
Ling Feng melirik ke arah Bing Jiao yang melangkah begitu cepat, lalu terkekeh pelan merasa sangat lucu. Sikap malu-malunya selalu menjadi hiburan hangat dan menarik di mata Ling Feng.
>>>>>>______
“Jadi bagaimana? Apakah Jiao’er suka dengan jubah yang kakak berikan?” Ucap Ling Feng sekaligus meminta pendapat kepada Bing Jiao setelah ia memberikan jubah berwarna biru langit dengan motif bunga-bunga es kepada Bing Jiao.
“Iya kak... Jubahnya sangat bagus dan juga memiliki motif yang indah. Jiao’er suka kak. Terima kasih.” Ucap Bing Jiao tersenyum senang serta merasa bahagia. Ling Feng terkekeh melihat respon itu, jubah itu tidak lain adalah hadiah yang telah di siapkan oleh manager di dalam cincin ruangnya tadi, entah karena alasan apa manager memberikan jubah itu kepadanya, namun satu hal yang pasti jubah tersebut terlihat indah jika digunakan oleh wanita seperti Bing Jiao daripada dirinya.
“Jadi... Jiao’er sekarang sudah tidak cemburu lagi heummm...?” Tanya Ling Feng dengan nada menggoda. Bing Jiao yang mendengar itu pun sempat tersentak, namun langsung menyanggahnya. “A-aku tidak cemburu kepada saudari Xian. H-hanya saja bagian dari diriku entah kenapa tidak menerimanya.” Sangkal Bing Jiao lalu bergumam pelan untuk kalimat yang selanjutnya.
“Nah kalau begitu... Kakak bisa memberikan perhatian lebih kok kepada Jiao’er.” Bisik Ling Feng tepat di telinga Bing Jiao yang membuat sang empunya langsung mematung dan langsung menjauh dengan cepat dari Ling Feng seraya mengulang perkataan Ling Feng. “P-perhatian lebih?! A-ap-apa maksud kakak dengan ‘perhatian lebih’ itu?!” Kata Bing Jiao menjauh dari Ling Feng dengan tubuh yang sedikit merinding, karena terkejut dengan Ling Feng yang secara tiba-tiba bertingkah seperti itu kepadanya.
Ling Feng sedikit membuka topengnya, memperlihatkan hanya sebatas bagian mulutnya saja, Bing Jiao dapat melihat dengan jelas sebuah senyuman tercetak di wajah pemuda di hadapan nya itu. “Hehhh... Jadi, Jiao’er berpikiran seperti itu ya~... Ya jika memang Jiao’er pikiran nya ke sana, kakak juga tidak akan menolak untuk memberikannya kok.” Gerakan bibir Ling Feng, membuat pikiran Bing Jiao semakin tidak karuan. Rona merahnya benar-benar terlihat jelas kali, bahkan asap putih samar-samar keluar dari puncak kepala Bing Jiao dan detik kemudian ia pun berteriak kepada Ling Feng, yang membuat semua padangan mata melirik tertarik kepada dua manusia lawan jenis itu.
“Ahhhhh... Aku tidak peduli lagi! Dasar kakak bodoh!” Teriak Bing Jiao cukup kencang langsung melangkah terlebih dahulu meninggalkan Ling Feng. Ling Feng yang melihat itu pun sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, lalu menyusul Bing Jiao setelahnya.
>>>>>>______
Ling Feng dan Bing Jiao pun pada akhirnya kembali beriringan, setelah Ling Feng pun meminta maaf kepadanya. Awalnya Bing Jiao menggembungkan pipinya kesal, namun seiring keduanya melangkah dan Ling Feng yang dengan lembutnya mengajaknya berbicara, dirinya pun luluh begitu saja.
Kini disinilah ia berada, tepat di belakang halaman penginapan. Ling Feng mengawasi dua orang wanita dan seorang pria yang sedang berlatih saat ini.
“Saudari Ying kau terlalu fokus mengalirkan Qi mu dan mengabaikan kontrolnya, jika terus seperti itu pedang api yang dibuat tidak akan pernah sempurna. Pelan-pelan saja tidak perlu terburu-buru.” Ling Feng memberikan saran kepada Han Ying. Ia lalu melirik ke arah Bing Jiao yang sama seperti dengan Han Ying.
“Semuanya sudah bagus. Baik itu caramu mengalirkan Qi ke dalam pedang mu, maupun pengontrolannya. Pertahankan itu, mungkin tidak akan lama lagi kau bisa menguasai versi sempurna nya.” Ucap Ling Feng melihat ke arah Bing Jiao dimana, semua fondasinya sudah kokoh.
Turnamen empat benua akan diadakan esok hari. Oleh karena itu, Ling Feng membuat persiapan yang matang guna mencegah hal yang tidak di inginkan terjadi pada turnamen esok hari. Sebisa mungkin ia akan membuat ketiga orang yang ada dihadapannya ini melewati batasnya masing-masing sampai detik-detik terakhir sebelum turnamen di mulai. Terutama Bing Jiao yang sudah di ambang ranah bumi bintang sembilan dan setengah langkah lagi menembus ranah langit.
Ling Feng berniat untuk membuat Bing Jiao menembus ranah langit tentunya, jika memungkinkan. Berhasil atau tidaknya, tergantung seberapa besar tekad Bing Jiao nantinya. Ling Feng lalu melirik ke arah pemuda yang sedang memejamkan kedua matanya fokus dengan kuda-kuda yang ia peragakan saat ini. Tidak seperti sebelumnya, Han Shen terlihat begitu tenang dan sangat kokoh dengan kuda-kudanya. Ling Feng tersenyum menanggapi hal itu lalu berjalan ke arahnya. “Jika dirinya yang sekarang kurasa ia bisa untuk menyerap khasiat pil nya.” Pikir Ling Feng berjalan ke arah Han Shen.
