Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Biarkan Ini Sebentar Saja


Ling Feng melihat Bing Jiao sudah lebih tenang. Akhirnya menghembuskan nafas lega dan berkata kembali.


"Buktikan kau bisa mencapainya, kakak akan selalu mendukungmu." kata Ling Feng mengelus puncak kepala Bing Jiao.


"Kakak ihhhh, rambutku jadi acak-acakan nantinya." kata Bing Jiao menggerutu kesal. Ling Feng yang melihat Bing Jiao sudah kembali ke sifatnya terkekeh.


Malam yang awalnya gelap tertutupi oleh awan kini mulai cerah kembali menampakkan bulan dengan sinar yang menenangkan untuk dipandang.


Bing Jiao dan Ling Feng refleks mendongakan kepalanya melihat langit yang diselimuti oleh bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang.


"Lihat kak langitnya. Cantik sekali ya." kata Bing Jiao senyuman tercetak diwajahnya. Ia takjub dengan pemandangan langit yang dihiasi bintang-bintang dan sinar bulan. Ling Feng yang mendengar perkataan Bing Jiao mengalihkan pandangannya menatap Bing Jiao yang sedang menikmati pemandangan langit. Entah angin dari mana Ling berkata.


"Lebih cantik lagi dirimu Jiao'er." kata Ling Feng namun tidak terdengar jelas ditelinga Bing Jiao.


"Kakak bilang apa tadi ?" tanya Bing Jiao. Ling Feng yang ditanya seperti itu memilih diam tidak menjawab dan mendongakan kepalanya.


Merasa diabaikan Bing Jiao mengembungkan pipinya kesal lalu mendekatkan wajahnya ke Ling Feng. Ling Feng yang diperlakukan seperti itu refleks menjaga jarak.


"Kakak apa yang kau katakan tadi ?" ulang pertanyaan Bing Jiao dengan pipi yang mengembung mendesak Ling Feng untuk menjawab.


"Aku tidak mengatakan apapun Jiao'er, kau salah dengar tadi." kata Ling Feng berusaha mengelak.


"Kakak...." panggil Bing Jiao namun Ling Feng tetap dengan pendirian.


"Kakak apa yang tadi kakak katakan." kata Bing Jiao berharap Ling Feng mengulang perkataannya. Namun Ling Feng ya Ling Feng, tetap berpegang teguh untuk tidak menjawab.


Bing Jiao yang kesal karena Ling Feng tidak mau mengatakannya, tanpa pikir panjang dirinya langsung memeluk Ling Feng dan membenamkan kepalanya di dada Ling Feng menyembunyikan wajahnya yang sudah merona.


Ling Feng yang tidak menyangka bahwa Bing Jiao akan melakukan itu kaget bukan main. Saking kagetnya ai hanya diam, bahkan sampai menahan nafasnya.


"Bing Jiao I-Ini....." kata Ling Feng setenang mungkin namun sebenarnya ia sangat gugup. Dirinya gugup karena, ini pertama kalinya ia dipeluk wanita selain oleh ibunya.


"Biarkan ini selama beberapa menit lagi." pinta Bing Jiao berkata dengan wajah yang dibenamkan di dadanya. Ling Feng hanya diam tidak berkata apa-apa lagi dan tidak menolak. Sampai perkataan Bing Jiao membuat dirinya malu setengah mati.


"Detak jantung kakak sangat cepat, berarti kakak belum pernah berpelukan dengan lawan jenis ya hihihi."kata Bing Jiao cekikikan membuat Ling Feng sangat malu mendengarnya.


"Sudahlah Jiao'er jangan menggangguku lagi, kalau sudah selesai lepaskan pelukannya." kata Ling Feng berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun hal tak terduga malah terjadi.


Bukannya mengendurkan pelukannya, Bing Jiao malah mengeratkan nya membuat Ling Feng semakin gugup. Karena, sekarang ia bisa lebih merasakan bagian yang tak bertulang itu membuat dirinya gugup ½ mati. Bing Jiao yang kesal mendongakan kepalanya dengan pipi yang yang sudah mengembung.


"Kakak tidak suka ya dipeluk ku, padahal kakak adalah laki-laki pertama selain ayah yang pernah kupeluk." kata Bing Jiao terus terang dengan nada yang menggerutu.


Ling Feng yang kebingungan menjelaskan akhirnya. Mulai mengubah raut wajah dan senyuman tercetak diwajahnya. Bing Jiao yang melihat senyuman itu merasakan ada firasat buruk yang akan datang sebentar lagi.


"Walaupun kakak belum berpengalaman, namun kakak adalah laki-laki yang normal. Jika Jiao'er menggoda kakak seperti itu, jangan salahkan kakak memakan Jiao'er saat ini." kata Ling Feng ditelinga Bing Jiao bahkan sempat menggodanya dengan meniup telinga Bing Jiao. Bing Jiao yang mendengar itu detak jantungnya menjadi lebih cepat dan mulai berfikiran aneh-aneh. Setelah mendengar perkataan Ling Feng tadi Bing Jiao refleks menjauh dari Ling Feng. Ling Feng yang melihat Bing Jiao seperti itu terkekeh merasa lucu karena, dimatanya Bing Jiao yang malu-malu terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.


"Kakak jaga jarak jangan mendekat." kata Bing Jiao dengan tangan didepan. Ling Feng yang mendengar perkataan Bing Jiao mengangkat sebelah alisnya lalu, sebuah ide licik untuk mengerjai Bing Jiao tiba-tiba terlintas di otaknya.


