Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Bing Jiao VS Ju Pen


“Istirahat lah kak. Kau sudah melakukan nya dengan baik.” Katanya lagi tanpa menoleh ke arah Han Shen. Tetua Han dan Bing Jiao yang melihat sikap Han Ying, hanya bisa terkekeh pelan seraya memaklumi tingkah dari wanita itu.


>>>>>>______


Tempat Khusus VIP


“Bagus Shen’er. Tidak buruk.” Ucap Tetua Sang tersenyum lebar yang berada di sisi Tempat khusus. Para tamu VIP yang berada di tempat duduk khusus cukup kagum dengan pertandingan pertama, terutama ketika melihat kekuatan Han Shen. “Ranah Bumi bintang dua, kah... Padahal beberapa hari yang lalu, pangeran kedua hanya berada di Ranah Kaisar bintang sembilan. Tidak kusangka Perwakilan Kekaisaran Han akan memberikan kejutan seperti ini.” Ucap Tetua dari Kekaisaran Wei yang berada di sisi Tetua Sang.


“Jangan salah paham tetua. Ini adalah sebuah taktik.” Timpal Tetua Sang dengan tenang. “Hohhh taktik, kah... Sepertinya jika ini memang taktik, Kekaisaran Han masih mempunyai beberapa kejutan lainnya.” Ucap Tetua Kekaisaran Wei. Tetua Sang yang mendengar itu pun terkekeh pelan lalu mengedikan kedua bahunya. “Nah... Siapa yang tahu.” Ucap Tetua Sang seraya memperlihatkan senyuman di wajahnya. Membuat para tetua yang lainnya menjadi waspada.


>>>>>>______


Kembali Ke Arena


Pertandingan pun kembali di lanjutkan. Untuk babak yang kedua adalah dari Grup B yang diantaranya, perwakilan dari Kekaisaran Shu melawan Perwakilan dari Kekaiaran Wu. Untuk pertarungan babak kedua ini, perwakilan dari kekaisaran Wu cukup sial, karena berhadapan dari Jenius Kekaisaran Shu yaitu, Sheng Ye. Walaupun begitu, pemuda dari Kekaisaran Wu ini tidak menyerah dan tetapa melawannya.


Para penonton mengapresiasi semangat pemuda dari Kekaisaran Wu. Walaupun perbedaan ranah terlihat jelas, ia tetap dengan berani melawannya. Walaupun pada akhirnya tetap kalah setelah bertukar serangan di gerakan yang kedua puluh lima. Berakhir dengan kemenangan Sheng Ye. Walaupun begitu, para penonton tetap memberikan sorak sorai semangat kepada perwakilan Kekaisaran Wu.


Lanjut ke pertandingan ketiga, yang mana Pihak kekaisaran Wei melawan Pihak kekaisaran Wu. Duel pertandingan itu pun cukup lama berlangsung. Jual beli serangan yang sangat sengit membuat para penonton semangat menyemangati peserta yang mereka dukung.


“Ayo jangan mau kalah!”


“Serang lagi! Serang lagi! Terus semangat ayo!”


“Kalahkan dia! Aku bertaruh pada mu, maka kau harus menang! Ayo!”


Begitulah teriak riuh para penonton kepada peserta yang bertanding. Setelah hampir setengah jam bertukar serangan, keduanya pun mengambil jarak masing-masing, seraya saling tatap dalam diam. Keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri nya dengan satu serangan terakhir dan keduanya pun menerjang. Kemenangan berpihak pada pihak perwakilan kekaisaran Wu yang masih dapat berdiri sampai akhir, walaupun sudah cukup kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Para penonton menunjukkan ekspresi bermacam-macam, yang menang taruhan kedua matanya berbinar-binar, sedangkan yang kalah tentunya tertunduk lesu.


“Pertandingan ke empat akan dimulai tiga menit lagi.” Teriak wasit tersebut. Alasan di tunda sementara adalah untuk membersihkan arena terlebih dahulu sebelum berlanjut ke pertandingan berikutnya.


Tiga menit pun berlalu, dan arena sudah kembali bersih. “Baiklah peserta pertandingan ke empat untuk dipersilahkan naik ke atas arena.” Teriak wasit itu memanggil. Bing Jiao yang dalam posisi terduduk pun sontak bangkit, karena dirinyalah yang maju kali ini.


“Aku berangkat dulu semuanya.” Ucap Bing Jiao yang diangguki oleh ketiganya.


