Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Menjelaskan Kepada Dua Tetua


Ling Feng yang melihat wajah damai dari Bing Jiao dengan nafas yang terdengar teratur terdengar dari hidungnya, terkekeh pelan dan berkata pelan, “Iya Jiao’er. Kau sudah bekerja keras. Terima kasih sudah selalu memikirkanku.” Ucap Ling Feng lalu memangku tubuh Bing Jiao ala putri supaya wanita tersebut dan pergi kembali ke Ibukota Kekaisaran.


>>>>>>______


Salah Satu Penginapan di Ibukota Kekaisaran


“Oi wanita... Sampai kapan kita harus menunggu seperti ini?” Han Ying mengajukan pertanyaan kepada Ren Hu yang masih dengan tenang berdiri di seberang dan menyandarkan tubuhnya ke arah dinding. Selain Ling Feng, semua orang memutuskan untuk menunggu di depan pintu kamar Bing Jiao.


“Aku punya nama, jangan panggil aku seperti itu. Jawaban ku tetap sama dan tidak akan berubah. Jika kau tidak sabar, lebih baik kau tidak usah menunggu dan pergi dari sini.” Ucap Ren Hu apa adanya dengan acuh.


Han Ying yang lagi-lagi mendengar kata ‘menunggu’ keluar dari mulut Ren Hu menggertakkan giginya, “Kau bilang menunggu? Kita sudah menunggu di sini selama beberapa jam lamanya, harus berapa lami lagi... Uhmmmm?!” Perkataan Han Ying secara tiba-tiba terhenti, karena Han Sheng buru-buru menutup mulut daripada adik perempuan nya itu.


Han Sheng dengan senyum di paksakan meminta maaf kepada Ren Hu, “A-aku minta maaf soal adikku. Ia tidak bermaksud berkata kasar seperti itu, ia hanya khawatir dengan saudarinya. Jadi, tolong jangan di ambil hati nona Ren.” Ucap Han Sheng meminta maaf mewakili Han Ying. Ren Hu yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Melihat reaksi Ren Hu yang tidak mempermasalahkan hal tersebut, diam-diam Han Sheng mengehela nafas lega, bukan hanya Han Sheng saja, kedua tetua pun sama dengannya ketika mengetahui bahwa Ren Hu tidak mempermasalahkannya lebih lanjut. Mereka begitu, karena takut menyinggung Ren Hu, yang secara alami mengeluarkan aura yang begitu tidak biasa.


Alih-alih menyebutnya aura seorang kultivator, lebih tepat di panggil aura dari sosok makhluk buas yang sangat kuat. Itulah yang ketiganya rasakan pada saat melihat Ren Hu dan auranya. Mereka takut menyinggungnya, karena mereka tidak bisa merasakan kultivasi darinya. Fakta itu sudah cukup untuk membuat ketiga orang tersebut berpikir, bahwa Ren Hu lebih kuat daripada mereka semua yang ada di sana.


“Uhmmm...?! Uhmmm?! Uhmmm... Puah... Apa maksud kakak melakukan seperti itu kepada ku?! Aku masih belum selesai bicara, kenapa kau malah menutup mulutku?!” Kata Han Ying memarahi Han Sheng. Han Sheng sendiri tidak bisa mengatakan alasannya, dan pada akhirnya ia hanya diam saja mengacuhkan Han Ying yang merasa kesal kepadanya.


“Aku tahu kau khawatir kepada Nona Bing Jiao, tapi tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain menunggu saat ini. Kau harus berdo’a untuk kebaikannya dan bisa kembali dengan selamat.” Ucap Han Sheng kepada Han Ying dengan serius tak terbantahkan. Pada saat itulah Han Ying pun terdiam, tidak menggerutu lagi.


“Nona Bing Jiao pasti akan baik-baik saja. Ling Feng tidak selemah itu.” Ucap Ren Hu tiba-tiba membuat Han Ying menatap ke arahnya dengan pandangan yang rumit, sementara sang empu yang di tatap hanya mengacuhkan tatapan yang di layangkan kepadanya.


Selang beberapa detik kemudian, Ling Feng pun secara tiba-tiba muncul. Kehadirannya yang tiba-tiba muncul mengagetkan Kedua Tetua dan kakak beradik Han. “Eh para tetua dan yang lainnya? Kenapa semuanya ada di sini?” Tanya Ling Feng cukup terkejut dengan kehadiran semua orang di sana.


“Kau masih bertanya? Bukankah sudah jelas untuk menunggu kedatangan mu.” Kata Han Ying langsung melangkah cepat ke arah Ling Feng dan terfokus pada wanita yang di pangku oleh Ling Feng dengan gaya tuan putri. “Apa yang terjadi pada Jiao’er? Apakah ia baik-baik saja? Kenapa ia tidak sadarkan diri sekarang? Kenapa bisa begini? Cepat katakan.” Han Ying yang langsung runtutan pertanyaan kepada Ling Feng. Terlihat jelas bahwa Han Ying begitu khawatir dengan saudari seperguruannya itu.


