
Pada saat itulah Bing Jiao dan Qing Xian langsung bergerak cepat menahan tubuh Ling Feng sebelum menyentuh tanah.
>>>>>>______
“Ugkhhh... Kepalaku.” Gumam Ling Feng yang perlahan kesadaran nya kembali. Ia pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, karena yang ada di depannya saat ini adalah dua sosok wanita cantik yang terlihat memasang raut wajah cemas bercampur bahagia.
“Jiao’er? Xian’er? Kenapa kalian berdua bisa di sini?” Ucap Ling Feng perlahan bangkit dari posisi berbaringnya. Ia juga menyapu pandangan nya, karena mendapati para tetua yang tengah memasang raut wajah yang sama persis dengan Bing Jiao dan Qing Xian.
Jika saja Ling Feng sadar beberapa saat lebih awal, dirinya mungkin akan lebih terkejut lagi, karena banyak murid sekte yang mengerubunginya. Sampai Chang Jin kemudian meminta mereka untuk segera bubar dan kembali melanjutkan pelatihan masing-masing. Dirinya juga meminta para murid yang menjaga gerbang sekte untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam tanpa terkecuali.
“Dasar kakak bodoh. Aku benar-benar khawatir tahu.” Ucap Bing Jiao lalu memeluk Ling Feng bersamaan dengan Qing Xian. Nampak jelas dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi kepada dirinya, ia pun hanya bisa mengelus-elus punggung kedua kekasihnya guna menenangkan mereka.
Ling Feng pun melirik ke arah kakeknya yang kebetulan berada tidak jauh darinya memasang raut wajah penasaran, karena dirinya benar-benar tidak sadar kecuali fakta ia hanya sedang berusaha untuk menerobos tingkat selanjutnya.
Lalu pada saat itu, Ling San pun mulai menjelaskan tentang dirinya yang memicu fenoma awan gelap dan sebuah petir yang membentuk wujud seekor naga. Ling Feng yang mendengar penjelasan dari kakeknya pun terkejut bukan main. Pasalnya ia tidak menduga bahwa hal seperti itu akan terjadi akibat dari penerobosannya. Pasalnya sebelum-sebelumnya tidak seperti sekarang yang membuat dirinya merasa heran.
“Nak, apakah tubuhmu benar-benar baik saja?” Tanya Chang Jin dengan raut wajah nampak sedikit gelisah, karena dirinya juga khawatir dengan apa yang terjadi pada Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu tentunya bisa merasakan dengan jelas dari nada bicara Chang Jin, bahwa dirinya juga khawatir dengan kondisi tubuhnya.
“Aku tidak apa-apa kakek patriak. Sebaliknya tubuhku saat ini benar-benar merasa sangat baik kecuali fakta aku kehabisan Qi saat ini.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum meyakinkan, membuat semua orang yang ada di sana menghela nafas lega ketika mendengarnya.
“Ya jika kamu berkata seperti itu, kami semua turut senang mendengarnya.” Ucap Tetua kedua seraya tersenyum lebar kepada Ling Feng dianggukki oleh para tetua yang lainnya. Mereka turut merasa senang, ketika mendengar bahwa Ling Feng baik-baik saja. Ling Feng hanya tersenyum tipis lalu melirik ke arah dua wanita yang masih enggan melerai pelukannya sampai Ling Feng pun berbisik pada keduanya.
“Kalian benar-benar tidak berhenti memelukku? Para tetua sedang menatap ke arah kita loh, ya aku juga tidak keberatan sih.” Ujar Ling Feng berbisik pada kedua wanitanya. Akan tetapi, reaksi dari keduanya membuat Ling Feng sedikit terkejut. Alih-alih merasa malu dan melerai pelukannya, baik itu Bing Jiao ataupun Qing Xian kedua wanitanya malah semakin erat memeluk Ling Feng.
“Tolong lain kali berhati-hatilah. Kami benar-benar sangat takut ketika melihat mu sangat pucat tadi.” Ucap Qing Xian yang membuat Ling Feng pun terdiam sejenak ketika mendengarnya. Seperti yang dikatakan oleh Qing Xian, keduanya benar-benar sudah pucat pasi ketika melihat Ling Feng muntah darah dan wajahnya berubah sangat pucat. Terutama Bing Jiao yang benar-benar terlihat tetap panik walaupun sudah di tenangkan oleh Tetua kedua.
