Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Perayaan Kecil


Mendengar hal itu, sontak Tetua Ling langsung melepas pelukannya, dan memegang kedua bahu Ling Feng, pada saat itulah wajah Ling Feng yang tidak tertutup oleh tudung kepala, terlihat sangat jelas. Tetua Ling yang melihat wajah Ling Feng yang terlihat lebih tampan serta semakin mirip dengan wajah ayahnya waktu muda dulu. “Tidak nak, kau tidak salah, kakek mengerti bahwa Feng’er tidak memberitahu kakek, karena pasti Feng’er mempunyai hal yang lebih mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Kakek mengerti akan hal itu, jadi Feng’er tidak salah.” Ucap Tetua Ling panjang lebar.


“Sebaliknya, kakek lah yang seharusnya kau salahkan nak. Jika saja kakek ada pada saat itu, jika saja kakek datang tepat waktu, kedua orang tua mu mungkin masih ada saat ini untuk melihat pertumbuhan mu. Maafkan kakek Feng’er. Maafkan kakek.” Ucap Tetua Ling terlihat sangat menyesal. Orang tua itu bahkan tidak kuat berdiri setelah berkata seperti itu saking menyesalnya ia, namun sebelum tubuh Tetua Ling ambruk ke tanah, Ling Feng langsung menahan tubuh Tetua Ling. Ling Feng juga memasang ekspresi senyum hangat, membuat beban berat yang Tetua LIng rasakan di pundaknya, tiba-tiba menjadi ringan.


“Itu bukan salah kakek, kok... Asal kakek tau. Ayah pernah berbicara kepadaku, ‘Feng’er, kakek mu itu ia mungkin memang terlihat sangat dingin acuh tak acuh, akan tetapi sebenarnya kakek mu itu orang yang sangat pengertian juga penyayang, oleh karena itu, jika kau bertemu lagi dengan nya, jangan membencinya ya’. Baik ayah, ibu, ataupun aku, tidak ada yang membenci kakek. Jadi kakek tidak perlu menyalahkan diri kakek lagi.” Ujar Ling Feng mengatakan hal yang ia dengar dari sang ayah pada saat ia selesai membalaska dendamnya.


Sekali lagi tubuh Tetua Ling tersentak, karena terkejut. Air mata yang berusaha ia tahan pun akhirnya lolos juga dan buru-buru ia menyeka air matanya itu. “Terima kasih Feng’er. Terima kasih.” Ucap Tetua Ling yang merasakan beban di pundaknya menjadi ringan. Ling Feng menanggapinya dengan senyum hangat seraya menganggukkan kepalanya.


“Oh ya kakek. Aku ingin bertanya sebelumnya, kakek mengetahui kebenaran ini dari siapa ya?” Tanya Ling Feng, seketika membuat Long Tian yang awalnya tersenyum, mendadak mengubah raut wajahnya menjadi jelek.


>>>>>>_____


“Jadi begitu ya... Ya kalau memang sudah tau semuanya mah mau bagaimana lagi. Awalnya Feng’er sendiri yang hendak memberitahukan kepada kakek, namun jika sudah seperti ini, apa boleh buat.” Jawab Ling Feng setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Tetua Ling mengenai Ling Feng yang ternyata adalah cucunya dari Long Tian yang setengah sadar, karena terlalu banyak minum arak.


“M-maafkan aku Feng’er. Aku tidak menyangka bahwa kebiasaan buruk ku pada saat minum keluar begitu saja.” Ucap Long Tian meminta maaf, karena merasa sangat bersalah telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.


Ling Feng yang mendengar itu menghela nafas pendek lalu tersenyum simpul dan mengatakan hal yang tidak terduga, “Paman Tian sampai setengah sadar, arak di kota ini sepertinya memang enak ya.” Kata Ling Feng. Long Tian yang mendengar itu langsung berapi-api dalam menjawabnya.


