
Booommm... Booommm... Booommm...
Shhhaaaaaaa.........!!!
>>>>>>______
Seribu pedang es dengan cepat melesat menghantam tanaman penjaga itu, dan hanya dalam beberapa menit saja tanaman penjaga itu dirubah sepenuhnya menjadi bongkahan es raksasa. “Fyuhhh... Akhrinya rencana kita berhasil juga. Jujur saja Lin’er tidak bisa menahannya lebih dari ini.” Kata Lin’er yang langsung jatuh terduduk mengatur nafasnya yang terburu-buru.
Ketiganya kelelahan, terutama Bing Jiao. “Saudari kau tidak apa-apa?” Tanya Qing Xian yang langsung memapah Bing Jiao, yang hendak ambruk jatuh. “Aku tidak apa-apa saudari. Hanya kelelahan saja.” Ujar Bing Jiao dengan jujur, dirinya memang tidak apa-apa, karena ranahnya di tekan, mau tidak mau ia harus menguras banyak energinya untuk menggunakan teknik pedang tersebut.
Sampai kemudian, perhatian keduanya teralihkan, ketika merasakan sebuah sentuhan tangan di pundak masing-masing, diikuti dengan energi yang hangat lagi nyaman mengalir masuk ke dalam tubuh Bing Jiao dan Qing Xian.
“Kerja bagus semuanya, seperti yang diharapkan dari juara satu turnamen empat benua.” Kata Ling Feng memuji Bing Jiao dan Qing Xian seraya mengalirkan Qi nya, membantu keduanya memulihkan energinya masing-masing.
“Ehhhh... Kok cuman Kakak Xian dan Kakak Jiao saja yang di puji sih? Lin’er, kan juga sudah berjuang keras tahu.” Kata Lin’er yang ngambek, namun terdengar sangat lucu di telinga ketiga orang tersebut. Ketiganya sontak tertawa renyah, membuat Lin’er mendengar tawa itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya, dan refleks mengembungkan kedua pipinya, cemberut tidak terima di tertawakan.
“Baiklah, baiklah, kakak cuman bercanda saja, habisnya tingkah adik kecil kakak terlihat sangat lucu tadi. Jangan marah ya.” Kata Ling Feng mendekati Lin’er mengelus-elus puncak kepalanya. “Huhhhh... Dasar kakak.” Ujar Lin’er yang masih ngambek, karena masih memalingkan wajahnya dari Ling Feng.
“Bagaimana dengan ini, setelah keluar dari tanah rahasia ini, kakak akan teraktir Lin’er jajanan yang enak.” Ujar Ling Feng memberikan penawaran, Lin’er yang mendengar itu meletakkan jarinya tepat di dagunya, sedang berpikir.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, Lin’er pun setuju dengan tawaran tersebut, namun dengan syarat ia bebas untuk membeli apapun pada saat itu, membuat Ling Feng hanya bisa tersenyum masam di balik topengnya, karena pada saat itu, mungkin hari dimana ia akan mengeluarkan uang yang banyak.
Bing Jiao dan Qing Xian hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalanya melihat tingkah dari kedua insan itu, Lin’er yang kegirangan, dan Ling Feng yang sedang mengelus-elus dadanya.
>>>>>>_______
“Jadi, apa yang akan dilakukan sekarang Feng?” Tanya Qing Xian kepada Ling Feng. “Ya sisanya serahkan saja kepadaku. Aku yang akan mengurusnya.” Ucap Ling Feng dengan tenang.
“Cepatlah kak. Aku rasa tidak bisa menahan lebih lama lagi tanaman penjaga itu.” Ujar Bing Jiao melirik ke arah bongkahan es yang perlahan mulai terdapat retakan di setiap sisinya. “Baiklah. Aku akan segera mengurusnya.” Ujar Ling Feng lalu melangkah mendekati bongkahan es tersebut meninggalkan ketiganya di belakang.
“Berhati-hatilah.” Ucap Bing Jiao dan Qing Xian serempak bersamaan. Ling Feng yang mendengar itu kembali menoleh mendapati wajah kedua wanitanya, sedang menatapnya dengan cemas. Ling Feng hanya memberikan isyarat dengan mengangkat ibu jarinya, berkata akan baik-baik saja, lalu dirinya pun naik melihat-lihat bongkahan es tersebut.
>>>>>>______
“Kakak Jiao, kenapa kamu tidak memanggil kakak dengan namanya langsung?” Tanya Lin’er secara tiba-tiba membuat Bing Jiao yang mendengar hal itu sedikit tersentak dan tidak menduganya, bahwa Lin’er akan bertanya seperti itu kepadanya. “A-ah tentang itu... A-aku masih belum kepikiran sampai ke sana.” Jawab Bing Jiao sedikit kaku.
“Kalau begitu, mulailah dari sekarang untuk memanggilnya namanya langsung saudari. Aku juga yakin, bahwa ia juga pasti ingin kamu memanggil dengan namanya.” Qing Xian ikut membuka suaranya memberikan pendapat.
Bing Jiao yang mendengar itu pun mulai merenungi perkataan Qing Xian. Jujur saja ia pun ingin juga memanggil Ling Feng, dengan namanya langsung, namun untuk saat ini dirinya masih belum terbiasa. Walaupun begitu, ia juga tidak ingin terus menundanya, melihat Qing Xian bisa memanggil namanya Ling Feng, membuat dirinya juga ingin untuk memanggil Ling Feng dengan namanya langsung.
