
Gubuk Yang entah berada dimana
Waktu pun terus berjalan seperti biasanya, akan tetapi Ling Feng masih belum sadar dari pingsannya. Sudah hampir lima hari dirinya tidak sadar, sampai pada hari keenam tangan dari Pemuda tampan itu menunjukkan reaksi.
Bukan hanya itu saja, Kedua matanya pun perlahan tapi pasti mulai terbuka. "Ughhkkk dimana ini?" Gumam Ling Feng dengan suara lemah sembari kedua pasang matanya melihat ke arah langit-langit. Ling Feng berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa dari punggungnya ketika ia berusaha bangkit.
"Ughhkkk…Sial." Batin Ling Feng menahan sakit yang ia rasakan dari punggungnya. Ling Feng tidak memaksakan diri, ia pun berusaha menggerakkan kepalanya dengan susah payah. Terlihat tubuhnya sudah dibalut oleh beberapa daun yang berwarna hijau.
"Tubuh ku…kaku…sekali." Batin Ling Feng menggertakkan giginya. Ia benar-benar sangat sulit menggerakkan tubuhnya. Bahkan hanya sekedar bergeser saja hal itu sangatlah sulit. Setelah beberapa puluh Menit berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, Ling Feng pun memilih untuk diam saja memejamkan matanya mengatur nafasnya yang mulai berantakan.
Sampai kemudian terdengar suara langkah kaki, Ling Feng dengan susah payah menoleh ke arah sumber suara tersebut yaitu, pintu kayu yang berada di sebrang. Tidak lama kemudian pintu kayu tersebut terbuka memperlihatkan sebuah sosok yang gagah. Ling Feng yang melihat sosok tersebut sontak menatap serius sosok tersebut yang tidak lain adalah manusia juga.
"Lebih cepat dari yang kukira. Aku pikir kau akan sadar sebulan lebih kemudian." Gumam sosok manusia tersebut. Manusia itu mempunyai perawakan yang gagah, wajah yang tidak terlalu tampan, dan rambut panjang putih keperak-perak yang sangat mencolok. Terdengar dari nada bicaranya sudah dapat dipastikan bahwa ia adalah laki-laki.
"Siapa kau? kenapa kau menolong ku…Uhukkk…Uhukkk." Tanya Ling Feng dengan suara yang sangat lemah dan sesekali terbatuk-batuk. Sosok manusia tersebut hanya tersenyum lalu menaruh beberapa benda yang ia bawa menggunakan tas anyaman buatan.
"Lebih baik kau beristirahat saja dulu. Tubuh masih sangat lemah dan kaku bukan. Jadi jangan memaksakan diri mu." Kata Manusia tersebut sembari melakukan sesuatu kepada benda-benda yang ia bawa tadi. Mendengar hal itu Ling Feng tidak berkata apa-apa lagi, walaupun saat ini ia sangat penasaran kondisi tubuhnya masih belum memungkinkan untuk hal yang tidak sesuai terjadi.
Ling Feng pun mengatur nafasnya lagi yang berat kemudian bersiap-siap memejamkan matanya. Baru saja ingin memejamkan matanya manusia itu kembali berkata, "Tunggu dulu minum ini dulu terlebih dahulu. Karena kau sudah siuman akan lebih cepat tubuh mu pulih jika kau mengkonsumsi ramuan ini." Kata sosok tersebut sembari menunjukan ramuan hijau terang kepada Ling Feng.
Ling Feng terdiam melihat ramuan tersebut lalu melirik ke arah Manusia tersebut menatapnya dalam. Manusia tersebut yang ditatap seperti itu menjadi heran lalu beberapa saat kemudian ia mengerti dengan tatapan Ling Feng. Ia pun menegak sedikit ramuan tersebut dihadapan Ling Feng.
"Sudah percaya?" Kata manusia tersebut tersenyum kemudian. Melihat itu Ling Feng pun ingin bangkit, namun dicegah oleh manusia tersebut. "Buka saja mulut mu sisanya biar aku yang urus." Kata Manusia tersebut. Ling Feng menuruti perkataan manusia tersebut lalu menandahkan kepalanya.
