Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Dendam Dua Orang


"Ya lagipula itu juga bukan urusanku. Laly yang penting itu arak ada." Long Tian berbicara sendiri terkekeh sembari memperhatikan Ling Feng yang sedang memotong jari-jari kaki milik ketua mata-mata tersebut.


"Baiklah semua jari-jari mu sudah habis ku potong, apakah masih mau tutup mulut sekarang." Ucap Ling Feng. Ketua mata-mata tersebut terlihat sudah seperti ½ mayat saking tidak mempunyai tenaga ditambah sorot mata yang sudah kosong.


"Bahkan sudah seperti ini pun masih setia terhadap sekelompok orang baji*gan itu, menyedihkan sekali." Kata Ling Feng bangkit dan langsung menebas kepala mata-mata tersebut. Lalu pada saat Ling Feng membunuh ketua mata-mata, sebuah cahaya keluar dari tubuh ketua mata-mata tersebut. Long Tian yang melihat itu sedikit terkejut dan langsung bereaksi ingin menangkap nya, namun sayang kecepatan cahaya itu sedikit lebih cepat dari reaksi Long Tian.


Melihat Long Tian ingin mengejarnya Ling Feng langsung menghentikan Long Tian, "Paman biarkan saja aku memang sengaja membiarkan hal tersebut." Ucap Ling Feng. Long Tian yang mendengar hal itu berkata juga.


"Hehhhhh kau sengaja melakukan hal ini ternyata, kukira kau tidak tau." Ucap Long Tian terkekeh senang. Ling Feng yang mendengar itu, mengkerutkan keningnya lalu bertanya, "Kau sepertinya sangat senang paman? Ya tentu saja, sepertinya kita akan mendapatkan banyak hal menarik di kekaisaran ini." Kata Long Tian terkekeh. Ling Feng yang mendengar hal itu hanya mengangkat bahu berkata lagi.


"Entahlah kita lihat saja nanti bagaimana sekelompok orang ini akan bertindak." Ucap Ling Feng sembari mengangkat kedua bahunya. Long Tian yang mendengar hal itu lalu bertanya kembali.


"Kau sudah membunuhnya sekarang bagaimana kita menuju kota terdekat?" Tanya Long Tian. Ling Feng yang mendengar hal itu terdiam sesaat ia sepenuhnya lupa tentang hal tersebut saking menikmatinya menyiksa An*ing yang sangat patuh.


"Kita kembali ke desa saja dan tanyakan pada orang tua tadi daripada kita pergi entah kemana nantinya." Kata Ling Feng balik badan melesat kembali ke desa perbatasan kekaisaran Wei. Long Tian sendiri hanya menggelengkan kepalanya mengekori dari belakang.


Sekte Bayangan


Terlihat disebuah ruangan terdapat dua orang yang sedang berbincang-bincang. Kedua orang tersebut adalah ketua sekte dan adiknya. Sang adik sedang berusaha menghibur kakaknya yang terlihat masih tidak menurunkan niat membunuhnya setelah insiden kematian adiknya yang ia perintahkan menuju ke Kaisaran Han.


"Bagaimana adik apakah informasi tentang orang yang membunuh adik ketiga sudah ada." Ucap Ketua sekte. Mendengar hal itu tetua agung menggelengkan kepalanya menjawab, "Masih belum ada kak, seharusnya tidak akan lama lagi pengintai kita akan kembali." Kata tetua agung atau bisa dibilang adik dari ketua sekte.


Mendengar hal itu Patriak tidak bertanya lagi dan selebihnya tidak berkata apapun lagi. Melihat tingkah kakaknya yang seperti itu tetua agung menghela nafas panjang, karena adik pertama merupakan pukulan berat untuknya.


Ketika sedang dalam situasi hening, beberapa detik kemudian ada yang datang ke ruangan yang ditempati oleh Ketua sekte dan Tetua agung.


