Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Tetua Sekte Gadis Suci, Zhang Ling


“Benar-benar sangat memaksa?” Batin Ling Feng tersenyum masam di dalam hatinya. “Terima saja niat baiknya nak. Toh kebanyakan gadis memang seperti itu selalu memaksa.” Transmisi suara Long Tian yang terdengar di kepalanya memberinya saran. Ling Feng yang mendengar itu pun terdiam sejenak sampai beberapa saat kemudian berkata lagi.


“Baiklah jika Tetua memaksa.” Ucap Ling Feng pasrah menerima tawaran nya.


>>>>>>______


Awalnya Ling Feng tidak sadar, namun ketika transmisi suara To Mu terdengar di kepala Ling Feng, barulah dirinya menyadari wajah Tetua Sekte Gadis Suci yang terlihat memang familiar di matanya. Ia pernah melihatnya hadir di turnamen antara benua yang di adakan di Kekaisaran Shu.


Begitu juga dengan sang tetua. Ia terlihat menatap Ling Feng seraya termenung seperti sedang memikirkan sesuatu tentangnya, dan itu tentunya membuat Ling Feng merasa tidak nyaman karena di tatap intens seperti itu olehnya. Bahkan ketiga muridnya pun merasa sangat penasaran juga mengapa gurunya begitu intens menatapnya. “Apakah ada sesuatu di wajahku Tetua?” Ujar Ling Feng tiba-tiba tersenyum masam di balik topengnya.


Mendengar hal itu, tentunya membuat sang tetua kembali mendapat kesadaran nya dan seketika rona merah di pipinya pun muncul. Ia sadar, karena sudah melakukan hal yang tidak sopan menatap wajah Ling Feng terlalu lama. Terlebih lagi ketika melihat reaksi dari ketiga muridnya membuatnya sang Tetua pun sedikit kehilangan ketenangan nya lalu mulai menjelaskannya.


“A-ah maaf karena sudah berlaku tidak sopan menatap tuan muda terus menerus. Lalu jangan salah paham, saya hanya sedang berusaha untuk memastikan rasa penasaran yang mengganjal di dalam diriku.” Jelas sang tetua membuat Ling Feng mengangkat sebelah alisnya, lebih tepatnya ia tidak mengerti dengan maksud dari perkataan sang tetua.


“Rasa penasaran?” Ulang Ling Feng yang tidak mengerti. Sang Tetua menganggukkan kepalanya lalu dirinya pun berkata kembali, “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Ujar sang Tetua membuat tubuh Ling Feng sedikit menegang ketika mendengar pertanyaan tidak terduga dari wanita tersebut.


Walaupun begitu hanya seperkian detik saja, sampai Ling Feng pun kembali tenang seperti semula. Dirinya pun mengambil secangkir teh yang di sajikan di atas meja seraya berkata tanpa beban, “Begitu, kah... Sayangnya aku tidak merasa demikian.” Ucap Ling Feng dengan nada tenang tanpa sedikit pun rasa hormat kepadanya.


Mendengar nada bicara tidak sopan dari Ling Feng, murid sekte gadis suci di sebelah sang tetua pun langsung bangkit dari posisi duduknya seraya menunjuk ke arah Ling Feng lantas berkata dengan nada tinggi kepadanya. “Tidak sopan! Kau memang penyelamat kami, tapi berani-beraninya kau berkata dengan nada seperti itu kepada Tetua! Kau pikir kau ini siapa hahhhh!” Ujar seorang murid sekte gadis suci yang berada di sebelah sang tetua bernama Yin Mei.


“Hohhhh, lalu kau ingin berbuat apa kepadaku?” Ucap Ling Feng dengan nada yang sama, namun sepasang matanya sudah menatap tajam ke arah Yin Mei membuat sang empu langsung menjadi patung terdiam saat itu juga, pasalnya aura membunuh yang sangat kuat terpancar jelas darinya, seakan-akan memberikan isyarat bahwa dirinya berniat untuk membunuhnya saat itu juga.