Manusia tersebut lantas memegang bagian belakang kepala dari Ling Feng dan meminumkan ramuan tersebut ke mulut Ling Feng. Ketika merasakan ramuan tersebut, Ling Feng ingin langsung memuntahkannya, karena saking pautnya.
"Jangan dimuntahkan tahan saja. Seluruh Indra mu saat ini benar-benar sangat kaku. Minum saja dan telan." Kata Manusia tersebut. Mendengar hal itu Ling Feng mau tidak menegak ramuan tersebut sembari menahan rasa pahitnya ramuan tersebut.
1 Tegukan
4 Tegukan
Setelah empat kali tegukan, Ling Feng pun memalingkan wajahnya. Ia benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan rasa pahit ramuan tersebut. Melihat itu Manusia itu tidak memaksanya lalu membaringkan Ling Feng kembali seperti semula.
"Istirahatlah, enam jam kemudian aku akan datang lagi dan pastikan kau menghabiskan ramuan yang ku buat." Kata Manusia tersebut berjalan ke sisi tempat tidur Ling Feng membereskan peralatan nya disana. Ling Feng yang mendengar itu sudah memasang wajah jelek.
"Aku pasti mati jika terus menerus mengkonsumsi ramuan obat pahit itu." Batin Ling Feng. Tepat setelah ia membatin, Manusia itu berkata. "Jangan manja bocah. Yang namanya obat tentu rasanya tidak semanis buah." Kata manusia tersebut menggunakan tudungnya kembali lalu pergi dari sana.
Tepat setelah manusia tersebut pergi Ling Feng menatap ke langit-langit kembali. "Berapa hari sekira nya aku tidak sadar ya." Batin Ling Feng, namun tidak memikirkannya lagi memilih untuk memejamkan kedua matanya supaya lebih cepat pulih.
Waktu pun berjalan kembali, enam jam kemudian manusia tersebut benar-benar datang kembali. Ling Feng yang menyadari keberadaannya langsung membuka kedua matanya. perlahan-lahan menggerakkan kepalanya menatap manusia tersebut.
Manusia itu tersenyum kepada Ling Feng lalu kembali menyiapkan obat di meja sebrang tempat Ling Feng berbaring. Ling Feng sudah membayangkan kembali rasa pahit yang ia rasakan enam jam yang lalu.
Hanya dalam beberapa saat kemudian ramuannya pun kembali siap. Akan tetapi kali ini warnanya berbeda dari yang tadi. Kali ini ramuan tersebut berwarna putih seperti susu. Ling Feng sekali lagi melirik manusia tersebut.
Di lirik seperti itu Manusia itu memutar kedua bola matanya sembari menghela nafas. Ia pun menegak sekali ramuan tersebut. "Sekarang kau minumlah." Kata Manusia tersebut. Mendengar hal itu Ling Feng pun membuka mulutnya dan sisanya dibantu oleh Manusia tersebut.
Walaupun warnanya berbeda, Ling Feng mengira rasa dari ramuan tersebut tidak sepahit dari ramuan sebelumnya, akan tetapi sayang kenyataan tidak sesuai ekspektasi. Bahkan Ramuan berwarna putih susu itu lebih pahit daripada ramuan yang berwarna hijau terang tadi.
"Teguk habis jangan di keluarkan kembali, itu pun kalau kau memang ingin sembuh total." Kata manusia tersebut. Ling Feng memejamkan kedua matanya menahan rasa pahit yang bukan main. Pada saat Tegukan terakhir ramuan tersebut, Ling Feng ingin mengeluarkannya kembali. Namun, sebisa mungkin ia tahan dan ia berhasil menelannya dengan berusaha mati-matian menahan rasa pahit ramuan tersebut.
"Bagus kau cukup patuh juga." Kata manusia tersebut lalu membaringkan Ling Feng kembali ke tempat tidurnya. Begitulah selama dua minggu kedepan yang akan terus menerus dijalani oleh Ling Feng. Ramuannya pun bukan hanya dua jenis saja, ada empat jenis warna yang berbeda-beda yaitu, hijau muda, putih susu, ungu terang, dan biru muda kepucat-pucatan.
>>>>>> Bersambung