Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Kembali


"Formasi kuno yang menarik…Jika aku tau ada sebuah formasi di sini, mungkin aku akan mempelajari nya sedikit kala itu." Gumam Ling Feng menatap Formasi yang sudah aktif dan memancarkan aura yang kuat. Aura kuat pun mengeluarkan cahaya yang cukup terang.


"Bocah cepat masuk ke sana." Kata Tua Tao. Ling Feng yang mendengar itu berbalik sebentar menatap Tua Tao. Yang ditatap malah mengangkat sebelah alisnya. "Apa-apaan tatapan menjengkelkan itu. Cepat pergi sana aku akan baik-baik saja di sini." Kata Tua Tao.


"Bahkan ketika kita ingin berpisah, sikap mu masih saja kekanak-kanakan orang tua sia*an." Kata Ling Feng terkekeh. "Berisik bocah tengil. Akhirnya aku bisa lega juga, karena di sini menjadi lebih tentram." Balas Tua Tao sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Ling Feng.


Ling Feng kali ini tidak kesal atau pun jengkel sebaliknya ia malah tersenyum kepada Tua Tao. "Baiklah Guru Tao…Murid Ling Feng izin pamit dan semoga anda sehat selalu serta jangan makan aneh-aneh yang membuat mu sakit pinggang lagi." Kata Ling Feng dengan nada formal dan sedikit candaan lalu balik badan.


Banggggg


Pada saat Ling Feng balik badan, Tua Tao melemparkan sebuah batu kecil ke kepala Ling Feng. "Tua Bangka sia*an rasakan ini." Kata Ling Feng dan dalam sekejap langsung berpindah di belakang Tua Tao dan…


Booooommmm


"Murid sia*an kemari kau! berani melakukan hal seperti itu kepada guru mu!" Teriak Tua Tao yang merasakan panas di bagian bokong nya. Ling Feng hanya menyeringai lebar dan berkata dengan nada tinggi. "Hahahaha…Rasakan itu guru ban*sat aku pergi dulu ya." Kata Ling Feng tertawa bahagia lalu masuk ke dalam cahaya formasi tersebut.


"Cihhhhh murid tengil sia*an itu memang benar-benar." Decak kesal Tua Tao. Ia lantas termenung beberapa saat lalu bergumam, "Ya…Sepertinya akan terasa sepi sementara." Gumam Tua Tao. Setelah Ling Feng masuk, Cahaya yang keluar dari formasi perlahan-lahan mulai memudar dan kembali seperti biasa.


Tepat setelah Formasi tersebut pudar, dibelakang Tua Tao muncul retakan celah dimensi. Tua Tao menoleh kebelakang nya menatap serius celah dimensi tersebut. "Sudah selesai ya…" Gumamnya menatap serius retakan dimensi tersebut. Ia lantas menghela nafas sebentar lalu melirik formasi tepat Ling Feng menghilang.


"Sampai bertemu kembali murid ku." Kata Tua Tao lalu masuk kedalam retakan dimensi tersebut.


Kembali Ke Ling Feng


Terlihat seorang pemuda berbaring di tepi sebuah jurang dengan keadaan tidak sadarkan diri. Pada saat tidak sadarkan diri, tiba-tiba gelang berwarna hijau menjadi terang bersinar.


Aura kuat serta menenangkan keluar dari gelang hijau menyelimuti tubuh Ling Feng. Beberapa saat kemudian, kedua mata Ling Feng mulai membuka kedua matanya perlahan. "Ehhhhh dimana ini." Gumam Ling Feng dengan nada pelan.


Dirinya perlahan mulai bangkit dan mendudukkan tubuhnya. "Apa yang telah aku lalui sebenarnya." Gumam Ling Feng sembari memegangi wajahnya berusaha mengingat kembali dengan hal yang telah ia alami.


Pada saat ia berusaha mengingat-ingat kembali perhatian nya tertuju kepada gelang berwarna hijau cerah yang masih mengeluarkan aura sedikit samar. "Gelang ini yang memulihkan diri ku tadi ya." Gumam Ling Feng melirik gelang tersebut.