“Ya jika dibandingkan dengan arak milikmu, arak di kota ini masih sangat jauh, namun sebagai pengganti sementara sih tidak salah lagi enak.” Jawab Long Tian dengan sangat detail. Pada saat itu Long Tian pun sadar dan refleks menggeleng-gelengkan kepalanya, “Eh kenapa malah membahas arak. Kau tidak marah Feng’er?” Tanya Long Tian.


“Kenapa juga aku harus marah, karena hal-hal kecil seperti itu? Mau aku yang memberitahukan atau paman yang memberitahukan tidak ada bedanya bukan. Jadi, kenapa aku harus marah” Jawab Ling Feng seraya mengedikan kedua bahunya.


“Baiklah sekarang kita ganti topik pembicaraan nya. Sebelumnya aku ingin bertanya kepada kakek. Apakah kakek sudah mengetahui sebagian besar situasi nya?” Tanya Ling Feng dengan nada serius kepada Tetua Ling. “Kakek sudah mengetahui sebagian besar ceritanya dari tuan Tian. Kakek juga sudah mendengar kabar mengenai kota Cheng Du yang di serang oleh pasukan iblis dan sudah memberitahukan tentang masalah ini kepada sekte.” Kata Tetua Ling.


“Lalu bagaimana dengan reaksi dari Sekte Naga Langit?” Tanya Ling Feng dengan nada serius. "Besok akan ada rapat para tetua. Kemungkinan besar, pembicaraan nya adalah tentang ras iblis ini. Oleh karena itu, kakek ingin Feng’er ikut hadir dalam pertemuan tetua nanti dan menjelaskan tentang semua yang terjadi di kota Cheng Du.” Kata Tetua Ling. “Ehhh. Aku harus ikut dalam pertemuan para tetua?” Ling Feng tentunya terkejut akan hal itu, bagaimana tidak. Ia bahkan tidak akan menyangka sama sekali bahwa akan terjadi hal seperti ini.


Tetua Ling menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang serius, hal itu menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda. “Ehhh... Apa tidak apa-apa orang luar seperti ku harus ikut dalam pertemuan para tetua kakek? Aku tidak berpikir bahwa aku akan diterima dengan mudah dalam pertemuan para tetua nanti.” Ucap Ling Feng yang tidak yakin bahwa ia akan di sambut dalam pertemuan para tetua Sekte Naga Langit.


“Tenang saja... Kau pasti di sambut Feng’er. Kakek akan memperkenalkan dirimu sebagai cucu kakek. Oleh karena itu, para tetua tidak akan mengeluh tentang kehadiran mu dalam rapat nanti. Bahkan jika ada yang menentang sekalipun, mereka tidak akan berani, mengingat siapa kakek.” Ucap Tetua Ling dengan sangat percaya diri, dan membanggakan dirinya di hadapan Ling Feng cucunya.


“Cao’er, Yan’er, beristirahat lah dengan tenang di sana. Mulai sekarang ayah yang akan menggantikan kalian berdua untuk menjaga Feng’er. Percaya lah kepada ku, kali ini aku tidak akan gagal lagi.” Batin Tetua Ling bertekad dalam hatinya. “Tentu saja Feng’er kau bisa mengandalkan kakek mu ini.” Ucap Tetua Ling dengan sangat percaya dirinya.


Tetua Ling langsung menggunakan kekuatan dalamnya mengambil sebuah kertas yang tergeletak di tengah-tengah meja. “Karena sudah di sini, rasanya sangat disayangkan jika di habiskan hanya sekedar pembicaraan saja, bukan. Anggap saja sebagai perayaan atas pertemuan kita Feng’er dan kakek yang banyar semuanya.” Ucap Tetua Ling tersenyum seraya memegang kertas tersebut. Ling Feng menanggapinya dengan senyuman dan sementara itu yang paling bersemangat adalah Long Tian. Hidup arak! Hidup arak! Itulah yang ia gumamkan, membuat Pang Lang yang berada di sebelahnya pun langsung menahan tingkah memalukan Long Tian. Perayaan kecil-kecilan pun di laksanakan. Perasaan hangat pun menjalar di dalam hatinya. Ia lalu melirik ke arah Tetua Ling yang tidak lain adalah kakeknya. Orang tua itu tersenyum kepadanya, dan Ling Feng pun membalas senyuman tersebut.


