Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Kejadian Di Jalanan Utama


“Berarti kita hanya perlu menunggu info lebih lanjut dari Pang Lang saja tuan muda?” Ren Hu mengajukan pertanyaan yang di angguki oleh Ling Feng. Tentunya Ling Feng tidak hanya asal meminta Pang Lang untuk melakukan penyelidikan tersebut, alasan Ling Feng memilih Pang Lang, karena ia adalah tetua sekte bayangan. Selain dikenal sebagai sekte kegelapan, sekte bayangan juga sangat membanggakan kemampuan menyelidiknya. Mempertimbangkan hal itu, tentunya Pang Lang yang paling ahli dalam bidang ini.


“Paman Lang pasti bisa melakukan nya, dan aku yakin ia bisa menyelesaikan tugas tersebut.” Kata Ling Feng. Senyuman tercetak di wajahnya, menunjukkan bahwa Ling Feng sangat percaya bahwa Pang Lang dapat menyelesaikan tugas tersebut.


“Begitu, kah... Tidak kusangka orang tua pendiam itu mempunyai keahlian seperti itu.”


“Ia dulunya adalah tetua sekte bayangan. Selain terkenal sebagai sekte hitamnya, sekte bayangan juga mempunyai kemampuan unggul dalam menyamar.”


Mendengar hal itu Ren Hu ber oh ria. Keduanya saat ini sedang berada di jalan utama kota Cheng Du. Membeli makanan cepat saji yang disarankan oleh Ling Feng. Mau bagaimana pun ia pernah menetap di kota tersebut selama beberapa waktu sebelum pergi ke Kaisaran Wei. Oleh karena itu, ia cukup familiar dengan kota tersebut, walaupun sudah beberapa tahun berlalu dan sudah banyak perubahan terjadi di kota tersebut.


Pada saat keduanya sedang berjalan santai, tiba-tiba terdengar langkah berisik yang cukup menarik perhatian seluruh orang yang berada di sana, termasuk Ling Feng dan Ren Hu. Pada saat keduanya menoleh ke sumber suara, nampak sekelompok orang berpakaian serupa berlari cepat ke arah Ling Feng dan Ren Hu seraya berteriak lantang.


“Itu mereka berdua berada di sana! Cepat kepung kedua orang berpakaian hitam tersebut!” Kata salah satu orang yang merupakan pemimpin kelompok tersebut memberikan aba-aba untuk mengelilingi Ling Feng dan Ren Hu.


Terlihat dari cara berpakaian mereka yang sama, Ling Feng dapat menebak bahwa sekelompok orang tersebut berasal dari suatu keluarga bangsawan, mungkin. Oleh karena itu, Ling Feng pun angkat bicara untuk membuktikan kebenarannya. “Siapa? Ada urusan apa dengan kami berdua?” Ling Feng bertanya kepada pemimpin kelompok yang mengelilingi nya itu.


“Kalian memang tidak mempunyai urusan dengan ku, namun kalian berdua telah melakukan hal fatal dengan telah menyinggung seseorang yang seharusnya tidak kalian singgung.” Kata pemimpin kelompok menimpali perkataan Ling Feng.


“Menyinggung? Aku dan teman ku saja baru datang ke kota ini, di tambah lagi kami berdua belum ada seharian di kota ini.” Jawab Ling Feng meyanggah perkataan dari pemimpin kelompok tersebut.


“Kau rakyat jelata... Nampaknya kau telah lupa kepada ku ya.” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang pemimpin kelompok yang mengepung. Orang tersebut mengenakan pakaian yang berbeda dengan pemimpin beserta anggota kelompoknya. Ling Feng sontak menatap wajah yang di balut perban putih dan di tutupi oleh kipas tersebut. Nampak jelas bahwa ia melayangkan tatapan kebencian kepada Ling Feng dan Ren Hu.


“Kau... Siapa ya?” Ling Feng mengajukan pertanyaan yang tidak terduga, membuat orang yang menatap benci dirinya itu membelalakan kedua matanya terkejut. “K-Kau... Aku berniat berbelas kasih, karena rakyat jelata seperti mu tidak pantas mengingat namaku yang agung ini, namun berani-beraninya kau melupakan penghinaan yang kau berikan waktu di penginapan tadi.” Ucap orang tersebut terlihat sangat marah, bahkan kipas yang ia pegang sampai patah saking kesal dirinya itu. Orang tersebut tidak lain adalah bangsawan yang telah di hajar oleh Ling Feng pada saat di penginapan Jia dan Ibunya.


