
Ling Feng yang melihat peran Chang Jin yang sangat krusial di sini, benar-benar kagum kepadanya. “Seperti yang di harapkan dari patriak sekte terkuat.” Ucap Ling Feng melihat ke arah murid-murid sekte naga langit yang saat ini, tidak ada satu pun yang menunjukkan wajah kecemasan dan ketakutan.
>>>>>>______
Beberapa bulan kedepan
Tidak terasa sudah hampir tiga bulan lamanya, sejak terakhir kali pidato Chang Jin yang menggebu-gebu. Tepat setelah pidato panas Chang Jin, semua murid sekte tanpa terkecuali bertekad di dalam hati mereka untuk menjadi lebih kuat. Bahkan ketika waktu sudah menunjukkan malam hari, masih ada beberapa murid yang lebih memilih berlatih daripada beristirahat.
Berkat kerja keras dan pelatihan intens yang mereka jalani selama tiga bulan terakhir itu, murid-murid sekte naga langit mulai berkembang pesat. Tentu saja itu semua tidak terlepas dari peran para tetua sekte dan leluhur sekte. Namun, dari sekian itu yang paling banyak berkontribusi adalah seorang pemuda yang tiga bulan lalu identitasnya mengejutkan para murid sekte naga langit.
Tentu awalnya tidak berjalan mulus, karena masih ada beberapa murid yang meragukan pemuda tersebut, dan bahkan terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya. Namun, itu tidak bertahan lama, karena pemuda itu langsung membungkam mereka yang tidak suka kepadanya dengan kekuatan nya. Awalnya para murid-murid sekte berpikir bahwa dirinya pasti akan sombong, mengingat ia mempunyai kemampuan untuk menyokong kesombongan nya itu.
Akan tetapi, pikiran-pikiran itu hilang seketika, pada saat pemuda itu tidak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada murid-murid lainnya, membuat para murid-murid yang lainnya terkejut, karena sifat pemuda berbanding terbalik dengan apa yang mereka pikirkan. Bahkan ia tidak pilih kasih, ia tetap membagikan ilmunya dan saran, sekalipun orang-orang itu tidak menyukainya.
Pernah suatu waktu dirinya ditanya mengapa ia repot-repot melakukan hal tersebut oleh salah satu orang yang tidak menyukai keberadaan nya dan jawaban yang ia berikan, membuat semua orang yang ada di sana benar-benar tidak habis pikir dan semakin kagum dengan pemuda tersebut.
“Memangnya perlu alasan ya untuk membantu sesama saudara?” Ujar pemuda tersebut yang membuat semua orang yang mendengar itu merinding sekaligus takjub dengan jawaban yang dikatakan oleh pemuda tersebut. Bahkan orang-orang yang tidak menyukainya pun, bahkan kagum terhadap sikapnya yang begitu bijaksana dan peduli sesamanya.
Semenjak itulah orang-orang yang awalnya tidak menyukai pemuda itu, karena menilai ia bersikap terlalu sewenang-wenang, kini tunduk dalam sikapnya yang begitu peduli dengan sesamanya dan tidak memandang rendah, terlebih lagi sekalipun ia lebih kuat dari yang lainnya ia tetap menghormati senior-seniornya dan menghargai para juniornya.
Tidak hanya para murid saja, bahkan para tetua pun merasakan hal yang sama, namun sedikit berbeda dengan para murid sekte. Pernah pada suatu waktu para tetua mengadakan pertemuan darurat, dan alasan diadakannya pertemuan itu adalah mereka kehabisan sumber daya, untuk menyokong kultivasi para murid sekte.
Kebetulan pemuda itu juga hadir di pertemuan darurat itu, dan dengan tidak sungkan sama sekali ia mengeluarkan tiga buah cicin ruang kepada patriak sekte yang membuat patriak sekte terkejut ketika melihat isinya yang penuh akan harta benda, mulai dari artefak, tanaman spiritual, dan bahkan tumpukkan koin emas dan perak.
Awalnya patriak sekte dan para tetua menolak harta benda yang di berikan oleh pemuda itu, sampai pemuda itu tiba-tiba mengatakan sebuah kalimat yang membuat semua orang yang hadir di sana merasakan kehangatan di dalam hati mereka semua, “Seluruh harta benda itu tidak penting bagiku. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain menjaga keluargaku.” Ucap pemuda itu yang membuat semua orang bergetar tubuhnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
Sejak pemuda itu memutuskan untuk menetap dan membantu sekte, sekte mereka telah berubah drastis. Seorang pemuda yang tidak sungkan memberikan sebuah nasihat dan saran kepada mereka yang mana itu semata-mata hanya untuk membuat mereka berhasil meningkatkan kultivasinya. Siapa orang yang tidak senang jika mendapatkan hal tersebut.
