matahari.


Setelah sampai didepan pintu ruangan, Qing Xian langsung masuk bersama dengan Ling Feng dan Jia kecil. Pertama kali Ling Feng masuk kedalam ruangan tersebut, kesan awalnya adalah ruangan yang nyaman dan sangat cocok untuk beberapa kondisi. Ling Feng, awalnya mengira ruangan tersebut hanya tempat untuk membicarakan sesuatu yang penting saja. Ternyata lebih nyaman dari yang ia duga.


Lalu disana juga terlihat sebuah meja sudah terisi dengan begitu ragam makanan yang terlihat sedap dipandang, Jia kecil yang melihat itu semakin tidak tahan menahan dirinya.


"Silahkan duduk tuan muda, nona kecil." Qing Xian mempersilahkan Ling Feng dan Jia kecil untuk duduk. Mendengar hal itu, Ling Feng dan Jia kecil langsung duduk di kursi berlawanan arah dari Qing Xian.


"Jadi ada keperluan apa Nona muda Qing mencari saya yang bukan siapa-siapa ini." Ucap Ling Feng langsung pada intinya sembari mengambil makanan yang diatas meja lalu diberikan kepada Jia kecil sebelum anak kecil itu menerjang makanan yang tersedia diatas meja.


"Tidak perlu terburu-buru, tuan muda bisa mencicipi makanan terbaik yang kami punya dan juga ada arak yang kemarin tuan muda cicipi dengan teman anda kemarin." Ucap Qing Xian sembari tersenyum manis. Ling Feng yang mendengar itu ingin berkata, namun langsung dipotong oleh Jia kecil dengan suara khas anak kecilnya.


"Kakak tampan makanan ini sangat enak. Cobalah makan ini kakak tampan." Kata Jia kecil dengan wajah yang sumringah senang ketika memakan makanan tersebut. Ling Feng yang mendengar itu hanya terkekeh melihat reaksi Jia kecil yang senang, karena bisa makan makanan seperti itu. Ling Feng lantas berkata, "Benarkah? apakah Jia'er menyukainya?" Kata Ling Feng sembari mengelus-elus puncak kepala Jia kecil.


Mendengar Ling Feng bertanya seperti itu, Jia kecil tersenyum lebar menganggukkan kepalanya sembari menjawab pertanyaan Ling Feng.


"Iya kak, makanan ini sungguh enak sekali, dan Jia sangat menyukainya. Ibu harus mencoba makanan enak seperti ini nanti." Ucap Jia kecil memakan makanan tersebut dengan wajah senang. Ling Feng yang melihat itu hanya tersenyum saja membiarkan Jia kecil sibuk sendiri.


"Langsung saja katakan apa yang ingin kau bicarakan dengan ku Nona." Ulang Ling Feng menanyakan hal tersebut dengan wajah acuh tak acuh. Qing Xian yang mendengar nada Ling Feng yang berubah kembali merasa sangat heran sampai-sampai ia membatin dalam dirinya.


"Pria ini, memangnya ada manusia yang bisa merubah tutur kata hanya dalam waktu sesingkat ini?" Batin Qing Xian melihat Ling Feng berubah 180 derajat dalam sekejap. Qing Xian pada akhirnya menghela nafas panjang lalu berkata.


"Baiklah aku punya sesuatu yang ingin di bicarakan dan mungkin tuan muda akan tertarik mendengarkannya." Ucap Qing Xian berubah mengatakan hal tersebut serius. Ling Feng yang mendengar itu menganggukan kepalanya berkata singkat, "Katakanlah" Satu kata keluar dari mulut Ling Feng. Qing Xian menganggukkan kepalanya lalu berkata.


Sekte Bayangan


"Apakah kau sudah semua keperluan untuk perjalanan menuju Kota Anyi Dei'er?" Tanya tetua agung kepada Dei An yang sudah siap dan terlihat rapih. Dei An yang mendengar itu menganggukkan kepalanya sembari menjawabnya dengan sopan.


"Izin menjawab guru, semua hal yang diperlukan sudah aku siapkan semuanya." Ucap Dei An. Tetua agung yang mendengar itu tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya. Dei An lalu melanjutkan perkataannya kembali, "Baiklah guru dikarenakan semua persiapan sudah selesai, murid izin untuk pamit menuju Kota Anyi." Kata Dei An lagi. Tetua agung tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Pergilah buktikan hasil latihan tertutup yang kau dapatkan." Ucap Tetua agung tersenyum melepas kepergian muridnya menuju Kota Anyi.


"Oh iya Dei'er, ingat kita aliran hitam tidak perlu terlalu mencolok disana, namun bukan berarti diam saja jika ada yang menghina. Bunuh siapapun tanpa pandang bulu dan ingat ini 'musuh dari musuh mu adalah sekutu mu' Itu katanya lalu…." Kata Tetua agung sangat serius lalu beberapa menit kemudian mengeluarkan sebuah poster buronan dan menunjukan kepada Dei An sembari melanjutkan perkataannya.


"Jika kau bertemu orang ini bunuh jika saat dirimu mampu, namun semisal kau merasa tidak mampu jangan pernah coba-coba mempunyai niat untuk membunuhnya." Ucap Tetua agung serius. Dei An yang penasaran pun bertanya, "Guru siapa orang ini aku tidak pernah mendengar sebelum-sebelumnya ada orang yang mempunyai nilai buronan setinggi itu?" Tanya Dei An kepada Tetua agung. Tetua agung yang mendengar itu menjelaskan sedikit tentang Ling Feng sesuai dengan data informasi yang sekte bayangan dapatkan darinya.


"Pemuda ini jika ditelak-telak umurnya sama dengan dirimu, ia bernama Ling Feng dia sudah membunuh tetua pertama dan juga baru-baru ini membunuh ketua mata-mata sekte bayangan. Lagi dirinya membunuh dengan cara yang kejam untuk mendapatkan informasi tentang sekte kita kelak kau harus berhati-hati jika bertemu dengannya." Jelas Tetua agung.


Dei An yang mendengar itu menganggukkan kepalanya dengan serius sembari berkata, "Guru tenang saja bahkan sampai matipun aku bersumpah tidak akan buka mulut apapun yang berkaitan dengan sekte bayangan. Kalau begitu murid ini izin pamit guru" Ucap Dei An dengan tegas. Tetua agung yang mendengar itu menganggukan kepalanya sembari tersenyum melepaskan kepergian muridnya. Setelah pamitan dengan gurunya, ia langsung bergegas bergerak menuju kota Anyi ditemani dua orang pemuda yang satunya laki-laki dan satunya lagi perempuan.


"Kita berangkat sekarang." Kata Dei An dengan tegas. Kedua muda mudi itu menganggukan kepalanya mengekori dibelakang Dei An berangkat menuju Kota Anyi.


Kembali ke Ling Feng


"Jadi apa yang akan anda lakukan tuan muda? Keluarga He sudah pasti akan mempersulit bahkan tidak segan-segan membunuh Anda di kota ini." Tanya Qing Xian dengan nada serius. Ling Feng yang mendengar itu hanya menjawab ala kadarnya saja.


"Datang tinggal datang saja, jika mereka menginginkan kematian maka aku akan memberikannya. Bahkan jika raja sekalipun yang datang menghalangi ku, ia tidak layak untuk menahan diriku membunuh orang yang ingin aku bunuh" Ling Feng mengatakan itu tanpa beban sama sekali.


>>>>> Bersambung


( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )


( Blizzardauthor)