
Sementara Itu di Mulut Gua
Booooommmm
Terlihat beberapa kawah tercipta disana serta penuh dengan asap yang menghalangi pemandangan disana. Didalam asap tersebut terlihat bayang-bayang seekor beast yang sedang bertarung dengan manusia.
Tidak lama seekor beast pun melesat terbang keluar dari kepulan asap tersebut dan jatuh kembali dengan cukup keras ke bawah.
Booooommmm
Beast tersebut mempunyai tubuh besar yang hampir mirip dengan Kadal Bumi. Sosok beast tersebut adalah mempunyai rupa seekor harimau dengan kulit tubuhnya berwarna hitam dan mempunyai sayap yang selaras dengan warna kulit nya.
Beast tersebut menatap ketakutan terhadap sosok manusia yang dibalik kepulan asap tersebut.
Grrrrrrrrrrrrr
"Jangan menatap ku seperti itu tenang saja aku tidak akan membunuhmu." Kata sosok manusia tersebut keluar dari kepulan asap tersebut dengan api berwarna ungu terang muncul di telapak tangan kanannya.
Harimau hitam tersebut menggertakkan giginya menatap manusia tersebut. Awalnya ia kemari untuk merebut harta yang telah di jaga oleh kadal Bumi yaitu, Api Hitam. Karena itu, setelah merasakan keberadaan daripada Kadal Bumi menghilang. Ia langsung bergegas kemari.
Namun siapa sangka bahwa ada seorang manusia yang menghalanginya, awalnya ia mengira bahwa manusia tersebut hanyalah makhluk yang bodoh. Akan tetapi, ketika ia bertarung dengan manusia tersebut instingnya berkata bahwa ia akan mati saat itu juga jika bersikeras masuk kedalam gua.
Sementara manusia yang ditatap hanya biasa saja tidak terlalu peduli akan hal tersebut. Ia lantas berkata, "Pergilah aku tidak tertarik untuk membunuh mu. Hal itu bukanlah tugas ku, melainkan tugas murid ku nanti." Kata Sosok tersebut yang tidak bukan adalah Tua Tao.
Mendengar hal tersebut Harimau hitam tersebut langsung melesat terbang ke langit menjauh saat itu juga. Tua Tao ber oh ria melihat hal tersebut. "Larinya sungguh cepat sekali." Gumam Tua Tao sembari memandang kepergian Harimau hitam bersayap. "Ya…aku tidak peduli juga tentang hal itu." Kata Tua Tao kembali masuk kedalam gua.
Ketika ia masuk terlihat keadaan Ling Feng yang sudah berubah dari sebelum ia pergi ke luar gua. "Heh dia berhasil merayunya…Murid ku ini sepertinya menjanjikan sesuatu terhadap api hitam tersebut." Gumam Tua Tao lalu kemudian ia pun tersenyum merasa senang dalam hatinya.
"Ya aku tidak perlu khawatir lagi sekarang." Kata Tua Tao memilih pergi keluar Gua terlebih dahulu.
Alam Bawah Sadar Ling Feng
"Dimana ini? Sangat gelap, sunyi, dan sepi sekali." Gumam Ling Feng. "Tapi walaupun begitu, mengapa aku merasa familiar dengan rasa disekitar sini? sebenarnya apa yang terjadi padaku." Gumamnya lagi. Ling Feng merasakan sebuah perasaan yang sangat familiar baginya yaitu, perasaan kesepian di tinggal seseorang.
"Aku tidak menyangka bahwa kesadarannya bisa bertingkah seperti ini." Gumam Ling Feng benar-benar tidak menyangka. Ia jadi paham tentang mengapa Api Hitam itu tidak ingin di murnikan kesadarannya. Mungkin rasa kesepian ini adalah hal yang tidak pernah ia ingin lupakan dan selalu ia ingat terus-menerus.
