
“Tunggu, tunggu, seorang anak laki-laki?!” Batin Han Ying yang seketika sadar lalu melirik ke arah Han So dan mendapatkan anggukan kepalanya.
“Pada saat itu kita sampai di sebuah desa dekat dengan hutan terlarang. Dimana desa tersebut telah di bantai oleh para penyusup sekte bayangan itu. Disanalah kau pernah bertemu dengan Feng.” Kata Han So mengakhiri perkataannya.
Pada saat itulah ia ingat dengan nama Feng. Ia lalu melirik kembali ke arah Ling Feng yang tersenyum tipis kepadanya, sangat berbeda jauh dengan puluhan tahun yang lalu, dimana Ling Feng pada saat itu sangat acuh tak acuh dengan pandangan tajam sedingin es. Walaupun telah bertahun-tahun lamanya, fisiknya memang mengalami perubahan, apalagi Ling Feng yang saat ini memanjangkan rambutnya, yang membuatnya sepenuhnya berbeda.
“Sudah bertahun-tahun lamanya, kau masih menjadi gadis dengan semangat yang membara ya.” Ucap Ling Feng terkekeh melihat raut wajah terkejut Han Ying, yang menatap dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihat di depannya saat ini.
“Tuan muda aku sudah selesai.” Ren Hu tiba-tiba muncul dari belakang membuat seluruh orang yang ada di sana refleks melirik wanita cantik dengan cadar yang berada di belakang Ling Feng.
“Ah begitu, kah... Ren Hu perkenalkan dirimu.” Ucap Ling Feng yang diangguki oleh Ren Hu.
“Salam kenal semua. Namaku Ren Hu salah satu pengik-“ Mulut Ren Hu tiba-tiba di tutup oleh Ling Feng. Membuat keempat orang di sana melirik Ling Feng yang menutup mulut Ren Hu.
“Ahaha... Aku permisi sebentar.” Ujar Ling Feng seraya tertawa dipaksakan berbalik badan bersama dengan Ren Hu, membelakangi keempat orang yang melirik keduanya dengan tatapan penasaran. Selang beberapa detik setelah Ling Feng membisikan sesuatu kepada Ren Hu dan diangguki olehnya, barulah mereka kembali berbalik badan menghadap keempat orang yang menatap mereka dengan tatapan aneh.
“Salam kenal semua. Namaku adalah Ren Hu salah satu... Ah bukan. Maksudku, teman seperjalanan S-saudara Ling Feng.” Kata Ren Hu memperkenalkan dirinya sesuai dengan diskusi sebelumnya oleh Ling Feng. Sebelumnya Ling Feng sudah meminta Ren Hu untuk tidak memanggilnya dengan panggilan tuan muda, dan memanggilnya dengan panggilan nama biasa saja, karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang tentunya.
Han Ying dan Han Shen mengangguk-anggukan kepalanya, walaupun merasa curiga dengan identitas Ling Feng yang sebenarnya. Akan tetapi sangat berbeda dengan reaksi para tetua yang menatap Ling Feng dengan pandangan terkejut.
“K-kau bilang Ling?!” Kata Tetua Han memasang ekspresi terkejut bersamaan dengan Tetua Sang. “K-kau siapanya Tetua Ling.” Tanya Tetua Han masih dengan ekspresi yang sama, namun bersamaan dengan ekspresi penasaran. Han Ying dan Han Shen pun baru menyadarinya, bahwa marga Ling Feng adalah Ling, marga yang sama dengan tetua sekte naga langit.
“Ehhh... Bagaimana bilangnya ya... Ya, bisa dibilang Tetua Ling adalah kakek ku.” Ucap Ling Feng seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Pertanyaan itu lagi-lagi mengejutkan Tetua Han.
“Dimana aku? Siapa aku? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Feng adalah cucu dari saudara ku? ” Runtutan kejadian yang begitu tidak terduga, benar-benar terjadi saat ini, mulai dari Ling Feng secara tiba-tiba menjadi perwakilan dari Kekaisaran Han sampai, fakta mengejutkan lainnya.
“Tunggu... Jika kau memang cucu dari Saudara ku, itu berarti kau adalah anak dari...” Ucap Tetua Han menggantung di akhir dan diangguki oleh Ling Feng dan tersenyum tipis. “Ling Cao adalah ayahku dan Ling Yan adalah Ibuku.” Ucap Ling Feng menyebutkan nama ayah beserta ibunya. Baru pada saat itulah Tetua Han dan Tetua Sang percaya dengan apa yang didengar mereka saat ini.
“Begitu, kah... Pantas saja wajah mu terasa familiar ketika kita bertemu di kota Cheng Du. Kau benar-benar sangat mirip dengan ayah mu, ya bedanya hanya pada saat raut wajah yang kau tunjukan sih.” Ucap Tetua Han yang turut senang mendengar fakta bahwa Ling Feng adalah cucu dari saudaranya itu.
“Kita kembali ke penginapan saja. Lebih nyaman berbicara di sana.” Tawar dari Tetua Sang yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana, karena mereka saat ini benar-benar menarik perhatian orang.
