
“Hamba hendak menyampaikan sebuah informasi kepada Anda raja.” Ucap Lu Xifa dengan nada bicara yang tenang membuat sosok bayangan raja iblis pun menatap tertarik ke arahnya.
>>>>>>______
Kembali Kepada Ling Feng
Setelah menitipkan pesan kepada komandan kota, Ling Feng tidak pernah lagi keluar dari ruangannya. Ia lebih memilih untuk fokus meningkatkan semua atribut kekuatan nya mulai dari kultivasi, keterampilan alkemis, serta keterampilan formasinya. Sesekali dirinya juga pergi ke dunia jiwanya dan berlatih serta menyuling beberapa pil di sana.
Untuk Long Tian sendiri, naga kecil itu hanya keluar dari ruangan Ling Feng sesekali saja untuk menangkap beberapa ikan laut tentunya. Setelah berhasil menangkapnya ia lantas masuk ke dalam dunia jiwa Ling Feng, membakarnya di sana sembari ditemani arak tentunya. Selebihnya ia menghabiskan waktunya dengan tidur seharian sembari menemani Ling Feng.
Tidak terasa sepuluh hari pun berlalu begitu saja. Terlihat Ling Feng sedang dalam posisi lotus dan tengah tenggelam dalam kultivasinya. Sampai tepat ketika matahari terbit dari arah timur, Ling Feng pun sontak membuka kedua matanya seraya menghembuskan nafasnya lega. “Fyuhhhh... Selesai juga. Dengan ini semua persiapan nya telah selesai.” Gumam Ling Feng merenggangkan tubuhnya yang kaku, karena sudah hampir lima hari penuh berkultivasi.
Ling Feng menoleh ke arah jendela kamarnya di mana terlihat di sana sebuah pemandangan matahari terbit. Tepat dirinya mulai menutup dirinya, ia sempat mendengar sebuah kabar bahwa komandan kota dan seluruh prajurit kota sudah kembali lima hari yang lalu tepat sebelum Ling Feng mulai berkultivasi.
Akan tetapi, yang membuatnya merasa heran adalah Tetua sekte gadis suci beserta ketiga muridnya tidak ikut kembali juga. Dirinya tidak mengetahui jelas mengapa Tetua tersebut beserta muridnya tidak kembali, namun satu hal yang pasti sepertinya ketiganya juga sedang menuju pulau yang sama dengan Ling Feng yaitu, pemberhentian terakhir dari kapal yang ia naiki.
Ling Feng sendiri tidak peduli akan alasan mereka pergi ke pulau tersebut. Baginya, selama mereka tidak mengganggu perjalanannya menuju Pulang Ujung Benua, ia tidak akan mempermasalahkan nya dan tentu saja tidak peduli.
Bahkan sesekali ia mengigau membuat Ling Feng terkekeh pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Paman... Bangunlah, kamu mau ikut aku tidak?” Ucap Ling Feng seraya mengguncang-guncangkan kecil tubuh naga kecil tersebut. Beberapa saat kemudian tubuhnya pun menegang, dan refleks langsung bangun tidur tentunya. “Eh nak ada apa? Apakah sudah waktunya makan malam sekarang?” Ujar Long Tian seraya menoleh ke kanan dan kiri dengan pandangan mata setengah sadar.
“Oh ayolah, paman sudah memakan ikan bakar tadi malam. Terlebih lagi ukurannya sangat besar. Apakah itu masih kurang juga?” Ujar Ling Feng seraya menghela nafas kasar seraya memutar kedua bola matanya malas. “Tentu saja masih kurang nak. Walaupun aku masih dalam wujud kecil, tetap saja di dalamnya besar.” Gumam Long Tian malas lalu hendak bersiap-siap tidur kembali.
“Baiklah, baiklah, ayo paman. Aku yang traktir.” Ujar Ling Feng seraya menghela nafas pendek. Walaupun begitu, masih belum ada tanda-tanda Long Tian akan bangkit. Tentu saja Ling Feng menyadari hal itu, dan langsung menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya kembali.
“Dengan sebotol arak juga.” Ucap Ling Feng dan langsung ditanggapi dengan cepat oleh Long Tian. “Setuju.” Ucap naga kecil itu langsung bangkit kembali dengan wajah yang berubah seratus delapan puluh derajat sangat segar ketimbang sebelumnya. Tanpa pikir panjang ia pun langsung terbang dan melingkari tubuhnya di atas kepala Ling Feng.
