
“Uahhhh ekspresi itu... Bocah itu benar-benar sudah di luar kendali dan tidak bisa di tolong lagi. Aku kasihan pada komandan iblisnya, karena meladeni bocah maniak bertarung itu.” Gumam Ling Laohu menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat tingkah Hao Xiang yang terlihat semakin bersemangat, padahal lawannya sudah mulai putus asa, dengan pertarungan yang berkepanjangan itu.
>>>>>>______
“Kepar*t! Jangan bermain-main dengan ku dan cepat mati sia*an!” Teriak komandan iblis itu yang sudah mulai putus asa, karena pertarungan antara Hao Xiang dengan dirinya benar-benar tidak ada akhirnya.
“Oioioi... Apa ini? Kau tidak malu, kah berkata seperti itu.” Ucap Hao Xiang seraya tertawa kecil ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Komandan iblis itu. Dirinya pun sedikit mengambil jarak, dengan membuat komandan iblis itu terpental satu meter ke belakang.
“Ya kau benar juga sih, aku juga sudah mulai bosan. Jadi sekarang, kenapa kau tidak memberikan artefaknya kepadaku saja.” Ucap Hao Xiang lagi dengan sikap santai seraya memasang gestur meminta. Tentu komandan iblis itu terkejut ketika Hao Xiang mengatakan itu.
“Kau... Bagaima-“ Ucapan komandan iblis itu langsung di potong oleh Hao Xiang.
“Aku sudah memeriksanya selama pertarungan kita. Terlebih sikap terburu-buru yang kau tunjukan itu, bukankah terlalu jelas mengatakan, bahwa kaulah yang memegang artefak yang di minta oleh tuan mu.” Kata Hao Xiang dengan santainya membuat komandan iblis itu terkejut, karena ia tidak menyangka bahwa Hao Xiang berpikir sedemikian rupa, walaupun sedang dalam keadaan bertarung.
“Jadi tidak perlu mengelak, karena semua itu percuma saja. Aku sarankan bagimu untuk menyerah sekarang. Mungkin dengan dirimu yang menyerah, aku akan mempertimbangkan kehidupanmu.” Kata Hao Xiang lagi dan jawaban dari iblis tersebut tentunya sudah pasti.
“Jangan bercanda! Bahkan sampai mati pun, aku tidak akan memberikan nya!” Teriak iblis itu lalu mengalirkan banyak Qi hitam ke dalam senjatanya. Ledakan aura pun sekali lagi terpancar dan kali ini berasal dari senjata sabit besarnya. Bukan hanya itu saja, ia bahkan mengalirkan Api iblisnya juga ke dalam senjatanya.
“Teknik Darah Iblis: Ledakan Sabit Kematian!” Teriak iblis itu menghunuskan sabitnya secara horizontal, dimana dari itu keluarlah sebuah tebasan sabit berliku-liku disertai api berwarna hitam membara dan siap meledak kapan saja.
Shringgggg...!!
“Sepertinya memang percuma di ajak bicara baik-baik, kah... Kalau begitu aku tidak akan segan-segan lagi.” Kata Hao Xiang mengangkat pedang apinya ke atas. Lalu ia melepaskan pegangan nya, dimana pedang api itu pun terbang di udara. Ia membentuk segel tangan dan Pedang apinya yang terbang di atas kepalanya langsung menggandakan jumlahnya.
“Teknik Perwujudan Pedang Api Phoenix: Cengkeraman Api Phoenix.” Ujar Hao Xiang menggerakkan seluruh pedang api yang terbang di atas kepalanya, melesat ke arah serangan sabit komandan iblis.
Swosssshhhh... Kieeekkkk...?!
Booooommmmmm...!!
Benturan pun tidak terelakkan, serangan dari Hao Xiang dan komandan iblis menimbulkan ledakan besar yang menggucang Gunung Lu beberapa saat. Lalu setelah guncangan itu, terlihat seluruh pohon di bagian timur Gunug Lu telah musnah seluruhnya dengan kawah yang cukup besar tercipta di sana.
Hao Xiang hanya menatap acuh tak acuh ke arah komandan iblis yang terbaring mengenaskan di tanah. Lalu secara tiba-tiba terdengar suara yang membuat Hao Xiang sedikit melirik ke arahnya, “Apakah kau membunuhnya?” Suara yang tiba-tiba muncul itu berasal dari mulut seekor kucing kecil berwarna putih, yang kini sudah berada di atas kepala Hao Xiang.
