
Ling Feng hanya berdecak kesal di dalam hatinnya, lalu melirik ke arah Ling San kembali masih dengan senyuman yang sama. “Begitu, kah... Jadi kakek sudah dengar dari kakek patriak ya.” Ucap Ling Feng.
>>>>>>______
Ling Feng menarik nafas sejenak lalu menatap sang kakek seraya berkata lagi, “Aku harus pergi ke sana kek dan mencari benda itu. Hanya ini satu-satunya cara untuk mengalahkan raja iblis dan pasukannya.” Ucap Ling Feng dengan tegas tanpa keraguan.
Ling San yang mendengar itu membelalakkan kedua matanya terkejut, karena dalam pandangan matanya saat ini bayang-bayang Ling Cao terlihat jelas dari Ling Feng saat ini, Chang Jin pun juga merasakan hal yang sama, beberapa saat yang lalu ia merasa seperti melihat Ling Cao di hadapan nya. Ling San menghela nafas panjang menenangkan dirinya lalu tersenyum hangat kepada Ling Feng.
“Kamu benar-benar sangat mirip dengan ayahmu nak. Sangat mirip persis seperti nya, sampai-sampai aku tidak ingin lagi kehilangan orang-orang yang kusayang untuk kedua kalinya.Tapi, aku juga sangat naif, karena sudah berpikiran sempit seperti itu. Maafkan kakek, karena sudah bersikap menyedihkan beberapa saat yang lalu.” Ucap Ling San langsung memeluk cucunya itu cukup erat.
Ling Feng yang mendengar itu pun tersenyum lembut lalu membalas pelukan dari kakeknya. Beberapa saat kemudian Ling San pun melerai pelukannya seraya memegang kedua pundak Ling Feng. “Kamu benar-benar sudah tumbuh menjadi pemuda yang hebat dan sangat diadalkan. Aku sangat bangga kepadamu cucuku.” Ucap Ling San tersenyum hangat.
“Tentu saja. Siapa dulu kakeknya.” Ucap Ling Feng seraya berkacak pinggang dengan bangga membuat Ling San dan Chang Jin langsung tertawa ketika mendengarnya.
“Hahaha... Kamu memang benar nak. Kakeknya saja sehebat ini, tidak mungkin cucunya juga biasa-biasa saja.” Ucap Ling San dan Chang Jin serempak bersamaan. Sontak langsung hening beberapa saat kemudian, dan kedua pria sepuh itu langsung saling pandang.
“Apa maksud dari perkataan mu patriak? Feng’er adalah cucuku.” Ujar Ling San seraya mengangkat sebelah alisnya. Chang Jin yang mendengar itu pun tidak mau kalah juga.
“Oh ayolah Tetua Ling, Feng’er juga cucuku. Kamu tidak dengar tadi, ia bahkan sudah sering memanggil ku ‘kakek patriak’. Bukankah berarti ia juga termasuk cucuku.” Ucap Chang Jin tidak mau kalah membuat Ling San mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapannya tersebut.
Keduanya pun saling berdebat membuat Ling Feng benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orang tua tersebut, karena mempermasalahkan hal tersebut. Sampai Ling Feng yang tidak tahan pun akhirnya melerai keduanya, karena tidak ada yang berniat mengalah sama sekali.
“Sudahlah kakek, kakek patriak. Tidak perlu memperdebatkan hal seperti itu lagi.” Ucap Ling Feng menenangkan kedua orang tua tersebut yang kini saling buang muka. Padahal beberapa saat yang lalu keduanya sangat akrab, tapi sekarang sudah seperti anjiing dan kucing. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali.
“Oh ya aku baru saja mendapatkan informasi lagi tentang tempat yang di maksud Ujung Benua itu.” Ucap Ling Feng tiba-tiba seraya mengeluarkan buku yang di berikan oleh kepala Keluarga Qing kepadanya.
