
Suatu Tempat Tidak diketahui
"Si Serakah lama sekali! kemana perginya bajin*an tengik itu." Kata sosok tersebut sembari menggebrak meja tidak sabar. Sosok itu biasa dipanggil si Marah. Melihat si marah menggebrak meja, sosok yang disamping kirinya berkata, "Tidak bisakah kau bersabar, mungkin saja ia sedang dalam perjalanan kemari." Balas sosok disamping yang menggebrak meja jengkel. Sosok tersebut dipanggil Si Nafsu.
"Kau bilang sabar, kita sudah menunggu dirinya disini hampir dua jam lamanya, kau meminta ku untuk bersabar." Kata Si marah tidak senang. Si Nafsu yang berada disamping kirinya langsung berkata kembali, "Hei itu baru dua jam, dan lagi kita tidak akan seharian disini, bagaimana menunggu dua jam kau sebut lama." Balas sarkas Si nafsu. Akhirnya mereka berdua pun mulai saling menghina satu sama lain
"Haihhh padahal kita baru bertemu kembali, tapi mereka sudah saling menghina, Si Serakah juga lama sekali, aku jadi mengantuk." Ucap lesu sosok lainnya. Ia biasa dipanggil Si Malas.
"Dia akan datang sebentar lagi, Si Serakah bukan orang yang seperti itu. Oleh karena itu bisakah kalian berdua diam." Ucap sosok lainnya sembari mengeluarkan auranya. Sosok tersebut dipanggil Si Iri Hati. Seketika Si marah dan Si Nafsu terdiam tidak bersuara. "Padahal kita baru bertemu kembali kalian berdua sudah saling ribut seperti itu." Ucap Si Iri Hati. Marah dan Nafsu yang tadi ribut kini masing-masing terdiam memalingkan wajahnya.
"Hahaha Tidak perlu Semarah itu "Iri Hati" lagipula aku yang salah, karena sudah telat." Ucap sosok yang telah ditunggu-tunggu yaitu, Si Serakah. "Akhirnya kau datang juga Serakah. Waktu dua jam berharga ku terbuang percuma hanya untuk menunggu mu." Ucap Si Marah kembali menggebrak meja, karena Si Serakah telat.
"Hahahaha seperti biasa "Marah" kau selalu meledak-ledak. Lagipula aku tidak membuat dirimu menunggu selama seharian bukan." Balas Si Serakah. Si Marah berdecak kesal ketika Serakah berkata seperti itu.
"Jadi "Serakah" apa yang membuat mu repot-repot mengumpulkan kami, bukankah kau bilang kepada kami untuk memulihkan kekuatan secepat mungkin untuk melaksanakan rencana selanjutnya." Ucap Si Malas lesu. "Aku hanya ingin memberitahukan bahwa kita akan menunda rencana sampai kita menemukan jasad kedua saudara kita." Kata Serakah.
Si Marah langsung bangkit sembari menggebrak meja dan berkata, "Apa?! ditunda ?! Yang benar saja kau Serakah! Jika kita menunggu selama itu, mau sampai kapan nantinya. Bukankah lebih baik dengan cara menguasai benua ini terlebih dahulu baru mencari kedua saudara kita yang lainnya?!" Kata Si Marah yang meledak-ledak tidak terima.
"Serakah pasti punya alasan mengatakan hal itu, kau jangan langsung marah-marah seperti itu bodoh. Gunakan otak mu sesekali jangan untuk pajangan saja." Kata Si Nafsu yang berada di kirinya. Si Marah langsung menatap tajam ke samping kirinya. "Kau bilang apa tadi?!" Ucap si marah. si nafsu disamping kirinya dengan sinis berkata, "kubilang kau untuk sesekali menggunakan otak mu untuk berpikir bodoh." Kata nafsu dengan sinis.
Baru saja Si marah ingin bergerak, aura intimidasi langsung membuat Si marah dan Si nafsu menjadi terdiam. "Bisakah kalian berdua tenang, dan untuk kau dengarkan dulu Serakah menjelaskan alasannya jangan menyela jika bukan waktunya." Ucap Iri hati menatap tajam Si marah.
