
Ling San menatap khawatir ke arah kamar Ling Feng, walaupun ia melihat bahwa Ling Feng bersikap acuh tak acuh, dirinya menyadari bahwa Ling Feng tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Melihat raut wajah lelah Ling Feng, Ling San merasa bersalah akan hal tersebut. “Ada apa dengan raut wajah cemas itu? Apa yang terjadi?” Sebuah pertanyaan yang keluar diikuti dengan sosok Long Tian di belakang Ling San.
Ling San menoleh ke belakang menghadap ke arah Long Tian yang bertanya kepada nya. “Ah tuan Tian. Aku tidak apa-apa. Hanya saja... Kesan Feng’er nampak tidak baik ketika datang ke sini. Aku jadi khawatir dan sekaligus merasa bersalah, karena telah memaksanya untuk tinggal di sekte.” Ucap Ling San mengutarakan hal yang mengganjalnya.
Mendengar hal itu, Long Tian pun berkata, “Oh tentang hal itu, kah... Mengenai hal itu, kau tenang saja. Feng’er hanya membutuhkan sedikit waktu untuk terbiasa. Kau tidak perlu khawatir dan merasa cemas tentang hal yang tidak-tidak. Feng’ er baik-baik saja. Mungkin saat ini ia sedang berlatih di dalam kamarnya.” Ucap Long Tian menenangkan Ling San.
“Apakah memang benar begitu?” Tanya Ling San yang diangguki oleh Long Tian dengan mantap. “Kau utus saja kembali salah satu murid mu pagi-pagi nanti. Feng’er biasanya selesai bermeditasi pada waktu itu.” Ucap Long Tian lalu pergi kembali ke kamarnya.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Long Tian, Ling San merasa lega dan pergi dari sana kembali ke kamarnya.
Keesokan Harinya
Setelah semalaman bermeditasi, aura qi yang mengelilingi tubuh Ling Feng pun mulai menyebar kembali. Ling Feng pun membuka kedua matanya seraya melirik puas kedua telapak tangannya. “Seperti yang di harapkan dari sekte besar Kepadatan Qi nya benar-benar sangat melimpah. Seluruh Qi di dalam tubuh ku benar-benar pulih saat ini.” Gumam Ling Feng puas melihat tubuhnya sudah kembali seperti semula.
Ling Feng lantas melirik ke arah jendela, dimana sinar matahari yang berusaha masuk melalui celah-celah jendela di sana. Dirinya pun bangkit dari tempat tidur lalu membuka jendela kamar tersebut. Seketika hembusan angin pagi menerpa wajah Ling Feng menerbangkan beberapa helai rambutnya yang panjang. Pemandangan gunung yang tinggi membuat siapapun yang melihatnya akan kagum dengan pemandangan alam tersebut.
Letak keberadaan Sekte Naga Langit sendiri berada di puncak gunung tertinggi, yang mana gunung tempat Sekte Naga Langit berdiri bersebelahan dengan Ibu Kota Kekaisaran. Pemandangan alam benar-benar memanjakan kedua mata Ling Feng sampai kemudian, ia pun mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tokkk... Tokkk...
Ling Feng yang mendengar itu otomatis refleks melirik ke arah pintu dan melangkah mendekat ke arah pintu. Ling Feng membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang pemuda yang terlihat gugup ketika Ling Feng menatap dirinya. “A-ah anu... S-salam kenal tuan muda. N-nama ku adalah Sang Yun. Murid dari Tetua Ling. S-saya mendapatkan amanat dari Tetua Ling untuk mengantar Anda berkeliling sekte ini.” Ucap pemuda itu dengan gugup memperkenalkan dirinya yang bernama Sang Yun.
Melihat sikap gugup dari Sang Yun, Ling Feng pun membalas perkataan nya dengan ramah, “Begitu, kah... Jadi kau murid dari kakek ya. Kalau begitu salam kenal juga. Namaku Ling Feng. Lalu panggil aku Feng saja, lagipula kita seumuran.” Timpal Ling Feng dengan ramah. Mendengar jawaban ramah dari Ling Feng, membuat Sang Yun terkejut, karena pada awal ia pertama kali melihat Ling Feng, pemuda itu memasang raut wajah yang cuek dan acuh tak acuh. Melihat itu, Yang Sun berasumsi bahwa Ling Feng adalah orang yang angkuh dan sombong.
Lalu pada saat ia mendapatkan tugas dari gurunya untuk menemani pemuda tersebut, otomatis ia merasa gugup dan takut salah berkata di hadapan pemuda tersebut. Namun, masih ada yang membuatnya lebih terkejut, “K-kamu bilang kakek?!” Yang Sun lebih terkejut dengan Ling Feng yang berkata ‘kakek’ tadi. Ekspresi terkejutnya benar-benar terlihat jelas di wajah pemuda bernama Sang Yun ini.
“Ehh. Memangnya kakek tidak mengatakan apa-apa kepadamu sebelumnya?” Tanya Ling Feng yang langsung di balas oleh gelengan kepala Sang Yun. “Begitu, kah... Ya mungkin ia lupa untuk memberitahukan kepadamu, atau bisa jadi karena faktor umur juga, yang membuatnya jadi pelupa.” Kata Ling Feng seraya terkekeh. Sang Yun masih dalam posisi yang terkejut, ia benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda di hadapan nya ini adalah cucu dari gurunya.
