
“Murid Bing Jiao masih belum sepenuhnya pulih, jika kau terlalu bersemangat yang ada pemulihan nya akan jadi terhambat.” Ujar Tetua Sang seraya memisahkan Han Ying yang tidak mau dipisahkan dari Bing Jiao.
>>>>>>______
“Nak Ling Feng saat ini sedang berlatih pedang dengan pangeran kedua di belakang halaman penginapan ini.” Ucap Tetua Sang yang menebak isi pikiran dari Bing Jiao, karena senantiasa melirik ke arah pintu masuk seperi mengharapkan kehadiran seseorang.
Bing Jiao yang mendengar Tetua Sang berkata seperti itu, mendadak malu sendiri, karena tingkahnya benar-benar terlihat sangat jelas di hadapan Tetua Sang. Han Ying yang berada di sisinya pun hanya bisa tersenyum menggoda saudarinya itu, membuat wajah Bing Jiao semakin berubah menjadi merah padam.
“Aiya saudari~... Kenapa wajah mu tiba-tiba menjadi merah seperti itu? Apakah ada sesuatu yang tidak terduga terjadi beberapa hari yang lalu.” Ucap Han Ying dengan menaik turunkan alisnya menggoda Bing Jiao. Bing Jiao yang polos dengan cepat berkata menyangkalnya, “A-ap-apa maksud mu saudari dengan yang aneh-aneh? T-tidak terjadi apapun yang aneh antara aku dan Kakak Feng.” Bing Jiao dengan cepat menyangkal dengan wajah yang memerah dan semakin menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya.
Akan tetapi, alih-alih berhenti, Han Ying yang melihat Bing Jiao yang seperti itu malah semakin bersemangat untuk menggodanya. “Aigo~ apakah benar seperti itu~... Aku rasa kejadiannya lebih dari tidak ada apa-apa~” Ucap Han Ying yang semakin gencar menggoda Bing Jiao. Mendengar hal itu, Bing Jiao lalu menarik kedua kakinya utnuk menyembunyikan wajahnya yang terlihat seperti kepiting rebus saat ini, bukan hanya itu saja, bahkan samar-samar keluar asap dari puncak kepalanya.
“Sudah Ying’er jangan menggoda Jiao’er lagi.” Lerai Tetua Sang, akan tetapi Han Ying tidak mendengarkan hal itu, dan masih terus melancarkan aksinya, sampai suara ketukan dari pintu menarik perhatian para penghuni kamar, dan Han Ying pun menghentikan aksinya.
“Bagaimana Jiao’er? Apakah keadaan mu sudah mendingan sekarang?” Tanya Ling Feng melangkah masuk ke dalam kamar Bing Jiao begitu saja, karena di dalamnya ada Tetua Sang dan Han Ying. Akan tetapi, ketika ia sampai di hadapan ketiganya, entah mengapa ia merasakan hal aneh ketika dirinya mendekat.
“Ada apa ini?” Tanya Ling Feng seraya melirik Han Ying dan Tetua Sang secara bergantian, Han Ying sendiri hanya mengedikan kedua bahunya saja, Tetua Sang hanya tersenyum penuh arti lalu mengajak Han Ying keluar dari kamar meninggalkan Ling Feng dan Bing Jiao.
Ling Feng mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan sikap para perempuan itu, terlebih lagi pada saat ia melirik ke arah Bing Jiao, ia melihat sikap Bing Jiao yang aneh menurutnya. Bing Jiao sesekali melirik ke arah Ling Feng lalu secara tiba-tiba kembali menyembunyikan wajahnya di kedua kakinya, yang membuat Ling Feng juga merasa canggung dan tidak enak.
“Jika Jiao’er tidak nyaman dengan kehadiran kakak di sini, apakah kakak perlu keluar saja?” Ucap Ling Feng tiba-tiba setelah dilanda keheningan yang canggung di antara keduanya. Bing Jiao yang mendengar itu dengan cepat berkata seraya menggelengkan kepalanya, “ Tidak kak. Jiao’er tidak berpikiran seperti itu, Kakak tidak perlu keluar dari sini. Jiao’er nyaman kok bersama kakak.” Ujar Bing Jiao dengan cepat mencegah Ling Feng yang hendak pergi dari kamarnya.
“Begitu, kah... Ya jika memang Jiao’er tidak nyaman dengan kakak yang sekarang, bilang saja ya.” Ucap Ling Feng sekali lagi seraya terkekeh pelan. “Itu tidak mungkin terjadi. Jiao’er hanya merasa malu ketika memikirkan apa yang dikatan oleh Saudari Ying.” Bing Jiao dengan cepat menyangkalnya.
“Memangnya apa yang dibicarakan oleh Han Ying kepadamu?” Tanya Ling Feng yang membuat Bing Jiao tersentak ketika mendengarnya.
“Ah t-tentang itu... Kakak tidak perlu mengetahuinya.” Ucap Bing Jiao seraya mengalihkan pandangannya dari Ling Feng, yang membuat sang empu mengangkat sebelah alisnya penasaran, namun Ling Feng memilih untuk memendamnya tidak mengajukan pertanyaan lebih lanjut lagi.
“Ya jika kau memang tidak mengatakan nya, kakak tidak akan bertanya lebih lanjut lagi.” Ucap Ling Feng lalu tanpa berkata apa-apa langsung meraih lengan kiri Bing Jiao, yang membuat wanita itu terkejut, karena Ling Feng memegang tangannya tanpa berkata apa-apa. Pipinya yang telah kembali normal, mendadak berubah menjadi merah kembali, karena tindakan Ling Feng yang tidak terduga. Ling Feng sendiri tidak menyadari hal itu dan fokus pada pergelangan tangan Bing Jiao, tepatnya pada denyut nadinya.