“Berjuanglah lakukan saja seperti biasanya.” Ucap Tetua Han.


“Kalahkan musuhnya itu saudari. Jangan beri ampun sama sekali, soalnya aku membenci sikap lawan mu ini.” Ucap Han Ying dengan wajah kesal. Han Shen dan Tetua Han menggeleng-gelengkan kepalanya, Han Shen tentunya mengerti alasan mengapa Han Ying bersikap seperti itu.


Bing Jiao yang mendengar itu pun tersenyum tipis memberikan salam terlebih dahulu baru kemudian naik ke atas arena. Tepat ketika dirinya naik ke atas arena, semua penonton yang ada seketika langsung terdiam, menatap kecantikan Bing Jiao. Saking takjubnya mereka semua orang yang di sana terdiam menikmati kecantikan Bing Jiao. Walaupun sudah di tutupi oleh cadar, aura kecantikan nya tidak berkurang sama sekali.


Bing Jiao sendiri hanya acuh tak acuh melangkah ke tengah-tengah arena, dimana sudah berdiri seorang pria dengan wajah yang sombong di sana. Pemuda tersebut tentunya takjub dengan kecantikan Bing Jiao, bahkan saat ini Bing Jiao sangat sadar, terus di pandangi oleh lawannya dengan pandangan tidak senonoh.


“Hehhh... Tidak kusangka di kekaisaran Wu masih ada wanita secantik dan seanggun dirimu. Rasanya aku jadi mau memiliki mu untuk menghangatkan tempat tidurku.” Ucap pemuda tersebut menatap Bing Jiao dengan atas hingga bawah. Bing Jiao yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya sedikit tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh lawannya kali ini. Tidak hanya angkuh dan sombong, lawan nya kali ini benar-benar seorang sampah pikirnya.


“Namaku Ju Pen. Siapa namamu nona cantik.” Ucap pemuda tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama Ju Pen.


Bing Jiao tidak menanggapi nya, melainkan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Baru ia berkata, “Kau tidak perlu tahu namaku. Aku tidak punya waktu untuk sampah seperti mu.” Ucap Bing Jiao menolaknya dengan mentah-mentah.


“Hehhh... Dingin sekali, tapi entah kenapa aku malah semakin ingin untuk memiliki mu.” Ucap Ju Pen seraya memasang wajah yang terlihat menjijikan di pandangan Bing Jiao.


“Pertandingan ke empat dimulai!” Teriak sang wasit seraya melompat mundur. Tepat ketika aba-aba, Ju Pen langsung maju dengan sangat percaya dirinya dengan pedangnya. Alasan dirinya sangat percaya diri adalah ranahnya. Ia melihat ranah Bing Jiao yang hanya berada di ranah Bumi bintang delapan dan dirinya berada di ranah Bumi bintang sembilan. Satu tingkat di atasnya, itulah yang membuatnya semakin yakin bahwa ia bisa menang dengan mudah dari Bing Jiao.


Dirinya tidak mengetahui, bahwa Bing Jiao sebenarnya menyegel kultivasi nya yang sebenarnya sudah di ranah Langit.


Ctaannggg


Ctaannggg


Ctaannggg


Ju Pen menyerang Bing Jiao dengan sangat agresif. Tendangan demi tendangan, tebasan demi tebasan, di lancarkan olehnya, namun Bing Jiao tanpa kesulitan sama sekali menahan dan menghindari serangan yang di lancarkan oleh Ju Pen.


Ju Pen tentunya merasa jengkel seiring berjalannya pertandingan, selain serangannya di tahan dengan mudah, Bing Jiao sangat gesit menghidari serangannya. Membuatnya sangat jengkel bukan main. Dirinya tidak merasa aneh sedikit pun, lebih tepatnya ia mengabaikan perasaan aneh itu. Ia yang sudah gelap mata terus-terusan menyerang dengan sangat agresif kepada Bing Jiao.


“Kau wanita jala*g... Langkah mu sangat lincah ya.” Ucap Ju Pen yang mengubah raut wajahnya menjadi serius ke arah Bing Jiao. Akan tetapi, Bing Jiao mengacuhkannya. Ia hanya mengacungkan pedangnya ke arah Ju Pen dan berkata, “Jangan banyak omong kosong dan kerahkan semua yang kau miliki.” Ucap Bing Jiao dengan acuh tak acuh yang membuat Ju Pen tersinggung tidak terima, karena secara tidak langsung ia sedang mengejeknya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.