
“Ya kau benar... Jika ia tidak ada, mungkin saja, kita tidak akan mendapatkan informasi sepenting ini.” Ujar ketua mata-mata menggenggam erat batu ingatan yang di berikan oleh Pang Lang. “Baiklah. Kita kembali sekarang untuk memberikan informasi penting ini.” Ketua mata-mata memberikan perintah.
Tempat Gelap Di Pedalaman Hutan
Panas terik matahari siang hari di kota Cheng Du, menjadi sedikit lebih sejuk ketika menjelang sore hari. Walaupun waktu masih menunjukkan hari yang cerah, sangat berbeda di suatu gua di pedalam hutan pinggiran kota Cheng Du yang benar-benar sangat gelap. Selain, karena cahaya matahari tidak bisa menembus masuk ke dalam hutan yang lebat, gua tersebut juga di tutupi oleh beberapa akar pohon yang membuatnya benar-benar mencegah cahaya matahari masuk.
Terlihat di gua gelap tersebut ada satu kursi yang di letakan di tengah dan tiga buah kursi yang di letakan tepat di hadapan sisi kanan dan kirinya. Bekal beberapa obor yang di letakan beberapa sisi gua, penerangan yang remang-remang itu memperlihatkan sosok-sosok bertanduk dua yang duduk di masing-masing tempat duduk.
“Bagaimana persiapannya Le Seen?” Tanya iblis yang duduk di tengah-tengah membuka suara pertama kali. Ia bertanya seperti itu, seraya menatap ke iblis yang duduk di sisi kanannya. Iblis yang di panggil Le Seen itu bangkit dari tempat duduknya dan menjawabnya.
“Persiapan nya hampir selesai kak. Kita bisa melaksanakan malam ini paling cepat, dan esok hari paling lambatnya.” Jawab iblis yang bernama Le Seen itu. Iblis yang duduk di tengah itu pun menganggukan kepala nya puas lalu menoleh ke sisi kirinya seraya bertanya, “Apakah sudah ada kabar dari Le Soon yang menyusup ke kota Cheng Du, Le Sii?” Tanya iblis tersebut kepada Le Sii.
“Le Soon sudah mengabari ku, bahwa keamanan kota Cheng Du sama seperti biasanya. Tidak terlalu ketat, tidak juga terlalu longgar. Le Soon juga memberitahu waktu-waktu yang tepat untuk menjalankan rencana kita, ketika penjagaan sedang lengah kak.” Jawab iblis yang bernama Le Sii diangguki oleh iblis yang di tengah. “Tetapi kak, Le Soon menghubungi ku beberapa jam yang lalu. Ia bilang ada dua orang kuat berjubah hitam datang ke kota Cheng Du.” Ujar Le Sii yang belum menyelesaikan perkataannya.
“Dua orang berjubah hitam, kah... Perintahkan Le Soon untuk mengerahkan beberapa iblis yang ikut menyusup dengannya untuk mengawasi dua orang misterius tersebut. Usahakan jangan terlalu mencolok, karena tidak menutup kemungkinan ia bisa menyadari aura iblis walaupun sudah menyamarkannya dengan sangat rapih.” Ujar iblis yang duduk di tengah menatap ke arah Le Sii yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Baik Kak Xong, aku akan memberitahu kepada Le Soon.” Ucap Le Sii. “Kota Cheng Du adalah langkah pertama untuk membuat para jendral lebih tertarik kepada kita Le bersaudara. Oleh karena itu, kita harus menyelesaikan tugas yang telah di percayakan oleh para jendral untuk mengambil benda yang berada di kota Cheng Du. Le Sii, Le Seen. Jangan lengah sampai hari H rencana kita di laksanakan.” Ujar Le Xong bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh Le Sii, Le Seen. “Tenang saja kak. Percayakan saja pada kami bertiga.” Ucap Le Seen dengan sangat percaya diri diangguki oleh Le Sii. Tanpa disadari oleh ketiga iblis bersaudara itu, ada seorang yang telah menyusup ke gua tersebut sebelum ketiganya datang. Setelah ketiganya pergi keluar dari gua, baru orang yang menyusup itu menampakkan wujudnya.