Ling Feng melirik sekilas ke arah Long Tian seraya tersenyum masam lalu dirinya pun bangkit dari tempat tidur pergi dari ruangannya menuju ke bagian ruang makan kapal tersebut. Untuk penumpang yang tersisa tidaklah terlalu banyak, dan hanya tersisa puluhan orang saja termasuk dengan dirinya.
Sampai beberapa saat kemudian, Ling Feng pun merasakan sebuah kelompok yang mendekat ke arahnya. Hal itu bertepatan juga dengan Long Tian yang mengirimkan transmisi suara kepadanya.
“Nak semangat!” Transmisi suara Long Tian yang masuk ke dalam kepala Ling Feng. “Semangat matamu paman!” Umpat kesal Ling Feng dan tentunya menggunakan transmisi suara juga.
“Permisi tuan muda. Bolehkah aku dan muridku ikut bergabung?” Ucap suara lembut dari arah sisi Ling Feng. Membuat Ling Feng yang merasa enggan untuk menoleh pun, terpaksa menoleh ke sisinya seraya tersenyum tipis dan berkata, “Silahkan saja. Lagipula masih banyak tempat kosong.” Ujar Ling Feng seraya mempersilahkan sosok yang berbicara itu tidak lain adalah Tetua sekte gadis suci dan ketiga muridnya.
Tetua sekte gadis suci duduk di hadapan Ling Feng bersama kedua muridnya yaitu, Hu Yan dan Yin Mei. Untuk murid yang satunya lagi duduk di sebelah Ling Feng. Tentu saja Ling Feng merasa heran ketika melihat itu. Bukan hanya Ling Feng saja, bahkan Sang Tetua dan kedua saudarinya pun juga merasa demikian.
Pasalnya Cai Lan yang mereka kenal tidak pernah bertindak seperti itu. Cai Lan yang mereka kenal adalah sosok wanita yang mempunyai sifat dingin serta tegas, bahkan saking dingin nya ia benar-benar acuh terhadap seorang pria dan terbilang enggan untuk dekat dengan lawan jenisnya itu. Ia selalu menjaga jarak dengan orang lain terutama pria, dan menolak segala bentuk ikatan dengan lawan jenis nya.
Akan tetapi saat ini tepat di hadapan mereka, Cai Lan benar-benar berinisiatif duduk di sebelah pria. Ling Feng yang melihat reaksi aneh dari Tetua sekte gadis suci, Hu Yan dan Yin Mei membuat nya semakin heran.
Walaupun begitu, Ling Feng tidak membiarkan suasana itu berlarut-larut. Dirinya pun mulai angkat bicara yang pertama kali. “Jadi ada perlu apa Tetua Sekte Gadis Suci dan murid-muridnya denganku? Aku rasa jika hanya hendak berbagi meja, masih banyak meja yang kosong di ruangan ini.” Ujar Ling Feng pertama kali berbicara.
“Ah iya, aku hanya ingin berterima kasih secara langsung dan benar kali ini mengenai insiden bandit laut dan Tetua Racun yang terjadi minggu lalu. Terima kasih banyak, karena sudah menyelamatkan ku dan murid-murid sekte ku tuan muda.” Ucap Tetua Sekte Gadis Suci seraya memberi hormat kepadanya diikuti oleh ketiga muridnya yang juga memberi hormat kepadanya.
“Tidak perlu sungkan, aku membantu juga untuk diriku sendiri. Jika mereka dibiarkan terus-terusan perjalanan ku akan semakin lama juga, jadi tidak perlu berterima kasih.” Ucap Ling Feng dengan tenang. Mendengar hal itu, Tetua Sekte Gadis suci hanya tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia memang sudah menduga bahwa Ling Feng akan berkata seperti itu, karena dirinya sudah mendengar dari komandan kota sebelumnya.
“Begitu, kah... Kalau begitu bagaimana aku traktir sebagai kompensasi nya dan tolong jangan menolak tuan muda, aku tidak terbiasa jika memiliki hutang. Terlebih lagi hutang nyawa. Jadi, tolong pengertian nya tuan muda.” Ujar Tetua Sekte Gadis suci menggunakan cara lain membuat Ling Feng benar-benar merasa aneh dengan dirinya.
“Benar-benar sangat memaksa?” Batin Ling Feng tersenyum masam di dalam hatinya. “Terima saja niat baiknya nak. Toh kebanyakan gadis memang seperti itu selalu memaksa.” Transmisi suara Long Tian yang terdengar di kepalanya memberinya saran. Ling Feng yang mendengar itu pun terdiam sejenak sampai beberapa saat kemudian berkata lagi.
“Baiklah jika Tetua memaksa.” Ucap Ling Feng pasrah menerima tawaran nya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.