>>>>>>>_______
Di Penginapan
“Tidak perlu menyalahkan dirimu tetua. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, terlebih lagi aku sudah tidak apa-apa sekarang.” Jawab Ling Feng dengan senyuman menenangakan Tetua Han yang merasa sangat bermasalah. Walaupun begitu, Tetua Han tetap merasa sangat bersalah, ia kembali mengingat ekspresi Ling Feng yang begitu dingin ketika ia pertama kali bertemu, hal itu terjadi pasti, karena ia kehilangan kedua orang yang ia sayangi. Mebayangkan itu rasa bersalahnya pun tiba-tiba muncul, karena secara tidak langsung ia juga yang menjadi penyebabnya.
“Aku bilang tidak apa-apa Tetua Han, anda tidak perlu meminta maaf.” Ucap Ling Feng sekali lagi, kali ini menepuk pelan pundak pria sepuh tersebut masih dengan senyuman yang sama, pada saat itulah tiba-tiba wajah Ling Feng benar-benar sangat persis dengan wajah Ling Cao. Bukan hanya Tetua Han saja yang menyadarinya, bahkan Tetua Sang yang melihat itu, teringat kembali dengan sosok ayah dari Ling Feng.
“Kau benar-benar sangat mirip dengan ayah mu ya.” Ucap Tetua Han membalas senyuman itu seraya terkekeh pelan.
“Aku masih belum apa-apa dibadingkan dengan beliau. Ayah ku adalah sosok yang luar biasa. Dibandingkan dengan diriku, aku tidak ada apa-apanya.” Ucap Ling Feng menyangkalnya. Keduanya pun kembali berbincang-bincang dengan nyaman.
Han Ying dan Han Shen, melihat kedua sosok pria yang umurnya terpaut sangat jauh, namun berbicara sangat akrab itu tidak bisa mengikuti alur percakapan mereka, namun mereka mengerti satu hal dan hal tersebut mereka tanyakan kepada Tetua Sang.
“Tetua Sang... Siapa sebenarnya ayah dari Ling Feng ini?” Han Ying bertanya penasaran kepada Tetua Sang. Bukan hanya Han Ying saja, Han Shen pun sama penasarannya. Terlebih lagi Ren Hu yang memang tidak terlalu jauh dari ketiganya samar-samar ikut mendengar hal itu dan menajamkan pendengarannya.
“Bisa di bilang, Ling Cao adalah sosok pemuda yang sangat luar biasa serta menjadi kebanggaan dari sekte naga langit di zamannya.” Jawab Tetua Sang dan mulai lanjut bercerita panjang lebar. Han Ying dan Han Shen menyimak dengan serius cerita dari Tetua Sang, sementara itu Ren Hu menajamkan indera pendengaran nya supaya bisa lebih jelas mendengar apa yang dibicarakan oleh Tetua Sang.
>>>>>>_____
“Oh ya Tetua Han. Bing Jiao kemana? Kudengar dirinya juga ikut sebagai perwakilan, tapi aku tidak melihatnya sama sekali? Ada pesan yang di titipkan dari ayahnya kepada ku, jadi dimana ia?” Tanya Ling Feng kepada Tetua Han. Mendengar hal itu, mendadak meja yang mereka tempati menjadi hening.
Ling Feng yang menyadari bahwa ada yang tidak beres pun langsung melirik tiap-tiap wajah keempat orang tersebut yang memasang ekspresi bermasalah. “Apa yang terjadi dengan Jiao’er bisa kalian jelaskan kepadaku?” Ling Feng kembali bertanya, namun kali ini dengan raut wajah yang lebih serius.
“Sebenarnya...” Perkataan Tetua Han di potong oleh Tetua Sang yang berada di sisinya. “Biarkan aku saja yang menjelaskannya Tetua Han.” Kata Tetua Sang menghentikan Tetua Sang untuk berbicara. “Salam kenal Ling Feng. Mungkin kau sudah mengetahui tentang diriku jadi kita lewatkan perkenalannya.” Kata Tetua Sang diangguki oleh Ling Feng.
“Baiklah... Akan kukatakan kondisi Murid Bing saat ini kepadamu sebagai orang yang merawatnya beberapa hari terakhir ini.” Kata Tetua Sang. “Tolong katakan semuanya kepadaku tetua. Apa yang telah terjadi kepada Jiao’er akhir-akhir ini.” Kata Ling Feng yang diangguki oleh Tetua Sang.
“Tenang saja. Akan kukatakan semuanya kepada mu tanpa ada yang di tutup-tutupi.” Kata Tetua Sang. Ling Feng bahkan dalam sekejap langsung memasang sebuah penghalang di meja mereka. Mencegah apa yang mereka bicarakan saat ini di dengar oleh orang lain.
“Sebenarnya, kondisi murid Bing ini bisa kukatakan antara sisi baik, namun juga beriringan dengan sisi buruk.” Kata Tetua Sang lalu mulai melanjutkan penjelasannya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.