“Ying’er kau terlalu banyak bertanya. Ling Feng nampak kesulitan dengan kau yang begitu banyak mengajukan pertanyaan.” Ucap Tetua Han menepuk pelan bahu Han Ying. Tetua Han pun lalu beralih kepada Ling Feng dan bertanya dengan singkat kepadanya, “Bagaimana dengan keadaannya?” Tanya Tetua Han singkat, namun mencakup keseluruhan nya.


Ling Feng tersenyum tipis lalu berkata, “Jiao’er sudah tidak apa-apa. Saat ini, ia hanya terlalu banyak menggunakan Qi nya saja, dia akan pulih setelah beberapa hari istirahat.” Ucap Ling Feng mengatakan kondisi Bing Jiao. Sontak semua orang yang berada di sana kecuali, Ren Hu menghela nafas lega mengetahui kondisi Bing Jiao baik-baik saja.


“Tetua Sang tenang saja... Jiao’er sudah benar-benar tidak apa-apa. Qi dingin miliknya sudah terkendali dan mungkin menjadi berkah baginya kali ini.” Ucap Ling Feng yang menyadari raut wajah Tetua Sang walaupun hanya samar-samar.


Pada saat itulah Tetua Sang menunjukkan raut wajah terkejut, “B-bagaimana bisa?!” Kata Tetua Sang yang secara refleks keluar dari mulutnya. “Aliran Qi nya memang sudah kembali tenang, tapi jalur meridian nya. Bagaimana itu bisa membesar? Terlebih lagi titik-titik meridian yang awalnya tertutup, kini sudah terbuka semua. Bagaimana caramu melakukan hal itu?” Kata Tetua Sang lalu melirik ke arah Ling Feng dengan tatapan yang penasaran.


Respon Ling Feng sendiri hanya gelengan kepala, “Aku tidak melakukan apapun kepadanya. Kemungkinan besar, hal tersebut bisa terjadi, karena Bing Jiao sudah berhasil menjalin kontrak dengan pedang tersebut.” Kata Ling Feng merujuk kepada Pedang Es Abadi. Ling Feng lalu menjelaskan semuanya kepada semua orang yang berada di sana dengan seksama. Tentang roh yang mengendalikan Bing Jiao, dan pertarungan dengan dirinya.


Semua orang menyimak dengan seksama, kecuali Ren Hu yang tiba-tiba instingnya merasakan sebuah sosok yang sedang memperhatikan kelompok mereka. Tanpa di sadari oleh yang lainnya, Ren Hu secara tiba-tiba menghilang dari sana pergi ke tempat dimana ia merasakan sosok tersebut.


>>>>>>______


Suatu Tempat yang Tidak Jauh dari Ling Feng


“Hohhh... Jadi memang benar dirinya. Sudah beberapa tahun tidak bertemu, ia nampaknya sudah semakin kuat saja ya.” Ucap sosok tersebut seraya terkekeh pelan menatap ke salah satu bangunan penginapan. Terlihat memang tidak ada sesuatu yang bisa di lihat, namun dalam sudut pandang sosok tersebut ia bisa melihat dengan jelas ke dalam bangunan tersebut di mana ada sosok pemuda yang sedang memangku seorang wanita.


“Wanita itu... Kalau tidak salah adalah gadis yang berasal dari kota Cheng Du. Ranah Bumi bintang Delapan. Tidak buruk, setelah di tinggal oleh Feng’er sepertinya gadis itu sudah menjadi lebih kuat.” Ucap sosok tersebut manggut-manggut memperhatikan wanita yang berada dalam pangkuan pemuda tersebut.


Sampai sebuah suara tiba-tiba terdengar oleh indera pendengaran nya. “Siapa kau? Mengapa kau terus-terusan memperhatikan tuan muda?” Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang sosok tersebut. Wanita tersebut adalah Ren Hu yang diam-diam pergi ke tempat dimana ia merasakan seseorang yang sedang mengawasi Ling Feng.


“Jawab aku jangan diam saja. Kau ini siapa? Mengapa terus-terusan memperhatikan tuan muda?” Ucap Ren Hu sekali lagi dengan nada serius menatap sosok tersebut dengan pandangan yang tajam. Ren Hu juga memperluas inderanya, berjaga-jaga untuk hal yang tidak terduga nantinya.


“Jika aku tidak ingin menjawabnya, kau ingin berbuat apa kepadaku?” Sosok tersebut pun akhirnya buka suara seraya menoleh ke arah Ren Hu. Ren Hu tidak bisa melihat jelas wajahnya, karena tudung kepalanya benar-benar menyamarkan wajahnya sama seperti ketika dirinya menggunakan tudung kepala.


“Maka aku akan memaksamu untuk menjawab pertanyaanku.” Ucap Ren Hu mengangkat satu tangannya mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya.


“Hohhh... Kasar sekali. Tidak kusangka kau begitu agresif ya. Padahal kukira kau itu anak baik-baik.” Ucap sosok tersebut yang tertuju kepada Ren Hu seraya terkekeh pelan. Ren Hu tidak menggubris nya dan mengeluarkan pedang dari sarungnya dan langsung melesat cepat ke arah sosok tersebut.


Shringggg


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.