
“Tidak! Jangan lakukan itu! Akhhhhhh....!” Teriak mengenaskan Tetua Racun disertai munculnya api hitam dari telapak tangan Ling Feng dan membakar tubuh Tetua Racun hidup-hidup.
Swosssshhhhh...?!
>>>>>>______
Api hitam yang muncul dengan ganasnya membakar tubuh Tetua Racun. Teriakan menyedihkan yang keluar dari mulut Tetua Racun membuat siapa saja yang melihat itu merasa merinding, karena secara tidak langsung mengatakan betapa mengerikannya api hitam tersebut.
Beberapa saat kemudian, api hitam yang membakar tubuh Tetua Racun pun sudah menghilang dan terlihatlah tubuh Tetua Racun yang sudah berubah hitam legam dengan kedua matanya membuka lebar tanpa pupil. Ling Feng yang melihat itu hanya menatapnya acuh lalu melemparnya ke samping dan jatuh begitu saja ke laut.
Hening selama beberapa detik, sampai Ling Feng menghela nafas pendek lalu mengalihkan pandangan nya kepada Ketua bandit laut. Melihat Ling Feng yang menatapnya, ketua bandit laut tidak cukup bodoh untuk tidak sadar bahwa dirinya dan anak buahnya yang akan menjadi sasaran berikutnya.
“Cepat pergi dari sini!” Teriak Ketua bandit laut memerintahkan anak buahnya untuk segera menggerakkan kapalnya dan pergi menjauh dari kapal tersebut. Terlihat ada beberapa anak buahnya yang tertinggal di kapal tersebut, namun ia tidak peduli dan lebih mementingkan nyawanya sendiri untuk sekarang.
“Baiklah saatnya mengakhiri ini. Kalian sudah terlalu banyak membuang waktu ku dalam perjalanan ini.” Gumam Ling Feng seraya menjentikkan jarinya dan banyak bola Api hitam yang muncul di sekitar tubuh Ling Feng. “Habisi mereka semua api hitam.” Ucap Ling Feng dan seluruh bola api hitam itu pun langsung melesat cepat ke arah kapal bandit laut yang berusaha kabur.
“Tidak, tidak, jangan mendekat!” Teriakan yang terdengar dari arah kapal bandit laut. Suara teriakan demi teriakan pun terdengar jelas. Mereka semua tidak bisa melihatnya, namun satu hal yang dapat diyakini. Nasib Ketua bandit laut dan anak buahnya tidak jauh berbeda dari Tetua Racun dan bisa jadi lebih buruk daripada dirinya.
Anak buah bandit yang laut masih di kapal pun itu pun tidak di lepaskan oleh Ling Feng ia dengan santainya membuang satu persatu dari mereka ke laut. Bahkan ada yang menawarkan dirinya sendiri untuk menjantuhkan dirinya ke laut. Ling Feng tentu saja tidak peduli, nasib mereka juga tidak jauh berbeda karena Ling Feng merasakan ada beberapa beast tipe air yang sedang menunggu di bawah kapal.
“Fyuhhhh... Selesai juga. Cihhhh...! Dasar orang tua sia*an!. Alasan dirinya berkata misterius seperti itu, karena sudah tahu bahwa aku akan turun tangan tidak peduli bagaimana pun situasi nya. Awas saja kau paman ketika kembali nanti.” Batin Ling Feng yang memasang raut wajah kesal ketika mengingat dengan apa yang dikatakan oleh Long Tian.
Semua orang yang ada di sana tidak ada yang berani mendekati Ling Feng, karena melihat perubahan aura dari Ling Feng terlebih lagi walaupun tengah mengenakan topeng, mereka bisa tahu bahwa pria tersebut sedang kesal. Alhasil tidak ada yang berani menegurnya sampai Tetua sekte gadis suci pun memberanikan diri untuk menegur Ling Feng.
“T-tuan muda bisakah kamu tolong kami semua yang ad-“ Ucapan Tetua Wanita yang berusaha untuk bersikap sopan supaya tidak menyinggung Ling Feng, namun sayang belum selesai ia mengatakannya, langsung di potong oleh Ling Feng begitu saja.
“Apa lagi sekarang hahhh...?!” Ujar Ling Feng seraya menoleh ke arah Tetua Wanita, menatapnya dengan kesal dan pada saat itulah ia baru sadar akan situsasinya. Aura mengerikan yang terpancar dari dirinya pun langsung menghilang begitu saja. Membuat semua orang yang ada di sana pun bisa bernafas lega.