Ia lalu meletakan dua jarinya memeriksa denyut nadi wanita tersebut. Selang beberapa menit, Ling Feng pun menganggukkan kepalanya, “Baguslah kau sudah pulih sepenuhnya.” Ucap Ling Feng lalu menyudahi tindakan nya dan bangkit dari posisi duduknya. Bing Jiao awalnya hendak mengatakan sesuatu, namun Ling Feng keburu memberikannya sebuah pil, yang membuatnya tidak jadi bertanya kepadanya dan melirik ke arah Ling Feng dengan wajah penasaran.
Ling Feng tersenyum tipis dan berkata, “Telanlah pil itu. Qi mu yang telah habis akan pulih kembali.” Ucap Ling Feng menjelaskan tentang khasiat pil yang ia berikan kepada Bing Jiao. “Baiklah kalau begitu, kakak pergi dulu ya. Pangeran mungkin sudah menungguku saat ini.” Ucap Ling Feng lalu melangkah pergi dari kamar Bing Jiao. Bing Jiao yang awalnya hendak mengatakan sesuatu, lagi-lagi ia telan kembali tidak mengutarakannya.
Mendengar hal itu, Bing Jiao pun terdiam, lalu menelan pil tersebut dan mengambil sikap lotusnya.
>>>>>>______
“Maaf pangeran kedua, aku sedikit lama, karena tadi memeriksa kondisi tubuh Jiao’er terlebih dahulu.” Ucap Ling Feng seraya mendekat ke Han Sheng yang sedang berlatih pedangnya.
“Ah iya tuan muda Feng. Tidak apa-apa santai saja.” Ucap Han Sheng yang membuat Ling Feng yang dipanggil tuan muda olehnya menjadi sedikit kaku, ketika mendengarnya. “Ah pangeran kedua... Panggil saja aku dengan namaku, kata ‘tuan muda’ nya tidak perlu diikut sertakan.” Ucap Ling Feng dengan senyum dipaksakan seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya tidak nyaman.
Akan tetapi, respon Han Sheng sungguh tidak terduga, “Maka dari itu, panggil aku juga dengan namaku, bukankah aku sudah mengatakan tentang hal ini sebelumnya.” Ucap Han Sheng seraya terkekeh pelan. Pada saat pagi-pagi buta, Ling Feng yang sedanng berlatih pedang, tiba-tiba melihat Han Sheng yang datang menghampirinya. Han Sheng merasa kagum dengan teknik berpedang Ling Feng yang begitu bersih dan fleksibel, tanpa pikir panjang Han Sheng pun langsung meminta Ling Feng untuk mengajarinya.
Awalnya ia berpikir bahwa teknik berpedang yang begitu bersih dan fleksibel itu, pastinya Ling Feng enggan untuk mengajarkannya, namun tidak di sangka Ling Feng menganggukkan kepalanya menerima permintaan Han Sheng. Pada saat itulah Han Sheng di buat terkejut oleh Ling Feng, dan secara refleks bertanya kepadanya, dan jawaban yang keluar dari mulut pemuda tersebut benar-benar tidak terduga.
“Ya kenapa aku harus melarang orang yang ingin belajar sesuatu. Lagipula apa yang kulakukan hanyalah gerakan-gerakan biasa dan mendasar, lalu kenapa aku harus melarang orang yang ingin belajar hal-hal dasar dari berpedang?” Ujar Ling Feng yang membuat Han Sheng berpikir bahwa Ling Feng adalah orang aneh.
Pada saat itulah Han Sheng memutuskan untuk menjadikan Ling Feng sebagai saudaranya, Ling Feng sendiri tidak terlalu terkejut dengan sikap pangeran kedua yang memang terkenal haus akan bela diri, lagipula ia tidak mendapatkan kerugian sedikit pun dan sebaliknya mendapatkan relasi yang cukup berguna.
“Baiklah, baiklah... Saudara Sheng.” Kata Ling Feng.
Han Sheng yang mendengar hal itu terkekeh pelan dan berkata seraya menepuk-nepuk pundak Ling Feng, “Begitu dong... Kan jadi enak berbincang-bincangnya. Benar, kan saudara Feng.” Ucap Han Sheng dengan senyum lebar di wajahnya lalu merangkul Ling Feng. Ling Feng menanggapinya dengan senyuman tipis dan kembali berkata.
“Kalau begitu, kita lanjutkan kembali berlatihnya... Kau masih kuat, kan saudara Sheng.” Kata Ling Feng melirik ke arah Han Sheng dan orang itu pun meresponnya dengan senyuman percaya diri, “Jangan meremehkan ku saudara... Walaupun aku seorang pangeran, bukan berarti kerjaan ku hanya malas-malassan saja. Akan kuladeni bahkan jika itu sampai bertemu pagi lagi.” Ucap Han Sheng dengan senyuman lebar, sangat percaya diri dengan staminanya.
“Hohhh... Kita lihat saja, sampai mana kau bisa bertahan di bawah pelatihan ku.” Ucap Ling Feng tersenyum penuh arti, Han Sheng merasakan perasaan tidak nyaman dari senyuman itu, namun ia sudah terlanjur untuk maju, mundur sekarang baginya sama saja dengan seorang laki-laki pengecut.
“Majulah kapan pun saudara.” Ucap Han Sheng setengah hati.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.