
"Kughhhkk…Sejak kapan ia berada dibelakang aku tidak bisa melihat kecepatannya. Aku tidak bisa bernafas." Batin orang yang mengikuti Ling Feng. Ling Feng masih menatap acuh tak acuh orang tersebut walaupun sudah terlihat orang itu sudah mulai kehabisan nafas, namun ia sama sekali tidak melonggarkan cengkramannya.
"Aku tanya sekali lagi. Ada perlu apa dengan ku?" Tanya Ling Feng masih dengan nada acuh tak acuh mengeratkan genggaman tangannya dan…
Booooommmm
Darah berceceran dimana-mana, namun tidak setetes pun yang mengenai wajah dan pakaian yang Ling Feng kenakan. "Opppss sepertinya aku berlebihan apa gara-gara mabuk tadi ya." Kata Ling Feng entah kepada siapa. "Ya biarlah, lagipula aku bisa bertanya kepada yang lainnya." Kata Ling Feng sembari memasang seringai lebar. Seketika bayang-bayang pun langsung mulai melesat muncul entah darimana itu.
Ling Feng yang melihat itu, lalu berkata kembali. "Akhirnya kalian keluar juga. Bukankah lelah menungguku semalaman." Kata Ling Feng turun dari atap rumah tersebut. "Jadi apakah kita bisa mulai sesi tanya jawabnya." Kata Ling Feng tersenyum lebar.
Orang yang berdiri paling depan langsung memberikan mengangkat tangannya dan berkata. "Serang!" Kata orang tersebut. Seketika semua orang berpakaian hitam itu langsung maju menyerang Ling Feng mengelilinginya. Ling Feng menyapu pandangannya dengan tatapan acuh tak acuh melihat itu.
"Haihhh padahal aku ingin bertanya baik-baik kepada kalian. Tetapi kalian malah memilih jalan yang terjal, sungguh sayang sekali." Kata Ling Feng menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya. "Melihat dari pakaiannya mungkin mereka adalah pembunuh bayaran, ya aku tidak peduli juga akan hal itu entah dari mana mereka…" Batin Ling Feng terhenti.
Ia menghindari sebuah tebasan pedang yang mengarah pada titik buta nya. Orang yang menyerang Ling Feng membelalakkan matanya terkejut karena bisa menghindari serangan dari titik butanya. "Siapapun mereka, jika tujuannya ingin membunuh ku. Maka hanya kematian yang pantas mereka terima saat mempunyai niat itu." Kata Ling Feng menggunakan qi membuat suaranya menjadi terdengar jelas ditelinga semua pembunuh bayaran itu.
Crassssshhh
Beberapa pembunuh bayaran refleks mundur satu langkah setelah mendengar hal itu. Mereka menatap ngeri Ling Feng yang dengan mudahnya memotong kepala Manusia semudah memotong kapas. "Serang bersamaan jangan berikan ia jeda sama sekali!" Perintah orang yang memberikan komando tadi.
Ling Feng yang melihat itu tersenyum lalu sekali lagi menghilang dari semua pandangan mata. "Dimana orang itu." Kata salah satu pembunuh yang kehilangan jejak Ling Feng menengok kanan kirinya.
"Dia diatas kepala kita." Teriak salah satu pembunuh memberitahu yang lainnya. Sontak yang mendengar itu refleks melihat ke atas dimana Ling Feng terbang bebas. Ling Feng awalnya ingin mengeluarkan pedang putihnya, namun tiba-tiba ia merasakan pedang misterius yang didapatkan dari sekte bayangan berdengung.
Ling Feng yang penasaran pun mengeluarkan pedang hitam itu dari Cincin ruangnya. Seketika aura gelap mengitari seluruh tubuhnya. "Baiklah pedang aneh, sepertinya kau karatan gara-gara tidak pernah digunakan maka dari itu, pertama-tama kita buat karatan mu itu hilang dengan membersihkannya dengan darah sampah-sampah ini." Kata Ling Feng.