“Tidak, aku menghentikan serangan fatal yang mengancam nyawanya di saat-saat terakhir. Jadi aku yakin, bahwa ia tidak mati.” Jawab Hao Xiang.
Ia lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan berkata kepada iblis yang terbaring lemah di tanah, “Aku tahu kau masih belum mati. Jadi aku akan mengambil artefaknya sendiri saja.” Kata Hao Xiang yang tentu nya bisa di dengar oleh komandan iblis itu.
Dirinya hendak melawan berupa hendak menghindar dari sana, namun pedang api yang menancap pada tubuhnya benar-benar menguncinya. “Tidak ada pilihan lain lagi.” Batin iblis itu lalu tiba-tiba seringai lebar muncul di wajahnya membuat Hao Xiang yang melihat seringai itu terkejut dan refleks menjauh ke belakang.
“Demi Kebangkitan Raja Iblis.” Ucap Komandan iblis itu dan beberapa saat kemudian tubuhnya pun langsung membengkak besar dan tidak membutuhkan waktu yang lama langsung meledak saat itu juga.
Booooommmm...!
“Benar-benar sangat gila. Ia bahkan tidak ragu untuk melakukan hal itu.” Gumam Hao Xiang terseret ke belakang sejauh beberapa meter, karena hempasan udara dari ledakan tersebut. Dirinya tidak menduga bahwa komandan iblis itu akan meledakan dirinya, mengingat komandan iblis itu membawa sesuatu yang sangat penting untuk ambisi mereka.
Tapi, ketika Hao Xiang berpikir seperti itu, dirinya pun terkejut bukan main, jika ia meledakkan dirinya seperti itu, berarti ia masih mempunyai rencana lainnya, pikir Hao Xiang. Ia pun langsung mengeluarkan Qi nya dan melawan balik hempasan udara dari ledakan dahsyat itu dan mengibaskan tangannya. Kedua matanya mengeliat mencari sesuatu, dan pada saat itulah ia melihat ke arah langit-langit dimana ada sebuah roh yang terbang dengan cepat seraya membawa sesuatu kotak hitam lusuh.
Roh itu tidak lain adalah Komandan iblis yang baru saja meledakkan dirinya. Alasan mengapa kesadaran dirinya masih ada, karena ia sudah menerima semacam artefak untuk melindungi rohnya dari kematian. Hao Xiang yang melihat itu kaget dan berusaha untuk mengejarnya, namun ia terlambat satu langkah untuk menyadari niatnya. Roh komandan iblis itu melirik ke belakang dan berkata.
“Kekeke... Jadi kau masih bisa selamat ya dari ledakan itu. Sangat disayangkan sekali, tapi sampai jumpa lagi bocah. Aku pasti akan membunuh mu di kesempatan selanjutnya.” Kata Roh komandan iblis itu lalu ia pun terbang dengan cepat ke arah puncak Gunung Lu. Hao Xiang yang mendengar itu menggertakkan giginya kesal bukan main, karena ia gagal menyadari rencana komandan iblis itu. Lebih tepatnya ia tidak memasukan pilihan, bahwa ia akan dengan berani meledakkan diri nya.
Ling Laohu juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia pun tidak menyangka bahwa ia masih punya kartu tersembunyi untuk lepas dari mereka berdua. “Sial!” Ujar Hao Xiang meninju pohon di sisi nya sampai hancur sepenuhnya menjadi serpihan. Ia kesal sekaligus marah saat ini.
“Jangan terlalu di pikirkan, kita berdua juga tidak menduga bahwa ia akan meledakkan dirinya agar bisa lolos dari kita. Lebih baik kita menyusul tuan muda di puncak gunung di sana. Aku yakin ada sesuatu yang bisa kita bantu di sana.” Kata Ling Laohu yang dianggukki oleh Hao Xiang.
Hao Xiang mengatur nafasnya terlebih dahulu, menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat dan sudah kembali tenang, ia dan Ling Laohu pun pergi menuju ke Puncak Gunung Lu, yang sedari tadi tidak berhenti-hentinya menimbulkan ledakan dahsyat dan sangat menarik perhatian.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.