Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Membuat Pil Elemen Es


"Telah pil ini." Kata Ling Feng sembari memberikan sebuah pil yang baru ia buat kepada Lang Hei. Dengan sigap Lang Hei pun membuka mulutnya dan menelan pil tersebut seketika ia pun mulai kembali berbaring. Kali ini ia menutup matanya untuk menyerap khasiat dari pil tersebut.


Setelah melihat Lang Hei menelan pil itu ia pun mengalihkan pandangannya dimana Sembilan Serigala menatapnya dalam sembari menggoyangkan ekornya ke kanan dan kiri dengan cepat. Bahkan daging beast yang mereka tadi bawa sudah siap diolah.


"Dasar kalian ini tidak sabaran." Kata Ling Feng lalu menjentikkan jarinya mengeluarkan elemen Api nya. Setelah itu ia pun mulai membakar daging yang disediakan oleh para serigala tersebut. Ia pun mulai membakar daging tersebut dan mengolesinya dengan rempah-rempah.


Aroma dari daging tersebut pun mulai merembak penciuman mereka yang tajam. Bahkan sesekali Ling Feng mendengar suara perut para serigala yang berbunyi keras. Tidak lama kemudian daging bakar pun telah jadi dan sembilan serigala tersebut menyantapnya dengan lahap.


Ling Feng tersenyum melihat itu lalu mengalihkan pandangannya ke Lang Hei yang ternyata masih dalam posisi yang sama. "Baiklah aku sudah membuatkan nya saat ini aku ingin berkultivasi untuk memulihkan kekuatan ku. Jangan ganggu aku jika memang tidak perlu." Kata Ling Feng. Sembilan serigala dengan mulut yang penuh dengan daging menganggukkan kepalanya patuh dan mengerti dengan maksud yang Ling Feng katakan.


Ling Feng lantas masuk lebih dalam lagi. Setelah itu ia membuka Portal menuju dunia jiwanya. Dunia jiwanya tidak seramai biasanya. Terasa sangat sunyi walaupun menyejukkan disana. "Kuharap mereka baik-baik saja." Gumam Ling Feng lalu ia pun duduk mengambil sikap lotus. Ia kembali tenggelam dalam kultivasinya untuk memulihkan kondisi tubuhnya kembali prima.


Beberapa Jam Kemudian


Tidak terasa waktupun bergulir dengan cepat. Setelah empat jam berkultivasi, Ling Feng pun membuka keduanya matanya menyudahi kultivasinya. "Baiklah tubuhku sudah pulih. Sekarang saatnya memurnikan tumbuhan Es itu." Kata Ling Feng sembari mengeluarkan kotak yang memancarkan hawa dingin.


Ling Feng menutup kedua matanya mencari-cari informasi dalam ingatannya tentang tumbuhan tersebut dan cara memurnikannya. "Satu buah Gingseng Bumi, Seikat kecil Rumput Qi, Buah Merah Delima." Gumam Ling Feng menyebutkan bahan-bahan yang diperlukan.


"Gingseng Bumi, Rumput Qi sudah tersedia…Tapi, Buah Merah Delima yang menjadi masalahnya." Ling Feng manggut-manggut berpikir. "Buah Merah Delima berfungsi untuk menetralisir hawa dingin yang nantinya mendominasi. Tapi, dimana aku harus mencari buah itu di benua biru ini." Gumam Ling Feng menghembuskan nafas pendek.


"Pantas saja senior itu tidak menggunakan bahan tersebut sampai akhir hayatnya. Ternyata ia tidak menemukan bahan yang cocok untuk menetralisir hawa dingin yang mendominasi tumbuhan Es tersebut." Ling Feng kembali menghela nafas.


Ia pun memutar otaknya sampai ia terpikirkan sesuatu yang bahkan tidak masuk nalar. "Jika tidak ada buah merah delima…Kenapa tidak coba bahan yang mempunyai fungsi sama persis dengan buah merah delima." Gumam Ling Feng. Ia lantas tersenyum simpul.


Ia pun pergi ke kebun obat-obatan yang berada tidak jauh dari tempat ia duduk. Terlihat bermacam-macam tanaman yang tertata rapih disana. "Paman Mu sangat pandai merawat kebun obat-obatan. Aku tersanjung melihatnya." Kata Ling Feng terkekeh.