"Tidak !" Teriak Bing Jiao.


"Jangan mendekat kakak ! tidak bisa seperti itu !" teriak Bing Jiao lagi.


Malam itu pun diisi dengan candaan dan tawa dari kedua insan yang berbeda kelamin itu. Langit, bumi, bintang, dan bulan menjadi saksi dari kebahagiaan masing-masing pada malam itu.


Keesokan harinya


Pagi-pagi buta seorang pemuda yang tidak lain adalah Ling Feng sedang bermeditasi untuk menstabilkan peningkatan yang ia telah dapatkan pasca penempaan tubuhnya. Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam lamanya Ling Feng pun menyudahi meditasinya.


"Hasil menempa tubuh kemarin cukup memuaskan. Tidak hanya meningkatkan manual tubuh dewa surgawi ke tingkatan berikutnya. Aku juga berhasil menembus ranah kaisar bintang dua. Hahaha sungguh keberuntungan yang luar biasa." kata Ling Feng sembari tertawa bahagia.


"Dengan ini aku bisa memulai belajar teknik Sembilan Matahari. Kita liat seberapa jauhnya kita berhasil memahami teknik yang menyiksa jiwa, mental, dan fisik ini." kata Ling Feng mengeluarkan buku teknik Sembilan Matahari.


"Namun sebelum itu lebih baik mencari makan terlebih dahulu sepertinya." kata Ling Feng memandang Bing Jiao yang masih terlelap dengan senyuman masih terlihat di wajahnya.


"Aku akan melindungi senyuman itu entah sesulit apapun kedepannya nanti." kata Ling Feng yang bertekad.


"Ibu apakah yang aku lakukan telah benar ? jika iya aku akan berusaha untuk melakukan hal itu sebaik-baiknya." Gumam Ling Feng memandang langit lalu sedetik kemudian wajahnya menjadi serius. "Akhirnya waktunya telah tiba. Tenang saja ayah, ibu, dan warga desa yang lainnya aku akan membalaskan dendam ini untuk kalian agar kalian semua bisa tenang disana." kata Ling Feng dengan tekad balas dendam yang tidak pernah padam.


"Sekte bayangan akan aku musnahkan sekte biadab itu dari muka bumi ini." kata Ling Feng dengan sorot mata yang tajam namun sedetik kemudian langsung berubah menjadi tatapan hangat melihat Bing Jiao yang sudah mulai bangun dari tidur terlelapnya.


"Kakak...?" kata Bing Jiao dengan suara yang khas orang bangun tidur. Karena tidak mendapati jawaban Bing Jiao memanggil ulang dengan suara yang cukup keras.


"Kakakkkk.....?" kata Bing Jiao namun tidak mendapatkan jawaban. Dirinya langsung. membuka matanya malas melihat Ling Feng sudah tidak berada di sampingnya.


"Eh, kemana kakak....? jangan-jangan sudah pergi meninggalkanku...?" kata Bing Jiao yang panik sendiri dengan penampilan orang bangun tidur raut wajahnya sudah mulai menggambarkan kesedihan. Ling Feng yang melihat itu hanya diam saja melihat tingkah laku absurd wanita yang sifatnya kekanak-kanakan didepannya dirinya kadang menikmati melihat suasana seperti itu.


"Kakak disini Jiao'er." kata Ling Feng spontan Bing Jiao yang mendengar suara itu langsung membalikkan badannya dan berlari memeluk Ling Feng.


"Huhuhuhu.....kukira kakak sudah pergi jauh tadi." kata Bing Jiao memeluk Ling Feng dan langsung mendusel seperti kucing.


Ling Feng yang melihat itu hanya mengelus puncak kepala Bing Jiao dan berkata.


"Sudahlah kakak mau mencari makanan untuk kita berdua terlebih dahulu. Kau tunggu disini atau pergi mandi dulu sana tidak sadar ya penampilan mu sudah acak-acakan seperti itu." kata Ling Feng membuat Bing Jiao yang awalnya mendusel dipelukan Ling Feng langsung pergi secepat kilat menuju sungai terdekat disana.


"Cepat sekali menghilangnya." kata Ling Feng Terkekeh dan langsung masuk kedalam hutan untuk mencari hewan buruan.


Lima belis menit kemudian Ling Feng telah berhasil mendapatkan hewan buruan berupa ayam hutan dua ekor dan Bing Jiao juga sudah selesai membersihkan dirinya. Walaupun masih malu karena, tadi penampilannya acak-acakan Bing Jiao cukup tenang dan langsung menyiapkan kayu bakar untuk memanggang ayam yang didapatkan oleh Ling Feng. Singkat cerita mereka berdua telah selesai sarapan.


"Kakak akan kemana sekarang ?" tanya Bing Jiao menundukkan kepalanya memainkan jari-jarinya. Ling Feng yang mendengar itu mengkerutkan keningnya.


"Bukankah sudah jelas, kakak akan pergi ke pesta yang diadakan ayahmu itu." kata Ling Feng santai. Bing Jiao yang mendengar itu langsung mendongakan kepalanya hampir lupa kakaknya ini sudah berjanji untuk menghadiri pesta yang diadakan sebentar lagi.


"Sudahlah ayo berangkat sepertinya paman Tian dan yang lainnya sudah memulai acaranya." kata Ling Feng menggunakan penutup wajahnya langsung melesat ke kota Cheng Du.


"Hehehehe, ayo kak." Bing Jiao menyusul dibelakang.


>>>>> Bersambung


( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit dan komennya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara serasku )


( Blizzardauthor)