“Apa yang kalian bertiga bicarakan sampai membuat Jiao’er seserius itu?” Tanya Ling Feng yang muncul secara tiba-tiba, membuat ketiga wanita itu langsung menegang, terkejut karena mendengar suara itu.
“Hei kak. Tidak bisakah kamu muncul dengan normal, tidak dengan diam-diam seperti itu?” Kata Lin’er dengan nada bicara tidak senang.
“Ehhh... Tapi, kaka-“ Perkataan Ling Feng langsung di potong oleh Qing Xian yang berada di sebelah Lin’er.
“Benar apa yang dikatakan oleh Lin’er, setidaknya jangan bergerak secara mengendap-endap seperti itu, tidak baik membuat orang terkejut.” Kata Qing Xian yang ikut menumpahkan kekesalannya, yang membuat Ling Feng tidak tahu harus berkata apa-apa, pasalnya ketika ia berusaha untuk menjelaskan, kalimatnya selalu di potong oleh kedua wanita itu.
Dirinya sontak menoleh ke arah Bing Jiao, namun sang empu yang di tatap sontak mengalihkan pandangannya, untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. “Baiklah, baiklah, aku minta maaf, dan tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Ling Feng yang memutuskan untuk meminta maaf, karena jika ia terus mencoba untuk menjelaskan, pastinya akan di sangkal kembali.
“Baiklah, karena permasalahannya sudah selesai, ambil buah ini.” Kata Ling Feng seraya memberikan tiga buah yang mempunyai warna merah dan ujungnya berwarna putih.
Bing Jiao dan Qing Xian tidak mengetahui buah apa itu, namun Lin’er yang melihat buah tersebut, membelalakkan kedua matanya, karena ia mengetahui buah apa itu. “K-kak jangan bilang buah ini...” Ujar Lin’er seraya melirik kembali kepada Ling Feng.
“Ya benar, buah ini adalah Buah Jiwa.” Ucap Ling Feng yang seketika membuat kedua mata Lin’er berbinar terang lalu langsung melompat-lompat, saking senangnya ia. Bing Jiao dan Qing Xian saling tatap, karena tidak mengetahui apa itu buah jiwa.
“Buah jiwa adalah buah yang di dalamnya mengandung kekuatan jiwa yang sangat besar. Buah jiwa ini sangat bermanfaat bagi kultivator yang berfokus kepada kekuatan jiwa seperti Lin’er, karena dengan mengkonsumsi ini, bukan hanya kekuataan jiwanya saja yang semakin kuat, namun juga bisa meningkatkan kekuatan jiwanya.” Ling Feng langsung menjelaskan membuat kedua wanita itu menganggukkan kepalanya mengerti.
“Wah aku tidak menyangka langsung mendapatkan keberuntungan seperti ini.” Ujar Lin’er seraya menatap buah jiwa di tangannya itu. Ling Feng yang melihat Lin’er sangat senang, tersenyum tipis.
“Lalu kalau memang buah ini sangat berguna untuk meningkatkan kekuatan jiwa Lin’er, kenapa kamu memberikannya juga kepada kami berdua? Bukankah lebih baik kita berikan saja ketiganya kepada Lin’er.” Ujarnya Qing Xian mengutarakan pendapatnya yang diangguki oleh Bing Jiao.
Mendengar hal itu, Lin’er pun menjelaskannya, “Jika aku mengkonsumsi ketiga buah ini, tubuhku tidak akan sanggup menahan kekuatan jiwanya yang berlimpah, terlebih lagi, buah jiwa jika sudah di petik, harus cepat-cepat di konsumsi, karena semakin lama di biarkan, efektivitas nya semakin berkurang.” Ujar Lin’er menjelaskan.
Ling Feng lalu menjelaskan kembali tentang kegunaan buah jiwa, yang sebenarnya juga berguna bari para kultivator, terutama ketika menghadapi kultivator yang ahli dalam teknik ilusi, yang tentunya berfokus kepada kekuataan jiwa.
Bing Jiao dan Qing Xian pun mengikuti saran Ling Feng, mengkonsumsi buah jiwa tersebut. Ketiganya pun langsung mengambil sikap lotus mulai memakan buah tersebut dan mencerna manfaatnya.
Ling Feng tidak mengkonsuminya, karena memang buah jiwa itu tidaklah berguna lagi baginya, mengingat kekuatan jiwanya yang telah berada di level lima. Ling Feng lantas membuat sebuah penghalang mengitari ketiga wanita tersebut, supaya tidak ada yang melihat ketiganya yang sedang dalam fokus memurnikan, terutama Lin’er yang saat ini sedang dalam masa kritisnya.
Setelah selesai memaang penghalang, Ling Feng lalu memanen semua harta benda yang berada di dalam gubuk kecil tersebut, yang ternyata di dalam sana adalah sebuah kebun obat, Ling Feng tidak mengambil seluruhnya, melainkan hanya beberapa jenis yang belum ia miliki saat ini, dengan sangat hati-hati ia mengambil satu persatu tanaman spiritual itu, untuk di kembangbiakan di ladang obat miliknya.
Ling Feng menghabiskan waktu kiranya setengah hari, untuk mengumpulkan tanaman spiritual tersebut. Dirinya sontak memutuskan untuk beristirahat dulu, sembari menunggu ketiganya selesai memurnikan buah jiwa.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.