Ia lantas mencari-cari tanaman yang mempunyai efek hampir sama dengan buah merah delima. Setelah mencari-cari tanaman dengan spesifikasi tersebut. Ia pun tersenyum ketika menemukan tanaman yang mempunyai fungsi hampir sama dengan Buah Merah Delima.


"Baiklah pengganti Buah Merah Delima sudah ditemukan…Berhasil atau tidak nantinya kita tentukan dengan keberuntungan ku." Kata Ling Feng terkekeh sembari memetik bunga dengan setiap kelopaknya berwarna merah darah. Ia pun memetik bahan-bahan lainnya seperti Gingseng Bumi dan Rumput Qi.


Di Suatu Tempat Lainnya


Terlihatlah suasana kota yang ramai walaupun sudah masuk waktu malam hari. Dari sekian banyak orang disana ada sosok seorang dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya dan topeng menghiasi wajahnya.


Seseorang tersebut berdiri tepat didepan sebuah bangunan yang menyajikan fasilitas makan dan sebagainya. "Sepertinya memang disini." Gumam seseorang tersebut masuk kedalam bangunan rumah makan tersebut.


Kring…Kring…Kring


"Selamat datang di rumah makan kami silahkan duduk." Sambut salah satu pelayan di dekat pintu dengan senyuman ramahnya. Sosok berjubah itu menganggukkan kepalanya lalu mencari tempat kosong di pojok ruangan. Tepat setelah ia duduk salah satu pelayan langsung menghampiri. "Anda ingin memesan apa tuan?" Tanya pelayan tersebut dengan senyum profesionalnya.


"Satu kendi arak terbaik kalian." Jawab sosok tersebut dan langsung dicatat oleh pelayan tersebut dan izin pamit kembali. "Kalau tidak salah ia akan datang tidak lama lagi jika apa yang dikatakan orang itu benar." Gumam sosok tersebut.


Tepat setelah ia bergumam seperti itu terdengar suara bel pintu kembali. Sepertinya biasa ada sang pelayan langsung menyambut orang tersebut. Sosok tersebut diam-diam melirik siapa yang datang tersebut. Ketika ia melirik, dirinya merasakan bau yang familiar dari dua orang yang baru datang dengan jubah dan cadar yang menghiasi tudung mereka.


"Ah mungkin cuman perasaan ku saja." Batin Sosok tersebut mengabaikan pikirannya. Ia kembali menunggu dan sembari menikmati arak yang baru ia pesan. "Minum arak saat sedang menunggu seperti ini memang yang terbaik. Ya seandainya yang lainnya juga disini mungkin akan lebih seru." Batin sosok tersebut senang lalu meneguk arak langsung pada kendinya.


Tidak lama kemudian terdengar lagi pintu di buka. Sosok langsung kembali melirik siapa yang datang. "Ranah Kaisar bintang 1 iblis ini sangat pandai menyamar." Batin sosok tersebut melirik orang yang baru datang yang ternyata dirinya mengetahui identitas asli orang tersebut.


Arak yang asalnya masih tersisa setengah langsung ditenggak habis dalam beberapa detik saja. Sosok itu pun bangkit pergi menuju ke arah tempat pembayaran. Pada saat selesai melakukan pembayaran, sosok tersebut sempat melirik iblis yang menyamar itu dan melakukan tanpa disadari iblis tersebut.


Dirinya pun langsung melangkah keluar. Pada saat melangkah keluar, ia sempat dilirik oleh salah satu orang bertudung cadar tersebut. Sosok tersebut sadar sempat di perhatikan, namun ia memilih untuk mengabaikannya dan melangkah pergi dari tempat tersebut.


Setelah keluar dari tempat tersebut ia lalu masuk ke salah satu gang gelap dan menghilang dari sana. "Baiklah alat pelacak sudah dipasang tinggal menunggu iblis itu menunjukkan jalannya." Ucap sosok tersebut yang ternyata tidak menghilang melainkan sedang menunggu di atas salah satu bangunan didekat tempat tersebut.


>>>>>> Bersambung