“Mei’er! Begitukah nada bicaramu kepada penyelamat yang telah kau ucapkan terima kasih.” Tegur sang tetua membuat Yin Mei pun kembali mendapatkan kesadarannya lalu, ia terlihat sangat puncat dengan nafas memburu menoleh ke arah sang tetua lalu dirinya pun menoleh ke arah Ling Feng kembali dan langsung meminta maaf kepadanya.


Sang tetua sendiri tidak mempermasalah bagaimana Ling Feng berbicara kepadanya, namun berbeda dengan murid-muridnya yang kagum terhadap dirinya seperti Yin Mei. Jadi wajar saja bagi dirinya marah, ketika melihat orang yang ia kagumi di perlakukan tidak sopan seperti itu.


“M-maafkan aku atas nada bicara ku yang tinggi tadi.” Ucap Yin Mei sedikit bergetar mengatakan nya, dirinya pun langsung duduk kembali di tempatnya dengan wajah pucat pasi tentunya.


Melihat aura membunuh yang terfokuskan kepada Yin Mei telah menghilang, sang tetua pun bernafas lega. Tentu saja sang tetua dapat merasakan nya, oleh karena itulah ia meminta Yin Mei untuk meminta maaf kepada Ling Feng. Karena bisa jadi pemuda bertopeng di depannya ini akan benar-benar membunuh Yin Mei saat itu juga.


“Ah maaf aku belum memperkenalkan diriku secara resmi. Namaku Zhang Ling. Mereka bertiga adalah Yin Mei, Hu Yan, dan Terakhir Cai Lan.” Ucap sang tetua yang bernama Zhang Ling memperkenalkan dirinya berserta ketiga murid yang lainnya.


Ling Feng mengganggukkan kepalanya lalu berkata, “Namaku Jie Ling. Tetua bisa memanggil ku seperti itu.” Ucap Ling Feng menggunakan nama samaran. Langsung dianggukki oleh Zhang Ling dan ketiga muridnya.


Suasana canggung yang terjadi di awal pun mulai kembali seperti semula. Akan tetapi ada hal yang mengejutkan Zhang Ling, Hu Yan, dan Yin Mei, karena untuk pertama kali Cai Lan berinisiatif untuk berbicara kepada Ling Feng yang notebane nya seorang pria. Ya walaupun hanya bertanya satu pertanyaan saja, namun karena satu pertanyaan itu membuat suasana di meja tersebut pun kembali seperti biasa.


Tidak berselang lama, makanan yang telah di pesan pun mulai datang. Ketika melihat porsi yang di pesan oleh Ling Feng, nampak mereka berempat terlihat bingung, mau dilihat dari mana pun porsi makanan yang Ling Feng pesan adalah untuk dua orang.


Walaupun begitu ia hanya memakan satu porsinya saja dan membiarkan satunya lagi. Walaupun merasa bingung, mereka berempat tidak bertanya kepada Ling Feng dan lebih memilih untuk diam saja.


“Ngomong-ngomong, Tuan muda Jie hendak turun di mana?” Tanya Hu Yan tepat ketika mereka semua seleai dengan makanannya masing-masing.


“Aku berniat turun di pemberhentian terakhir kapal ini. Lalu jangan panggil aku tuan muda. Aku tidak terlalu suka di panggil seperti itu.” Jelas Ling Feng tanpa pikir panjang. Mendengar jawaban dari Ling Feng, Hu Yan sedikit tidak menduganya, bahwa Ling Feng tidak suka di panggil seperti itu. Lantas dirinya pun berkata, “Heummm kalau begitu aku akan memanggilmu Saudara Jie bagaimana?” Ujar Hu Yan.


“Begitu lebih baik. Panggil saja seperti itu.” Timpal Ling Feng yang tidak masalah dengan panggilan Hu Yan kepadanya. Hu Yan pun mengganggukkan kepala nya lalu berkata kembali, “Kebetulan kami juga akan turun di pemberhentian terakhir. Kami ke sana untuk menyelesaikan misi dadakan yang baru saja diberitahu, kalau Saudari Jie ada keperluan apa datang ke sana?” Tanya Hu Yan lagi.


“Tidak ada keperluan khusus, aku hanya ingin pergi ke sana saja bersantai-santai.” Jawab Ling Feng berbohong, yang tentu saja tidak berniat untuk memberitahukan tujuan aslinya datang ke sana.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.