
“Aku ingin latih tanding dengan kakak.” Ucap Bing Jiao mengutarakan permintaan nya dengan sorot mata yang tajam menatap lurus ke arah mata Ling Feng, menandakan bahwa dirinya bersungguh-sungguh mengatakan itu.
>>>>>>______
“Apakah hanya itu saja permintaan Jiao’er?” Ujar Ling Feng dan Bing Jiao pun menganggukkan kepalanya dengan cepat mengiyakan perkataan Ling Feng.
“Kakak kira kamu akan meminta sesuatu hal dari kakak, tapi ternyata hanya latih tanding saja. Baiklah kalau begitu mari kita latih tanding besok.” Mengiyakan permintaan Bing Jiao seraya tersenyum hangat, membuat Bing Jiao pun senang ketika mendengarnya, karena Ling Feng mau mengabulkan permintaan nya.
“Kakak tidak akan menahan diri loh walaupun kami wanita.” Ujar Ling Feng seraya melirik ke arah Bing Jiao.
“Tentu saja. Kalau kakak menahan diri, maka latih tanding ini tidak ada artinya.” Timpal Bing Jiao dengan senyum lebar tercetak di wajahnya, menatap kepada Ling Feng membuat pemuda itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapinya.
>>>>>>______
Keesokan Harinya
Hari pun berlalu begitu cepat. Bulan yang telah selesai melakukan tugasnya, digantikan dengan sang matahari dari arah timur. Ling Feng saat ini sedang berlatih pedang di halaman depan kediaman sekte, dan dirinya kali ini ia sedang berlatih seni bela diri khas dari sekte naga langit yaitu, teknik pedang naga langit.
Sebelumnya Ling Feng belum sempat mempelajari teknik pedang tersebut, mengingat dirinya hanya sekedar mampir sejenak lalu langsung pergi ke Kekaisaran Shu. Dirinya memutuskan untuk mempelajari teknik berpedang tersebut, ketika melihat buku yang mengajarkan teknik tersebut tergeletak di atas meja belajar, tepatnya di dalam kamarnya.
Teknik Pedang Naga Langit sendiri adalah sebuah teknik pedang yang di ciptakan oleh pendiri sekte naga langit. Sebelum mulai berlatih Ling Feng sempat membaca buku itu terlebih dahulu untuk memahami isinya, baru kemudian ia melakukan pratek dari yang ia pahami dari buku tersebut.
Dalam buku tersebut, Pendiri sekte naga langit ingin memberitahukan, bahwa teknik pedang ini menggambarkan kekuatan, keagungan, serta kengerian dari sosok naga langit yang terkenal memberikan kesan kuat dan mistis.
Teknik Pedang Naga Langit juga di bagi menjadi beberapa gerakan, dan jumlah keseluruhan dari teknik pedang tersebut dalah lima gerakan. Pertama, raungan naga langit, kedua, sayap naga langit, ketiga, kilatan naga langit, keempat putaran naga langit, dan kelima cakar naga langit.
Setelah memahami seluruh dari teknik pedang naga langit, Ling Feng pun langsung mempraktikkannya beberapa kali, setelah mengayunkan pedang nya hampir puluhan kali, Ling Feng berhasil melakukan gerakan pertama setelah mengayunkan pedangnya sebanyak tiga puluh kali pengulangan.
Setelah berhasil sepenuhnya menguasai gerakan pertama, Ling Feng pun mulai mencoba untuk melakukan gerakan kedua. Sampai tidak terasa dua jam berlalu, dan Ling Feng pun berhasil menguasai penuh gerakan kedua dari teknik pedang naga langit. Ia memutuskan untuk menyudahi latihan pedangnya, mengingat matahari sudah mulai naik cukup tinggi.
Ia juga sudah mempunyai janji akan latih tanding dengan Bing Jiao. Sampai kemudian ia pun teringat satu hal, bahwa tempat dimana latih tanding itu dilakukan. Ling Feng pun memejamkan kedua matanya mengirimkan transmisi suara kepada Bing Jiao menanyakan perkara tersebut, tidak berlangsung lama transmisi suaranya langsung di balas oleh wanita tersebut dan dirinya mengatakan itu datang ke tempat latihan.
Ling Feng awalnya merasa aneh, ketika mendengar nada bicara Bing Jiao. Namun ia tidak memikirkan nya lebih lanjut.
“Tempat latihan? Dimana itu?” Gumam Ling Feng cukup keras, dan itu terdengar oleh Yang Sun yang kebetulan baru saja selesai melakukan latihan rutinnya.
“Saudara Feng ingin ke tempat latihan?” Tanya Yang Sun memastikan, yang membuat Ling Feng menoleh ke arahnya.
“Ah iya saudaraku. Aku sudah berjanji akan latih tanding dengan Jiao’er hari ini.” Jawab Ling Feng.
“Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan. Kalau begitu mari ikuti aku saudara.” Ujar Yang Sun bersiap-siap, lalu turun dari gunung jalan beriringan dengan Ling Feng di sampingnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun telah sampai di tempat latihan yang dimaksud oleh Bing Jiao. Namun, ketika kedua sampai di tempat latihan itu, Ling Feng dan Yang Sun terkejut dengan ramainya murid-murid sekte yang berada di sana.
“Saudara Sun, apakah tempat latihan ini memang selalu ramai seperti ini ya?” Tanya Ling Feng.
“Tidak saudara. Tempat latihan ini hanya biasa di gunakan untuk tempat latih tanding dan sejenisnya saja, kecuali ada acara-acara tertentu seperti sebuah turnamen.” Jawab Yang Sun.
“Kalau memang begitu, lantas mengapa bisa serama...” Ling Feng berhenti berkata-kata, karena tiba-tiba ia dan Yang Sun mendengar penyebab tempat latihan begitu ramai sekarang.
“Melihat Dewi Bing ada di tempat latihan ini, kabar bahwa dirinya akan latih tanding dengan seseorang sepertinya memang benar.” Ujar salah satu murid kepada teman di sebelahnya.
“Ya kau benar, kalau tidak salah lawan latih tandingnya kali ini adalah pemuda tampan yang waktu itu membuat gempar sekte naga langit, di puncak kediaman Tetua Ling beberapa waktu yang lalu.” Timpalnya temannya itu.
“Hehhhh...Aku juga sempat mendengar sebuah rumor dari orang-orang yang waktu itu pergi ke puncak kediaman Tetua Ling. Mereka mengatakan, bahwa pemuda tampan itu adalah cucu dari Tetua Ling. Bukan hanya itu saja, statusnya mungkin tidak kecil mengingat ada juga yang mengatakan bahwa pemuda itu begitu akrab dengan ketua sekte dan para tetua.” Ujar temannya lagi.
“Wah yang benar saja, terlepas dari rumor atau fakta, identitasnya benar-benar sangat tidak biasa ya.” Timpal temannya lagi.
Ling Feng yang mendengar rumor tentang diri nya hanya tersenyum masam, terlebih lagi ia tidak menyangka, bahwa latih tandingnya hari ini akan disaksikan oleh banyak orang. Ia benar-benar tidak menduga nya sama sekali, bahwa akan menjadi seperti ini.
“Saudara Feng! Saudara Feng!” Teriak sosok wanita cantik cukup lantang seraya melambai-lambaikan tangan nya, membuat semua pasang mata menoleh ke arah keberadaan yang di teriaki oleh wanita cantik tersebut.
Ling Feng hanya tersenyum masam, karena saat ini semua perhatian tertuju kepada nya. Sampai pundak kanannya di tepuk beberapa kali oleh Yang Sun. Ling Feng hanya menghela nafas pendek lalu melangkah ke arah wanita cantik yang berteriak itu tidak lain adalah Han Ying dan di sebelahnya ada Bing Jiao yang memasang wajah tidak enak.
“Menilai dari apa yang terjadi di sini, pastinya ulahmu, kan Saudari Ying.” Ujar Ling Feng ketika sampai di hadapan dua wanita itu. Han Ying yan mendengar itu hanya tersenyum puas lalu berkata, “Aku mendengar sesuatu yang menarik dari saudari Jiao semalam, jadi aku rasa murid-murid yang lain harus tahu kehebatan mu juga.” Ujar Han Ying seraya tertawa pelan.
“Haihhhh... Lakukan saja sesukamu.” Ucap Ling Feng pasrah. Lalu melirik ke arah Bing Jiao, yang memasang raut wajah tidak enak kepadanya. Ling Feng pun tersenyum tipis dan berkata, “Tidak perlu merasa bersalah Jiao’er. Lagipula kakak tidak akan mempermasalahkan hal seperti itu.” Ucap Ling Feng tersenyum tipis, mendengar apa yang dikatakan oleh Ling Feng, Bing Jiao pun merasa lega lalu tersenyum manis, membuat semua orang yang melihat senyuman tercetak di wajah Bing Jiao benar-benar pangling, mengingat Bing Jiao yang mereka kenal senantiasa bersikap dingin dan senantiasa memasang raut wajah acuh tak acuh.
“Baiklah kalau begitu, kenapa kita tidak langsung mulai saja.” Ucap Ling Feng yang dianggukki oleh Bing Jiao, keduanya pun melangkah naik ke atas arena untuk melaksanakan latih tanding.
“Kakak mohon bimbingan nya dan tolong jangan menahan diri.” Ujar Bing Jiao mengambil kuda-kuda berpedangnya.
Ling Feng tersenyum tipis menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Ling Feng seraya memasang kuda-kuda berpedang membuat semua murid yang menonton latih tanding itu terkejut, karena kuda-kuda berpedang Ling Feng adalah kuda-kuda berpedang dari teknik pedang naga langit.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.