Ikatan semua orang yang berada di sekte naga langit pun semakin kuat, dan yang memperkuat ikatan tersebut adalah pemuda yang kehadirannya mengejutkan semua orang di sekte naga langit. Pemuda yang mengajarkan nilai persaudaran sesungguhnya, pemuda yang mengajarkaan arti dari hormat kepada seniornya dan menghargai juniornya. Nama Ling Feng cucu dari Tetua Ling semakin dikenal, dan bahkan tidak ada satupun murid yang tidak mengenal Ling Feng. Selain kebaikan dan nilai-nilai yang ia ajarkan.
>>>>>>______
“Fyuhhhh... Setelah tiga bulan berlalu akhirnya aku berhasil menguasai seluruh gerakan dari teknik pedang naga langit.” Ujar sosok pemuda tampan yang baru saja selesai berlatih pedang sejak tadi malam dan baru selesai pagi sekarang. Pemuda tampan itu pun bersandar di pohon mengistirahatkan tubuhnya, karena semalaman ia tidak berhenti-hentinya mengayunkan pedangnya.
Ia pun menatap ke depannya, tepat di hadapan nya matahari sudah mulai terbit. Pemuda tampan itu pun tersenyum tipis seraya bergumam, “Sudah tiga bulan, kah... Tidak terasa aku sudah menetap selama itu di sini.” Ujar Ling Feng seraya terkekeh pelan.
“Baiklah tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.” Ujar Ling Feng merenggangkan tubuhnya lalu bangkit dari posisi duduknya, lalu terbang turun dari puncak gunung. Ia turun di sebuah tempat latihan, dimana disana sudah ramai murid-murid yang berbaris rapih. Ling Feng yang melihat murid-murid tersebut sudah berkumpul ia pun tersenyum tipis lalu turun di hadapan mereka semua.
“Baiklah masih ada satu jam lagi sebelum waktunya sarapan. Mari kita semua lari-lari pagi terlebih dahulu.” Ujar Ling Feng lalu dirinya pun menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap banyak batu yang berukuran besar membuat para murid yang berkumpul tentu nya terkejut dan menatap kosong batu besar yang tercipta di belakang Ling Feng.
“Ah i-itu saudara Ling... K-kenapa kamu menciptakan batu-batu besar itu?” Tanya salah satu murid sekte naga langit dengan nada kaku seraya menunjuk ke arah batu-batu yang berada di belakang Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu hanya tersenyum saja, ia lantas menjentikkan kembali tangan nya, dan seluruh batu-batu besar di belakangnya pun hilang seketika.
Para murid sekte yang melihat itu sudah tidak terkejut, namun mereka semua lebih penasaran kemana perginya batu-batu besar itu. Sampai kemudian, mereka semua refleks mendongakkan kepala mereka dengan pandangan kosong lalu berkata, “Ehhh?” Ujar salah satu murid sekte, karena melihat batu-batu besar yang berada di belakang Ling Feng kini sudah berada di atas kepala mereka, dan dengan cepat batu-batu besar itu hampir menimpa seluruh murid sekte, namun mereka semua berhasil menahanya dengan kedua tangan mereka masing-masing.
“Lari pagi kali ini akan cukup berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya para saudara sekalian. Mulai dari sekarang dan sampai aku menentukannya lagi, setiap pagi kita akan mulai berlari-lari sebanyak lima ratus putaran sembari membawa batu-batu itu.” Ujar Ling Feng dengan senyum tipis tercetak di wajah nya.
“L-lima ratus putaran sembari membawa batu besar ini?! Kau bercanda, kan?!” Batin semua orang yang ada di sana terkejut tentu nya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Ling Feng.
“Aku tidak bercanda kok saudara senior-seniorku.” Ucap Ling Feng lagi yang membuat semua orang di sana mengatupkan mulutnya masing-masing. Mereka lupa, bahwa pemuda yang sedang ada di hadapan mereka saat ini seakan-akan bisa membaca pikiran mereka masing-masing. Setiap mereka membatin sesuatu, Ling Feng secara mengejutkan mengatakan yang sesuai dengan apa yang mereka batinkan, seakan-akan dirinya bisa membaca pikiran mereka semua.
“Nah jadi tunggu apa lagi para senior-seniorku, waktu terus berjalan dan siapapun yang tidak sampai mencapai target saat waktu sarapan telah tiba, akan di tambah lima ratus putaran lagi.” Ujar Ling Feng yang membuat rahang semua orang di sana jatuh seketika.
“P-pemuda ini benar-benar serius mengatakan hal itu dengan senyuman tercetak di wajahnya?! Iblis, dialah iblis sesungguhnya!” Batin semua orang yang ada di sana bergidik ngeri lalu mereka pun langsung melaksanakan apa yang dikatakan oleh Ling Feng, karena mereka sangat yakin bahwa apa yang ia katakan tadi adalah sebuah keseriusan.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.