
Sepuluh Hari Kemudian
"Tidak kusangka kau akan pulih hanya dalam sepuluh hari. Kemampuan pemulihan mu benar-benar di luar nalar, aku baru pertama kali salah memprediksi seseorang pulih." Kata manusia tersebut sembari memberikan Ling Feng ramuan pemulih berwarna biru pucat.
"Sebenarnya kau ini manusia atau bukan? saat ini aku mulai meragukan fakta itu." Lanjutnya lagi berkata seperti itu.
"Benarkah? aku malah merasa seperti sudah sebulan disini dan lidahku bahkan mati rasa setelah setiap harinya meminum ramuan buatan mu." Kata Ling Feng lalu langsung meneguk habis ramuan tersebut dalam dua kali tegukan saja.
Dirinya bisa setelah empat hari kemudian. Pada saat dirinya bisa bangkit, pada saat itu Ling Feng sering berpindah-pindah dari dunia jiwanya dan tempat ia berada saat ini. Tentunya ia melakukan hal itu setelah Manusia tersebut pergi dari sana. Ia pergi ke dunia jiwanya tentu untuk berendam di kolam dunia jiwa nya.
Hal itulah yang membuat dirinya menjadi lebih cepat pulih saat ini. Ling Feng lalu meletakkan cawan tersebut di sebelah tempat tidurnya. Tubuhnya sudah tidak kaku lagi. Daun-daun yang melilit tubuhnya pun sudah tidak ada, luka-luka luarnya benar-benar sembuh total sekarang.
"Aku sebenarnya ingin menanyakan ini sedari dulu." Kata Ling Feng yang tiba-tiba teringat dan mengubah nada bicaranya. Manusia tersebut hanya diam saja sembari membereskan barang-barang nya. "Kenapa kau menolong ku? dan siapa kau sebenarnya?" Tanya Ling Feng serius.
Hening setelah Ling Feng bertanya seperti itu. Lalu terdengar sebuah helaan nafas. "Haihhhh…Seharusnya kau berterima kasih kepada ku, bukan malah mengintrogasi penolong mu bocah." Kata Manusia tersebut menyentil dahi Ling Feng.
Ling Feng yang disentil dahinya mengaduh kesakitan. Manusia tersebut lantas tersenyum lalu keluar disana sembari berkata. "Ikuti aku." Kata manusia tersebut. Ling Feng mengelus-elus dahinya yang disentil oleh Manusia tersebut. Lebih tepatnya ia menatap serius Manusia didepannya ini. "Dia secara tidak langsung mengatakan aku bisa membunuhnya kapan saja jikalau ia mau." Batin Ling Feng.
Ling Feng mengambil asumsi seperti itu, karena tubuhnya kini bukanlah tubuh biasa otomatis ketahanannya berbeda dari tubuh manusia pada umumnya. Akan tetapi, ketika manusia tersebut menyentil dahinya…Dahinya benar-benar terasa sakit bahkan panas. Sudah dapat dipastikan bahwa manusia itu lebih kuat daripada dirinya dan jika ia ingin sudah sejak lama ia membunuh Ling Feng.
Tiba-tiba ketika ia sedang melamun, manusia tersebut berteriak. "Apa yang kau lakukan bocah…Keluarlah." Kata Manusia tersebut berteriak membuat Ling Feng sadar lalu berjalan keluar dari gubuk tersebut. Ketika ia keluar dari gubuk tersebut hal pertama yang ia lihat tidak jauh berbeda dengan pertama kali ia sampai disini.
Namun, yang menjadi tanda tanya Ling Feng adalah mengapa tidak ada beast yang datang mendekati tempat ini. "Kau pasti bertanya-tanya mengapa beast tidak datang kemari bukan." Kata Manusia tersebut. Ling Feng hanya diam saja yang menandakan bahwa memang itulah yang ia pikirkan saat ini.
"Kau lihat ke sana." Kata manusia tersebut sembari menatap ke arah tertentu. Ling Feng yang mendengar itu lantas mengikuti arah pandangan mata manusia tersebut. Terlihat disana ada sebuah tanaman merambat yang tumbuh. Ling Feng tentunya sadar bahwa tanaman tersebut bukan hanya dihalaman saja, ia juga melihat gubuk tersebut dikelilingi oleh tanaman yang sama.
