Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Paviliun Qian cheng


Sampai setelah hampir puluhan menit mengelus-elus puncak kepala Bing Jiao, Ling Feng pun menyudahi tindakan nya itu, terlihat jelas bahwa Bing Jiao menyayangkan itu, Ling Feng pun secara tiba-tiba membisik kepadanya, “Nanti lagi ya... Sekarang kita keluar saja dulu.” Bisik Ling Feng yang seketika membuat Bing Jiao menegang, dan wajahnya pun langsung berubah semerah tomat, saking malunya. Ling Feng sekali lagi tertawa, karena Bing Jiao benar-benar sangat lucu baginya, ketika sedang salah tingkah.


>>>>>>______


Keduanya pun keluar dari penginapan dan berjalan santai menikmati suasana kota yang terlihat sangat ramai kala sore itu. Awalnya sempat canggung sementara, namun Ling Feng dengan cepat mencairkan suasana canggung itu, membuat Bing Jiao pun melupakan yang telah berlalu dan bisa menikmati jalan-jalan di sore hari mereka.


“Oh iya kak. Kenapa kau malah menggunakan topeng?” Bing Jiao yang tiba-tiba menanyakan hal tersebut kepada Ling Feng. Mendengar pertanyaan itu, Ling Feng sempat tersentak. Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa di ajukan, namun Bing Jiao benar-benar tidak terduga malah mengajukan pertanyaan yang seperti itu.


Awalnya Ling Feng memang tidak berniat untuk menggunakan topeng, namun ketika ia mengingat kembali obrolan dengan To Mu semalam, ia pun dengan sigap langsung mengenakan penutup wajahnya. Bukan hanya itu saja, ia juga membuka segel tubuhnya, membuat orang-orang kini dapat merasakan aura kultivasi nya, ya walaupun yang ia tunjukan itu bukanlah ranah kultivasi yang sebenarnya.


“Ah ya... Mengenai hal itu... Kau tahu sendiri kakak tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian, jadi ya... Mau tidak mau ya harus menggunakan topeng supaya orang-orang tidak terlalu fokus kepada wajah kakak.” Ucap Ling Feng menyampaikan alasan yang masuk akal. Bing Jiao manggut-manggut mendengar alasan itu, walaupun entah karena apa ia merasa sangat yakin bahwa alasan Ling Feng menggunakan penutup wajah itu bukan hanya sekedar alasan tidak ingin menarik perhatian saja.


Ling Feng juga menyadari bahwa Bing Jiao tidak langsung percaya, oleh karena itu dirinya pun tiba-tiba berkata untuk mengalihkan pembicaraan. “Omong-omong Jiao’er. Bagaimana pelatihan mu dengan Pedang Es Abadi? Apakah mengalami kendala?” Tanya Ling Feng kepada Bing Jiao.


Bing Jiao yang polos pun menjawabnya tanpa curiga sama sekali, “Ah mengenai hal itu kakak tidak perlu khawatir. Jing benar-benar membantu dalam berkultivasi. Bahkan ranah ku saat ini sudah berada di tingkat Bumi Bintang Sembilan.” Jawab Bing Jiao dengan senyum lebar di wajahnya, yang jelas-jelas ia merasa sangat senang.


Seperti yang dikatakan olehnya, Jing benar-benar membantu pelatihannya, baik itu dalam berkultivasi, maupun dalam berlatih teknik pedang. Oleh karena itu, dirinya bisa menguasai teknik pedang yang diberikan oleh Ling Feng dengan waktu yang singkat.


Ling Feng tersenyum di balik topengnya berkata, “Begitu, kah... Ya kau memang sudah bekerja keras.” Ucap Ling Feng memuji Bing Jiao. Bing Jiao yang mendengar itu pun seketika langsung salah tingkah kembali dan membuang wajahnya ke samping, karena merasa malu.


Ling Feng terkekeh pelan, sampai kemudian ia pun menyadari daerah sekelilingnya, dimana ia sudah menjadi pusat perhatian saat ini, lebih tepatnya mereka takjub dengan kecantikan Bing Jiao. Walaupun sudah ditutupi oleh cadar, aura kecantikan dan pesonanya memang tidak bisa di sembunyikan sama sekali. Bing Jiao sendiri mengacuhkan semua pasang mata yang menatap ke arahnya, ia sudah terbiasa oleh hal tersebut dan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


Ling Feng yang melihat Bing Jiao malu-malu, tiba-tiba melihat sebuah stand makanan ringan yang menarik perhatiannya. “Jiao’er cobalah lihat ke arah sana.” Ujar Ling Feng seraya menunjuk ke arah stand makanan ringan yang menarik perhatiannya. Bing Jiao yang mendengar perkataan Ling Feng, sontak mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ling Feng, dimana ia melihat sebuah stand makanan ringan di sana. Namun, bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan makanan ringan yang dijajakan itulah yang menarik perhatian.


“Ehh itu, kan... Jajanan yang pernah aku beli dengan kakak pada saat malam festival.” Batin Bing Jiao yang seketika teringat kembali kenangannya jalan-jalan malam dengan Ling Feng pada saat turnamen yang diadakan di kota Cheng Du.