Patriak sekte pun langsung mengambil buku tersebut, dan Ling San sedikit menyondongkan kepalanya melihat isi buku tersebut juga. Keduanya nampak serius ketika membaca buku tersebut lalu beberapa saat kemudian baik itu Chang Jin ataupun Ling San, keduanya sudah selesai membaca buku tersebut.
Ling Feng yang mendengar itu juga manggut-manggut, tidak menutup kemungkinan di Ujung Benua hanya lautan sepanjang mata memandang, pastinya akan ada sebuah daratan entah itu berbentuk apa sebagai tempat di letakannya benda tersebut.
“Kita akan pergi ke tanah leluhur lagi lain kali untuk membahas tentang hal ini.” Ucap Chang Jin dianggukki oleh Ling Feng. Setelah membahas hal tersebut Ling Feng pun berkata keduanya untuk tidak memberitahukan siapapun. Ia tidak ingin ada lagi yang tahu tentang rencana kepergiannya lebih dari ini.
Ling San dan Chang Jin menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti nak. Lalu ingat ini di dalam lubuk hatimu. Kami akan selalu mendukung mu.” Ucap Chang Jin.
“Aku mengerti kakek patriak. Terima kasih.” Timpal Ling Feng seraya tersenyum lalu Chang Jin pun mengangguk puas ketika mendengar itu.
Ketiganya pun mulai berbincang-bincang bebas seraya meminum teh. Ketiganya pun mulai membahas apapun tanpa memikirkan pembicaraan berat yang baru saja terjadi sebelumnya. Ling Feng tentu menikmati nya juga, dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur dengan kehidupan nya saat ini.
Dirinya yang baru saja menginjak remaja sudah kehilangan kedua orang tuanya dan orang-orang desanya. Membuat dirinya pun tenggelam dalam sebuah dendam besar atas kematian kedua orang tua dan penduduk desanya. Butuh waktu beberapa tahun untuk sampai di titik dimana ia berhasil membalaskan dendam orang tua dan penduduk desa dengan tangannya sendiri dan saat itulah ia merasakan kehampaan dan kehilangan tujuan setelah membalaskan dendam.
Sampai kemudian ia pun di selamatkan oleh orang tua dan penduduk desanya membantu dirinya keluar dari jurang kehampaan. Membuatnya ingat kembali masih banyak hal yang harus di lakukan. Lalu dirinya pun kembali bangkit dan menemui sang kakek, dan pada saat itulah dirinya bertemu dengan keluarga baru. Ia di buat sadar, bahwa masih banyak orang yang menyayanginya. Ia mempunyai rumah baru yang di dalamnya banyak orang yang menyayangi nya.
Akan tetapi, ketika ia baru saja menemukan rumah baru dan keluarga baru. Sebuah ancaman untuk keluarga nya tiba-tiba muncul di Benua Biru. Dalam hatinya Ling Feng sudah bertekad untuk tidak membiarkan hal yang sama terjadi kembali pada keluarganya.
“Aku pasti akan melindunginya. Tidak akan kubiarkan siapapun lagi mengganggu keluarga ku dan rumahku.” Batin Ling Feng bertekad seraya melihat ke sekte naga langit. Setelah beberapa saat menemani Ling San dan Chang Jin. Ling Feng pun pamit untuk masuk ke dalam hendak berkultivasi. Keduanya pun menganggukkan kepalanya dan Ling Feng pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Ling San dan Chang Jin memandang punggung Ling Feng dengan pandangan rumit. Tentu kedua nya menyadari raut wajah Ling Feng yang berubah-ubah tadi dan diakhiri dengan tatapan tegas dan kemauan yang sangat luar biasa terpancar jelas dari Ling Feng.
“Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan nak, tapi satu hal yang jelas. Kami akan senantiasa bersama mu.” Batin keduanya ketika menatap punggung pemuda yang umurnya tidak lebih dari tiga puluh tahun.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.