Setelah Perayaan Kecil


Disinilah Ling Feng di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Setelah pesta perayaan, Ling San mengajak dirinya dan ketiga lainnya untuk pergi ke Sekte Naga Langit. Ling Feng tidak kuasa untuk menolak, karena Ling San langsung membuat raut wajah sedih pada saat ia hendak menolaknya. Oleh karena itu, ia pun mengiyakan tawaran dari sang kakek untuk tinggal beberapa waktu di Sekte Naga Langit.


Pada saat Ling Feng datang ke Sekte Naga Langit, hari sudah menunjukan waktu sore hari. Pada waktu tersebut, kebetulan waktu dimana para murid Sekte Naga Langit sedang melakukan pelatihan rutin. Otomatis kedatangan Ling Feng dan orang-orangnya yang bersama dengan Ling San, tentunya menarik perhatian. Terutama para murid perempuan yang begitu menatap antusias dirinya, bahkan mereka sampai kehilangan fokus pada saat sedang berlatih, karena memang wajah Ling Feng membuat orang-orang merasa iri sekaligus takjub, baik itu kaum perempuan maupun laki-laki. Ling Feng sendiri tidak memperdulikan hal tersebut dan terus berjalan mengekor di belakang Ling San.


Mengingat hal yang terjadi di sore hari, Ling Feng memilih untuk mengurung dirinya saja untuk saat ini dan beralasan kepada Ling San, karena awalnya Ling San berencana untuk meminta muridnya untuk menemani Ling Feng untuk berkeliling. Ling Feng memandang langit-langit kamarnya, lalu bangkit dari posisi tidurnya, mengambil sikap lotus memilih untuk menghabiskan semalaman penuh untuk bermeditasi.


Sementara Itu Di Luar Ruangan Ling Feng


Ling San menatap khawatir ke arah kamar Ling Feng, walaupun ia melihat bahwa Ling Feng bersikap acuh tak acuh, dirinya menyadari bahwa Ling Feng tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Melihat raut wajah lelah Ling Feng, Ling San merasa bersalah akan hal tersebut. “Ada apa dengan raut wajah cemas itu? Apa yang terjadi?” Sebuah pertanyaan yang keluar diikuti dengan sosok Long Tian di belakang Ling San.


Ling San menoleh ke belakang menghadap ke arah Long Tian yang bertanya kepada nya. “Ah tuan Tian. Aku tidak apa-apa. Hanya saja... Kesan Feng’er nampak tidak baik ketika datang ke sini. Aku jadi khawatir dan sekaligus merasa bersalah, karena telah memaksanya untuk tinggal di sekte.” Ucap Ling San mengutarakan hal yang mengganjalnya.


Mendengar hal itu, Long Tian pun berkata, “Oh tentang hal itu, kah... Mengenai hal itu, kau tenang saja. Feng’er hanya membutuhkan sedikit waktu untuk terbiasa. Kau tidak perlu khawatir dan merasa cemas tentang hal yang tidak-tidak. Feng’ er baik-baik saja. Mungkin saat ini ia sedang berlatih di dalam kamarnya.” Ucap Long Tian menenangkan Ling San.


“Apakah memang benar begitu?” Tanya Ling San yang diangguki oleh Long Tian dengan mantap. “Kau utus saja kembali salah satu murid mu pagi-pagi nanti. Feng’er biasanya selesai bermeditasi pada waktu itu.” Ucap Long Tian lalu pergi kembali ke kamarnya.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Long Tian, Ling San merasa lega dan pergi dari sana kembali ke kamarnya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.