“Maafkan aku dan juga terima kasih, karena telah membuat kalian berdua khawatir serta sudah mengkhawatirkan diriku.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum lalu mengelus-elus punggung kedua kekasihnya dengan lembut. Beberapa saat kemudian, keduanya pun mulai melerai pelukan nya kepada Ling Feng.
Kedua pipi wanita itu pun mendadak berubah menjadi merah bak kepiting rebus, dan keduanya pun langsung berpamitan dari sana untuk melanjutkan pelatihan mereka kembali. Apa yang dilakukan oleh tetua ketiga langsung mendapatkan tajam tajam dari Tetua Kelima, Keenam, dan Ketujuh.
Tetua ketiga pun sadar, bahwa dirinya sudah salah dalam berucap hanya bisa mengumpat dalam hati, karena mulutnya yang senantiasa mengungkapkan isi hatinya begitu saja tanpa berpikir panjang. Para tetua yang lainnya pun terkekeh ketika melihat Tetua ketiga yang sudah merinding tubuh nya, karena di tatap tajam penuh hasrat membunuh oleh ketiga tetua tersebut.
Ling Feng sendiri tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun menelan pil pemulihan seraya menyerap Qi yang berada di sekitarnya selama beberapa saat. Mendengar cerita dari Ling San, Qi nya habis kemungkinan besar untuk mempertahankan tubuhnya dari benturan kekuatan dengan Naga petir. Jadi wajar saja jika seluruh Qi nya telah habis sekarang.
Dirinya juga sempat merasakan nyeri, karena juga terkena luka dalam. Setelah beberapa saat memulihkan kondisinya, Qi Ling Feng pun telah pulih sekitar lima puluh persen. Dirinya pun bangkit berdiri seraya mengeluarkan jubah hitam untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
“Terima kasih Kakek, Kakek Patriak, dan Para Tetua karena telah menjaga diriku selama penerobosan. Jika saja tidak ada kalian semua, kemungkinan besar sudah banyak yang terluka.” Ucap Ling Feng kepada Chang Jin dan para tetua yang lainnya.
“Juga Paman Tian, Paman Mu, dan yang lainnya kenapa kalian juga tidak turun saja sekarang.” Ujar Ling Feng berteriak cukup keras ke arah langit diikuti Chang Jin dan para tetua juga menatap ke arah langit. Lebih tepatnya mereka terkejut, karena mereka tidak menyadari keberadaan orang-orang yang di sebutkan oleh Ling Feng tadi.
“Yahhhhh aku tidak menduga bahwa kamu benar-benar menyadari keberadaan kami.” Ucap Long Tian turun juga diikuti dengan yang lainnya. Terlihat ia tidak datang sendiri, karena ada To Mu, Pang Lang, Hao Xiang, Ling Laohu, Ren Hu, Ling Xiao dan saudara-saudarinya juga ikut dengan Long Tian.
Ling Feng tersenyum bahagia ketika melihat mereka semua. Sampai beberapa saat kemudian Ling Lin’er pun tiba-tiba berlari ke arah Ling Feng dan tanpa basa-basi langsung memeluk dirinya. “Kakak sudah lama kita tidak bertemu. Lin’er rindu tahu.” Ucap Ling Lin’er memeluk erat Ling Feng.
Ling Feng yang mendengar itu terkekeh pelan lalu membalas pelukan gadis tersebut seraya berkata, “Kakak juga sangat rindu kepadamu. Lin kecil kakak sekarang sudah menjadi dewasa dan tumbuh menjadi gadis cantik ya.” Ucap Ling Feng seraya terkekeh pelan.
“Nak ini...” Ucap Ling San seraya melihat ke arah orang-orang yang tiba-tiba muncul tersebut dengan tatapan penasaran. Ling Feng yang menyadari itu pun lalu mulai memperkenalkan mereka semua tanpa terkecuali kepada Chang Jin, Ling San, dan para tetua lain nya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.