"Permisi Patriak aku ada informasi penting." Ucap suara tersebut sembari mengetuk-ngetuk pintu ruangan. Tetua agung yang mendengar hal itu langsung bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan dan membuka. Lekas orang yang ingin menyampaikan informasi tersebut sedikit tersentak, karena tidak hanya Patriak sekte saja melainkan ada tetua agung juga didalamnya.


"Informasi apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Tetua agung kepada murid sekte bayangan yang menyampaikan informasi tersebut. Murid tersebut menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Salam ketua sekte, salam juga tetua agung mohon maaf telah menganggu pembicaraan ketua sekte dan tetua agung. Ada informasi penting sekaligus darurat yang aku harus sampaikan." Ucap murid tersebut. Tetua agung yang mendengar hal itu menganggukkan kepalanya , sedangkan ketua sekte hanya diam saja, namun telinganya tetap mendengarkan.


"Giok ketua mata-mata sekte bayangan sudah hancur tetua agung." Ucap murid tersebut sembari memberikan giok yang sudah terbelah dua kepada tetua agung dengan tangan yang bergetar. Mendengar hal itu tetua agung tidak bisa untuk terkejut. ia menerima sebuah giok yang sudah terbelah dua tersebut dari tangan murid yang menyampaikan informasi tersebut.


"Baiklah kau sudah bisa pergi dari sini sekarang." Ucap Tetua agung meminta murid tersebut agar cepat pergi dari sana. Mendengar hal itu murid tersebut menganggukan kepalanya lalu izin pamit dari sana.


Setelah murid tersebut pergi dari sana terus Agung langsung menutup pintunya kembali dan pas sekali ledakan aura yang sangat mencengkam keluar dari tubuh ketua sekte. Melihat kakaknya kembali marah, karena tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan tetua agung kembali berusaha untuk menenangkan kakaknya yang lepas kendali itu.


"Kakak tenang dulu, jangan sampai hal ini mempengaruhi penerobosan kakak nantinya. Apakah kakak sudah lupa dengan tujuan kita saat ini." Ucap Tetua agung berkata seperti itu. Mendengar perkataan tersebut, ketua sekte akhirnya sadar dan menarik kembali aura yang keluar dari tubuhnya. Melihat hal itu tetua agung bernafas lega, karena sang kakak sudah tenang kembali.


"Maafkan aku adik kedua, kakak sepertinya merepotkan mu beberapa hari terakhir ini." Ucap ketua sekte sudah sedikit lebih tenang. Mendengar hal itu tetua agung menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak apa-apa kak, tenang saja aku tidak meninggalkan kakak sampai ambisi kakak terwujud." Ucap Tetua agung tersenyum simpul kepada ketua sekte. Melihat senyuman itu ketua sekte mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu menarik kembali nafasnya lalu menghembuskan.


"Sebelum itu kakak, giok ini tidak hancur berarti kita bisa melihat kembali pembunuh adik." Ucap Tetua agung. Ketua sekte yang mendengar hal itu menganggukkan kepalanya, lalu membuat segel tangan. Setelah membuat segel tangan rumit itu, giok yang digenggam oleh Tetua agung seketika bersinar terang lalu menampilkan sosok pemuda ditemani oleh temannya. Kedua orang tersebut adalah Ling Feng dan Long Tian pasca menyiksa ketua mata-mata tersebut. Bukan hanya proyeksi gambar saja, bahkan suara yang dikatakan oleh Ling Feng dan Long Tian ikut terdengar juga.


"Ling Feng saat kita bertemu maka saat itu juga kau akan mati." Ucap Ketua sekte secara tidak sadar mengeluarkan aura membunuh yang sangat mencengkam.


Kembali ke Ling Feng


"Tidak kusangka jalan menuju kota terdekat adalah dengan menyusuri jalan besar ini." Gumam Long Tian. Ling Feng yang mendengar hal itu hanya biasa saja, toh yang penting adalah tidak tersesat nantinya.


"Sekte Bayangan bersiap-siaplah, aku Ling Feng akan datang." Gumam Ling Ling dengan sorot mata yang tajam.


>>>>> Bersambung


( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )


( Blizzardauthor)