Keduanya tidak merasa bosan pada saat menunggu, hal itu karena pada saat penyiapnya, membuat siapapun tertarik untuk memperhatikan nya, dan salah satu dari siapappun itu adalah Bing Jiao yang saat ini tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari proses pembuatan makanan ringan tersebut. Ling Feng sendiri tidak terlalu fokus dengan proses pembuatan nya, baginya wajah antusias dari Bing Jiao adalah yang menarik saat ini.


“Baiklah ini sudah siap. Silahkan dinikmati.” Ucap sang pedagang itu memberikan kepada Bing Jiao yang terlihat berbinar-binar ketika jajanan tersebut telah siap saji dan sampai ke tangannya. “Uwahhhh... Terima kasih paman.” Ucap Bing Jiao dengan senyum sumringah di wajahnya terlihat sangat senang. Ling Feng juga mengucapkan kata yang sama seraya memberikan dua keping koin perak kepada sang paman pedagang itu, namun hal yang tidak terduga adalah paman pedagang itu malah menolaknya.


“Kalian tidak perlu membayarnya. Sudah sangat lama aku tidak melihat pasangan muda semesra ini. Melihat keserasian kalian berdua, entah kenapa membuat suasana hati ku ikut merasa senang juga, jadi anggap saja kalian membayarnya dengan itu.” Ucap paman sang pedagang itu membuat Bing Jiao tersentak mendengarnya dan mendadak pipinya berubah merah, sedangkan Ling Feng sendiri hanya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Melihat tingkah keduanya itu, paman pedagang itu pun tiba-tiba tertawa melihat tingkah lucu keduanya. Pada akhirnya Ling Feng berpamitan dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum pergi.


Bing Jiao sendiri merasa malu ketika mendengar paman pedagang tadi berkata seperti itu, dan hal itu membuat fokusnya buyar, jika kembali mengingat perkataan dari sang pedagang. Suasana canggung diantara keduanya pun benar-benar terlihat jelas, namun itu segera di selamatkan, karena sudah sampai di tempat yang mereka tuju.


Paviliun Qian cheng, itulah yang tertulis di papan nama dari gedung tingkat berbentuk budar itu. Sore hari itu terlihat sangat jelas bahwa paviliun itu terlihat sangat ramai. Melihat itu, Ling Feng pun kembali meraih lengan Bing Jiao dan menggenggamnya dengan erat, sebagai jaga-jaga jika nantinya mereka tidak terpisah. Bing Jiao lagi-lagi dibuat terkejut dengan tindakan Ling Feng yang seperti biasa melakukannya secara tiba-tiba.


Bing Jiao pun tanpa sadar menggenggam erat tangan Ling Feng juga, keduanya saat ini benar-benar terlihat seperti pasangan muda yang baru saja menjadi pasutri saat ini. Ling Feng pun langsung membawa Bing Jiao melesat masuk ke dalam paviliun Qian cheng. Lantai pertama terlihat begitu ramai, karena memang paviliun ini terkenal menjual hampir seluruh kebutuhan para kultivator. Ling Feng memutuskan untuk datang ke paviliun tersebut, karena ia mendengar besok akan ada pelelangan di paviliun ini. Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk melelang pil-pil yang telah ia buat beberapa jam yang lalu. Ling Feng yang sedang menggandeng Bing Jiao tentunya menjadi pusat perhatian di sana, namun Ling Feng tidak mengindahkan tatapan iri seluruh orang yang berada di sana dan terus melangkah menuju resepsionis yang berada di ujung depan nya.


“Permisi... Aku ingin menjual sesuatu, dapatkah aku menjual benda itu di sini?” Tanya Ling Feng yang sudah sampai di meja resepsionis.


“Kalau boleh tahu... Benda apa yang hendak Anda jual tuan muda?” Tanya balik resepsionis itu memanggil Ling Feng dengan panggilan tuan muda.


Tanpa pikir panjang Ling Feng langsung mengeluarkan tiga botol pil, yang mana ketiga botol pil tersebut terdapat tiga jenis pil yang berbeda-beda, beserta dengan kualitasnya. Resepsionis itu menganggukkan kepalanya menerima ketiga botol pil tersebut dan langsung mengeceknya, namun pada saat ia mengeceknya, dirinya pun langsung terkejut, bahkan sampai refleks bangkit dari tempat duduknya. Tentunya itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana, karena tentunya penasaran apa yang dilakukan oleh Ling Feng sampai-sampai membuat resepsionis itu sampai terkejut seperti itu.


“P-pil tingkat Bum-“ Ucapannya langsung terhenti secara tiba-tiba, karena Ling Feng menggunakan triknya, membuatnya tidak bisa melanjutkan perkataan selanjutnya. Dirinya yang tersadar pun langsung menutup mulutnya dan berkata kepada Ling Feng dengan tergesa-gesa. “Sebelumnya maaf tuan muda. Aku akan memanggil manager cabang terlebih dahulu.” Ucap resepsionis itu langsung pamit dengan langkah tergesa-gesa naik ke lantai dua.


>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.