Ia lantas mempercepat tempo turunnya. Seketika tanah yang ia tanah pijak langsung retak dan membentuk jaring laba-laba. Para pembunuh yang dekat dengan jatuhnya Ling Feng seketika terpental ke segala arah. "Teknik Halilintar Langit: Tebasan Tanpa Batas." Ling Feng langsung bergerak dalam satu napas.
Ctarrrr
Dalam sekali nafas itu pula lima kepala pembunuhan itu langsung terlepas dari tubuhnya. Tidak hanya sampai di situ saja, Ling Feng kembali bergerak secepat yang ia bisa menyerang kembali pembunuh bayaran yang berada di didekatnya secara acak.
"Akhhhhh tanganku! tangan ku!" Teriak salah satu pembunuh.
"Akhhhhh kaki hilang! kaki hilang! Tolong aku!" Kembali terdengar suara teriakan.
"Ahhhh tolong ampuni aku, aku hanya ikut-ikutan saja tolong!"
Serta masih banyak lagi teriakan yang saling saut-bersautan. Ling Feng tidak peduli sama sekali akan teriakan itu ia hanya sembarang mengayunkan pedangnya saja. Ia lebih tertarik melihat reaksi pedang hitam itu yang cukup menarik perhatiannya.
Awalnya ia tidak ingin repot-repot memikirkannya dan berniat untuk ke tempat pandai besi untuk menempa pedangnya hitam itu. Namun, setelah melihat reaksi pedang hitam ini ia menjadi semakin penasaran akan kebenaran dari pedang hitam itu sekarang.
"Ya lain kali aku akan mencoba bertanya kepada Paman Tian atau paman Mu tentang pedang ini. Mungkin saja mereka mengetahuinya." Gumam Ling Feng yang masih tidak berhenti menebas kanan kiri depan belakangnya.
Orang yang memberikan komando membelalakkan matanya tidak percaya. "Kau bercanda bukan?! bukankah ia hanya pemuda biasa tanpa aura, tapi apa-apaan dengan ini?! Satu orang dengan mudahnya membunuh dua puluh lebih pembunuh bayaran." Batin orang itu tidak percaya.
Ling Feng masih terus menebas, memotong, membelah tanpa basa-basi dengan raut wajah acuh tak acuh. Bahkan pakaian yang ia kenakan benar-benar sudah bersimbah darah dari para pembunuh tersebut. Pembunuh yang memberikan komando itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun, Ling Feng menyadari hal itu. Tentu saja ia tidak akan membiarkan pembunuh itu pergi dengan mudah. Pada saat Pembunuh yang memberikan komando ingin lari dari sana, Ling Feng langsung mengejarnya menggunakan kecepatan tertingginya dan ia juga langsung mencengkram tengkuk pembunuh tersebut lalu membantingnya ke tanah.
"Setelah membuat seluruh pakaian ku bersimbah darah, kau masih punya untuk melarikan diri. Jangan pikir akan semudah itu." Ling Feng mencengkram wajah pembunuh itu lalu mencabut salah satu gigi yang terdapat rancun bunuh diri didalamnya. Lalu membuangnya kesamping.
Setelah itu Ling Feng sekali lagi membanting pembunuh tersebut dan langsung menginjak bagian perutnya membuat pembunuh itu langsung murah darah saat itu juga. "Baiklah kita percepat saja, karena sudah sangat larut…Siapa yang memerintahkan kalian kemari?" Tanya Ling langsung pada intinya.
"Cihhhhh kau bunuh saja aku. Kami para pembunuh bayaran selalu memegang teguh pendirian kami." Kata pembunuh tersebut bersikukuh untuk tidak mengatakannya. "Pastinya tidak akan mudah. Ya memangnya harus begitu, karena tidak akan menarik jika kau langsung mengatakannya." Kata Ling Feng menyeringai lebar di bawah sinar bulan purnama menambah kesan kelam Ling Feng.
"Jangan pernah menyesal mengatakannya loh." Kata Ling Feng terkekeh lebar sembari mengeratkan genggaman pedang di tangannya.
>>>>>>> Bersambung