Namun melihat dari reaksi Ling Feng, ia sepertinya benar-benar tidak ingat dengan bangsawan tersebut, karena lebih tepatnya bukan ia yang menghajarnya, melainkan Ren Hu yang melakukan hal tersebut.


“Setelah membuat wajah tampan ku menjadi seperti ini jangan harap kau bisa lepas dari ku rakyat jelata. Akan kubalas berkali-kali lipat sampai ajal menjemput mu.” Ucap bangsawan tersebut seraya menatap Ling Feng dengan kemarahan yang sangat mendalam. Bahkan urat-urat di wajahnya, nampak jelas terlihat di balik perban di wajahnya.


“Hahhhh... Peduli setan dengan perkataan mu itu. Kalian semua serang mereka berdua! Jangan bunuh keduanya. Cukup buat sekarat saja.” Bangsawan tersebut memberikan perintah kepada pemimpin kelompok tersebut. Pemimpin kelompok tersebut menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah dari bangsawan muda tersebut.


Ling Feng menghela nafas pendek dan berkata,


“Jika kalian masih bersikeras untuk melakukan kekerasan, maka aku tidak akan sungkan untuk melakukannya.” Ucap Ling Feng, namun tiba-tiba Ren Hu berkata kepadanya, “Anu tuan muda... Bisakah Anda membiarkan aku untuk mengurus mereka semua? Kemungkinan orang yang diincar oleh bangsawan itu adalah aku, karena akulah yang telah melayangkan tinju ku kepadanya, pada saat di penginapan Jia dan ibunya.” Ujar Ren Hu meminta kepada Ling Feng.


“Oh jadi orang yang itu... Aku baru ingat sekarang, setelah kau menjelaskan rincian kejadiannya.” Ucap Ling Feng yang mulai ingat dengan bangsawan yang ada didepannya. “Ya begitulah tuan muda... Jadi tolong izinkan aku yang mengurusnya. Kali ini akan ku selesaikan dengan tuntas.” Kata Ren Hu dengan tegas.


“Baiklah, baiklah, lakukan saja sesuka mu. Oh ya apakah kau memerlukan senjata semacamnya?” Ucapnya sekaligus bertanya kepada Ren Hu. Ren Hu menggelengkan kepalanya sebagai responya. “Tidak perlu tuan muda. Jika hanya sekelompok manusia yang omong besar ini, tidak akan menjadi masalah bagi Ren Hu.” Kata Ren Hu. “Begitu, kah... Ya sudah kalau memang begitu.” Ucap Ling Feng.


Ren Hu melangkah maju kedepan. Melihat tindakan itu, pemimpin kelompok itu pun berkata dengan nada remeh, “Cihhh... Jadi hanya kau saja yang maju ya. Sepertinya teman mu itu tidak dapat diandalkan ya.” Kata pemimpin kelompok itu dengan nada meremehkan. Ia berkata seperti itu, karena ia tidak merasakan sedikit pun aura yang terpancar dari Ling Feng. Oleh karena itulah, ia berani berkata seperti itu.


Ren Hu yang mendengar itu pun tersenyum menanggapinya, dan senyuman itu di sadari oleh pemimpin kelompok, karena nampak sekilas pada saat angin berhembus kencang. Pemimpin kelompok tentunya merasa tersinggung dengan senyuman Ren Hu.


“Kau... Apa yang kau tertawakan.” Kata Pemimpin kelompok dengan nada bicara tidak senang.


Ren Hu pun menjawab nya ketika mendengar perkataan dari pemimpin kelompok. “Tidak apa-apa... Hanya saja, aku merasa sangat lucu mendengar perkataan mu. Tuan muda ku tidak perlu turun tangan langsung untuk menghabisi hama-hama seperti mu. Aku saja sudah cukup mewakilinya, daripada beliau yang turun tangan langsung.” Jawab Ren Hu dengan tenang, namun terdengar menyakitkan di telinga pemimpin kelompok.


“Keparat...!! Terima serangan ku ini orang sombong!” Teriak pemimpin kelompok maju menerjang ke arah Ren Hu.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.