Ling Feng tidak langsung menegurnya melainkan memilih untuk memperhatikannya terlebih dahulu. Sampai setelah beberapa menit kemudian, Han Shen pun membuka kedua matanya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Ling Feng yang menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya.
“Tidak buruk saudara. Kuda-kuda mu sudah kokoh saat ini, aku rasa tubuhmu yang saat ini akan mampu untuk menyerap khasiat pil buatan ku.” Ucap Ling Feng yang membuat Han Shen memiringkan kepalanya bingung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ling Feng.
Ling Feng lalu memberikan sebuah pil kepada Han Shen, yang diterima oleh pemuda itu dengan tatapan yang bingung. “Pil apa ini Saudara Feng?” Tanya Han Shen penasaran seraya memperhatikan lebih dekat pil berwarna putih susu itu. “Namanya pil peningkatan. Jika kau mengkonsumsi pil itu, setidaknya kau akan langsung naik satu tingkat dengan instan dan dua kali atau tiga kali jika beruntung.” Ucap Ling Feng memberitahu kepada Han Shen yang seketika terkejut bukan main ketika mendengarnya.
“Naik satu tingkat dengan instan dan dua bahkan tiga kali jika beruntung?!” Han Shen yang tanpa sadar berteriak, saking terkejutnya. Tentunya itu menarik perhatian Bing Jiao dan Han Ying yang sedang berlatih juga di sana. Kedua wanita itu pun sontak mendekati Ling Feng dan Han Shen, dan memarahi kakaknya.
“Kali ini apa lagi sampai membuat mu berteriak-teriak tidak jela... Pil apa itu?” Han Ying yang awalnya hendak mengomeli Han Shen langsung teralihkan kepada pil putih susu di tangan Han Shen. “Itu namanya pil peningkatan.” Ling Feng yang menjawabnya. Han Ying refleks menoleh dan kembali bertanya, “Pil peningkatan? Pil jenis apa itu? Baru kali ini aku menemukan pil semacam itu.” Ucap Han Ying.
“Jelas tidak ada, karena akulah yang membuatnya pertama kali. Pil itu adalah yang merasang tubuhmu, supaya kau bisa naik satu tingkat dengan instan dan dua sampai tiga kali jika kau beruntung.” Ujar Ling Feng.
“Oh pil peningkatan instan, kah...” Gumam Han Ying yang belum sadar. Sampai beberapa detik kemudian ia pun baru menyadari nya dan menoleh ke arah Ling Feng dengan pandangan terkejut.
“Tunggu, tunggu. Kau bilang apa tadi saudara? Aku tadi mendengarnya bahwa pil itu bisa menaikkan tingkat dengan instan dan bila beruntung bisa langsung dua sampai tiga sekaligus. Aku salah dengar, kan ini?” Ujar Han Ying yang berharap bahwa indera pendengarnya salah, namun gelengan kepala Ling Feng membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Seperti yang kau dengar saudari, memang seperti itulah khasiat pilnya.” Ujar Ling Feng membenarkan, tidak membantahnya.
Jdeerrrrr
Sambaran petir seakan-akan turun dari langit, Han Ying langsung bereaksi terkejut seraya menunjuk-nunjuk Ling Feng, “K-kau ini sebenarnya apa sih?! Apakah kau dewa? Kau pasti dewa, kan saudara.” Ucap Han Ying seraya menunjuk-nujuk ke arah Ling Feng.
Ling Feng mengangkat sebelah alisnya merasa aneh dengan Panggilan Han Ying yang begitu ambigu di telinganya. Lalu langsung menepis jari Han Ying yang menunjuk-nunjuk ke arahnya. “Aku ini bukan dewa dan semacamnya. Kau terlalu berlebihan tahu.” Ucap Ling Feng lalu mengabaikan semua perkataan dari Han Ying dan lalu kembali menoleh ke arah Han Shen lagi.
“Alasan aku tidak melatih mu teknik dan semamcanya, karena memang kau tidak terlalu membutuhkan hal itu. Kau mempunyai fondasi yang kokoh dan setelah memaksamu melewati batasan dirimu, pil ini menjadi mungkin untuk untuk tubuhmu yang sekarang.” Jelas Ling Feng.
“Semua pilihan ada di tanganmu. Tergantung bagaimana kau akan meresponnya, dan tentunya aku tidak akan memaksamu saudara.” Ujar Ling Feng memberikan pilihan kepada Han Shen.
Hening sejenak, sampai tawa kecil terdengar dari Han Shen yang sedikit menunduk. “Aku sudah sampai sini dan melewati semuanya. Bagaimana bisa aku ragu-ragu di langkah terakhir nya.” Ucap Han Shen mendongakkan kepalanya menatap Ling Feng seraya tersenyum lebar. Ling Feng juga meresponnya dengan senyuman. Han Shen saat ini berada di ranah kaisar bintang sembilan jika mengkonsumsi pil ini maka ia akan berada di ranah bumi bintang satu.
“Saudara akan kulakukan.” Ucap Han Shen dengan tegas yang diangguki oleh Ling Feng dan berkata menyemangati nya.” Semoga beruntung.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum tipis. Han Shen pun sekali lagi tersenyum, lalu memasukkan pil itu ke dalam mulutnya, mulai menyerap khasiat pil tersebut.
>>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.