“Benda? Jendral Iblis Sangat membutuhkan benda tersebut? Untuk apa? Nampaknya masih banyak informasi yang belum ku ketahui. Tepat seperti yang dikatakan tuan muda, ras iblis memang mencari sesuatu di kota Cheng Du. Keputusanku tepat untuk datang kemari terlebih dahulu sebelum kembali. Aku harus segera kembali untuk membahasnya lebih lanjut dengan tuan muda.” Batin orang tersebut lalu kembali menghilang dari gua tersebut pergi dari sana.
“Pang Lang sudah dalam perjalanan kembali. Nampaknya ia telah berhasil mendapatkan informasi yang lebih penting kali ini.” Ucap pelan Ling Feng seraya menyesap minuman yang ia pesan. “Hohhh... Benarkah itu tuan muda? Ia tidak meminta sedikit tambahan waktu lagi, kan.” Timpal Ren Hu pelan.
Satu jam yang lalu, Ling Feng sudah mengatakan bahwa Pang Lang akan kembali, namun setelah di tunggu hampir selama setengah jam, Pang Lang masih tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya, yang mana jarak ia dengan Ling Feng terbilang dekat tidak memakan banyak waktu untuk sampai di tempat Ling Feng berada. Selang beberapa menit kemudian, Pang Lang tiba-tiba mengabari Ling Feng, bahwa ada sesuatu yang masih harus ia lakukan dan meminta sedikit waktu lagi untuk menutaskan keseluruhan nya. Ling Feng menyetujui itu dan membiarkan Pang Lang melakukan sesukanya.
“Ia akan segera sampai, oleh karena itu, kita pesan kamar terlebih dahulu. Jika kita berkumpul di sini, tentuntya akan sangat menarik perhatian.” Ucap Ling Feng lagi seraya mengangkat sebelah tangannya memanggil pelayan kedai makan tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Sapa ramah pelayan tersebut. Ling Feng tidak menghiraukan sapaan tersebut, ia lalu mengeluarkan tiga keping koin emas dari cincin ruangnya memberikannya kepada pelayan tersebut seraya berkata, “Tolong siapkan tiga kamar.” Ucap Ling Feng. Sontak pelayan tersebut di buat kaget oleh Ling Feng, pasalnya jumlah uang yang di keluarkan oleh Ling Feng, terbilang sangat banyak untuk tiga kamar.
“T-tuan... Uangnya terlalu banyak, bianyanya cukup dua keping koin saja.” Ucap pelayan tersebut memberitahukan dengan gugup. “Ambil saja kembaliannya, sebagai gantinya tolong segera siapkan pesanan ku.” Ucap Ling Feng lagi. “B-baik tuan muda... Akan saya siapkan segera permintaan Anda.” Ujar pelayan tersebut memutuskan untuk memanggil Ling Feng dengan panggilan tuan muda, karena suara pemuda yang terdengar dari Ling Feng.
Lima menit kemudian, sang pelayan pun kembali seraya membawa tiga kunci kamar. “Ini tuan muda tiga kamar yang Anda pesan.” Ucap pelayan seraya memberikan tiga buah kunci kepada Ling Feng. “Terima kasih.” Ucap Ling Feng dengan singkat, namun sangat lembut di dengar telinga. “Ah... S-sama-sama tuan muda, seharusnya aku yang berterima kasih kepada tuan muda, karena telah memberikan ku tip yang sangat banyak.” Ucap pelayan muda itu menundukkan kepalanya kepada Ling Feng merasa sangat berterima kasih.
Ling Feng tersenyum kecut, karena mereka telah menjadi pusat perhatian saat ini, Ia pun hanya menepuk pelan pundak sang pelayan lalu pergi menuju lantai dua, pergi ke kamar yang telah ia pesan.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.