Ia lalu menyapu pandangannya. "Begitu ya setelah aku masuk ke dalam formasi itu dalam sekejap langsung dipindahkan kemari." Gumam Ling Feng lalu teringat kembali detik-detik perpisahan dengan gurunya.


"Guru sia*an itu semoga saja makan dengan teratur dan tidak sakit pinggang lagi." Gumam Ling Feng melirik jurang keabadian sembari tersenyum. Ia lantas langsung berkultivasi sebentar untuk mengembalikan energi nya beberapa saat.


Beberapa saat kemudian ia membuka kedua matanya. "Baiklah sudah empat tahun berlalu…Aku sangat menantikan perkembangan mereka saat ini." Gumam Ling Feng pergi berjalan menyusuri gua yang menuju pintu keluar.


"Heuummm…Aura ini…" Gumam Ling Feng berhenti melangkah merasakan aura yang tidak biasa. Pandangannya menjadi serius lalu menghilang dalam sekejap sesaat merasakan aura tersebut.


Suatu Tempat


Booooommmm


"Menyerah saja ras setengah manusia. Kau mempersulit hidup mu sendiri." Gumam sosok dengan perawakan yang mirip manusia, namun mempunyai sedikit perbedaan dibagian dahinya.


Lalu terlihat kembali sosok manusia lainnya dengan beberapa bagian yang terlihat seperti beast. Sosok yang di tekan itu menggertakkan giginya menatap marah sosok tersebut. "Bahkan lebih baik aku mati daripada harus mengatakannya semua nya kepada mu iblis terkutuk." Kata sosok yang di tekan dengan nada marah.


Manusia setengah beast itu menggertakkan giginya menatap marah sosok tersebut. "Jadi inilah akhirnya ya." Batin manusia setengah beast itu menatap marah telapak tangan sosok tersebut mengeluarkan aura yang kuat.


"Cihhhhh." Decak nya kesal. Pada saat ia merasakan bahwa kematian sudah berada di depan matanya. Muncul bayang-bayang seorang pria di kepala nya. "Ughhkkk kenapa manusia itu yang muncul di saat-saat terakhir ku." Batin Manusia setengah beast itu sedikit kesal mengingat sosok manusia tersebut.


"Matilah makhluk hina." Gumam sosok tersebut melepaskan energi dari telapak tangan nya ke arah manusia setengah beast tersebut. Manusia setengah beast itu menutup kedua matanya menggigit bagian bawah bibirnya.


Booooommmm


"Heuummm…Serangan ku di tahan?! Ada yang membantunya." Batin sosok tersebut menatap kepulan asap serius. Walaupun samar, ia merasakan energi lainnya yang muncul sesaat sebelum serangannya Mengenai Manusia Setengah Beast itu.


"Bukankah kau terlalu hina menyerang seorang wanita yang sudah tidak berdaya." Ucap seorang pemuda tepat di Indra pendengaran sosok yang melancarkan serangan.


Deggghhh


Sontak sosok tersebut tentu terkejut dan reflek mengibaskan tangannya ke sebelahnya ketika mendengar hal itu.


Swusssshhhh


Booooommmm


"Hilang?!" Batin sosok tersebut kembali terkejut tidak merasakan keberadaan yang membisikkan kata di sampingnya. Pada saat ia menoleh kembali ke arah kepulan asap, wajahnya langsung berhadapan dengan wajah seorang pemuda manusia.


"Yo teman kau cukup menarik." Kata pemuda tersebut lalu melancarkan tinju ke arah perut sosok tersebut.


Bughhkkkkkk


"Ughhkkk bocah manusia ini…" Batin sosok tersebut batuk darah sesaat setelah di tinju oleh pemuda tersebut.


Swusssshhhh


Booooommmm


Sosok tersebut melesat cepat menembus puluhan pohon akibat dari tinju pemuda tersebut. "Kawan kau baik-baik saja, kan? masih hidup, kan? Aku tau kau masih hidup maka dari itu kemarilah." Kata pemuda tersebut dengan nada ejek.


Booooommmm


Swusssshhhh


Bammmmmm


"Bocah manusia sia*an kau ingin mati hah…!" Teriak sosok tersebut menatap marah pemuda tersebut.


>>>>> Bersambung