Ling Feng melihat kilas balik tentang Api Hitam. Ia juga melihat kesadaran Api Hitam baru terbangun beberapa puluh tahun yang lalu. "Pantas saja kesadarannya seperti anak kecil…Kesadaran nya baru ada belum sampai ratusan tahun." Kata Ling Feng terkekeh.
"Tenang saja Api Hitam. Mulai saat ini kau tidak akan merasakan perasaan itu lagi. Akan kubuat kau melupakan rasa kesepian tersebut dan mengingat hal yang baru dan menyenangkan." Kata Ling Feng dengan yakin setelah melihat kilas balik tersebut.
Pada saat Ling Feng berkata seperti itu, semuanya pun menjadi gelap gulita kembali.
Ling Feng kembali kedalam raganya. Ia lantas membuka matanya kembali lalu melihat kedua telapak tangannya. Kemudian ia pun menoleh kesamping karena seseorang berkata kepadanya. "Akhirnya kau bangun juga kukira kau gagal disaat-saat terakhir tadi." Kata seseorang yang tidak lain adalah Tua Tao.
"Ehhh…memang nya berapa hari aku dalam posisi ini?" Tanya Ling Feng kepada Tua Tao. Tua Tao yang mendengar itu menghembuskan nafas kasar. "Hampir dua Minggu kau tidak bergerak sama sekali." Kata Tua Tao. Ling Feng yang mendengar itu otomatis terkejut.
"Ehhh…Selama itu…? Padahal aku hanya merasakan sesaat saja tadi." Kata Ling Feng tidak menyangka. Tua Tao mengedikan kedua bahunya. "Hal itu tidaklah penting…Bagaimana apakah kau berhasil?" Tanya Tua Tao.
Ling Feng yang mengerti maksud dari Tua Tao tersenyum lebar lalu mengeluarkan api di telapak tangannya, akan tetapi warna daripada api tersebut bukanlah api yang biasanya Ling Feng keluarkan. Api tersebut telah kini berwarna Api Hitam. Ling Feng memasang wajah bangga dan senyum sangat lebar dengan harapan Tua Tao memujinya, namun kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi.
"Baguslah tidak sia-sia aku menunggu selama ini." Kata Tua Tao langsung berbalik pergi menuju mulut gua. "Kita kembali ke gubuk." Kata Tua Tao lagi. Ling Feng yang mendengar itu pun menggerutu. "Sepertinya memuji murid mu merupakan sesuatu hal yang sulit kau lakukan ya guru." Cibir Ling Feng menyindir Tua Tao.
Namun sang empu yang disindir hanya biasa saja dan terus berjalan keluar gua. Ling Feng yang melihat sikap acuh tak acuh Tua Tao, berdecak kesal saja lalu bangkit dari posisi lotusnya mengekor dibelakang Tua Tao.
Ketika Ling Feng keluar dari gua tersebut, Ling Feng terkejut dengan pemandangan di luar gua yang bisa dibilang cukup parah disana. "Guru sebenarnya apa yang terjadi ketika aku sedang meditasi?" Tanya Ling Feng kepada Tua Tao.
"Ada kucing besar yang ingin masuk awalnya, tapi aku usir kembali karena tidak suka melihat kulit nya yang penuh akan warna hitam." Jawab Tua Tao asal. Ling Feng yang mendengar itu jelas mengkerutkan keningnya tidak mengerti dengan perkataan daripada gurunya.
Namun ia tidak bertanya lebih, karena kalau pun dijelaskan Ling Feng tetap tidak akan mengerti. Oleh karena itu, lebih baik menerima penjelasannya mentah-mentah saja menghindari hal yang tidak perlu.
Begitulah akhir dan keduanya pun kembali menuju gubuk. Tidak butuh waktu lama keduanya pun sampai kembali di gubuk. "Siapkan makan malam…Kita akan melanjutkan pelatihan esok hari saja." Kata Tua Tao masuk kedalam gubuknya. Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya dan melakukan apa yang dikatakan tanpa protes sama sekali.
>>>>>> Bersambung