Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Melanjutkan Perjalanan


“Walaupun aku baru beberapa kali menggunakan busur, bukan berarti aku tidak percaya diri dengan kecepatan ku dalam melesatkan anak panah.” Batin Hao Xiang tersenyum dalam hatinya.


“Teknik Perwujudan Busur Api Phoenix: Api Phoenix Penyucian!” Teriak Hao Xiang melesatkan anak panah api dari busurnya.


Booooommmmmmmm.......!!!


>>>>>>______


Anak panah api itu langsung berubah wujud menjadi seekor burung phoenix dan melesat cepat ke arah Ling Feng, karena jarak dirinya dan Hao Xiang tidaklah terlalu jauh, membuat Ling Feng tidak sempat untuk mengangkat pedangnya, dan phoenix api itu pun mengenai telak dirinya, membuat ledakan kecil, yang mana ledakan tersebut membuat Hao Xiang pun terpental juga ke belakang.


Ia baru berhenti setelah mundur dua meter kebelakang. Hao Xiang menatap berharap ke arah kepulan asap hitam tersebut, “Ya walaupun aku tidak berekspektasi tinggi terhadap itu, akan tapi setidaknya sedikit saja.” Batin Hao Xiang menatap ke arah kepulan asap hitam, dengan kondisi yang sudah mulai kehilangan kesadaran, karena telah mengerahkan seluruh Qi nya. Setelah beberapa saat, kepulan asap hitam itu pun mulai menghilang, memperlihatkan sosok pria.


Melihat sosok pria tersebut melangkah keluar dengan tenang dari kepulan asap hitam itu. Ketika pria tersebut keluar, Hao Xiang yang melihat pria tersebut melangkah dengan santai tanpa terluka sedikit pun tersenyum gentir, perlahan-lahan kehilangan keseimbangan nya dan jatuh tergeletak menghadap langit-langit.


Ling Feng pun sontak melangkah mendekati muridnya itu. Ia berhenti tepat berada beberapa langkah di depannya. Hao Xiang yang menatap langit-langit awalnya memejamkan kedua matanya, lalu tiba-tiba tersenyum kembali.


“Sepertinya aku memang belum mampu melukai guru. Bahkan untuk menggores pakaian dari guru pun, aku masih belum bisa. Xiang’er masih harus banyak belajar.” Kata Hao Xiang seraya tertawa pelan.


Ling Feng diam sejenak ketika mendengar apa yang di ucapkan dari muridnya, ia mengangkat sebelah alisnya lalu berkata, “Ya memang benar kamu belum berhasil memberikan luka kepada guru, tapi untuk menggores pakaian ku, mungkin tidak juga.” Ucap Ling Feng membuat Hao Xiang membelalakkan kedua matanya terkejut lalu refleks melirik ke arah Ling Feng.


“Apa maksud guru.....” Ucapan Hao Xiang terhenti, ketika melihat lengan jubah bagian kanan Ling Feng terbakar sedikit. Melihat hal itu, Hao Xiang entah karena alasan apa tiba-tiba menangis seraya tertawa, membuat Ling Feng yang melihat itu merasa ngeri dengan muridnya itu.


Baaaannngggg...?!


“Aduh guru, itu sakit tahu?!” Ucap Hao Xiang mengaduh kesakitan, ketika puncak kepalanya di pukul secara tiba-tiba oleh Ling Feng.


“Kau ini... Pilihlah salah satu. Jika ingin tertawa, ya tertawa saja. Jangan tertawa seraya menangis. Itu terlihat sangat mengerikan tahu.” Ucap Ling Feng seraya hendak memukul puncak kepala Hao Xiang kembali, namun Hao Xiang dengan sigap mundur ke belakang dengan cepat.


“Hehehe... Ya aku minta maaf guru, entah kenapa aku merasa sangat kesal sekaligus juga merasa senang. Kesal, karena hanya bisa menggores pakaian guru saja. Akan tetapi, di satu sisi juga merasa senang, karena berhasil mendaratkan serangan ku walaupun itu hanya sebuah goresan pada pakaian.” Jelas Hao Xiang, yang membuat Ling Feng semakin bingung dengan apa yang hendak di sampaikan oleh muridnya itu.


“Ya apapun itu, terserah dirimu saja bocah nakal.” Ucap Ling Feng tersenyum tipis menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Baiklah kalian semua sudah bisa keluar dari sana kok.” Ucap Ling Feng seraya melirik ke arah semak-semak. Hao Xiang yang mendengar itu pun juga menoleh ke arah yang sama dengan Ling Feng.