"Tanaman itulah yang membuat para beast tidak datang kemari." Kata Manusia tersebut lantas masuk kedalam gubuk dan berkata kembali, "Karena kau sudah dapat bergerak bangunlah sendiri tempat tinggal mu. Aku ingin tidur dahulu." Kata Manusia tersebut masuk kedalam gubuknya.
Ling Feng menatap gubuk tersebut. "Sekarang aku harus memanggilnya apa ya…? dia tidak menanggapi pertanyaan ku sama sekali." Gumam Ling Feng lalu berjalan mendekati batu besar dan tidak memikirkan hal itu lebih lanjut. Ling Feng lantas duduk diatas batu tersebut mengambil sikap lotus.
Setelah bahan-bahan yang diperlukan sudah lengkap Ling Feng pun mulai meracik pil tersebut. "Api bakar." Titah Ling Feng menggunakan kekuatan jiwanya untuk mengatur Api membakar daripada setiap bahan-bahan pil dengan suhu yang berbeda-beda.
Perlahan-lahan esensi dari setiap bahan pun mulai terserap keluar dari kotorannya. Ketika seluruh esensi daripada pil telah keluar semua, Ling Feng lalu membentuk segel tangan kembali. "Satukan." Titah Ling Feng mengerahkan kembali kekuatan jiwanya untuk menggerakkan esensi bahan-bahan tersebut dan perlahan mulai menyatu.
Tidak lupa Ling Feng meneteskan setetes air kolam pada saat proses penyatuan. Perlahan bahan-bahan tersebut itu pun sudah menyatu dengan setetes air tersebut. Ling Feng lantas sekali lagi membentuk segel tangan. "Padatkan." Titah Ling Feng mengerahkan kekuatan Jiwanya untuk mengatur suhu api untuk memadatkan seluruh esensi bahan-bahan yang sudah menyatu.
Tidak lama kemudian warna daripada bahan-bahan yang sudah menyatu mulai menampakkan perubahan. Ling Feng dengan sigap menangkap pil tersebut sesaat setelah selesai dengan sesi pemadatan pil.
"Empat buah pil bumi tingkat tinggi. Bocah kau sungguh memang menarik." Bukan Ling Feng melainkan Manusia yang sedari awal memperhatikan pemurnian pil Ling Feng. Ling Feng memasang sikap waspada langsung memasukkan pil tersebut kedalam botol khusus pil.
"Jangan seserius itu bocah aku ini kagum dengan cara pemurnian pil mu." Kata Manusia tersebut berjalan mendekati Ling Feng. Akan tetapi, Ling Feng masih dalam posisi bersikap waspada dan berkata.
"Bagaimana aku tidak waspada kepada orang yang bahkan tidak kuketahui untuk sekedar dari namanya saja." Kata Ling Feng acuh tak acuh.
Manusia itu pun berhenti melangkah dan menghela nafas panjang. "Baiklah, baiklah, kau ini bocah yang cukup keras kepala ya. Namaku adalah Hua Tao, panggil saja si Tua Tao." Kata Manusia tersebut yang memperkenalkan dirinya.
"Jadi Tua Tao apa yang kau inginkan dari ku." Kata Ling Feng selanjutnya. Dengan cepat Tua Tao berkata kembali. "Hei…Kau belum memperkenalkan diri mu bocah." Kata Tua Tao. Mendengar hal itu Ling Feng memutar bola matanya. "Namaku Ling Feng panggil saja Feng atau apapun." Kata Ling Feng.
"Bagus Feng'er aku sangat terkejut dengan keahlian mu meracik pil mulai sekarang jadilah murid dari dewa obat ini." Kata Tua Tao memutuskan sepihak. Ling Feng yang mendengar itu ingin membatah nya. "Hei…Orang tua setidaknya kau harus meminta persetujuan dari ku dulu." Teriak Ling Feng tidak terima, akan tetapi tidak didengarkan sama sekali oleh si Tua Tao.
Ia hanya berbalik badan masuk kembali ke dalam gubuknya sembari berkata. "Pertama-tama pulihkan kondisi mu dulu kemudian bangunlah gubuk, baru setelah itu kita masuk sesi pelajarannya. Satu lagi kau harus selesai dalam kurun waktu dua kali dua puluh empat jam." Kata si Tua Tao masuk kedalam gubuk tersebut.
"Hei…Tua Bangka! Dengarkan dulu pendapat ku…!!" Teriak Ling Feng kesal, karena di abaikan.
>>>>>> Bersambung