Seketika mereka berdua pun terdiam tidak bersuara kembali. "Serakah lanjutkan penjelasan alasan mu menunda rencana kita." Ucap Iri hati acuh tak acuh. "Baiklah, pertama-tama walaupun aura di benua biru ini terasa tipis, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa para kultivator disini mempunyai ranah tinggi." Kata Serakah
"Baru-baru ini aku bertemu beberapa kultivator saat sedang dalam perjalanan kemari, awalnya aku hanya penasaran saja dan ingin sekedar bermain-main, tapi kultivator yang kulawan itu cukup hebat sampai-sampai membuat aku cukup kewalahan." Jelas Serakah. Si marah pun ikut menimpali.
"Dia menolak jika tidak mengingat ada pertemuan kali ini, mungkin aku sudah bertarung dengan bajin*an manusia itu dan si kucing bersayap.." Jawab si marah. Mengingat kembali bagaimana manusia tersebut menolak tawarannya.
"Tentu saja ia bakal menolak, setidaknya gunakan otakmu jika ingin mengajak seseorang. Beast suci ada disampingnya bagaimana ia mau menerima tawaran mu bodoh." Kata Si Nafsu sembari menepuk dahinya. Yang lainnya pun ikut menghela nafas ketika mendengar cerita itu.
"Tenang saja Si kucing sayap hitam itu tidak mengetahui siapa aku, ia hanya mengetahui bahwa aku adalah seorang iblis tidak lebih dari itu." Sanggah Si marah.
"Jika seperti itu maka lebih bagus. Kalau begitu tidak perlu diperpanjang dan kita kembali ke topik pembicaraan kita." Ucap Serakah menengahi.
"Jika kita langsung menyerang bangsa manusia dengan kekuatan kita saat ini, aku takut kita tak punya peluang untuk menang. Itulah mengapa aku mengusulkan untuk mencari Kedua jasad saudara kita yang tersisa, dengan adanya kedua jasad saudara kita maka dapat dipastikan bahwa peluang menang kita menjadi lebih sempurna." Jelas Serakah.
"Lalu siapa yang akan mencari jasad kedua saudara kita, jangan bilang kau ingin memerintahkan diantara kita yang berada disini." Tanya Si malas. Serakah lalu menjawab itu.
"Tenang saja, untuk masalah itu, aku sudah mengurus anak buah ku untuk mencarikannya, lalu dengan bantuan manusia yang telah mengikuti ku kita bisa mencari kedua jasad saudara kita lebih efisien." Jelas Serakah.
"Ya jika memang seperti itu maka aku tidak punya pendapat lagi." Timpal Si malas setuju. "Aku juga, aku masih ingin mengembalikan semua kekuatan ku yang telah hilang." Nafsu juga setuju. "Jika itu memang yang lebih baik untuk saat ini maka aku ikut." Iri hati sependapat juga.
Lalu seluruh pasang mata tertuju kepada Si marah. Marah yang di tatap seperti itu Hanya menghembuskan nafas kasar. "Iya, Iya aku akan ikut rencana ini. Cihhhhh, semakin lama aku bersenang-senangnya." Kata Marah dengan nada terpaksa.
"Baiklah jika memang sudah sepakat. Lalu cobalah untuk tidak terlalu menarik perhatian, Jika ada satu beast suci tidak menutup kemungkinan ada dua ataupun semuanya berada disini. Tetap waspada sampai waktunya tiba." Kata tambahan Si Serakah di angguki oleh semua yang hadir disana.
"Sebelum bubar aku sudah menyiapkan tempat untuk kita berkumpul dan menetap, Kalian datanglah dan menetap disana untuk mempermudah jika ada pertemuan dadakan dan sejenisnya." Kata Serakah. Sekali lagi di angguki oleh mereka yang hadir. Lalu satu persatu mereka langsung pergi dari tempat itu.
>>>>> Bersambung