Mendengar hal itu, Zhi Yan pun langsung melirik tajam ke arah pria tua itu seakan-akan memberikan sebuah isyarat untuk Zhi Fu diam saja saat ini, mendapati tatapan tajam dari keponakannya itu, membuat pria tua itu langsung gelagapan dan terdiam membisu. Ling Feng yang melihat itu, hanya bisa tersenyum pahit saja.


“Ah aku minta maaf Tuan Feng. Sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk mengintip atau semacamnya. Kami semua hanya penasaran, karena mendengar suara pertarungan dan ledakan kecil dari tempat tuan berada.” Jelas Zhi Yan.


“Ah begitu rupanya. Aku minta maaf, karena sudah membuat kalian semua merasa terganggu dengan latihan ku dan muridku.” Ucap Ling Feng menyatukan kedua tangannya meminta maaf.


“Tidak perlu sampai segitunya Tuan Feng. Kami tidak berpikiran sempit seperti itu, jadi santai saja. Oh ya, semua orang dan kudanya sudah siap. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja.” Ucap Zhi Yan gelagapan dan langsung melangkah cepat ke arah kereta kuda, meninggalkan Ling Feng dan Hao Xiang dengan tanda tanya besar, sedangkan Zhi Fu dan para penjaga hanya bisa menghela nafas pendek melihat sifat dari Zhi Yan.


“Paman Fu aku punya sebuah pertanyaan kepadamu?” Ujar Ling Feng kepada Zhi Fu.


“Tanyakan saja nak, jika itu masih dalam jangkauan ku, akan ku jawab itu.” Timpal Zhi Fu.


“Apakah ada alasan lain, kalian menggunakan kereta kuda? Entah mengapa aku merasa ada sebuah alasan lain menggunakan kereta kuda, tapi aku tidak mengetahui alasan apa itu?” Tanya Ling Feng kepada Zhi Fu.


“Ah ternyata itu. Wanita itu terkadang sulit di mengerti, entah karena angin apa nona muda tiba-tiba ingin naik kereta kuda. Nona muda memang suka bertindak sesukanya, dengan berbagai macam alasan. Kali ini alasan ingin naik kereta kuda adalah ingin menikmati pemandangan di kala perjalanan.” Zhi Fu tersenyum kecut ketika menjawab pertanyaan Ling Feng.


“Ah begitu. Aku mengerti Paman Fu ketika berada di posisi mu, posisi di mana tidak ada pilihan selain menerimanya. Aku turut berduka akan posisi mu.” Timpal Ling Feng juga ikut tersenyum kecut, mengingat kembali ia beberapa kali di paksa oleh dua kekasihnya, pernah kala itu ia menolak menemani keduanya, pada saat itulah malapetaka yang membuat Ling Feng frustasi tidak tahu harus berbuat apa, pasalnya kedua kekasihnya itu mendiamkan dirinya, membuat Ling Feng frustasi, karena ia benar-benar di acuhkan oleh keduanya.


“Haihhh, abaikan itu. Pria tua ini juga sudah terbiasa.” Timpal Zhi Fu dengan wajah pasrah di ikuti dengan anggukan pasrah para penjaga di belakang Zhi Fu.


“Nah nak, kita pergi sekarang. Lebih cepat sampai, lebih baik.” Ucap Zhi Fu yang dianggukki oleh Ling Feng mengekor dari belakang, dan diikuti Hao Xiang dan para penjaga yang lainnya. Perjalanan pun kembali di lanjutkan, seperti sebelum nya, Ling Feng hanya akan berbicara ketika di ajak berbicara saja, bahkan ia hanya akan menanggapi nya dengan lugas namun singkat.


Kereta kuda itu terus bergerak, dan kini tidak berhenti lagi. Walaupun waktu saat ini sudah hampir malam hari, karena matahari sudah mulai tenggelam. Kereta kuda itu terus bergerak, mengingat jarak ke kota terdekat tidak jauh lagi. Tepat matahari benar-benar tenggelam sepenuhnya, kereta kuda itu pun sampai di kota terdekat. Walau waktu sudah menunjukkan malam hari, kereta kuda mereka masih bisa masuk ke dalam kota tersebut setelah membayar pajak masuk ke dalam kota.


Ling Feng yang melihat tembok besar itu tersenyum tipis, mengingat akhirnya ia sampai juga di kota.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.