“Kau bilang ingin mengantarkan ku berkeliling sekte, kan.” Ucap Ling Feng menyadarkan Yang Sun dari keterkejutan nya. “Ah iya. Aku mendapatkan perintah dari Guru Ling untuk mengantar tuan muda berkeliling sekte.” Ucap Sang Yun yang sudah sadar dari keterkejutan nya.
“Sudah kubilang jangan panggil aku tuan muda. Panggil Feng saja. Aku tidak nyaman di panggil seperti itu oleh orang yang seumuran.” Ucap Ling Feng sekali lagi menegur Yang Sun yang masih memanggilnya tuan muda. “Ah m-maaf tua- maksudku Feng. Akan ku biasakan.” Ucap Yang Sun. Mendengar itu Ling Feng tersenyum kembali.
“Baiklah tunggu sebentar. Aku ganti pakaian dulu.” Ucap Ling Feng kembali menutup pintu kamarnya untuk berganti pakaian, menggunakan pakaian murid Sekte Naga Langit yang telah di siapkan oleh kakeknya di lemari. Setelah dipakai, ia merasa puas dengan pakaian tersebut yang terasa pas di tubuhnya. Ia mengikat rambut bagian belakangnya menjadi kuncir kuda, dan menyisakan beberapa helai rambut depannya yang panjang.
Ketika Ling Feng dan Yang Sun turun dari puncak gunung, waktu memang masih pagi, namun ketika ia turun gunung, sudah banyak murid-murid sekte yang beraktivitas. Ketika Ling Feng turun, otomatis keberadaan nya itu menarik perhatian semua murid yang berada di sana. Bahkan tidak sedikit yang berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya.
Ling Feng sendiri hanya acuh mengabaikan bisik-bisik itu dan terus berjalan mengekor di belakang Yang Sun. Ia mulai mengantarnya ke berbagai tempat di sekte, mulai dari Aula Misi, Aula Keamanan, Aula Harta, Gedung Perpustakaan dan masih banyak lagi. Awalnya ia memang gugup berbicara dengan Ling Feng, namun seiring berjalan nya waktu dan tanggapan Ling Feng yang ramah, membuat Yang Sun pun sudah tidak kaku lagi berbicara dengannya.
“Terima kasih Yang Sun. Aku benar-benar sangat tertolong oleh mu.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum tulus berterima kasih kepada Yang Sun.
“Tidak perlu sampai berterima kasih, itu cuma hal mudah.” Jawab Yang Sun seraya menolak ucapan terima kasih Ling Feng.
“Jangan berkata seperti itu, mau bagaimana pun juga kau sudah membantuku. Wajar saja jika aku mengucapkan terima kasih. Jadi, jangan menolaknya.” Ucap Ling Feng yang bersikeras.
“B-baiklah. Jika kau berkata seperti itu.” Ucap Yang Sun pasrah menerima ucapan terima kasih Ling Feng. Keduanya saat ini sedang duduk beristirahat di bawah pohon plum, setelah berkeliling hampir seluruh bangunan-bangunan yang ada. Matahari pun juga sudah naik cukup tinggi, namun tempat Ling Feng dan Yang Sun berteduh saat ini benar-benar sangat nyaman.
Sampai kemudian, Ling Feng pun mendapatkan transmisi suara dari kakeknya, yang memintanya untuk kembali ke puncak bersamaan dengan Yang Sun juga. Ling Feng pun bangkit dari tempat duduknya sedikit merenggangkan tubuhnya. “Ayo kita kembali. Kakek memanggil kita untuk kembali ke puncak.” Ucap Ling Feng yang diangguki oleh Yang Sun dan ikut bangkit juga dari tempat duduknya.
Baru saja beberapa langkah keduanya keluar dari wilayah taman pohon, secara tiba-tiba muncul empat orang yang menghalangi jalan, membuat Ling Feng dan Yang Sun menghentikan langkah masing-masing. Ling Feng sontak mendongakan kepalanya, menatap tiga sosok pemuda memasang wajah sombong menghalangi jalan nya.
“Yo sampah... Kukira kau tidak akan berani turun gunung lagi, dan akan terus bersembunyi di balik ketiak gurumu itu.” Ucap mengejek pemuda yang berdiri di tengah merujuk kepada Yang Sun.
Yang Sun yang menundukkan kepalanya pun berkata, “Minggirlah. Aku tidak punya urusan dengan mu. Tetua Ling sudah memanggil kami untuk segera kembali.” Ucap Yang Sun yang kembali melangkah mengambil jalan lain, namun langsung di tahan oleh pemuda yang di tengah dan langsung mendorong Yang Sun ke belakang menggunakan Qi nya membuat Yang Sun mungkin akan jatuh cukup keras dan berakhir terluka, jika tidak di tahan oleh Ling Feng.
“Eittss... Tunggu dulu, jangan terburu-buru kembali ke puncak. Bukankah jarang-jarang kita saling bertemu, tidakkah kita harus sedikit berlatih saat ini.” Ucap pemuda tersebut dengan nada mengejek dan di sambut oleh tawa mengejek oleh pengikut dari pemuda tersebut.
“Oi... Bukankah tindakan mu terlalu berlebihan, jika sampai menggunakan Qi?” Ucap Ling Feng terang-terangan menggunakan nada tidak suka kepada pemuda yang hendak mencelakai Yang Sun. Ucapan Ling Feng tentunya membuat pemuda yang membully Yang Sun langsung meliriknya tidak senang.
“Siapa kau berani-beraninya ikut campur urusanku?” Ucap pemuda itu tidak senang dengan nada ucapan Ling Feng yang baginya itu sama saja dengan menentangnya.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.