“Oh ya, maaf aku melupakan kalian.” Ucap Ling Feng seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya terkekeh pelan. Ia pun langsung mengeluarkan sebuah botol pil dan mengeluarkan tiga buah pil. Ia juga mengeluarkan elemen air nya dan memasukkan ketiga buah pil tersebut ke dalam elemen airnya. Sontak airnya pun berubah warna menjadi hijau cerah.
Tetua Sekte Gadis Suci dan ketiga muridnya pun benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada mereka. Bukan hanya mereka saja, bahkan semua orang yang ada di sana pun tidak percaya bahwa pemuda bertopeng yang terliat biasa-biasa, ternyata sehebat ini.
“Terima kasih tuan muda.” Ucap komandan kota beserta para prajurit nya. Tidak hanya mereka saja, seluruh penumpang yang ada di sana juga sangat berterima kasih kepada Ling Feng. Bahkan Tetua sekte gadis suci pun juga mengucapkan terima kasih kepadannya, termasuk ketiga murid nya.
Ling Feng sendiri hanya tersenyum sangat tipis dan menganggukkan kepalanya sebagai responnya.
Sampai tindakan Cai Lan yang berinisiatif untuk mendekati Ling Feng, membuat Tetua sekte gadis suci dan kedua saudarinya pun terkejut. Ling Feng yang melihat itu nampak biasa saja dan tenang. Seraya tersenyum tipis Ling Feng pun berkata, “Apakah nona ada perlu denganku?” Ujar Ling Feng dengan tenang membuat Tetua Sekte Gadis Suci dan kedua saudarinya pun memasang telinga rapat-rapat, karena penasaran.
“Apakah tadi tuan muda yang mengirimkan transmisi suara kepadaku?” Tanya Cai Lan langsung pada intinya. Membuat Tetua Sekte gadis suci dan kedua saudarinya pun saling pandang tidak mengerti. Cai Lan sendiri tidak peduli dengan sekitarnya dan hanya menatap lurus ke arah Ling Feng. Sang empu yang di tatap pun hanya biasa saja, lebih tepatnya ia tidak bisa melihat ekspresi wajah Ling Feng karena saat itu sedang malam.
Ling Feng yang sedang tersenyum tipis berkata pelan kepadanya, “Entahlah... Siapa yang tahu tentang hal itu.” Ucap Ling Feng yang hanya di dapat didengar oleh Cai Lan. Ling Feng dengan santainya berbalik pergi ke arah ruangannya kembali. Sementara itu Cai Lan hanya diam saja seraya menatap punggung Ling Feng yang lebar.
“Oh ya... Teknik Pedang Bulan mu juga sangat indah. Teruslah berlatih dan tingkatkan kemampuanmu.” Ujar Ling Feng seraya berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. Cai Lan yang mendengar itu membelalakkan kedua matanya. Seketika ingatan tentang dirinya yang berlatih pedang di tengah malam pun kembali terulang. Ingatan dimana ia mengayunkan pedangnya dan ada sosok misterius yang membantu kemajuan berpedangnya.
“Kamu...” Ucapan Cai Lan tertahan kembali dan mengurungkan untuk mengatakan nya.
Berkat malam itu juga, peningkatan kemampuan berpedang Cai Lan mencapai tingkat yang baru dan semakin pesat. Walaupun hanya membenarkan gerakan kecil, dampaknya benar-benar sangat besar. Itulah yang di rasakan oleh Cai Lan.
Tidak lama kemudian, Tetua Sekte Gadis suci pun menghampiri nya seraya menepuk pundaknya dan bertanya kepada Cai Lan.
“Apa kamu mengenal pria bertopeng itu Lan’er?” Tanya Tetuanya yang dihampiri oleh kedua saudarinya yang juga penasaran. Cai Lan refleks menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Tetua Sekte Gadis suci dan kedua saudarinya pun refleks mengangkat sebelah alisnya bingung.
Sampai beberapa saat kemudian Cai Lan pun menjelaskan tentang alasan mengapa ia menegur Ling Feng. Tetua dan keduanya saudarinya pun menyimak apa yang dikatakan oleh Cai Lan dengan seksama.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.